Edward duduk termangu memikirkan perkataan Andrew mengenai lingkaran sihir yang harus mereka buat. Dia masih ragu untuk meminta bantuan Raina untuk mengajarinya lingkaran sihir itu. Mereka berdua masih cukup canggung padahal sudah lama menikah bahkan sudah mempunyai anak. Sifat Edward yang tidak bisa memperlihatkan perasaannya dengan benar dan Raina yang terlihat tidak keberatan dengan sifat Edward justru membuat mereka semakin merenggang. Edward selalu merasa canggung jika berdua dengan Rania entah kenapa.
Edward berdiri, dia menghela napas pelan. Andrew benar, jika bukan dia yang belajar lingkaran sihir itu siapa yang akan melakukannya. Andrew tidak bisa bertemu dengan Nicole untuk sementara waktu. David tidak punya orang yang benar-benar bisa dia percayai di istananya. Ricky yang lebih sibuk di sekolah membuatnya lebih kesulitan, tidak mungkin Edward melimpahkan tugas itu pada David.
Dia pun akhirnya memutuskan mencari Raina dengan buku sihir di tangannya. Edward memulainya dari perpustakaan kerajaan karena biasanya Raina berada di sana. Namun sepertinya hari ini dia tidak pergi ke sana. Edward pun pergi ke kamar Iris anak mereka, tapi Raina juga tidak ada di sana. Dan karena Iris juga tidakk ada, Edward akhirnya memutuskan untuk pergi ke taman istana. Karena biasanya Raina dan Iris bermain disana. Ternyata dia benar, Iris dan Raina ada di sana ditambah dengan Oma Maria. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu pikir Edward. Tapi dia tetap menghampiri Raina, karena urusan mereka sudah tidak bisa ditunda lagi. Mereka harus segera pergi ke Poulia Library untuk mencari informasi sebanyak mungkin mengenai reset button.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" tanya Edward setelah jarak mereka dekat. Edward dapat melihat jika Raina menegang sesaat setelah mendengar suaranya, meskipun itu hanya sebentar.
"Tentu saja mengajak Putri Iris bermain, memang apalagi!" jawab Oma Maria saat dia melihat wajah canggung Raina. Edward duduk di samping Raina, dia melihat wajah cantik putrinya. Dia meletakan buku yang dia bawa lalu mengambil Iris dari pangkuan Raina dan memangkunya sembari memainkan pipi gembil anaknya itu. Semua perlakuan Edward itu membuat Raina kembali menegang dan gugup.
"Kau seharusnya bilang dulu saat akan membawa Iris dari pangkuan Raina!" Edward memandang Oma Maria tidak mengerti saat Oma Maria menegurnya seperti itu. "Kau tidak lihat istrimu jadi kaget karena ulahmu!" lanjutnya. Edward memandang Raina dan ternyata benar Raina kaget karena ulahnya.
"Tidak apa Oma!" bela Raina saat dia tersadar dari rasa kagetnya, dia merasa bersalah karena Edward jadi ditegur karenanya.
"Kau, Andrew, Ayahmu dan Opamu sama saja! Kalian tidak peka soal wanita!"cibir Oma Maria.
"Oma!" protes Edward tidak terima karena dikatakan tidak peka. Oma Maria menulikan pendengarannya untuk protes Edward. Dia malah mengambil Iris dari pangkuan Edward, Iris yang diangkat oleh Oma Maria langsung mengalungkan tangannya ke leher buyutnya tersebut.
"Sering-seringlah bicara berdua!" nasihat Oma Maria lebih pada Edward. "Aku akan membawa cicitku bermain, jadi puas-puaskan saja kalian mengobrol berdua!" lanjut Oma Maria sambil membawa Iris pergi dari kedua orangtuanya. Iris yang belum mengerti apapun hanya melambaikan tangannya pada orangtuanya seolah senang diajak pergi oleh Oma Maria.
Sepeninggal Oma Maria aura canggung antara keduanya semakin menguar. Edward terlalu ragu untuk memulai perbincangan, sementara Raina terlalu gugup saat berdua dengan Edward. Untuk beberapa saat mereka hanya diam tanpa kata. Raina lebih memilih melihat bunga-bunga yang ada di taman untuk menghilangkan gugupnya. Edward melihat kesekeliling untuk mencari bahan obrolan untuk mereka. Matanya akhirnya terpaku pada buku yang tadi dia bawa. Benar, dia mencari Raina untuk membahas buku tersebut pikir Edward.
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu!" ujar Edward akhirnya membuat keheningan mereka berakhir. Raina akhirnya menoleh ke arah Edward.
"Apa itu?"
"Lingkaran sihir, kami harus membuat lingkaran sihir untuk memanggil gamaiun! Tapi tidak ada satupun diantara kami yang bisa membuatnya!" jelas Edward, Raina tahu kami yang dimaksud adalah David, Andrew dan Edward.
"Lingkaran sihir seperti apa?" tanya Raina, dia harus tahu seperti apa bentuk awal dari lingkaran sihir itu sebelum memastikan seperti apa membuatnya.
Edward pun membuka buku sihir yang mereka beli dan mencari halaman yang memuat lingkaran sihir yang memanggil gamaiun. Tanpa Edward sadari Raina tersenyum kecil saat melihat buku yang dibawa oleh Edward. Penulis buku itu sepertinya sangat jahil pikir Raina saat melihat bagaimana buku tersebut.
Edward memperlihatkan lingkaran sihir yang dimaksud pada Raina. Raina memperhatikan lingkaran sihir itu dengan seksama sebelum akhirnya keningnya berkerut. Bukan karena dia tidak tahu bagaimana membuatnya, hanya saja ada yang salah dengan lingkaran sihir itu pikirnya. Ada beberapa huruf yang tidak perlu disisipkan tapi ada di sana, dan pola pada lingkarannya pun berantakan menurutnya. Dia yakin jika ada yang membuat lingkaran sihir itu, bukan gamaiun yang akan muncul. Tapi hanya beberapa ledakan-ledakan yang cukup berbahaya bagi pembuatnya.
"Ada yang salah dengan lingkaran sihir ini!" kara Raina akhirnya.
"Maksudnya?" tanya Edward yang memang tidak mengerti. Untuk masalah bertarung dan strategi perang dia mungkin bisa, tapi tidak dengan sihir yang banyak persiapan seperti sihir ramuan ataupun lingkaran sihir.
"Ada beberapa huruf yang harus dibuang dari lingkaran sihir ini, dan pola lingkarannya harus diperbaiki!" jelas Raina, tapi tetap saja Edward masih belum mengerti.
"Aku tidak mengerti!" Edward akhirnya mengaku, dia akan semakin pusing jika tidak mengaku sejak awal.
"Sebaiknya kita pindah saja ke ruang kerja Yang Mulia, nanti saya jelaskan!" jawab Raina, dia masih memikirkan tata krama Kerajaan. Akan sangat tidak sopan jika dia hanya memanggil Edward dengan namanya. Tapi, tanpa Raina sadari Edward tidak suka dengan panggilan formal Raina padanya.
Edward berdiri dan mulai berjalan menuju ke ruang kerjanya tanpa menjawab perkataan Raina. Sang ratu hanya mengikuti rajanya dari belakang, dia masih tidak mengerti apakah dia membuat kesalahan atau tidak sehingga Edward menjadi diam dengan wajah dinginnya. Tapi Raina tidak banyak bertanya karena takut salah lagi. Sesampainya di ruang kerja Edward, Edward langsung duduk di kursi panjang yang ada di sana. Sementara itu Raina mengambil kertas dan pena supaya dia dengan mudah menjelaskan bentuk lingkaran sihir yang seharusnya dibuat Edward.
Raina langsung menggambarkan lingkaran sihir yang seharusnya mereka buat dan menunjukannya pada Edward. Raina pun menjelaskan beberapa perbedaan lingkaran sihir yang dibuatnya dengan lingakaran sihir dibuku. Dia pun menjelaskan syarat-syarat yang diperlukan saat memanggil gamaiun dengan lingkaran sihir itu. Dan semuanya dijelaskan dengan dengan bahasa formal. Dan tentu saja itu membuat Edward semakin kesal.
"Jangan berbicara formal denganku saat kita berdua seperti ini!" pinta Edward serius. Raina memandang Edward tidak mengerti, apa salahnya berbicara formal. Lagipula itu adalah tata krama kerajaan bukan.
"Itu membuat hubungan kita terlihat lebih canggung!" jelas Edward akhirnya. Hubungan mereka memang sedikit canggung setelah menikah, Edward terlalu dingin saat bersama Raina. Dan itu membuat Raina berprasangka buruk pada Edward.
"Bukankah itu tata krama kerajaan!" jawab Raina.
"Jangan lakukan itu jika kita berdua! Lagipula tidak akan ada yang tahu jika kau melakukannya jika kita hanya berdua!" pinta Edward lagi.
"Tapi....."
"Jika kau terus melakukan itu, jarak diantara kita terasa semakin jauh!" potong Edward lagi. Bukan hanya Raina yang merasakan kecanggungan diantara mereka, tapi Edward juga merasakan yang hal yang sama. Entah sejak kapan mereka merasakan hal itu, dan mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk menghilangkannya.
"Aku tahu, aku bukan orang yang bisa mengungkapkan isi hatiku dengan benar! Tapi aku akan mencoba, aku ingin mencoba memperbaikinya!" jelas Edward pada Raina. Dia tahu dialah yang membuat hubungan mereka merenggang. "Jadi maukah kau bersabar sampai saat itu tiba?" tanyanya pada Raina. Raina mengangguk karena terharu, dia tidak tahu jika Edward ternyata memperhatikannya seperti itu.
"Aku akan menunggu sampai kau bisa mengungkapkan perasaanmu dengan benar!" jawab Raina mantap. Edward mendekat kearah Raina lalu memeluk pinggangnya dan meletakan kepalanya di bahu Raina. Raina menegang sebentar sebelum akhirnya dia tersenyum.
"Jelaskan lagi tentang lingkaran sihir itu! Aku harus segera menguasainya!" kata Edward dengan nada yang lembut.
Raina pun menjelaskan kembali mengenai lingkaran sihir yang harus dibuat oleh Edward. Suasana mereka masih canggung, tapi lebih baik daripada sebelumnya. Kau memang tidak bisa merubah sifat seseorang hanya dalam hitungan detik, tapi Raina yakin Edward akhirnya mau memperbaiki hubungan mereka. Dan dia yakin itu adalah awal yang baik bagi mereka berdua.
David termenung di ruang kerjanya, semua masalah kerajaan membuatnya sangat terbebani. Apalagi ayahnya Raja terdahulu lebih memilih mengasingkan diri dari istana, dengan alasan ingin menghabiskan masa tuanya bersama sang istri. David paham mengenai hal itu, terlebih mereka tidak bisa menunjukan perasaan mereka dengan gegabah dulu. David sangat tahu jika dulu ibunya sering dipojokan para mentri karena dianggap terlalu ikut campur urusan kerajaan. Dan dia mendukung saat ayahnya ingin mengasingkan diri dari kerajaan dulu, dia menganggap itu sebagai hadiah untuk ayahnya yang sangat bekerja keras sebagai seorang raja. Tapi dia menyesal sekarang karena tidak ada yang bisa membantunya menyelesaikan semua tugas kerajaan yang selalu bertambah setiap harinya.
Lihat saja tumpukan-tumpukan dokumen kerajaan itu, di kursi santainya, di meja kerjanya, bahkan di lantai pun penuh dengan tumpukan dokumen. Bagaimana dia tidak stres dengan semua ini, apalagi Alviro sekarang sering cuti kerja karena tubuhnya tidak sekuat dulu. Banyak alasan yang dikatakan oleh Alviro, tapi yang paling sering adalah masalah pinggangnya yang sakit. David tidak bisa memaksa Alviro bekerja karena dia tahu kesehatan penasehatnya itu memang bermasalah sejak pemerintahaan ayahnya. Dan dia seharusnya sudah pensiun, tapi karena tidak ada kandidat yang bisa menggantikannya dia terpaksa masih bekerja. Alviro sendiri bilang dia akan terus bekerja sampai setidaknya Ricky mau menggantikannya. Karena Alviro sendiri hanya bisa mempercayai Ricky untuk tugas itu setelah Denish memutuskan menjadi penasehat di Kerajaan Lunar.
"Keriput kakak akan semakin terlihat jika kakak terus berpikir keras seperti itu!" kata sebuah suara, David mendongak untuk melihat siapa yang berbicara padanya. Dan ternyata Andrew yang terlihat sedang duduk di salah satu kursi sembari membaca gulungan kerajaan miliknya.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
"Hanya berkunjung!" jawabnya tanpa mengalihkan wajahnya dari gulungan yang dibacanya. "Aku tidak tahu kakak dengan mudah menandatangani pemberian hadiah tanah seperti ini pada seorang mentri, apalagi itu tanah yang sangat produktif!" lanjut Andrew sembari mengerutkan kening seolah tak percaya dengan apa yang dibacanya.
"Apa maksudmu?" David tidak mengerti, dia tidak pernah menandatangani dokumen seperti itu pikirnya.
Andrew pun memberikan dokumen yang dimaksud pada David. Dia menjelaskan kalau isi dokumen itu sebenarnya hanya penyerah terimaan tanah kerajaan pada salah seorang mentri sebagai hadiah. Jika tidak jeli mungkin dia hanya akan mengira itu serah terima hadiah biasa, tapi saat dia baca kembali ternyata hadiah itu sebuah peternakan milik Kerajaan. Dan hadiah itu diserahkan karena alasan yang konyol, yaitu mengusir orang-orang yang berkerumun di depan istana. Jika saja dia tidak mengenal David dia mungkin sudah menyebut David raja yang bodoh karena memberikan hadiah sebesar itu untuk jasa yang sebenarnya biasa dilakukan penjaga kerajaan.
"Apa yang kau tidak apa-apa berada di sini?" tanya David sambil membaca dokumen yang diberikan Andrew. Dia baru sadar jika Andrew seharusnya tidak berada di sini saat ini.
"Kakak baru sadar!" Andrew terkekeh melihat reaksi lambat David yang sebelas dua belas dengan Ryuzaki. "Aku memasang pelindung tenang saja! Tidak akan ada yang sadar jika aku berada di sini!" jelasnya.
"Bukankah seharusnya kau lebih baik menemui Nicole daripada aku!" Andrew langsung berubah sendu saat dia mendengar nama Nicole. Dia merindukan istrinya itu, tapi keadaan di sana tidak memungkinkan dia menemuinya dalam wujud apapun. Hampir semua orang di sana sudah masuk dalam jeratan musuh.
"Andai saja aku bisa, mungkin aku lebih baik ke sana daripada mengoreksi dokumen kerajaanmu!" jawab Andrew sambil mengambil acak gulungan lain di meja David. Sementara David hanya bisa diam tidak menjawab perkataan Andrew, dia seharusnya tahu hal itu pikirnya.
"Kemana Sir Alviro?" tanya Andrew yang masih fokus pada gulungan yang dibacanya.
"Dia izin tidak bekerja! Katanya pinggangnya sakit!" jelas David yang juga masih fokus membaca gulungan tadi.
"Kenapa kakak tidak mencari penasehat baru?" Andrew sepertinya tidak sadar jika pertanyaannya itu salah. Karena setelah mendengar pertanyaan Andrew, David kesal.
"Seharusnya kau tahu! Paman Denish yang tadinya akan diangkat jadi penasehat malah menjadi penasehat di kerajaanmu!" seru David kesal dia menenangkan napasnya yang memburu. Sementara Andrew melihat David dengan sebelah alisnya dinaikan bingung. Tapi tak lama kemudian dia mengerti, dia terkekeh melihat David kesal.
"Itu bukan atas perintahku! Tapi Paman Denish yang mau sendiri!" Andrew membela diri.
"Tetap saja, karena Paman Denish pergi aku jadi harus menahan Sir Alviro padahal dia sudah harus pensiun saat itu!" keluh David akhirnya.
"Jika kakak terus mengeluh aku akan pergi!" kata Andrew sambil beranjak seolah dia benar-benar akan pergi.
"Jangan!" kata David cepat sembari memegang tangan Andrew erat. "Bantu aku memeriksa semua dokumen ini!" pinta David memelas. Dia benar-benar bisa gila jika harus memeriksa semua dokumen itu sendirian.
Andrew kembali duduk di samping lalu melanjutkan memeriksa dokumen kerajaan milik David sambil menggerutu. Dia melakukan itu karena kasihan David benar-benar sendirian memeriksa semua itu. Tapi di sisi lain dia juga kesal karena David seolah menyalahkannya karena keputusan Denish yang menjadi penasihat di kerajaannya.
Sementara itu David justru merasa senang karena Andrew tidak jadi pergi. Semua dokumen itu benar-benar memusingkan dan membuatnya stres. Belum lagi letaknya yang tumpang tindih sehingga dia tidak bisa memeriksa beradasarkan jenis dokumennya. Sekalipun ada semua itu hanya dokumen tentang hadiah yang harus diberikan pada mentri atas jasa mereka yang entah apa pada kerajaan. Bukan berarti mereka tidak berjasa, hanya saja hadiah yang mereka ajukan terlalu keterlaluan, peternakan yang dibaca Andrew hanya satu dari sekian banyak usulan itu. Tapi yang membuatnya heran adalah dia tidak pernah merasa menandatangai dokumen tersebut. Dia biasanya menyisihkan dokumen tersebut lalu membuangnya karena dianggap tidak berguna.
"Kau berniat menaikan pajak kak?" tanya Andrew tiba-tiba, David mengernyit pelan. Dia tidak segila itu menaikan pajak saat beberapa desa di kerajaannya dilanda kekeringan. Dia masih bingung mengatasi hal itu, mana mungkin dia menaikan pajak.
"Aku tidak gila harta seperti itu sampai harus menaikan pajak saat rakyatku kesulitan!" jawab David agak marah, dia tidak mengerti bagaimana mereka para mentri mementingkan dirinya sementara rakyat mereka sedang kesulitan. Dia bahkan tidak yakin rakyatnya bisa makan dengan layak karena kekeringan itu.
"Kakak dan istri kakak menandatanganinya! Malah Hazel menuliskan pesan bahwa itu usulan yang bagus!" jelas Andrew sambil menyerahkan dokumen itu pada David. Dia bukan bermaksud mengadu domba Hazel dan David, hanya saja untuk urusan ini dia tidak bisa tinggal diam.
"Orang-orang ini benar-benar! Mereka menyalah gunakan stempel kerajaan hanya untuk keuntungan mereka sendiri!" David marah, benar-benar marah. Bagaimana mungkin mereka tega memeras orang-orang miskin hanya untuk keuntungan mereka sendiri. Apa mereka tidak berpikir semua kemewahan mereka berasal dari rakyat. Tapi mereka malah menyengsarakan rakyat mereka sendiri hanya karena mereka memiliki embel-embel bangsawan, orang kelas atas dan sebagainya.
"Aku rasa kakak harus mulai menyidak semua orang yang punya stempel kerajaan!" usul Andrew. Kerajaan Luce akan sangat kacau jika mentri-mentrinya bertingkah sesuka hati mereka. Andrew juga merasa kalau David harus segera menyelidiki para mentri, karena dia curiga banyak yang bermain licik dibelakang David. Manusia itu jika sudah haus kekuasaan dan harta tidak akan bisa membedakan mana yang benar-benar membuat kerajaan maju dan yang mana yang merupakan topeng belaka.
"Kau benar! Aku rasa ketika Sir Alviro kerja aku akan mendiskusikan ini dengannya!" jawab David menyetujui usulan Andrew.
"Aku setuju! Sir Alviro pasti akan tahu jalan mana yang harus dipilih untuk menyelesaikan masalah ini!" timpal Andrew, David mengangguk.
"Untuk saat ini aku harus menyelidiki dokumen-dokumen ini! Kau harus membantuku sampai pisahkan semua dokumen mencurigakan aku akan mendiskusikan dengan Sir Alviro nanti!" pinta David tapi sebenarnya seperti perintah bagi Andrew. Tapi untuk saat ini Andrew akan membantu David, Kerajaan Luce sudah seperti rumah baginya. Dia tidak ingin kerajaan ini hancur hanya karena ulah orang-orang serakah. Andrew dan David mulai membaca dokumen-dokumen itu, mereka memisahkan mana dokumen yang benar-benar bisa disetujui dan dokumen yang merugikan kerajaan. Dan hasilnya cukup mencengangkan, lebih dari setengah dokumen itu justru merugikan bagi kerajaannya. David bahkan tidak habis pikir bagaimana mentri-mentrinya mengusulkan hal-hal seperti itu. Kebanyakan dokumen itu adalah dokumen usulan hadiah untuk para mentri dan usulan kenaikan pajak serta pembatasan penjualan untuk bahan pangan tertentu. Mereka benar-benar berniat membunuh rakyat pikir Andrew dan David tidak habis pikir.
Di sisi lain di Kerajaan Lunar, Nicole sedang mendiskusikan sesuatu dengan Vromme dan juga Denish. Sakitnya Andrew sangat berpengaruh dalam pemerintahan yang dilakukan oleh Nicole. Banyak dari para mentri yang mulai memojokannya karena dianggap kurang tanggap dengan masalah kerajaan. Padahal dia sudah berusaha sebisa mungkin menangani masalah kerajaan.
Tapi bukan masalah kerajaan yang menjadi fokus dalam diskusi mereka. Mereka sedang mendiskusikan siapa saja yang kemungkinan berada di pihak musuh di dalam kerajaan mereka. Mereka sudah menyaring semua petinggi kerajaan yang mencurigakan dan mengerucutkannya menjadi beberapa orang. Namun, mereka masih belum memiliki bukti yang pasti mengenai hal itu. Para mentri itu cukup cerdik untuk menyembunyikan kebusukan mereka.
"Apa yang kalian bicarakan sampai seserius itu? Kalian sangat tega tidak mengajakku!" kata sebuah suara dari arah jendela. Dan teranya suara itu milik Ryuzaki ah tidak itu Hogo matanya jelas abu-abu dan ada tato di lehernya. Denish dan Nicole kaget karena sikap frontal Hogo tersebut.
"Apa yang kau inginkan?" geram Denish, dia maju berdiri di depan Nicole seolah melindungi Nicole. Vromme yang masih tidak mengerti hanya memadang mereka bingung. Dia memang menyadari ada yang berubah dengan penampilan Ryuzaki, tapi dia tidak merasa jika Ryuzaki berbahaya.
"Hanya ingin bersenang-senang sebelum aku pergi!" jawabnya sambil duduk di atas jendela.
"Jangan macam-macam Hogo, aku tidak akan tinggal diam!" ancam Denish, Hogo hanya menaikan bahunya seolah tidak peduli.
"Aku hanya berniat baik! Orang yang kalian curigai tidak semuanya berkomplot dengan musuh dan orang yang diam justru sangat berbahaya!" kata Hogo acuh tak acuh. "Aku pergi!" pamitnya sambil menghilang. Denish yang ingin bertanya hanya bisa membuka mulut tanpa suara karena Hogo sudah terlanjur pergi.
"Siapa Hogo Sir? Kenapa dia mirip dengan Sir Ryuzaki?" tanya Vromme yang bingung. Denish pun menjelaskan soal Hogo pada Vromme. Dia tahu Vromme pasti akan berhadapan langsung dengan Hogo suatu saat nanti dan dia harus mempersiapkannya sebelum itu terjadi. Hogo bukan orang yang mudah dilawan, apalagi Andrew sedang tidak ada. Akan semakin sulit melawannya.
Lalu bagaimana dengan Hogo, dia pergi ke sekolah sihir untuk "berjalan-jalan". Tidak ada yang tahu pasti apa maksudnya dia ke sana tapi yang jelas bukan untuk menyelidiki pembunuhan yang sudah terjadi di sana. Hogo lebih tertarik dengan lukisan Mr. Snail yang ada di lorong tingkat empat. Ah sepertinya tujuannya memang untuk pergi ke sana. Dia berhenti tepat di depan lukisan Mr. Snail sambil menyeringai.
"Apa kabar siput?" tanyanya dengan mata berkilat menyeramkan, jangan lupa seringaiannya yang menambah suasana seram di lorong tersebut. Dia menatap tajam ke arah Mr. Snail. Sementara Mr. Snail tampaknya sangat kaget, terutama saat dia menatap langsung pada mata Hogo.
TBC