21. Satu Dahan

1785 Kata
Aku mengangguk, tawaran Chio untuk diaajari cara bertarung akan kuterima. Dia menuntunku untuk mencari target baru. Pohon lain yang sekiranya akan rubuh yang bisa dijadikan alat menerjang lawan. Tidak jauh dari tempat istirahat kami menemukannya satu. Pohon tumbang yang tua dan sudah berlumut. “Pohon yang cocok,” ucap rubah gembul itu sambil mengamati bentukan dari pohon. Chio mengajariku menopang badan agar kokoh dan tidak mudah goyah. “Ingat saat kau menari di Cyberis Land, Starly?” tanya Chio tiba-tiba saja membuatku mengernyit. “Di sana, kau sangat hebat. Lompatanmu sangat cantik dan kuat.” “Itu pertunjukan yang buruk Chio, bahkan aku tak ingin mengingatnya lagi.” “Tidak, itu salah satu pertunjukan yang keren. Kamu sangat cantik waktu berada di dekat api, dan menari di bawah bulan. Hanya saja memang ada kerikil kecil yang membuatmu terjatuh. Tapi itu bukan berarti tarianmu gagal. Daripada bertarung, aku sangat ingin melihatmu menari lagi.” Aku menatap Chio, ini adalah pujian pertama yang kudapatkan setelah melakukan kekacauan pada malam itu. Dan hatiku menghangat mendengar kata-katanya. Bahkan Ryan sekalipun belum pernah memuji tarian ku selama ini. “Chio, apa aku hebat saat menari?” tanyaku memastikan, Chio menatapku balik, dia mengangguk dan tersenyum. Aku sangat senang melihat itu. “Baiklah, nanti kau akan mendapatkan tempat duduk paling depan saat melihatku menari lagi.” Kami berdua pun terbahak. Sesi latihan dengan Chio sungguh menyenangkan. Dia mengambil contoh gerakan kakiku saat menari dan katanya itu salah satu kuda-kuda terbaik. Lembut dan juga anggun sangat cocok denganku. Dan apabila memperdalam teknik itu, aku punya ciri khas tersendiri dalam bertarung, karena sebagian dari kuda-kuda dalam menari adalah teknik dasar saat bertarung. Latihan dengan Chio sungguh sangat asik sampai kami tak sadar ternyata senja sudah datang lagi. Mau tak mau aku dan Chio harus menyudahi latihan ini dan kembali ke pohon untuk beristirahat. Hampir sampai di depan pintu lembah hitam, aku melihat kawanan kami yang lain ternyata sudah kembali dan istirahat di bawah pohon. Chen, Jizzy, Nath, Zayn dan juga Ryan. Mereka duduk melingkar di depan api. Malam belum datang namun awan mendung di langit mampu untuk membuat pengelihatan kami sedikit buram. Kabut putih yang entah darimana asalnya pun datang dan tak ada yang bisa kami lakukan selain berkumpul bersama dalam satu lingkaran. Ryan melirik ke arahku namun tatapannya sangat dingin, dan sejak aku kembali bersama Chio dari sesi latihan singkat. Ryan menunjukkan wajah masamnya padaku. Menghela napas aku memilih untuk tidak memikirkan itu. Tapi rasa penasaran ku melebihi segalanya terlebih aku penasaran tentang tebing yang sejak pagi mereka sudah pergi untuk mencari rute di sana. Di saat yang lain sedang menghangatkan tubuh di dekat api sementara Ryan yang sedang bersantai menyandarkan tubuhnya di batang pohon. Aku menghampiri rubah itu. Dia melihatku dan menyadari bahwa aku akan datang padanya. Namun respon yang kudapat tetap ratapan dingin yang tidak bersahabat. Kupikir aku harus segera terbiasa dengan sikap Ryan yang seperti ini. Aku tak tau mengapa dia menjadikannya seperti itu padahal semalam dia cukup baik padaku. Mencarikan obat untuk kakiku lalu menyembuhkannya. “Ryan,” panggilku langsung duduk di depannya. Dia melirikku sekilas lalu membuang wajahnya ke arah lain. Aku sadar, aku tidak akan direspon baik olehnya. Tapi rasa penasaranku lebih besar dari apapun. Aku tak peduli ada apa dengannya dan duduk semakin dekat dengan tubuhnya. “Ryan, apa yang ada di tebing, kapan kita bisa mencari ibuku?” tanyaku padanya. Rubah itu melirik wajahku lalu beralih ke kakiku yang pernah terluka, “memaksa latihan, lukanya pasti semakin besar, kenapa sangat keras kepala, seharusnya waktu yang kuberikan untuk istirahat, dilakukan untuk istirahat saja, bukannya latihan dan pergi berkencan!” Nada Ryan cukup tinggi membuatku tersentak. Selain itu mataku berhasil dibuat membelalak lebar karena ucapannya itu, maksud Ryan aku berkencan? “Maksudmu apa Ryan?” “Ck, bodoh!” Aku menghela berat, setelah sekian lama akhirnya panggilan itu keluar lagi dari moncongnya. “Bisa berhenti mengataiku bodoh?!” Aku meninggikan suaraku. Sekarang aku benar-benar marah padanya. Aku hanya ingin tau tentang tebing dan bagaimana cara agar kita ke sana sesegera mungkin namun dia menjawabnya dengan sarkas lalu mengataiku bodoh. “Kakimu sedang terluka! Aku menyuruh kalian istirahat saja bukan malah mencari luka lagi! Kenapa tidak bisa ikuti perintah?!" Aku menarik napas dalam-dalam, “Aku sudah cukup istirahat, aku tidak bisa diam saja sementara kalian semua bekerja.” “Akan sangat merepotkan kalau kalian sakit dan terluka lagi dan itu tentu akan menghambat perjalanan. Bukannya malah membantu, kau hanya membuat yang lain kerepotan saja!” Aku terdiam, dadaku bergemuruh naik turun tak beraturan. Kawanan yang lain mendengar teriakan Ryan dan menghampiri kita berdua. Aku menatap belakang, menatap yang lain. Apa ucapan Ryan benar? Aku hanya membuat yang lain kerepotan. Dan ya aku menyadari itu. Aku berbalik menghadap Ryan, air mataku jatuh tak bisa ku hentikan. Dan dia benar, aku bodoh dan juga payah. Kakiku sudah pulih sepenuhnya. Aku berlatih agar tidak merepotkan yang lainnya. Berusaha agar bisa melawan jika dalam keadaan bahaya. Aku hanya ingin bisa diandalkan. Tidak terlihat lemah lagi dan Ryan tidak pernah menyadari hal itu. Berharap apa aku pada rubah ini. Pujian? Tidak, aku tidak butuh itu lagi. Aku tidak peduli dengan perhatiannya. Ingin aku pulih dan sehat? Bohong, dia hanya senang melihatku terlihat bodoh dan payah. Aku membuang wajah, langsung berlari ke atas pohon dan memanjat dari dahan satu sampai ke dahan atas. Dahan yang hanya bisa diisi oleh satu rubah. Aku tidak peduli dengan yang lainnya. Aku hanya ingin sendiri saja sekarang. Berusaha naik satu persatu hingga sampai pada dahan yang ku tuju. Langit malam mulai datang, dan udara yang berkabut kini menghalangi pengelihatan ku untuk melihat langit. Aku menangis di atas pohon tanpa suara. Aku mendengar di bawah sedang berisik namun aku tak perduli lagi. Aku malu dengan panggilan payah dan bodoh. Aku malu pada kawanan lain karena aku memang tak membantu banyak dan hanya membuat yang lain kerepotan saja. “Ibuu,” tangisku pecah dan aku sangat merindukan ibuku. “Ibu, aku ingin bertemu dengan ibu, kakiku luka dan rasanya sekarang sakit.” Air mataku tak bisa berhenti. Sesegukan yang keluar tak bisa ku tahan lagi. “Aku sudah latihan, supaya bisa cepat bertemu dengan ibu, tapi aku hanya membuat yang lain kerepotan.” “Ibu, aku kangen dengan ibu, ibu di mana? Ku mohon ibu datang.” Suara tangisanku tak bisa kuredam. Dan itu memancing yang lain untuk menenangkan ku. Satu ekor rubah berada di bawahku. Ingin naik ke dahan yang ku naiki namun sudah tidak bisa karena di sini hanya muat satu rubah saja. Suaranya terdengar dan itu adalah rubah yang sangat ku benci. Untuk apa dia datang lagi kalau hanya untuk memaki dan mengatai. “Aku akan tidur di atas sini, pergilah!” Aku menghapus air mataku. Mencari posisi nyaman untuk tertidur. Dan sebisa mungkin merebahkan tubuhku hingga bisa tidur dengan nyaman. Namun karena dahan yang memang cukup kecil membuat posisi ku sedikit goyah. “Starly, aku minta maaf,” ucapnya. Diam saja tak usah menanggapi. Aku cukup lelah dengan Ryan dan makiannya. Dan aku ingin menenangkan diri di atas sini sendirian. “Aku ingin sendiri.” “Bisa jatuh jika tidur di dahan itu. Aku akan pergi setelah mengobati lukamu.” “Kakiku sudah sembuh!” tolak ku cepat. Aku tidak peduli dengan kebaikannya itu. Dia tidak benar-benar peduli. “Biarkan aku melihatnya. Aku janji setelah memberikan obat terakhir aku akan pergi. Turunlah, kumohon.” Aku terdiam sejenak, dia benar akan menungguku turun dan tak beranjak dari posisinya berdiri. Hingga aku mendengar permintaannya lagi. “Starly, aku minta maaf, aku berjanji setelah obat terakhir ini, besok kau bebas untuk latihan, dengan Chio juga kalau kau ingin. Izinkan aku mengobati mu, bisa turun sebentar?” Aku melirik kebawah. Dari atas sini aku bisa melihatnya yang kini mendongak menatapku. “Setelah ini kau bebas, Starly.” Aku menghapus jejak air mataku, lalu mengikuti permintaannya turun dari dahan atas ke tempat Ryan berada. Rubah itu menyiapkan obat-obatannya dan meraciknya di depanku. Tak ada obrolan yang kami lakukan Ryan hanya fokus pada pekerjaannya saja. Melapisi lututku yang terluka dengan ramuan itu. Aku hanya duduk menjatuhkan kepalaku dan membuang wajah ke arah lain tak ingin melihat wajahnya. “Apa sakit?” tanyanya. “Aku bilang aku sudah sembuh. “Meskipun begitu harus tetap memakai obat ini, agar sakitnya tidak kembali lagi. Kakimu cukup parah, Starly.” “Hm, iya terima kasih. Aku ingin istirahat,” ucapku namun rubah itu belum beranjak dari posisinya padahal dia sudah selesai dengan pekerjaannya. “Maaf karena mengatai mu.” Aku menarik napas panjang. “Minta maaf untuk apa? Kau benar, aku hanya rubah yang membuat yang lainnya kerepotan.” “Maaf karena egois,” ucapnya kini menjatuhkan wajahnya di dekat kakiku yang terluka. Aku terdiam karena tak mengerti dengan ucapannya. “Gak seharusnya aku marah, Starly, setelah ini kamu bebas untuk latihan apapun dan dengan siapapun.” Perlahan aku menolehkan wajahku ke arahnya. Ryan tertunduk sendu di depan kakiku yang sedang diobati tatapannya terlihat kacau. Dan kupikir Ryan benar-benar menyesal dengan perbuatannya. “Aku berusaha agar bisa diandalkan, tidak payah dan lemah lagi,” ucapku membuat Ryan mendongak. Netra kami bersua. Bening di sekitar mataku menetes perlahan. “Aku ingin cepat bertemu dengan ibuku, kalian semua mencari rute ke tebing sementara aku tak ingin hanya diam di tempat sementara kalian sedang kesusahan. Aku berlatih sendiri, sampai Chio datang dan memberikanku latihan kecil.” “Kalian berdua cukup dekat,” ucapan Ryan membuatku mengangguk kecil. “Oh baguslah, dia bisa mengajarimu banyak hal dalam bertarung, dia rubah yang cukup kuat, dia bisa jadi pelindungmu juga.” Aku mengangguk kecil dan Ryan belum berhenti untuk menatapku. “Ryan, aku juga minta maaf,” ucapku karena apa yang Ryan katakan benar. “Aku selalu membuatmu kesusahan. Membuatmu kerepotan juga. Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku lagi.” “Aku akan tetap melakukan itu, aku yang memimpin di sini, dan keselamatan kalian adalah yang utama.” Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi, dan keputusan Ryan tentang itu sepertinya tidak bisa dibantah. “Aku juga akan melindungi mu, Starly.” Aku hanya menunduk. “Setalah obat ini kering, kau bebas Starly. Lakukan apa yang kau ingin. Sekarang istirahatlah, yang lain pun sudah istirahat.” Aku mengangguk, “jadi, rencana besok bagaimana? Apa kita semua akan berangkat ke tebing?” Kulihat Ryan menarik napasnya dalam, “besok pagi kita akan berkumpul dan membahas soal ini.” “Hm, baiklah, selamat istirahat.” Ryan mengangguk, “selamat istirahat, Starly,” ucapnya lalu pindah ke dahan samping yang berada tepat di sebelah dahan yang kupijaki. Ramuan yang Ryan tempelkan di kakiku masih sangat basah. Dan kemungkinan besok pagi akan segera kering. Setelah obat ini kering, aku akan berlatih lebih giat lagi. Banyak hal yang harus ku coba. Dan aku sangat ingin bertemu dengan ibuku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN