13. Cyberis Land

1807 Kata
Kami sudah sampai. Tidak, bukan di tempat Ryan berada. Ini di rumah yang selama dua malam sudah ditinggalkan. Cyberis Land yang sudah hancur terbakar. Dari semua tempat yang pernah kami tinggali, hanya di Cyberis Land yang memiliki pemandangan paling bagus, Ibu juga berpendapat demikian. Lembah ini tidak begitu dalam, dan dinding tebing di sekitarnya pun tidak begitu curam. Salah satu tebing yang menutupi lembah ini adalah rumah para hiena yang berhasil memporak-porandakan rumah kami. Aku mendongak, menatap tebing yang berlubang di atas sana. Lubang hitam yang ku yakin tempat keluarnya hewan pemakan daging mengerikan. Sementara di sisi tebing di hadapannya sedikit hancur akibat benturan bintang jatuh malam itu juga. Entah aku tak begitu mengerti, bagaimana bisa benda yang kulihat bersinar di atas langit ternyata hanya bongkahan batu berwarna gelap. Dan bintang itu juga yang membuat dua tebing yang menutupi Cyberis Land hancur berantakan. Kami di tempat ini hanya bertemu bulan purnama satu kali saja. Padahal ini tempat yang sangat strategis untuk berlindung dan mencari makan. Di kanan dan kiri lembah ini ternaungi dua tebing besar, dan apabila berjalan lurus mengikuti arah datangnya matahari, maka kita bisa menemukan padang ilalang yang sangat luas. Di sana aku pertama kali bertemu dangan Nana dan Kak Doy, menyantap makanan di pagi hari sambil menikmati cahaya matahari sungguh menenangkan bukan? dan kini, itu semua sudah tidak ada lagi. Cyberis Land sudah tidak bisa digunakan untuk bersantai lagi. Menengok ke belakang, yang ku dapati adalah gapura dahan lebar yang salah satu dahannya patah memotong jalan, dan satunya lagi menghitam karena api. Jika arah lurus dengan matahari terbit akan menemukan padang ilalang. Maka arah tenggelamnya matahari akan menemukan air terjun Skavaz dan hutan hujan tempat biasa anggota Foxioz latihan. Hutan hujan yang sangat luas. Tidak hanya air terjun Skavaz, di sana juga banyak sekali air terjun yang berukuran kecil, memiliki air yang bersih dan jernih. Dan semua fasilitas alam yang sudah sangat nyaman kami tempati kini harus ditinggalkan karena tak ingin jika harus mengalami kejadian yang sama di masa depan. Tebing hiena di atas sana pun beberapa kali terlihat sang penunggu, seolah sedang memantau pengganggu di bawah sini. Di Cyberis Land sangat bahaya, anggota kami hanya beberapa, mau tak mau menghindar adalah cara untuk bertahan. Aku memutuskan untuk masuk mengikuti Chio. “Semua sudah hancur, Chio.” Chio tak meresponnya, wajahnya sedikit pucat dan dia terus saja masuk ke dalam. Memindai sekitar bisa ku bayangkan apa yang terjadi di tempat ini selama dua malam kutinggalkan. Bekas lahapan api masih tersisa di pohon-pohon dan bau busuk di beberapa titik aromanya sedikit menguar. Hujan juga membantu menghanyutkan sisa-sisa kebakaran sekaligus membantu pembusukan lebih cepat karena lembab. Baunya benar-benar tidak sedap. Chio berjalan mendahului, seperti mencari sesuatu. Aku yang penasaran mengikuti langkah kakinya. “Nyari apa, pergi aja yuk!” “Barangnya Launa, tunggu sebentar ya, Starly.” Chio memanjat ke rumah pohon tempat dia dan Launa tinggal, beberapa bagian rusak dan hampir roboh, pijakan dahan yang dibuat untuk memudahkan mereka memanjat juga rusak dan patah. Chio berhati-hati saat menaikinya. Aku yang dibiarkan di bawah sendirian, tak ingin hanya diam dan melamun. Dari pada menunggu Chio yang masih sibuk dengan urusannya, ku putuskan untuk melihat sekitar. Lapangan tempat kami berpesta malam itu pun hancur berantakan, arang dari api unggun kami berceceran kesana-kemari, beberapa juga terbawa aliran air hujan. Singgasana yang biasa pemimpin Gunn dan anak-anaknya duduki juga hancur berantakan. Lembab, rusak dan bercak darah berceceran di sekitar sana. Ada satu bangkai hiena yang terbujur k Kurasa dia tewas karena pertarungan karena beberapa bagian tubuhnya terdapat sayatan dari kuku tajam binatang lain. Lalu sedikit menghitam yang jelas karena terkena sambaran api. Netraku menangkap warna-warni cantik di bawah bangkai hiena itu. “Flower crown.” Itu mahkota bunga berwarna biru muda seperti yang Ryan pernah buat untukku. Hanya dia yang memiliki kreatifitas itu, dan setelah dilihat lebih dekat lagi aku mengingat sesuatu. Dan ternyata itu adalah mahkota bunga yang Ryan ingin berikan pada Hyeni malam itu. Aku mengingatnya, Ryan ingin memberikan bunga itu saat aku tengah menari untuk roh bintang, sekarang rasanya sangat sesak ketika mengingat momen itu lagi. Aku berjalan mendekat, bangkai hiena itu ku pindahkan. Mendorongnya hingga jatuh ke tanah. Bunga yang lembab itu ku raih dengan moncong ku. Ada noda darah di kelopaknya. “Bunga untuk Hyeni?” Aku menggigitnya lalu melemparnya hingga terjatuh di atas kepala hiena yang terbujur kaku tadi. Menarik napas dalam, ku putuskan untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Ryan bebas dariku. Perkawinan kita sudah batal. Petaka sudah terjadi dan bintang marah padaku. Cyberis Land berantakan dan apa yang kuharapkan dari rubah yang bahkan tak menepati janjinya untuk menjemput ku di pohon kembar mahoni. Rintik hujan berangsur-angsur mereda. Menghela sejenak aku meninggalkan tempat itu. Aku harus fokus, yang tersisa kini hanya aku. Kuat tidak untuk orang lain tapi untuk diriku sendiri, begitulah kata ibu saat aku memutuskan untuk menerima tawaran Pemimpin Gunn untuk latihan bersama anggota Foxioz. Aku harus kuat, bukan untuk rubah lain. Melainkan untuk diriku sendiri. Menatap sekeliling, ku ayunkan tungkai ku untuk masuk ke dalam rumah pohon, tempat aku dan ibuku beristirahat. Setengah bagian pohon sudah terbakar dan setengahnya lagi berlubang dan air langit masuk membasahi dahan-dahan penopang permukaannya. Walau hanya sebentar, tapi tempat ini penuh kenangan. Ibu biasa menjaga bayi-bayi rubah di tempat ini. Aku yang memang selalu malas-malasan untuk keluar dari rumah juga terkadang bermain dengan bayi-bayi rubah itu. Muggi tidak tinggal bersama kami. Dia memiliki tempat sendiri, namun beberapa kali dia datang ke tempat ini setelah selesai berburu. Aku memutuskan untuk turun saja, karena tak ada yang tersisa dari rumah pohon kami. Di bawah Chio sudah menungguku. “Ayo Starly, sebelum gelap, kita harus berangkat sekarang, Launa dan yang lain pasti sedang menunggu.” “Dan yang lain?” “Ya, beberapa kawanan yang berhasil selamat sedang berkumpul, kita akan mencari tempat baru lagi, mungkin akan menjadi perjalanan yang panjang,” jelas Chio, namun fokusku masih pada kawanan yang lain. “Chio, kawanan lain itu … apa ibuku ada di sana?” Aku mendekat, menatap Chip penuh harap. Sementara jantan yang ku tatap malah menunduk. Tanpa dia jelaskan aku sudah tau jawabannya. Ibu ku tidak ada bersama mereka. “Hanya ingin memastikan saja Chio, apa aku harus mengikuti kalian atau mencari ibuku saja.” “Ibumu tidak bersama kami, Starly, tapi kita harus tetap bersama, nanti kita cari jalan keluar setelah kita menemukan tempat untuk tinggal.” Aku menggeleng, “Sebelum aku meninggalkan ibu dan lari menyelamatkan diri, ibuku sedang berjuang untuk menyelamatkan bayi-bayi rubah, Chio, ibuku harus ditemukan.” Aku mundur beberapa langkah dari Chio, kemudian masuk ke dalam kamar bayi rubah yang berada di bawah akar pohon besar. Akarnya sangat besar hingga dijadikan naungan untuk bayi rubah yang belum bisa memanjat ke atas pohon. Di dalam sangat berantakan. Tak ada apapun di sana, hanya bercak darah yang membekas di dinding akar pohon. “Ibuku masih hidup Chio, dia bersama bayi rubah yang lain.” Aku menjelajah setiap sisi ruangan, mengamati dengan cermat dari ujung satu ke ujung yang lain, sela-sela bagian akar yang mungkin saja akan membantuku menemukan jejak yang ibuku dan bayi-bayi rubah itu tinggalkan. Seingat Ku, kawanan kami memiliki 4 ekor bayi rubah dan satu janda yang biasa menjaga mereka. Ibu ku juga sering datang dan membersihkan area bayi. Sudah tak ada tanda-tanda kehidupan di sini, hanya bercak darah yang entah milik siapa. Aku sangat yakin, empat bayi rubah, beserta janda penjaga mereka berhasil selamat termasuk ibuku. Tempat ini berantakan karena sempat terjadi pertarungan disini. “Ku rasa, mereka semua selamat dan melarikan diri,” suara Chio di belakang tubuhku, meyakinkan asumsiku kini. “Mereka juga terluka, Chio.” Chio mendekat mencermati noda darah yang tertinggal. “Bukan berarti ini milik rubah.” Chio mengendus bagian itu, keningnya berkerut dan ia pun tak yakin dengan asumsinya. “Hiena?” “Bisa jadi?” “Para hiena itu terus mengejar?” Aku berjalan sedikit keluar, mengikuti jejak lain dan rumput ilalang yang rusak akibat do terjang sesuatu. “Mereka keluar lewat sini!” seruku, Chio ikut memperhatikan. “Tidak ada sisa bangkai di sini dan mereka semua berhasil keluar, kalau salah satu daru mereka ada yang tertinggal tentu saja hiena itu tidak akan mengejar lagi, tapi lihat ini! Ada kulit hiena yang terkelupas di ranting ini.” Chio mengangguk, menyetujui pendapatku. “Mereka kabur ke arah hutan hujan lalu naik ke atas tebing,” ucap Chio membuat kita berdua mendongak ke atas bersamaan. Rute melarikan diri ibuku dan bayi rubah sudah jelas sekarang. Kita tinggal mengejarnya saja. “Starly, mau kemana?” tahan Chio saat langkah kaki ku ayunkan menuju hutan hujan. “Tentu saja aku harus mencari ibuku dan bayi rubah.” “Tidak, tidak bisa, jangan sekarang!” Chio menghadang jalan membuatku menatap tajam ke arahnya. “Tidak ada yang tau apa yang terjadi pada ibumu dan bayi-bayi rubah setelah di kejar oleh hiena-hiena itu. Sejauh ini mereka memang berhasil melarikan diri, lalu apa? Di tangkap dan menjadi tawanan?” “Kita engga akan tau kalau kita kejar, Chio.” Rubah gembul itu malah menggeleng. “Bukan kita, aku juga ngga akan biarin nyawa kamu terancam karena mengejar mereka.” “Kita harus bergegas! Ibuku butuh pertolongan, justru itu Chio, tak ada yang tau pasti makanya kita harus cepat memastikannya.” Aku ingin pergi tapi lagi-lagi Chio mengejar dan menghalangi. “Bagaimana jika mereka semua sudah tewas dan segerombolan hiena itu berbalik menangkap kita? Kamu lagi luka, bahkan ekormu tidak bisa menyeimbangkan diri.” Chio kukuh, dan dia benar, untuk turun dari pohon saja aku takut-takut, karena memang lututku masih dalam penyembuhan dan ekorku yang memang sudah tak bisa lagi diajak bekerja sama. “Lalu sekarang bagaimana?” “Ikut aku Starly.” “Tapi waktu kita ngga banyak Chio, ibuku bisa saja dalam bahaya sekarang.” “Kita butuh bantuan, dan kamu juga butuh penyembuhan yang maksimal. Aku juga yakin, ibumu itu pemburu yang handal, walau aku tak begitu dekat dengan kalian, tapi aku bisa melihat ibumu itu sosok yang kuat, dia bisa membawa kabur bayi rubah kan? Aku yakin dia bisa melawan, jadi kamu harus tenang, dan obati dulu lukamu hingga sembuh total.” Chio benar, yang harus ku yakini sekarang adalah ibu yang bukan sosok yang payah dan lemah. “Kita akan bertemu dengan kawanan yang lain.” “Kawanan lain?” “Launa sedang menungguku.” “Apa yang lain baik-baik saja, Chio?” tanyaku penasaran. Chio mengangguk, “ada beberapa yang terluka, namun sedang dalam penyembuhan, kamu juga akan segera diobati. Ryan calon suamimu juga ada di sana?” “Ryan bersama kalian?” “Iya, dia selamat dan bersama kami.” “Oh, jadi selama ini, Ryan baik-baik saja dan bersama kalian?” Anggukan Chio membuat dadaku sesak. Satu janji lagi yang Ryan ingkari, selain dia yang tidak datang menjemput ku di air terjun Skavaz, ternyata Ryan tidak pergi bersama ibuku dan menolong bayi-bayi rubah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN