Gagal Total

1638 Kata
"Loh kok udah pulang? Kirain mau sampe malem, Mbak." Anna membukakan pintu, ternyata kakaknya pulang diantar taksi. Dikira tamu, eh ternyata kakak sendiri. Andin belum pulang beserta suaminya, Ajeng juga diperkirakan pulang malam, eh ternyata masih siang sudah datang saja. Pertanyaan Anna sama sekali tidak dijawab oleh Ajeng, wanita itu malah mendengus kesal "Ih kok aku dicuekin sih. Mbak bad mood?" tanya Ana pada sang kakak. Datang-datang wajahnya ditekuk dengan bimoli alias bibir yang manyun lima senti. "Gak usah nanya, An, ya kelihatannya aja gimana?" tanya Ajeng balik sambil melirik sinis. "Iya sih bad mood. Cerita dong ada apa?" Anna duduk di sofa samping sang kakak. "Pokoknya mbak Ajeng gak mau Dijodohin ke duda tiga anak itu, titik." Kata-kata Ajeng bernama tegas dan penuh penekanan. "Yang Mbak maksud itu yang namanya Dodi? Yang dikenalin mbak Andin tadi?" tanya Anna sambil memikirkan penyebab kakaknya bermood tidak baik, mana menolak perjodohan pula. "Iya, siapa lagi?" Ajeng sedang tidak dikenalkan dengan banyak pria, bulan ini hanya satu, biasanya sebulan itu ada dua atau tiga pria. "Dia kenapa?" tanya Anna lagi penasaran. "Begini ceritanya–" Saat tadi Tini terjatuh: “Sakit, Mama!” Rintihan suara Tini membuat Ajeng semakin bersalah. “Cup, cup, cup. Kita ke rumah sakit ya sayang, kaki kamu terkilir.” Ibunya Tini memeluk begitu erat dengan mata berkaca-kaca dan ekspresi wajah yang begitu sedih. “Iya, heuheu.” Tini mengangguk. Tak lama Dodi menghampiri mereka karena dia melihat dan mendengar kejadian itu dari jauh. “Tini kenapa?” Dia lihat kaki sang putri bengkak dan kulitnya memerah. “Astaga, kaki kamu– ayo kita ke rumah sakit.” “Ayo Tio, kamu pegang tangan Mama!” ajak mamanya sambil mengulurkan tangan pada Tio yang mendekat ke Tini. ‘Ikut gak ya?’ gumam Ajeng dalam hati, dia merasa dilema karena bukan siapa-siapa di antara mereka, untuk apa sampai ikut ke rumah sakit, eh tapi dia adalah penyebab insiden ini meski bukan penyebab utama, yang utama kan si es dan lantai yang licin. “Ajeng!” panggil Dodi saat Ajeng melamun, wanita ini jadi kaget dibuatnya. “Ayo!” ajaknya pada Ajeng, padahal Dodi sedang kerepotan menggendong Tini. ‘Ngapain sih cewek iblis itu ikut segala, dia kan yang bikin anakku jatoh.’ Mantan istri Dodi bergumam sambil memasang ekspresi tak suka pada Ajeng. Mereka pun pergi ke rumah sakit bersama, Ajeng ikut dalam diam dan jadi pelengkap doang. “Tolong anak saya, Sus. Tadi dia terjatuh.” Dodi menyapa salah satu suster yang sedang stanby menunggu kedatangan pasien baru. “Mari silahkan lewat sini, Pak.” Suster itu menunjukkan tempat untuk Tini berbaring. Kebetulan masih ada bed yang kosong di UGD. “Silahkan tunggu dulu di luar, ya!” Suster dan dokter mendekat pada Tini dan menutup hordeng tempat pemeriksaan. “Mas maaf aku gagal jaga Tiwi.” Ajeng baru bisa meminta maaf sekarang, dari tadi dia menunggu momen yang tepat, habis di mobil mantan istrinya Dodi terus saja berbicara. “Gak papa, Jeng. Itu gak sengaja kok, namanya musibah ya gak akan terduga.” Untung Dodi tidak ambil pusing dan memakluminya. “Mas aku pengen liat Tini.” Wanita ini seolah tak mau Ajeng dan Dodi berduaan, dia langsung saja menghampiri dan mengajak Dodi bicara. “Jangan dulu, kata suster kita tunggu di sini.” “Tapi kasihan dia takut ketakutan, aku temani titik!” Wanita ini memaksa dan Dodi jadi mengikutinya agar dia tidak membuat ulah. “Heu … heu … heu, Mama!” teriak Tini sambil meringis kesakitan. Tidak ada luka luar memang, tapi ada luka dalam yang terlihat cukup serius. “Tenang ada mama, Sayang. Gak akan sakit, kok.” Genggaman tangan erat nan hangat cukup menenangkan Tini. “Kami harus melakukan pemeriksaan rontgen untuk memastikan luka di kaki anak ibu.” kata dokter setelah memeriksa tanda-tanda vital dan di bagian mana saja yang terluka. “Baik silahkan, apapun yang terbaik untuk anak saya silahkan lakukan, Dok!” Luka dalamnya harus dilakukan pemeriksaan agar tahu seberapa parah. “Tini dibawa kemana?” tanya Dodi yang tadi tidak dimintai persetujuan. “Mau di rontgen dulu, Mas. Katanya biar bisa lihat kondisi tulang di kakinya.” “Oh.” “Ayo kita ke ruangan rontgen buat liat dari kejauhan.” Ajak Dodi lalu Tio dan Ajeng pun mengikutinya. Bed Tini didorong perawat dan keluarga mengikuti dari belakang. Tini pun masuk ke ruangan rontgen, dari kejauhan melalui kaca kecil Dodi bisa lihat Tini dari jauh. “Mas … kasihan Tini hiks.” Mantan istri Dodi melingkarkan tangannya di tangan Dodi. “Gak papa, dia anak yang kuat kok.” “Tini di apain, Mah?” tanya Tio yang penasaran, dia sendiri tidak bisa lihat karena kacanya tinggi. “Kakinya mau diperiksa dokter barangkali ada tulang yang geser, Tio.” “Kalau anak mama yang ini gak kenapa-napa kan?” tanya sang mama sambil memeriksa tubuh Tio, barangkali ada yang luka juga gara-gara Ajeng. “Enggak, Tio kan duduk aja,” jawab Tio dengan senyumannya yang manis dan menenangkan. “Kamu kok lalay jagain dia sampe jatoh gitu, Mas?” Dia menyalahkan Dodi atas kejadian ini, semua gara-gara membawa dan mengenalkan wanita baru ke anak-anak mereka. “Musibah, aku gak tau, Leni.” Wanita itu dipanggil Leni, mantan istrinya Dodi. Mereka sudah satu tahun berpisah karena Leni berselingkuh dan terlalu sibuk dalam bekerja, sampai lupa pada anak dan suami. “Ma- ma- maaf itu salah saya yang tadi tidak memegang erat tangan Tini, dia lantas salah melangkah dan terpeleset.” “Kamu siapa?” tanya Leni sinis. “Say–” Baru saja mau jawab perkataan Ajeng disela oleh Dodi. “Dia sodaranya temanku, namanya Ajeng.” “Kamu kan wanita yang tadi di toilet?” tuduh Leni sambil mengingat kejadian taruhan tadi, tiga wanita heboh di toilet dan suaranya sangat bising. “E–” Ajeng bingung mau jawab apa. “Kamu kenapa bisa ada di sini?” Pertanyaannya datang dari Dodi, untungnya bisa menyelamatkan Ajeng dan membuat wanita itu tak lagi ditanyai oleh Leni. “Aku kebetulan habis meeting dengan klienku, Mas.” Padahal Leni memang sengaja ingin bertemu dengan anak-anak mereka, jadi dia mengikuti Dodi dari sejak bawa mobil ke luar rumah. Leni berpikir pasti Dodi pergi bawa anak-anak mereka jalan-jalan. “Bukan pergi dengan se–” Dodi baru saja mau bahas tentang selingkuhan Leni. “Ssttt … jaga mulut kamu, nanti takut kedengeran Tio.” Leni bekap mulut Dodi agar tidak asal bicara, malu ada Ajeng dan Tio. “Cih.” Dodi singkirkan tangan Leni agar tidak menutup mulutnya lagi. “Kita ke sana!” ajak Leni ke teman di luar ruangan rontgen, kebetulan terlihat melalui kaca besar dari situ. “Ya!” Dodi pun mengikuti Leni dari belakang. “Jeng titip Tio dulu, ya!” “Iya, Mas.” “Mas ….” panggil Leni saat mereka sudah sampai di taman, suasana sepi dan mereka bisa serius mengobrol. “Apa?” jawab Dodi ketus. “Aku sayang anak-anak, aku gak mau pisah dari mereka. Kita gak bisa rujuk gitu?” “Belum minat rujuk.” Dodi tidak suka dikhianati, dia tak mau kembali pada penghianat. “Mas aku udah berubah, aku single dan tidak pacaran dengan pria manapun loh.” Leni tampaknya sudah tobat, waktu itu dia selingkuh karena jenuh bekerja, puber kedua serta ikut-ikutan teman saja, eh ketahuan dan diceraikan Dodi. “Masa?” tanya Dodi ketus, dia tak percaya bahwa Leni berubah. “Iya.” Leni menjawabnya dengan nada mantap. “Mas, mau kemana?” tanyanya saat Dodi malah berpaling. “Balik ke tempat tadi.” “Mas jangan bilang kalo kamu gak mau rujuk sama aku gara-gara mau nikahin cewek tadi?” Leni menunjuk Ajeng dari kejauhan dan melalui kaca Ajeng bisa melihat dirinya sedang ditunjuk oleh Leni. “Enggak.” Dodi menggeleng. “Dia tadi ke toilet dan aku dengar taruhannya dengan teman-temannya tadi.” “Taruhan apa?” Alis Dodi mengkerut dan dia kembali menghadap Leni. “Dia mau buru-buruan nikah sama kamu biar menang taruhan, jadi kamu cuma jadi bahan main-mainannya aja.” Leni jadi menceritakan apa yang dia lihat dan dia dengar tadi di toilet. “Ah ngaco kamu.” Dodi kira ini akal-akalan Leni untuk menjelekkan Ajeng. Baru saja Dodi membuka hati dan mau move on, eh wanita yang dikenalkan lagi-lagi calon pengkhianat. “Sana, tanyain aja sama orangnya sendiri. Aku beneran denger tadi karena aku juga ada di toilet yang mereka tempati.” “Wanita iblis, masa yang begitu dijadiin mamanya anak-anak. Baru ketemu aja udah bikin Tini celaka, apa lagi ketemu tiap hari.” Leni terus memanas-manasi Dodi. “Aku balik ke sana lagi.” Dodi ingin dengar dari mulut Ajeng sendiri. “Ih Masss–” Leni tak terima ditinggalkan. “Kenapa tuh ibu-ibu liat ke arah gue sinis gitu?” Ajeng yang melihatnya jadi bergidik ngeri. “Mereka tadi mesra, pasti mau rujuk.” Di mata Ajeng mereka terlihat baik-baik saja, tak ada yang salah karena tak tahu asal usulnya. “Ah aku di sini ganggu, kaya obat nyamuk aja.” Dia jadi ingin pulang. “Sudah, Pak.” Perawat mendorong bed milik Tini keluar dari tempat pemeriksaan. “Kita ke ruang perawatan, ya!” “Bagaimana hasilnya, Suster?” “Nanti kami beritahukan.” “Kamu ngapain ngikut-ikut segala?” tanya Leni saat Ajeng kembali jadi buntut, ngikut-ikut ke sana kemari. “Emm ….” Ajeng mematung. “Mending kamu pulang aja. Gak ada gunanya di sini, malah bikin anak saya terluka.” “Maaf, Bu.” Ajeng kembali meminta maaf. Mereka berdua berjalan di belakang Dodi. “Kamu berniat jahat mau menjadikan mantan suami saya bahan taruhan pula. Jangan kira saya tidak memberitahukannya pada dia ya.” Jantung Ajeng mendadak ingin loncat dari tempatnya, keringat dingin pun mulai bercucuran. Dia sudah punya perasaan tidak enak dari tadi. “Jadi ibu sudah bilang soal taruhan tadi ke Mas Dodi?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN