No Debat

1096 Kata
"Gak lah, takut ngaret. Kamu mbak tinggal yah, tenang gak akan ada yang gigit, Jeng. Gak usah takut." Andin mencoba menenangkan Ajeng, dia usap pundak sang adik begitu halus. Andin tahu betul pasti adiknya sedang kalut dalam ketakutan akibat jarang berkencan, apa lagi ini ada anaknya Dodi. "Yee … enggak kok, enggak takut, kan gak ada setan, hehe!" Ajeng malu ke anak-anaknya Dodi, nanti dikira dia berpikiran negatif tentang papa mereka. "Yaudah mbak pamit, ya!" Andin pun pamit undur diri. Kalau dia tidak pergi nanti tidak ada kemajuan. “Yah …. Yaudah tiati, Mbak.” Daripada garing gak ada yang tanya duluan, Ajeng pun melirik anak-anak Dodi. Kalau ajak pria itu mengobrol kan agak canggung dan takut, lebih baik ke anak-anaknya saja dulu. Masa Ajeng tak bisa menaklukan anak-anak ini sih, kan dia sudah biasa mengasuh keponakan yang banyak. “Adek namanya siapa?” tanya Ajeng pada anak Dodi yang berjenis kelamin perempuan. “Jawab Dek, itu ditanyain namanya sama Tante loh.” Anaknya Dodi tak menjawab jadi pria itu turun tangan untuk mengingatkan sang putri yang saat ini sedang sibuk dengan gadgetnya yang canggih merek apel digigit. “Maaf ya, dia suka malu-malu.” Padahal Dodi tahu jika sang putri malas meladeni orang baru. “Gak papa Mas, namanya juga anak kecil.” Ajeng maklumi karena anak kecil ada yang mudah beradaptasi dengan orang baru, ada yang sulit juga. “Namanya Tini, Jeng.” Jadi Dodi yang memberitahu. “Kalo yang ini namanya siapa?” tanya Ajeng pada anak laki-laki yang tampan, mirip seperti ayahnya. Dodi berwajah indo campur chinese, putih, mulus, mancung ditambah tubuhnya tinggi berisi, hanya saja sudah banyak ubannya. “Tom, Tante. Maafin adek Tini, dia suka gitu, malu-malu dulu ke yang baru kenal.” Kalau anak yang ini mau menjawab, tidak malu-malu dan terlihat mudah beradaptasi dengan orang baru. “Tom pinter banget!” Ajeng mengusap-usap puncak kepala Tom, anak ini duduk di dekatnya. “Aku gak pinter gitu?” tanya Tini ketus dengan lirikan yang tajam. Yang satu ramah dan murah senyum, yang ini ketus dan menyeramkan, mungkin lebih mirip ke mamanya. “Eh Tini pinter juga kok!” Ajeng langsung membela diri. “Hemmm ….” Tini terlihat tidak menyukainya. ‘Duh anaknya yang ini agak-agak barbar,’ gumam Ajeng dalam hati sambil mengembuskan napas kasar. Ajeng jadi bingung mau ajak bicara apa lagi karena kena semprot Tini. Dia memikirkan pertanyaan serta kata-kata apa yang cocok untuk pendekatan ke anak kecil yang seeprti itu. Saat kalut dalam pikirannya, dia pun terkaget karena ada pesan masuk lewat BBM ke Ajeng dari Abimanyu. “Lagi di mana dan ngapain?” Mana mungkin Ajeng bilang jujur kalau dia sedang mau ketemuan dengan seorang pria. “Lagi di rumah, rebahan.” Jadi dia bohong saja. “Sama siapa?” tanya Abi dengan penuh keingintahuannya, bak satpam yang mengawasi Ajeng, mau laporan setiap hari, setiap menit bila perlu setiap detik. “Sendiri.” Lagi-lagi dia bohong demi kebaikan, takut jika Abi malah cemburu dan hubungan mereka meretak. “Ajeng berbohong, mana mungkin dia balas kalau sedang bersama seorang pria. Jantungnya jadi berdegup dengan kencang, takut ketahuan sedang ketemuan dengan seorang pria. “Beneran? Gak bohong?” Abi seolah tahu saja jika Ajeng sedang berbohong padanya. “Iya.” Ajeng tak mau banyak membalas, seperlunya saja. “Coba kirim foto sekarang juga!” Lah Abi malah minta PAP segala alias post a picture now. ‘Aduh minta PAP segala lagi, alesannya apa dong?’ Ajeng bergumam dalam hati sambil menatap pesan dari Abimanyu. "Maaf, Mas. Malu ah." Ini balasan dari Ajeng. Ya kali mau kirim foto, orang dua bohong, nanti malah ketahuan. "Ngapain mesti malu sama pacar sendiri, nanti juga mas liat kamu polosan kok." Abi seakan memaksa, ada saja alasan dari pria itu, bikin Ajeng panas dingin dibuatnya. "Emm … besok-besok aja, ya!" Lagi-lagi Ajeng menolak, tidak ada stok foto saat dasteran di rumah yang bisa dia kirim ke Abi. Dia orangnya jarang sekali di foto karena tidak menyukai kamera. "Bohong kalo lagi di kamar ya?" Abi Lagi-lagi peka sekali, Ajeng jadi makin pusing dibuatnya. 'Duh kok dia bisa mikir gini ya?' Gumamnya sambil melirik ke Dodi, tak enak sedang ketemuan dia malah sibuk main hape. Dodi terlihat sedang menemani anaknya main game sambil menunggu Ajeng selesai berbalas pesan. "Enggak, ini aku dipanggil mbah suruh bantu masak, dadah!" Ajeng masukkan kembali ponselnya ke dalam tas. "Maaf ya, Mas!" Dia jadi tak enak hati ke Dodi. "Gak papa, Dek. Sibuk apa sekarang?" "Biasa kerja aja sama bantu-bantu di rumah." "Udah punya pacar?" tanya Dodi hati-hati karena takut mengganggu hubungan yang Ajeng jalani. "Udah sih, tapi baru jadian banget." Ajeng langsung jujur, dia tidak mau berbohong, sengaja agar Dodi tidak mendekatinya lagi. "Oh maaf loh ini, malah ketemu sama saya." Dodi jadi tak enak hati. Perasaan kata keluarga Ajeng, wanita ini lama menjomblo sampai telat menikah. "Gak papa, Mas." "Tapi pacar juga belum tentu berjodoh sih!" kata Dodi yang sudah berpengalaman. "Oh gitu? Hehe." Bingung Ajeng mau jawab apa, masa mau mengaminkannya sih. "Jujur aja kalo mas udah gak ada niat pacar-pacaran lagi, pengen cari istri yang menerima mas apa adanya dan menerima ketiga anak mas. Ingat umur juga, sudah gak muda lagi, udah gak pantes main pacar-pacaran." Ajeng merasa tersindir, dia juga sudah tidak muda tapi malah berpacaran. "Anak-anak gak papa kalo Mas nikah lagi?" "Mereka setuju, tapi asal ke wanita yang sudah mereka sukai." "Oh gitu, kayaknya aku gak bakal mereka sukai." Dia sudah pesimis duluan gara-gara Tini. "Kok bilang gitu?" "Enggak, cuma tebak aja." Ponsel Dodi pun berbunyi karena ada panggilan masuk. "Emm … bentar, ada telepon masuk, mas ijin angkat dulu, ya." "Titip anak-anak!" "Baik, Mas!" Anak bernama Tini menyodorkan permainan Rubik. "Tante bisa main ini enggak?" Ajeng perhatikan dulu, dia tidak pernah main mainan seperti itu, ini anak tumben pula mau ajak ngobrol duluan, giliran tadi jual mahal. "Duh tente gak bisa." "Ih bodo!" Tom menutup mulut sang adik. "Eh gak boleh ngomong gitu, Dek." "Gak papa, biarin aja!" kata Ajeng yang sedikit syok dikatain bodoh. "Kan itu gak sopan Tante, gak boleh dong, Tante gimana sih?" Tom jadi menyalahkan Ajeng. Ajeng menghela napas sambil bergumam dalam hati. 'Duh serba salah, padahal kan biar gak ribut, malah disangka ngajarin yang gak bener.' 'Papanya oke sih, bersih, wangi, pengusaha, baik dan keliatannya sopan. Eh anaknya masih pada kecil-kecil rese!' Tom terlihat Seperti umur 8 tahunan dan Tini sepertinya tahunan. "Ternyata ngasuh anak lain tidak semudah mengasuh keponakan sendiri.' "Maafin Tante, ya. Kan biar adeknya gak kaget abis kamu marahin." "Jadi aku tadi itu masuknya marah? Aku kan ngajarin si adek, bukannya marah Tante!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN