Ajeng merasa jadi serba salah lagi. Dia rasa bicara dari tadi begitu hati-hati, eh sekarang malah Tio yang tersinggung. Nasib … nasib.
‘Sabar … sabar …. Ini ujian, Jeng!’ Ajeng sering sekali menghela napas.
“Enggak, Sayang!” kata Ajeng sambil tersenyum pada Tom, untung anaknya dapat bisikan dari bapaknya, entah apa tapi jadi tidak rewel lagi. Mungkin Dodi berbisik kalau jangan segala sensian ke orang baru agar orangnya tidak kapok untuk bertemu dengan kita.
“Main apa dong bisanya, Tante?” tanya Tini masih dengan ekspresi yang cemberut.
“Main apa, ya? Tante gak bawa mainan, kirain papa kalian mau dateng sendiri aja, kalau tahu kalian ikut tante mau beliin mainan.” Ajeng sering ajak keponakan belajar sambil bermain, tapi kalau untuk anak orang lain dia jadi bingung mau main apa.
“Oh.” Tini tak banyak berkomentar.
“Coba belajar main ini aja, Tante. Aku ajarin.” Tom memberikan mainannya agar bisa dipakai bersama lalu Ajeng menerimanya.
“Kok ngerasa ada yang merhatiin ya?” Ajeng melirik ke sana dan kemari, siapa tahu memang ada kak Andin mengawasi dari jauh tapi bilangnya mau pergi, aslinya malah stay.
Sayangnya dia sudah capek-capek melirik kesana kemari tapi tidak ada hasil, semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. “Siapa itu, ya? Apa cuma perasaan aku aja?” tanyanya pelan. Lagi-lagi dia periksa tapi tak membuahkan hasil.
“Gak kok, gak ada yang ngeliatin ke sini.”
“Kenapa, Jeng?” tanya Dodi yang melihat kegelisahan Ajeng. Ajeng takut kalau orang yang memperhatikannya adalah Abimanyu.
“Ah enggak apa-apa. Aku boleh permisi ke toilet dulu?” tanya Ajeng agar pikiran dan hatinya kembali tenang, mungkin efek karena masih syok.
“Silakan!”
Ajeng pergi ke toilet untuk menenangkan diri, lumayan tegang menangani anak orang, semenit dua menit dia bisa menghirup udara bebas.
“Duh gimana rasanya jadi ibu tiri ya?” Ajeng bertanya pada kaca saat cuci tangan.
“Siapa yang mau jadi ibu tiri, Jeng?” Tiba-tiba ada pertanyaan dari seseorang yang ada di toilet itu.
Ajeng menoleh sambil terkaget. “Eh Mita! Kok ada di sini?”
“Lagi nongkrong sama Mimi, tuh orangnya!” Gadis ini menunjuk teman mereka yang baru saja keluar dari toilet. Rupanya mereka adalah teman sekolah Ajeng dulu.
“Hai Jeng! Apa kabar?” tanya Mimi sambil mengulurkan tangannya.
Ajeng membalas jabatan tangan Mimi lalu beralih ke Mita. “Baik. Kalian gimana?”
“Baik juga!” jawab Mimi,
“Ehemmm …. Lo masih juga belum nikah, Jeng?” tanya Mita sambil menampilkan ekspresi yang jijik pada Ajeng yang masih saja belum melepas kegadisannya.
Ajeng menggeleng. “Belum.”
“Lagi ke sini sama siapa?” tanya Mita dengan penuh keingintahuannya. Orang yang kutu buku seperti Ajeng mana ada teman nongkrong.
“Sama orang yang dikenalin Mbakku.”
“Calon imam?” tebaknya melihat penampilan Ajeng yang rapi.
“Mungkin.” Ajeng tak mau mengiyakan atau tidak karena takut Tuhan berkehendak lain.
“Maaf geser, Mbak!” kata seorang wanita yang tiba-tiba saja menyingkirkan kerumunan cewek-cewek ini, dia hendak berkata dan Mita, Mimi serta Ajeng menghalangi jalannya.
“Silakan!” kata Ajeng sambil bergeser.
“Jeng kita udah kepala tiga loh, kita-kita udah punya anak dua sedangkan lo belum. Buruan kawin sih.” Mimi yang kali ini berkomentar.
“Iya nanti!”
“Kita tantang lo deh, buran nikah di tahun ini, kalau gagal lo kalah dan dapat hukuman jadi pelayan kami selama sebulan, kalau menang lo bebas hukum kita apa aja.” Nah loh Mita tiba-tiba nantangin Ajeng begini. Ajeng mengerutkan dahi dan tidak suka dengan tantangan tersebut.
“Nikah kok jadi bahan taruhan?” Ajeng jujur tidak menyukainya. Dia bukan takut kalah, tapi takut salah memilih pendamping karena dalam situasi terburu-buru. Tidak mungkin kan kalau ujung-ujungnya bercerai, dia ingin menikah untuk teman sampai hari tua, jadi pasangan sehidup semati.
“Ya biar lo gak perawan tua. Niat kita baik nih.” Ini modus Mita saja yang ingin menjadikan Ajeng babunya.
Ajeng menyilangkan tangan di depan d**a sambil mendengus kesal.
“Ayok terima, gak terima cemen!” Lah dia dikatain sambil dihina agar terima taruhannya.
“Ayo lah jeng, nikah bukan bahan taruhan, tapi ini demi kebaikan elo biar gak jadi perawan lebih tua, bahkan sampe nenek-nenek, nanti lo gak punya keturunan. Bener ga, Mi?” Mita pintar sekali dalam membujuk.
“Bener, Mit! Keburu resiko tinggi hamil dan menopause.” Memang ada benarnya juga. Ajeng jadi pikir-pikir lagi. Sekarang dia ada pacar yang berniat serius pula.
“Ya udah deal!” Dia pun menyetujuinya.
Perempuan tadi jadi saksi perjanjian mereka dalam diam sambil sibuk dengan kegiatannya sendiri.
“Udah beres?” tanya Dodi saat Ajeng datang.
Ajeng kembali bergabung bersama Dodi dan anak-anaknya lagi.
“Udah, Mas.”
“Tante mau itu!” Tini menunjuk stasi es dan buah-buahan. Dia ingin merepotkan Ajeng.
Ajeng melirik ke arah tunjukkan Tini. “Mas-Mas!” Dia panggilkan pelayan.
“Minta tolong ambilkan es coklat itu!” tunjuk Ajeng pada tempat yang Tini maksud tadi.
“Oh itu harus ambil sendiri sesuai selera, Bu!” kata pelayan yang menolak permintaan Ajeng.
“Oh gitu. Makasih!” terpaksa mereka harus bangun dan ambil sendiri.
“Kita ambil ke sana yuk, Dek!” ajak Ajeng pada Tini.
“Ayo!” Untung Tini-nya mau. Mereka berdua berjalan bersama tanpa berpegangan tangan. Ajeng sebetulnya ingin menggenggam tangan Tini tapi dia takut Tini-nya menolak.
“Lantainya licin.” Di situ ada banyak genangan air dari es-es yang berjatuhan, ada bekas lantai yang baru di pel juga.
“Aduh!” Tini terjatuh membuat Ajeng kaget dan merasa gagal menjaga anak orang, kalau saja tadi tangannya dia genggam, mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini.
“Ya Tuhan anak orang jatoh gara-gara gak aku pegangin.” Ajeng buru-buru berjongkok dan memeriksa keadaan Tini.
“Aaaaa …. Sakit. Papahhh!” teriak Tini sekencang-kencangnya.
Tiba-tiba ada seorang wanita menghampiri Tini dan memeluknya.
“Aduh anak mama sakit? Mana liat lukanya, ya?” tanya wanita misterius ini.
Ajeng jadi kaget kok tau-tau ada orang ngaku-ngaku mamanya Tini.
“Maaf Anda siapa?” tanya Ajeng sambil memperhatikan, barangkali wanita ini adalah penculik yang sedang modus.
“Saya ibunya!” jawabnya sambil menoleh ke arah Ajeng.
Ajeng bisa lihat wajah aslinya seperti apa, sungguh mirip dengan Tini. “Perempuan ini kan– bukannya yang–”