Aku dan Chio bergegas, kuputuskan untuk mengikuti saran darinya untuk tidak mengejar ibuku seorang diri. Dia mengatakan bahwa kita butuh tambahan peserta karena tak ada yang tau apa yang akan menunggu kita di sana. Terlebih, kondisiku yang harus pulih total membuat keputusannya menjadi pilihan yang tepat kini.
Ekorku masih belum bisa membuat langkahku seimbang. Dan lutut ini, walaupun perihnya sudah tidak kurasakan lagi, namun kemungkinan sobekan lukanya menjadi terbuka lagi karena terlalu banyak bergerak.
Hari sudah menjelang malam, perjalanan menuju ke kawanan kami ternyata berlawanan dengan matahari terbenam, yang berarti arah tujuan kami kini semakin ke tempat yang lebih gelap. Warna jingga di langit membentuk gradasi cantik membuatku tertegun sesaat. Langit yang indah kini akan menjadi pemandangan terakhir yang bisa ku nikmati di Cyberis Land. Perpaduan ungu dan jingga sedikit menenangkan.
“Selamat tinggal,” gumamku menatap langit.
Malam ini sepertinya akan cerah, belum sampai tengah malam bintang-bintang sudah kelihatan. Senang rasanya bisa melihat mereka lagi. Sudah dua malam langit di penuhi awan yang gelap. Dan dua malam itu pula aku berjuang tanpa Ibu di sampingku.
Menengadah, aku memohon kepada bintang, untuk mengabulkan harapan ku yang satu ini. “Aku harap ibuku selamat dan baik-baik saja kondisinya.”
“Semoga yang lain juga bisa selamat,” saut Chio, arah tatapannya sama denganku. Ke atas langit yang bertabur bintang.
“Aku sudah tidak bisa menari untuk mereka lagi Chio.”
“Kenapa?” tanyanya. Kita berdua masih dalam perjalanan. Chio yang berjalan si sebelahku menolehkan kepalanya.
“Ekorku sudah tidak bisa menari lagi.”
Chio menggembungkan pipinya membuatnya terlihat lebih gemas.
“Akupun tak cocok menjadi anggota Foxioz lagi.”
Heran dengan ucapannya aku segera menghentikan langkah. Ku amati bagian tubuh Chio dari pangkal moncongnya sampai ujung ekornya yang ternyata masih utuh tak terluka sama sekali.
“Kenapa?” tanyaku penasaran. “Kamu ngga luka Chio, empat tungkai mu masih utuh, ekormu juga tidak terbakar dan bisa memanjat pohon dan berlari dengan seimbang. Kenapa berfikir seperti itu, kamu bisa bertarung dengan hiena malam itu, kamu juga menolongku di air terjun Skavaz. Kamu anggota Foxioz yang keren.”
Kulihat dia menyunggingkan senyum. “Badanku terlalu besar, aku terlalu gemuk Starly,” rubah itu tertawa miris. “Aku tak bisa bersembunyi dengan benar, tak bisa mengendap-endap seperti yang lain, karena ukuran tubuhku yang besar.”
“Tapi kamu pandai bertarung, kamu kuat dan juga kokoh, kamu gak seharusnya menyerah jadi anggota Foxioz, Chio.”
“Aku memang tidak menyerah,” sambar Chio sukses membuatku terdiam. “Aku tidak menyerah Starly, Aku masih ingin bertarung bersama anggota Foxioz yang lain.” Chio menjeda ucapannya sambil terus berjalan, ku ikuti langkah kakinya itu dari belakang, “Tak ada rubah yang sempurna, bahkan si kaki mungil sekalipun.”
“Kaki mungil?”
“Ryan, calon suamimu.”
Aku mengernyit, “Chio, bisa berhenti mengatakan bahwa Ryan calon suamiku? Kita tidak jadi berkawin malam itu, dan aku tak nyaman jika harus menandainya sebagai calon suami.”
Chio mengehentikan langkahnya kemudian mengangguk-angguk kecil. “Baiklah, Ryan dengan kaki mungilnya, dia bisa bergerak dengan cepat dan ringan sampai tak ada musuh yang menyadari keberadaannya. Dia penyerang yang kuat dan lincah, langkahnya cepat dan tepat sasaran. Tak seperti rubah yang lain. Kekurangannya bisa jadi kekuatan.”
Sedikit bingung aku mencermati ucapan yang Chio coba jelaskan tentang kaki mungil Ryan.
“Kaki mungil Ryan itu cepat?”
“Ya, kamu tau sendiri kan, julukan yellow fox, seperti kilat kuning yang ada di langit.”
Ya, benar Ryan ternyata memang sehebat itu.
“Paham maksudku, kan?” Chio memastikan.
Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaannya.
“Dan aku bisa menjadi umpan yang handal!” lanjutnya lagi membuatku sedikit bingung.
“Kamu jadi umpan Chio?”
“Pemimpin Gunn menjadikanku posisi yang paling penting dalam bertarung, umpan, bukankah itu keren Starly, jika tidak ada aku, pondasi Foxioz tak akan sekuat itu, kita saling membutuhkan satu sama lain. Karena tubuhku yang gemuk ini ku jadikan alat untuk membantu Foxioz dalam bertarung.”
Aku mengangguk, mengerti dengan ucapannya. Dan satu fakta yang baru kusadari sekarang tentang Chio. Dia tak pendiam seperti yang kuduga, Chio ternyata bisa sangat cerewet jika bercerita.
Selain Yellow Fox, Devil Twins, Galaxy Brain dan Sexy Brain, ternyata ada anggota Foxioz yang bekerja sebagai umpan.
“Pemimpin Gunn kasih kamu nama apa, Chio?”
“Aku?”
“Hm.”
“Aku honey bear.”
Aku terkikik kecil, aku baru tahu ada julukan itu untuk anggota Foxioz. Honey Bear, bukankah itu terdengar lucu dan manis?
“Lucu, kan?”
“Iya, sangat cocok denganmu.”
“Honey itu sesuatu yang manis, Pemimpin Gunn berharap aku bisa memancing musuh dengan julukan ini, lalu Bear karena tubuhku yang besar seperti beruang. Warna bulu ku juga lebih gelap dari kalian semua.”
Aku mengangguk, menyetujui pendapatnya.
“Jadi Starly, setiap rubah itu memiliki kekurangan, tapi itu bukan alasan untuk menyerah pada apa yang kamu tekuni. Jadikan kekurangan sebagai pengingat untuk terus mencari kelebihan dalam diri kamu. Bukankah kekurangan menjadikan kita lebih kreatif, Starly?”
Aku tertawa miris mendengar kata-katanya. “Tapi ekorku sudah tidak cantik lagi, tak ada yang mau melihatnya dan mungkin saja, bintang-bintang sudah enggan untuk menerima tarian ku lagi. Aku sangat malu mengatakan ini, tapi aku sudah menghancurkan kepercayaan para bintang.”
“Tidak Starly, lihatlah ke atas!” perintahnya langsung kuikuti.
“Bintang-bintang masih bersinar, kan?”
Aku hanya mengangguk meresponnya.
“Mereka tidak marah, Starly. Kamu memang melakukan kesalahan, dan bintang yang bersinar kali ini sepertinya sedang memberikanmu kesempatan.”
“Hm, baiklah akan kucoba lagi nanti, terima kasih Chio.”
“Kamu bisa sembuh, walau tidak bisa dikembalikan sepenuhnya, kekurangan itu memberikanmu ciri khas, kan? Lagipula itu tidak terlalu buruk, kamu masih terlihat cantik, Starly.”
Aku menarik napas dalam, ucapan Chio membuatku sedikit tenang, tanpa sadar kita berhasil melewati padang ilalang yang sangat luas.
Setelah dari padang ilalang ini kami berbelok, mengikuti pinggiran tebing yang menjulang tinggi di Cyberis Land.
Chio berkata, setelah dari padang ilalang akan ada padang rumput dan hutan pinus. Beberapa kawanan sedang beristirahat di hutan pinus itu. Jadi sebentar lagi kita akan sampai.
Kepulan asap berwarna putih mulai terlihat menjulang ke atas langit.
“Itu mereka Starly,” kata Chio.
Aku mengangguk, kita baru masuk ke dalam hutan pinus, setelah melewati padang rumput yang luas. Tak ada sesuatu yang mengganggu kami selama perjalan. Di padang rumput ataupun di padang ilalang, dan kami bersyukur. Bintang yang berkelap kelip di langit serta beberapa cerita dari Chio menemani perjalanan kami. Dan kuakui, Chio memang sangat hebat dalam hal menandai tempat, selama dalam perjalanan, Chio mengambil beberapa tanda yang dia buat sebagai penunjuk arah.
Itu tanda yang dia buat sebelum datang menjemput ku. Dia layak menjadi anggota Foxioz, dan aku akan sangat senang jika belajar banyak hal darinya.
Kepulan asap yang kulihat dari kejauhan mulai terlihat jelas. Suara bising kawanan kami pun mulai terdengar. Aku sudah bisa melihatnya. Itu mereka, teman-teman ku. Kawanan rubah yang sedang beristirahat.
“Teman-teman!” sapa Chio. Semua rubah yang ada di sama menghentikan kegiatannya. Menoleh berbarengan ke arah Chio.
Aku sangat lega, aku dan Chio sudah sampai. Kakiku lelah dan aku butuh istirahat.
“Aku berhasil menemukan Starly,” ucap Chio. Aku yang berada di belakang tubuhnya berjalan perlahan. Senang sekali rasanya telah sampai.
Mereka yang sedang duduk di sama langsung menyambut kehadiranku dan Chio. Senyum hangat terpatri di wajah mereka. Hanya beberapa rubah saja yang berada di lingkaran api itu. Tidak ada setengah dari kawanan kami yang seharusnya.
Nath dan Zain, si kembar itu sedang adu kekuatan di atas batang pohon yang telah lama tumbang. Ada Chen dan Jizzy yang sedang menikmati makan malamnya. Launa yang sedang menghangatkan tubuhnya di depan api unggun langsung menerjang kakaknya Chio dan memeluknya. Ceruk leher mereka sedang saling menghangatkan satu sama lain.
Lalu di ujung sana ada Ryan. Dia bangkit dari tidurannya, tepat di sampingnya ada Hyeni yang sedang menikmati hangatnya si jago merah juga. Mereka terlihat sangat dekat. Aku berjalan perlahan, aku juga ingin istirahat sambil menikmati hangatnya api unggun.
Ryan berjalan ke arahku. Tersenyum manis dan juga hangat.
“Starly.” Panggilnya yang ku balas dengan senyum simpul saja.
Dia datang menghampiriku, mengendus tubuhku sebelum akhirnya memberikanku pelukan hangat, lehernya ia gesekkan ke leherku. Memejamkan mata, aku merasakan deru napasnya yang hangat dan menenangkan. Tubuh Ryan sangat hangat membuat tungkai ku yang lelah kini ku jatuhkan ke tanah, Ryan masih terus mengendus dan menggesekkan tubuhnya. Kepalanya ia jatuhkan di atas kepalaku dan kita berdua terpejam bersamaan.
“Ryan,” panggilku karena rubah ini tak kunjung beranjak.
“Starly, kamu baik-baik saja?”
“Hm, aku baik, hanya lelah saja.”
Ryan membantuku berdiri, menggiring tubuhku agar istirahat lebih dekat dengan api, “di dekat api lebih hangat, Starly, tubuhmu sangat dingin. Apa ada yang sakit?”
Selain lutut yang tergores dan ujung ekor yang terbakar kurasa aku baik-baik saja. Suhu di padang ilalang dan padang rumput cukup rendah angin juga sangat kencang. Mungkin itu yang membuat tubuhku dingin.
Namun pertanyaannya hanya ku balas hening dan anggukan saja.
Ku amati tempat yang teman-temanku tempati ini sejenak, melihat satu persatu para kawanan di sana. Semua rubah memperhatikanku dan Ryan, semua orang tau bahwa kita pasangan calon pengantin. Entah, apa yang mereka tunggu tapi aku mulai tak nyaman takut mereka salah paham. Aku bukanlah lagi calon pengantinnya. Ryan memilih Hyeni dan bukan aku. Inginnya aku mengatakan itu namun tertahan.
Tatapan ku berakhir tepat di wajah Ryan yang kini terlihat sangat khawatir.
“Ryan? Apa kamu cemas padaku?” tanyaku sangat pelan yang kurasa hanya Ryan saja yang mendengarnya.
“Tentu saja aku cemas,” anggukannya.
Aku menarik napas dalam, wajah Ryan memang terlihat khawatir, dan ini mungkin saja bagian lain dari tipu dayanya. Jika dia memang khawatir padaku, kenapa bukan dia saja yang menjemput? Malah bersantai dengan Hyeni, betina yang dia cintai. Ryan penuh dengan kebohongan dan janji palsu.
Tak ingin terpikat dengan kata-kata lembutnya, aku hanya mengangguk meresponnya, lalu memilih untuk berlalu dan mengambil tempat di dekat Launa dan Chio yang sudah tidur beristirahat.
Belum benar-benar terlelap, Ryan datang lagi ke tempat ku, kini di belah moncongnya terdapat potongan tungkai depan kijang. Dia menyeretnya hingga sampai di depan wajahku.
“Sudah ku bagi dengan milik Chio, bocah itu sudah terlelap, bagiannya akan kuberikan besok pagi. Ini untukmu Starly, kalian pasti sangat lelah dan lapar.”
Aku menatap potongan bangkai itu lalu menoleh ke arah Ryan.
“Makanlah!” perintahnya.
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutanyakan pada Ryan. Tentang dia yang tak bisa menjemput dan ingin memberikan batasan padanya untuk tak perlu berlebihan dalam memperlakukanku. Aku sudah cukup salah paham pada kebaikannya dan tak ingin tenggelam terlalu dalam lagi menikmati kebaikan itu hingga bergantung padanya.
Ini tidak bisa. Tak bisa kubayangkan jika aku bergantung padanya sementara dia harus bersama Hyeni nantinya. Aku menggeleng kecil.
“Starly, ini kesukaanmu kan? Tungkai depan.”
Bahkan Ryan tau bagian favorit makanan yang aku suka. Perutku berbunyi dan Ryan masih menungguku untuk makan. Kalau begini bagaimana bisa aku menolak pemberiannya.
Aku hanya mengangguk, mengambil daging itu lalu berlalu dari hadapannya, duduk membelakangi api. Aku butuh asupan ini.
“Terima kasih, Ryan, dagingnya aku makan.”
“Hm, makanlah, daging itu untukmu.”