"Apa kabar siput?" Tanya Hogo dengan mata berkilat kejam, jangan lupakan seringainya yang membuat suasana di lorong tersebut semakin menyeramkan. Mr. Snail terlihat sangat kaget saat melihat Hogo. Terutama saat dia bertatapan langsung dengan mata Hogo. Mr. Snail mencoba mengingat siapa orang yang berada di hadapannya, sampai matanya terpaku pada tanda oni yang ada di leher Hogo. Dia mengingatnya pikir Mr. Snail dengan sorot mata sedih bercampur takut entah karena apa.
"Sepertinya kau sudah mengingatku siput!" Katanya sambil menekan kata siput di akhir kalimat. Mr. Snail memalingkan mukanya dari Hogo, dia enggan melihat orang yang berada di depannya itu. Meski raga mereka berbeda, tapi dia merasakan hal yang sama saat melihat mata Hogo. Perasaan yang dia pikir tidak akan pernah dia rasakan lagi, tapi sekarang dia merasakan hal itu setelah berabad-abad lamanya.
"Jangan takut siput! Aku hanya menyapa, belum waktunya kau mati! Kau masih harus menyelesaikan apa yang kau mulai!" ujar Hogo sambil menekan semua perkataannya. Hogo tidak main-main soal membunuh Mr. Snail. Alasan dia bisa berakhir di tubuh Ryuzaki adalah untuk alasan itu. Hanya saja, dia tidak bisa membunuh Mr. Snail selama dia masih terjebak di dalam lukisan.
"Kau!" Seru Mr. Snail saat melihat Hogo akan pergi. "Bagaimana aku bisa berakhir di dalam sini?" Tanyanya, dia memang tidak mengingat bagaimana dia bisa berakhir terjebak di dalam lukisan seperti ini. Ingatannya sebagian hilang, saat dia tersadar sudah di dalam lukisan.
Hogo menyeringai ke arah Mr. Snail, matanya berkilat tajam untuk beberapa detik. Namun dia masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak langsung menyerang lukisan Mr. Snail. Hogo pikir orang itu ingat apa yang dia lakukan sampai dia terjebak di lukisan itu.
"Kau mengorbankan orang-orang disekitarmu untuk keegoisanmu! Karena itu kau mengurung dirimu di dalam lukisan sebagai tanda penyesalan." Jelas Hogo dengan penuh penekanan, emosinya kembali memuncak mengingat apa yang telah dilakukan oleh Mr. Snail dulu.
"Aku mengurung diriku sendiri?" tanyanya tidak percaya, dia memang tidak mengingat bagaimana dia bisa berakhir di dalam lukisan. Dia pun tidak tahu sihir seperti apa yang bisa menyegel penyihir ke dalam sebuah lukisan.
"Bodohnya kau sampai melupakan hal itu!" ejek Hogo "Tapi itu tidak penting! Ada yang lebih penting daripada bagaimana kau bisa di dalam lukisan bodohmu itu!" lanjutnya, Mr. Snail mengerut tidak mengerti dengan apa yang dimaksud hal yang lebih penting daripada keberadaannya di dalam lukisan.
"Apa kau pernah bertemu dengan orang yang mirip dengan DIA di sekolah ini?" tanya Hogo serius sambil menekan kata dia seolah menunjuk pada seseorang yang mereka kenal. Mr. Snail akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh Hogo.
"Ya!" jawabnya yakin. "Saat dia kecil satu kali dan saat dia dewasa satu kali!" lanjut Mr. Snail.
"Kau yakin itu dia atau hanya orang yang mirip dengannya" tanya Hogo menyelidik.
"Aku merasa itu dia! Tapi apa itu mungkin? Dia pasti sudah meninggal ratusan tahun yang lalu!" Mr. Snail sama sekali tidak yakin dengan apa yang dia bicarakan. Tapi sangat aneh baginya merasakan aura yang sama dengan wajah yang sama pada waktu yang sangat jauh berbeda. Jika benar dia adalah orang yang dia kenal, maka seharusnya dia seperti kakek-kakek karena umurnya yang telah mencapai hampir 400 tahun.
"Kau benar! Dia pasti sudah tidak ada sekarang!" jawab Hogo dengan mata menerawang, mengingat kembali orang yang mereka bicarakan. "Selesaikan urusanmu! Setelah itu bersiaplah berhadapan denganku!" kata Hogo seraya menghilang menjadi butiran debu. Mr. Snail hanya bisa menghela napas dengan sorot mata sedih entah karena apa.
Suara gemuruh kaki kuda memenuhi perbatasan timur Kerajaan Lunar, para pasukan berkuda itu berkumpul di sebuah tanah lapang sembali mendirikan tenda-tenda dengan bendera Kerajaan Luce dan Kerajaan Valk. Sepertinya baik David maupun Edward sudah tidak bisa menahan keinginan para menteri mereka untuk menyerang Kerajaan Lunar. Para menteri itu memutuskan untuk bersekutu melawan Kerajaan Lunar. Mereka pikir akan lebih baik jika hanya ada dua kerajaan besar yang mengatur semuanya. Dan Kerajaan Lunar sepertinya tidak mereka masukan ke dalam hal itu. Bagi mereka Kerajaan Lunar terlalu mengancam terlebih tiga orang dari legenda sihir berada di sana. Mereka berpikir lebih baik menyerang, dari pada nanti mereka yang di serang.
Di sisi lain, Denish yang sudah mendengar berita bahwa kedua kerajaan itu bersekutu menyerang kerajaan mereka langsung mengumpulkan para panglima perang. Dia sendiri sebenarnya sudah bersiap sejak Kaila memperingatkannya mengenai rencana para mentri di Kerajaan Luce dan Kerajaan Valk. Hanya saja dia juga tidak mungkin meninggalkan Nicole yang sedang hamil sendirian di Kerajaan Lunar. Setidaknya dia harus di dampingi oleh seseorang untuk mencegah sesuatu yang buruk pada Ratu dari kerajaannya itu. Dia memang berencana meminta Kaila untuk menemani Nicole, tapi dia merasa jika hanya Kaila saja tidak akan cukup untuk melindungi Nicole. Namun dia juga tidak punya kandidat lain untuk menemani Nicole. Ryuzaki mau tidak mau harus berperang dengannya tidak peduli apakah di dalam tubuh itu memang Ryuzaki atau Hogo. Dia tidak ingin mengambil resiko kehilangan banyak prajurit karena serangan dadakan ini.
Sejenak Denish melupakan masalah Nicole karena para panglima sudah berkumpul. Dia masih belum memulai rapat strategi mereka, dia masih menunggu Ryuzaki datang. Para panglima mulai saling berbisik karena rapat tidak segera di mulai juga. Denish menghela napas melihat hal itu, tapi dia masih harus menunggu Ryuzaki. Beruntung tidak lama kemudian Ryuzaki datang dan tanpa banyak bicara langsung duduk di kursi sebelah kiri dari Denish.
Denish pun segera memulai rapat mereka, Denish mengusulkan untuk membagi kekuatan mereka. Denish dan Ryuzaki bergantian memimpin pasukan di medan perang. Kekuatan Ryuzaki sangat besar, karena itu dapat membantu mengalahkan banyak musuh. Sementara Denish cukup cerdik dan dia juga bisa sihir pengobatan karena itu dia berpikir untuk memisahkan diri dari Ryuzaki. Dia sebenarnya masih cukup khawatir terutama karena dia yakin kalau orang yang duduk di sampingnya itu bukan Ryuzaki tapi Hogo. Tapi siapapun dia, Denish tahu jika dia akan beruntung karena Ryuzaki di pihaknya. Untuk masalah pembagian kelompok, dia memberi Ryuzaki lebih sedikit pasukan untuk meminimalisir kemungkinan buruk. Dia juga meminta Vromme untuk bersama Ryuzaki untuk mengawasinya. Selesai membahas strategi, mereka pun membubarkan diri untuk mempersiapkan diri mereka.
Para prajurit Kerajaan Lunar tengah sibuk mempersiapkan diri mereka untuk perang. Gudang s*****a penuh dengan para prajurit yang tengah mempersenjatai diri mereka. Di kamar Denish, dia juga tengah mengeluarkan armor miliknya. Dia tidak menyangka akan menggunakan armor itu sekali lagi, bukan untuk membela Kerajaan Luce tapi justru untuk melawannya.
"Nostalgia bukan?" ujar sebuah suara tiba-tiba, Denish langsung menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Hogo lah yang sedang di sana dengan seriangaian nya yang menyebalkan menurut Denish. Hogo sepertinya mulai terang-terangan muncul di hadapannya, semoga saja itu bukan pertanda buruk pikir Denish.
"Jangan macam-macam di perang ini! Aku terpaksa melibatkanmu karena tidak ingin banyak prajuritku gugur di medan perang!" kata Denish serius, Hogo memutar matanya malas. Ayolah, dia bersedia suka rela ikut perang ini untuk mencari mainan baru. Dia sudah diancam dua orang untuk tidak macam-macam. Dan sekarang Denish juga mengancamnya, pikirnya kesal. Itu membuatnya jadi ingin langgar apa yang mereka katakan.
"Apa pun yang kau pikirkan sebaiknya kau buang jauh-jauh! Aku tidak akan membiarkanmu membuat keadaan semakin kacau!" ancam Denish
"Ya... Ya... Ya... Aku tidak akan mengacau! Tapi aku tidak berjanji!" katanya sambil tertawa puas. Denish hanya bisa menghela napas. Sulit mengendalikan Hogo ketika Andrew tidak ada. Tapi dia juga tidak bisa mengacaukan rencana Andrew, para tikus yang bersembunyi di istana masih belum keluar. Akan sangat sulit jika informasi yang mereka dapat kemarin bocor pada orang yang salah. Sementara itu, para penghianat itu sepertinya cukup pintar untuk tidak langsung keluar.
Setelah Denish siap-siap, dia segera menemui prajurit yang akan ikut berperang dengannya. Dia memang yang akan menjadi orang pertama yang memimpin perang ini, terlalu beresiko membiarkan Hogo pergi langsung. Setidaknya dia membiarkan musuhnya melakukan pemanasan dengannya sebelum bertemu musuh yang lebih psiko. Dia pergi perang ditemani oleh Brayan dan juga Ransley. Denish cukup sadar umur, di umurnya yang sudah tidak muda ini dia tidak ingin mengambil resiko memimpin perang seorang diri.
Di lain pihak, Brayan mungkin bermasalah dengan Ryuzaki. Tapi dia sama sekali tidak pernah menunjukan sikap memusuhi padanya ataupun pada Andrew. Brayan sebenarnya orang baik, hanya saja egonya tinggi dan dia tidak suka kalah oleh orang lain. Selain sifat buruknya itu, dia adalah orang yang loyal akan pekerjaannya. Dia tidak segan turun tangan sendiri menyelidiki musuh. Hanya saja, dia mudah terpengaruh orang dan membocorkan rahasia pada orang lain. Karena itu dia tidak pernah menerima lagi tugas pengintaian atau mencari tahu informasi lagi.
Sementara Ransley, dia sebenarnya kurang tahu dengan teman Vromme tersebut karena dia jarang berhubungan langsung dengan Ransley. Tapi Vromme bilang dia adalah orang baik dan bisa dipercaya. Denish cukup mempercayai Vromme, karena itu dia dengan mudah mengajak Ransley ikut dengannya. Tidak ada salahnya bukan percaya dengan anak buah sendiri pikir Denish.
Setelah semua prajurit sudah siap, mereka pun berangkat dengan menunggangi kuda mereka. Di barisan paling depan, Denish memimpin pasukan dibelakangnya ada Brayan dan Ransley diikuti oleh para kepala prajurit lalu para prajurit yang ikut berperang. Di barisan paling belakang terdapat prajurit yang mengendarai kereta kuda yang berisi tenda, bahan makanan serta keperluan lain yang kemungkinan di perlukan saat berperang.
Pasukan Ryuzaki akan menyusul besok pagi, untuk sekarang mereka akan mendirikan tenda dan juga berjaga-jaga siapa tahu mereka akan langsung menyerang. Walaupun kemungkinan itu sangat kecil karena mereka juga pasti harus istirahat dan mempersiapkan diri untuk perang. Namun mereka juga harus berjaga-jaga, mereka tidak ingin sampai kecolongan dan mengakibatkan warga sipil terkena dampak. Apalagi jika sampai benteng mereka dikuasai musuh.
Para pasukan mulai mendirikan tenda-tenda mereka ketika mereka menemukan tempat yang pas untuk dijadikan kamp. Ketika pasukan mendirikan tenda, Denish, Ransley, Brayan dan beberapa kepala prajurit mengadakan rapat kecil. Mereka mendiskusikan mengenai siapa yang akan dikirim untuk memata-matai musuh. Dan hasilnya Ransley dan seorang kepala prajurit bernama Dart yang akan memata-matai musuh. Keduanya dibekali oleh alat untuk berkomunikasi berupa cermin yang dapat menghubungkan mereka.
Denish, Brayan dan sisa kepala prajurit yang tinggal di kamp, langsung masuk ke tenda utama. Mereka harus mendiskusikan siapa yang akan menyerang secara langsung dan siapa yang akan mendukung di belakang. Baik Denish maupun Brayan tidak ingin keduanya memimpin perang karena pasti akan membingungkan bagi prajurit mereka untuk mematuhi siapa di medan perang. Dan setelah berdiskusi panjang akhirnya diputuskan bahwa Brayan akan memimpin pasukan di depan, dan Denish akan memimpin pasukan pendukung di belakang. Pasukan pendukung ini terdiri atas healer, pembuat tameng dan para pemanah.
Di Kerajaan Lunar, Kaila dan Nicole sedang berada di ruang kerja Nicole. Kaila memang langsung ke istana bersama anaknya, ketika Denish mengiriminya surat. Kaila tahu Denish sudah memperhitungkan hal ini sejak dia memberitahu mereka jika mereka akan di serang oleh dua kerajaan sekaligus. Karena itu Denish langsung mempersiapkan surat yang dia atur ketika dia akan pergi berperang surat itu akan dikirim ke orang yang bersangkutan.
Hanya saja dia juga bingung, Denish menyebutkan jika dia akan ditemani orang lain menjaga Nicole. Tapi dia tidak tahu siapa orang itu, dan dia juga tidak punya gambaran siapa yang akan menemaninya menjaga Nicole. Meskipun sebenarnya dia juga merasa mampu menjaga Nicole sendirian. Sudahlah, mungkin Denish hanya khawatir apalagi dia juga perempuan sama seperti Nicole, mungkin Denish juga khawatir padanya.
"Keponakanku sangat tampan dan tenang, berbeda sekali dengan ayahnya yang pecicilan!" kata Nicole saat melihat Akio anak Ryuzaki dan Kaila yang duduk tenang sambil melihat langit di luar jendela.
"Kau benar, aku beruntung dia tidak mewarisi sifat bar-bar ayahnya!" jawab Kaila sembari terkekeh. Dia memang merasa beruntung Akio tidak seaktif ayahnya, jika tidak? Bisa pusing dia menghadapi dua Ryuzaki. Satu saja dia sudah kesal sekali tidak apalagi jika ada dua orang yang sifatnya sama seperti suaminya itu.
"Bagaimana keadaan keponakanku?" Kaila penasaran dengan kehamilan Nicole, pasalnya Nicole memang sulit sekali hamil. Beberapa kali dia hamil tapi keguguran, padahal baik para tabib ataupun Denish merasa tidak ada yang salah dengan rahim ratu mereka itu. Tapi beberapa kali mereka kecewa karena penerus kerajaan ini tidak kunjung ada.
"Menurut Paman Denish mereka sehat!" Ya, Nicole memang mengandung anak kembar. Awalnya mereka juga tidak tahu, tapi setelah pemeriksaan kesehatan Nicole yang terakhir. Ternyata anak yang dikandung Nicole kembar. Nicole sebenarnya cukup khawatir karena penerus kerajaan tidak boleh kembar, banyak mitos yang beredar jika penerus kerajaan kembar maka akan terjadi pertumpahan darah. Meskipun dia tidak percaya mitos itu, namun para menteri kerajaan masih banyak yang mempercayainya.
"Baguslah! Jaga baik-baik dua keponakanku itu." Ancam Kaila dengan nada bercanda, dia memang sering bercanda dengan nada seperti itu dengan Nicole. Nicole pun hanya mengangguk tapi wajahnya berubah sendu.
"Hanya saja aku juga merasa ragu!" Ungkapnya.
"Kenapa kau ragu? Banyak yang akan melindungimu dan anak kalian." Kaila menenangkan Nicole.
"Akhir-akhir ini aku sering bermimpi bertemu dengan Lyme. Dia sering memperingatkanku dengan hal yang sama dengan yang dulu dia katakan!" jelas Nicole, dia memang ingin mencurahkan hatinya pada seseorang tapi tidak dengan Andrew. Dia takut Andrew semakin khawatir padanya.
"Apa itu?"
"Aku akan menyesal jika tetap bersama Andrew. Akan ada hal yang tidak menguntungkan jika aku bersamanya. Elemen kami sama-sama kuat dan itu akan menimbulkan hal yang buruk bagi keturunan kami." Jelas Nicole menangis, Kaila langsung memeluk Nicole menenangkan temannya itu.
"Jangan sedih!" seru Kaila sambil menepuk bahu Nicole. "Aku akan mencari tahu mengenai semua itu. Tak akan aku biarkan terjadi sesuatu dengan keponakanku!" Kaila berapi, dia tidak mungkin membiarkan sesuatu terjadi pada Nicole dan Andrew. Melihat ibunya memeluk Nicole, Akio pun ikut memeluk Nicole. Nicole tersenyum kecil saat menyadari anak dari temannya itu tersenyum untuk menenangkannya.
Ada alasan kenapa Kaila bisa berkata seperti itu pada Nicole. Mereka cukup berjasa untuk membuat para tetua tutup mulut mengenai bangsa pheonix. Mereka yang awalnya mendesak bangsa pheonix untuk ikut mengatur prajurit perang akhirnya diam berkat Nicole dan Andrew.
Mereka bangsa pheonix sangat tertutup. Mereka tidak ingin ikut campur dengan apa pun yang tidak berhubungan dengan mereka atau keturunan mereka. Selama mereka merasa keturunan mereka mampu mengatasi hal itu mereka tidak akan ikut campur. Bangsa pheonix memang terkenal dengan kekuatan mereka, karena itu mereka akhirnya mengasingkan diri karena terus di manfaatkan oleh bangsa lain.
Dengan mengasingkan dirinya bangsa pheonix, para prajurit yang di khususkan untuk berperang semakin menurun kualitasnya. Dan para kerajaan itu harus membangun awal prajurit perang mereka. Karena itu ketika mereka tahu bangsa pheonix masih ada mereka mulai mendesak Raja mereka untuk beraliansi dengan bangsa pheonix. Tapi entah bagaimana Andrew dan Nicole berhasil meyakinkan mereka untuk tidak bergantung dengan bangsa pheonix. Dan itu membuat simpati dari bangsa pheonix tinggi pada mereka. Mereka tahu jika Edward dan David juga cukup berjasa dalam menenangkan para tetua itu, tapi yang berani menentang terang-terangan ide mereka hanya Nicole dan Andrew. Mungkin karena itu mereka lebih bersimpati pada Nicole dan Andrew.
Di lain pihak, Edward tampak sangat gusar. Dia tidak berhenti mengetuk-ngetuk meja kerjanya sembari menggigit bagian dalam bibirnya. Raina yang melihat itu mengernyit tanda tidak mengerti kenapa Edward tampak sangat gusar seperti itu.
"Kenapa Yang Mulia terlihat sangat gusar?" tanya Raina akhirnya karena melihat Edward terlihat sangat gusar.
"Jangan menggunakan kata formal denganku saat kita berdua!" peringat Edward untuk yang ke sekian kalinya. Raina hanya mengangguk menjawab perkataan Edward.
"Aku khawatir dengan prajurit kita! Jika sampai Ryuzaki ikut berperang maka habislah semua prajurit kita." Ungkap Edward, dia tahu Ryuzaki sangat berbahaya jika menjadi musuh. Tapi dia juga tahu Hogo yang saat ini menguasai tubuh Ryuzaki jauh lebih berbahaya.
"Aku yakin dia pasti tidak akan melakukan hal itu." Raina menenangkan Edward.
"Masalahnya Hogo berbeda dengan Ryuzaki, aku tahu itu adalah tubuh Ryuzaki tapi jiwa di dalamnya bukanlah dia." Jelas Edward frustasi.
"Aku rasa Paman Denish pasti akan mencari cara supaya kerugian ke tiga kerajaan itu tidak separah yang kita kira. Paman Denish cukup bijaksana dalam hal itu." Terang Raina, dia sendiri sebenarnya merasa khawatir. Tapi menunjukkan rasa khawatirnya hanya akan membuat Edward semakin gusar.
"Semoga saja!" Kata Edward tak yakin. "Dan semoga saja tidak terjadi sesuatu dengan keponakanku, perasaanku tidak enak."
Deg...
Jantung Raina merasa terpukul mendengar hal itu. Bilang saja dia cemburu, entah kenapa dia merasa Edward lebih khawatir pada Nicole dibanding keponakan mereka. Entah kenapa apa pun yang berhubungan dengan Nicole membuatnya tidak tenang. Dia tahu Nicole sama sekali tidak punya perasaan dengan Edward. Hanya saja, perasaan wanita memang tidak bisa di tebak ataupun di kendalikan.
"Kau khawatir pada keponakan kita atau ibunya!" seru Raina tidak sadar. Edward yang mendengar itu mengernyit bingung, namun dia kemudian tersenyum. Dia tahu istrinya cemburu pada Nicole.
"Tentu saja keponakan kita! Orang yang khawatir pada Nicole sudah banyak. Aku tidak perlu ikut mengkhawatirkannya!" jawab Edward tenang.
"Maaf." Cicit Raina sambil menunduk.
"Tidak apa, aku senang kau menunjukkan perasaanmu dengan jelas seperti itu!" Raina kaget karena tiba-tiba suara Edward sangat dekat. Dan tiba-tiba sepasang tangan memeluknya dari samping.
"Lain waktu, jika kau merasa ada yang mengganjal padaku, katakan saja!" lanjut Edward kemudian mengecup pipi Raina. Raina yang di perlakukan seperti itu hanya bisa menunduk malu dengan wajah yang sudah memerah. Edward hanya tersenyum, menganggap tingkah laku Raina sangat menggemaskan.
Lalu bagaimana dengan David?
Dia sedang berkutat dengan laporan-laporan ditemani Alviro dan juga Andrew. Ketika masuk ke ruangan David, Alviro memang cukup terkejut karena ada Andrew di dalam. Tapi setelah di jelaskan Alviro akhirnya mengerti dan membantu David menyelesaikan laporan-laporan yang ada. Mereka mulai menyortir mana laporan yang harus di rapatkan dengan para menteri dan mana laporan yang langsung bisa di setujui. Meskipun ada beberapa laporan yang membuat mereka berdebat, tapi mereka akhirnya bisa menemukan jalan keluarnya.
Braakkk.....
Suara pintu dibuka mengagetkan mereka bertiga. Si pembuka pintu tertegun sejenak melihat Andrew. Tapi dia dengan cepat mendapatkan kesadarannya dan mendekati mereka bertiga. Ricky sang pembuka pintu langsung memberi hormat pada David dan Andrew kemudian duduk di kursi.
"Kau kenapa? Mukamu sangat pucat?" tanya Andrew yang nampak menenangkan diri sebelum mengatakan maksud kedatangannya ke sana.
"Saya hanya khawatir dengan para prajurit kita yang tetap memutuskan untuk berperang!" jawab Ricky.
"Pasti masalah Ryuzaki?" tebak David, Ricky mengangguk mengiyakan perkataan David. Jika prajurit mereka banyak yang gugur, pertahanan di kerajaan mereka akan menurun. Dan bukan tidak mungkin kerajaan-kerajaan kecil yang berada dalam kekuasaan mereka akan melakukan kudeta. Hal itu sangat tidak menguntungkan bagi kerajaan mereka, terutama rakyat-rakyat kecil yang berada di kerajaan mereka. Ricky takut jika sampai kudeta itu terjadi, maka kelaparan akan mewabah dimana-mana.
"Biarkan saja!" kata Alviro tegas. "Biarkan mereka belajar bahwa segala sesuatu itu tidak bisa didapatkan dengan cara menjarah dari orang lain." Lanjutnya dengan nada kesal. Alviro memang sangat menentang ketika mereka memutuskan untuk berperang. Tapi karena mereka tidak bisa di cegah, maka biarkan mereka merasakan konsekuensi dari ke keras kepalaan mereka. Dia sangat kesal, karena masih banyak menteri di kerajaannya yang serakah dengan kekuasaan.
"Tapi Sir, jika sampai ini terus berlanjut kekuatan pertahanan kita akan melemah. Dan itu akan memberikan celah pada kerajaan-kerajaan kecil yang kita kuasai untuk melakukan kudeta." Jelas Ricky khawatir.
"Tenang saja! Tidak akan ada kudeta." Ungkap Andrew, mereka menatap Andrew dengan tatapan bingung. "Para kerajaan kecil itu masih membutuhkan kalian untuk ke stabilan politik di kerajaan mereka. Karena itu hal ini tidak akan berpengaruh untuk mereka, selama ekonomi kalian stabil maka tidak akan ada kudeta!" jelas Andrew.
"Itu mungkin benar, tapi kemungkinan buruk tersebut masihlah ada." Kata Alviro.
"Jika sampai kalian di kudeta maka aku akan memberikan bantuan pada kalian!" tegas Andrew. Mendengar hal itu Ricky cukup merasa tenang. Setidaknya kerugian yang mereka dapatkan tidak akan separah itu jika memang Andrew memberikan bantuan pada mereka.
"Ah... Daddy meminta istriku untuk menemani Ratu Nicole! Apa anda sudah tahu?" tanya Ricky pada Andrew.
"Paman Denish memang mengirim surat padaku, tapi aku belum membacanya!" Andrew tersenyum canggung, dia lupa menaruh surat yang di kirim Denish. Karena itu dia belum membacanya.
"Sepertinya Daddy ingin memberitahukan hal ini pada anda!" jelas Ricky membalas senyum Andrew, dia tahu jika Andrew sedang gusar entah karena apa. Karena itu Andrew tidak bersikap seperti biasanya.
"Syukurlah, setidaknya Kaila tidak sendiri menemani Nicole!" jawab Andrew lega.
"Apa istrimu menyetujui hal ini? Bukankah dia tidak pernah ingin berurusan langsung dengan kami?" tanya David hati-hati, dia tidak ingin perkataannya menyinggung Ricky. Meskipun kenyataannya dia merasa seperti itu.
"Dia setuju!" jawab Ricky. "Dia bukannya tidak ingin berhubungan langsung dengan anda, dia hanya pemalu!" lanjutnya sambil tersenyum tenang. Ricky sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan David. Istrinya memang cenderung menghindari berkontak langsung dengan dunia luar. Dia tahu jelas apa alasannya, dan dia tidak ingin membuat istrinya tidak nyaman dengan memaksanya untuk berbaur dengan teman-temannya. Dia tahu mereka hanya tahu sedikit mengenai istrinya, karena itu dia sama sekali tidak keberatan dengan sikap David barusan. Dia bahkan kaget ketika Andrew justru tidak keberatan istrinya menemani Nicole padahal dia kurang mengenal istrinya.
"Istrimu wanita yang baik, sudah saatnya dia berbaur dengan kami!" kata Andrew tersenyum lalu menepuk bahu Ricky pelan. Ricky hanya mengangguk, istrinya sama sekali tidak punya perasaan benci pada mereka. Dia hanya malu itu saja, dia sering membicarakan mengenai mereka pada istrinya. Dan reaksi istrinya juga cukup baik, istrinya bahkan terang-terangan memberitahunya jika dia mempunyai teman-teman yang baik. Mungkin benar kata Andrew, sudah saatnya istrinya berbaur dengan mereka pikir Ricky.
Di rumah Ricky, seorang wanita tengah bersiap. Dia memasukan beberapa baju dan perlengkapan milik anaknya ke dalam tas. Dia takut jika anaknya membuat seseorang kerepotan di sana. Sementara sang anak hanya melihat ibunya yang mondar-mandir sembari menatapnya tidak mengerti. Dia hanya tersenyum ketika sang ibu, menatap ke arahnya.
"Sayang, jangan berbuat hal yang nakal disana!" peringat ibunya sambil duduk di sampingnya. Dia memegang kepala sang anak dengan kedua tangannya pelan. "Awalnya akan tidak nyaman, tapi kita juga harus keluar dari sangkar nyaman kita! Di luar memang kejam, tapi Mom akan melindungimu!" katanya kemudian memeluk sang anak. Sang anak hanya menyamankan dirinya di dalam pelukan sang ibu tanpa mengerti apa maksud ibunya.
TBC