22. Tebing Tinggi

1112 Kata
Kami semua sudah berkumpul melingkar di bawah pohon. Sudah dua malam kami menetap sementara di atas pohon di depan pintu lembah hitam. Dan sekarang waktunya kita berangkat lagi. Arah menuju tebing sudah ditelusuri oleh yang lain menjadikan kemungkinan terburuk selama di perjalanan bisa diminimalisir, walaupun kita tidak akan pernah tau apa yang akan menunggu kita di sana. Setelah selesai mengecek arah mata angin dan membagi tim seperti di awal, saat kita di dalam hutan pinus. Kami semua langsung berangkat. Tidak pagi-pagi sekali karena pagi hari kabut masih menyelimuti hutan. Saat matahari tepat di atas kepala kami semua berangkat. Aku melirik Ryan yang sejak tadi tak banyak bicara. Seperti biasa dia yang memimpin kawanan, jalan di depan bersama Chio dan Hyeni. Dari belakang sini aku bisa melihat Hyeni dan Ryan menjadi semakin dekat. Entah perasaanku saja tapi mereka memang semakin dekat sejak pagi tadi. Saat sarapan Ryan memilih untuk makan seorang diri di balik pohon, lalu Hyeni datang dan makan bersamanya. Tak ada yang berani menganggu mereka. Dan aku pun hanya diam saja memperhatikan. Sejak berkumpul dan membagi tim pun Ryan dan Hyeni tidak terpisahkan. Beberapa kali aku memergoki mereka saling menatap satu sama lain. Lalu saling meminta pendapat. Seperti pasangan pengantin pada umumnya. Dan mereka berdua memang terlihat serasi. “Hey kak Starly, kenapa melamun?” Jizzy yang berada di samping tubuhku menyikut tungkai ku yang masih berbalut obat yang Ryan berikan semalam. Aku mengecek keadaan obat itu yang ternyata belum kering total dan obatnya masih menempel di kakiku. Jika begini aku harus mengambil langkah lebih hati-hati lagi. “Siapa yang melamun?” sahutku. “Kak Starly melamun, lihatin kak Ryan dan Kak Hyeni,” ucap Chen yang ternyata tidak hanya Jizzy yang berpikir aku melamun. Chen pun sejak tadi menyadari sikapku yang aneh. “Mungkin ini sedikit kurang ajar kak Starly, tapi aku sangat penasaran tentang ini sejak kemarin,” ucap Chen. “Penasaran soal apa?” “Tentang kalian berdua.” Lanjut Jizzy. Dua pemikir cermat ini sedang apa? Apa yang ingin mereka berdua cari tahu tentangku. “Berdua?” tanyaku. “Kak Starly dan Kak Ryan. Saat Kak Ryan diberikan hadiah oleh pemimpin Gunn karena berhasil menaklukkan para penjarah di Cyberis Land. Kak Ryan diberikan hadiah untuk mengawini satu ekor gadis rubah. Semua sepakat kalau Kak Ryan akan menjadi calon suami Kak Starly, dan semua kawanan tau hal itu,” jelas Chen. “Lalu?” tanyaku. “Ya, seharusnya kami yang bertanya pada Kak Starly, lalu hubungan kalian bagaimana?” tanya mereka berdua serempak dan suara yang cukup tinggi berhasil membuat tiga rubah yang berada di depan memimpin jalan menoleh ke arah belakang berbarengan. Diam mematung itulah yang saat ini kita bertiga lakukan. Tentu saja kami tak ingin diberi peringatan lagi oleh yang lain. “Sebentar lagi akan sampai ke tebing,” lapor Ryan, dan aku langsung mengangguk dengan cepat. Tatapannya begitu dingin dan rubah jantan itu langsung membalik posisi dan melanjutkan perjalanan. Kami bertiga bernapas lega lalu mengikuti langkah kaki tiga rubah di depan kami. “Kalian berdua berhentilah banyak bicara!” peringat ku pada dua pemikir cermat ini. Dua rubah itu langsung mengangguk patuh. “Kak Starly punya hutang cerita padaku dan Chen, saat setelah sampai di atas tebing kakak harus menceritakan tentang itu.” “Kenapa kalian berdua sangat penasaran tentang hubungan ku dengan Ryan?” aku geleng-geleng kepala, tak mengerti dengan pikiran mereka. Dan aku tidak akan pernah mengerti tentang apa yang mereka pikirkan. Cukup lama untuk sampai ke pinggir tebing dan kami semua sudah memijakkan kaki di tempat ini. Menengok ke atas, tebingnya tidak begitu curam. Jalurnya bisa terlihat dari bawah sini dan kurasa ini adalah pekerjaan para jantan rubah sejak kemarin yaitu mencari rute aman untuk naik ke atas tebing bersama-sama. Dan ini kurasa sangat mudah untuk dilalui. Namun sebelum naik ke atas, Ryan mengajak yang lain berkumpul. Dan membagi tim menjadi berpasang-pasangan seperti saat kita memasuki lembah hitam. Katanya, naik secara bergiliran ke atas tebing, meminimalisir longsor yang bisa terjadi kapan saja. Kami semua menerima itu. Namun tim yang dibagi oleh Ryan tidak seperti tim sebelumnya. Saat ini Ryan memilih untuk menuntun Kak Giya dan Nuz di urutan pertama. Lalu aku yang dipasangkan oleh Zayn. Launa dengan Nath. Hyeni dan Chio yang terakhir Chen dan Jizzy bertos ria dengan b****g mereka karena dijadikan satu tim untuk naik ke atas tebing bersama. Semua menuruti perintah itu namun wajah Ryan tak bersemangat seperti sebelumnya. Dia yang pertama melangkah dan membuat garis di tanah seperti sebelumnya. Itu adalah waktu untuk memberikan jarak pada pasangan yang lain agar berangkat saat bayangan dari ranting yang ditancapkan di tanah menyentuh garis-garis panjang yang dibuat oleh Ryan. “Aku akan menunggu kalian di atas, ingat satu hal ini, keselamatan kalian adalah prioritas utama. Apapun yang terjadi fokuslah dengan apa yang ada di depan kalian, paham?” Titah Ryan. “SIAP!” kami semua menjawab serempak. Ryan dan Kak Giya naik berlahan-lahan. Memilih pijakan yang tepat agar tidak tergelincir dan jatuh ke bawah. Aku dan Zayn berada di urutan ke tiga. Bayangan ranting yang menancap di tanah sudah menyentuh garis pertama yang Ryan buat. Itu tandanya Launa dan Nath harus segera naik ke atas. Mereka berdua mengikuti jejak langkah yang sudah Ryan pijaki. Aku Pun sejak tadi mengamati itu. Arah mana yang akan Ryan lewati selanjutnya. Namun di sampingku ada Zayn dan kurasa dia bisa menuntunku untuk memilih pijakan yang benar. Aku menengok ranting yang ditancap ke tanah dan ternyata belum menyentuh garis. Ryan dan Kak Giya sudah mulai menghilang jejaknya. Kurasa mereka sudah cukup jauh. Hingga aku tersentak saat Zayn menyikut tungkai ku untuk berjalan segera karena waktunya sudah menunjukkan di garis kedua. Aku melangkah perlahan, mengambil pijakan terlebih dahulu lalu Zayn yang mengikuti di belakang tubuhku. Pijakan pertama berhasil. Selanjutnya tidak begitu curam. Dan jejak langkah yang ditinggalkan oleh dua tim di depan kami ku jadikan patokan untuk jalur yang akan ku lewati. Naik ke atas tebing tidak terlalu sulit seperti yang kubayangkan. Ini sangat mudah dan aku cukup bisa menyeimbangkan walaupun ekorku terbakar dan lukaku masih berbalut obat yang Ryan buatkan. Aku menengok kebelakang melihat Zayn yang berada dua langkah di belakang tubuhku. “Starly, fokuslah dengan apa yang ada di depanmu,” peringatnya dan sesegera mungkin aku menoleh ke depan lagi dan melanjutkan pijakan demi pijakan. Aku menengok obat yang ada di lututku. Dan ternyata obatnya sudah kering. Namun aku masih ingin membiarkannya di sana. “Tebing ini sangat tinggi. Aku sudah tidak bisa lihat tim Ryan. Apa mereka sudah sampai?” tanyaku pada Zayn. Dengan napas yang terengah-engah rubah jantan itu menjawab, “fokus!” Aku menyipitkan mataku tak mengerti dengan Zayn yang teramat sangat patuh pada aturan. Menghela napas panjang aku akan melanjutkan perjalanan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN