“Hai, Sayang,” sapa Orion dengan senyum lebar yang tidak mencapai matanya. Sontak, langkah Cantika terhenti. Jantungnya mencelos, seolah jatuh dari ketinggian saat melihat kemeja Orion dipenuhi bercak merah kehitaman. Di belakangnya, anak buah Orion berdiri dengan wajah tanpa ekspresi, tatapan mereka dingin dan mengintimidasi. Perlahan, mata Cantika menyapu seluruh sudut ruangan, hingga pandangannya terpaku pada sosok pria yang tergeletak mengenaskan di lantai. Wajahnya hancur tak berbentuk, darah mengalir deras dari luka-lukanya, membentuk genangan merah pekat di sekelilingnya. Yang lebih mengerikan, tangan pria itu putus, tergeletak beberapa meter dari tubuhnya. Pemandangan itu membuat napas Cantika tercekat, dadanya sesak seolah ada batu besar yang menghimpitnya. “Cepat bawakan kurs

