Jantung Ajeng mendadak bergerak begitu cepat sampai-sampai ingin copot dari tempatnya.
Malam-malam begini dia dapat kabar mengejutkan. Habis badai datang angin p****g beliung duh. Habis kena musibah sekarang malah mau ketemu bapaknya Abi juga, pasti bakal malu-malu.
Jujur Ajeng belum siap, dia tidak pernah bertemu dengan keluarga pasangannya, selama ini pasangan saja tak punya.
Ke sana harus bawa apa, sampai di sana harus ngapain, yang diobrolkan apa? Nah Ajeng sama sekali 0 pengetahuan tentang itu.
"Iya sekarang. Kapan lagi?" jawab Abi santai. Dia sengaja mengajak Ajeng untuk berkenalan dengan sang ayah, tentu ada maksud terselubung.
"Emm …. Ma- ma- maaf aku capek, a- a- aku bukannya gak mau ketemu sama orang tua kamu. Aku kelelahan dan perlu istirahat." Tulang-tulang Ajeng terasa rontok ketika pulang dengan kekecewaan yang lumayan mendalam, mungkin luka dalamnya bakal susah untuk diobati.
"Hemmm …." Abi kali ini agak sulit membujuk Ajeng.
"Atur waktu lagi aja, ya!" bujuk Ajeng begitu lembut dengan suaranya yang lemas, sedang makan malah diganggu Abi.
"Tapi aku di luar sekarang. Masa kamu gak mau nemuin pacar sendiri." Abi memelas agar Ajeng kasihan padanya.
"Masuk aja, jangan diem di sana. Nanti habis makan aku turun."
Telepon pun berakhir, Ajeng harus buru-buru menghabiskan makanannya. Ajeng harus mandi dan dandan dulu karena dia sekarang sangat terlihat lusuh.
***
“Ada tamu siapa?” tanya Alan pada pelayan yang baru saja lewat, tadi ada suara bel saat mereka selesai makan malam. Alan kira ada tamu yang ingin bertemu dengannya.
“Katanya pacarnya mbak Ajeng, Pak.”
“Oh.”
Andin dengar tamunya siapa, dia jadi penasaran dan ingin bertemu dengan Abi, pria yang menaklukkan hati adiknya yang perawan tua dan sulit jatuh cinta. “Kamu gak mau liat buat sambut dan kenalan sama dia?”
“Nanti aja lah.”
Yah padahal Andin ingin ditemani, agar tidak bingung mau ngajak Abi ngobrol apa, dia juga ingin tahu bagaimana tanggapan suaminya tentang Abi. “Sekarang aja, Mas. Biar bisa nilai kaya gimana cowoknya adek iparmu.”
“Oh yaudah.”
Akhirnya mereka berdua pergi ke ruang tamu.
“Malam … mau bertamu ke siapa, ya?” tanya Alan dengan ekspresinya yang datar.
Abi kaget dan buru-buru berdiri, jujur dia agak takut melihat wajah Alan yang agak seram, ada bewoknya pula. “Saya Abimanyu, mau ketemu Ajeng, Pak.”
“Oh. Kenalkan saya Alan dan ini istri saya Andin kakak pertamanya Ajeng.”
“Salam kenal, Mas, Mbak!” Mereka pun saling berjabatan tangan. Saat tangan Abi menyentuh tangan Alan, tangan pria itu kekar sekali dan agak kencang saat menjabat tangannya, beda dengan genggaman tangan Andin yang lembut.
“Ajengnya belum turun, tunggu sebentar, ya!”
“Iya, gak papa, Mas.” Sekarang dia panggil “Mas” ke Alan agar merasa lebih dekat. Kenapa melihat sosok Alan auranya sungguh berbeda, dari keluarga Ajeng yang lain terasa biasa saja, bahkan ibu Ajeng juga tidak menakutkan di mata Abi. Sosok Alan berwibawa, agak terlihat seram, memiliki power dan sangat disegani, Abi jadi agak takut dan harus hati-hati.
“Kamu kerja di mana?” tanya Alan. Ini pertanyaan yang sudah pasti ditanyakan pada seorang pria dewasa yang datang ke rumah perempuan oleh keluarganya.
Sayangnya Abi sekarang sedang menganggur, mau ngaku-ngaku pun percuma karena takut diselidiki, jadi dia jujur saja. “Aku usaha kecil-kecilan aja, Mas. Sayangnya suka gagal terus mulai lagi dari awal, belum nemu yang cocok.”
“Udah pernah usaha apa aja?”
“Aku pernah jadi karyawan konter, pabrik juga pernah. Buka usaha jual beli handphone, sama makanan juga pernah.”
“Sekarang?” Alan bertanya lagi dengan nada ketus. Dia sudah bisa membaca jika Abi seorang pengacara alias pengangguran banyak acara, ditambah lagi banyak gaya. Masa pengangguran pakai barang-barang mewah, tapi terlihat tidak berpendidikan dan kurang pengetahuan.
“Mau mulai usaha tailor, ini lagi les di tempatnya Ajeng.”
“Oh. Umur kamu berapa ya? Kelihatan lebih muda dari Ajeng.” Wajah Abi jelas terlihat sangat muda, beda dari Ajeng yang sudah banyak kerutannya.
“Usia saya dua puluh tiga tahun, Mas.”
“Wah … muda sekali.”
Andin yang menyimak kali ini ikut bicara. “Sekarang lagi musim pasangan age gap, Mas. Kebanyakan cewek ke brondong atau cowok juga om om ke anak ABG.”
“Begitu, ya!” Bahkan usianya lebih muda dari Anna adik bungsunya.
“Kamu ada niatan ke jenjang yang lebih serius gak sama Ajeng?” Tiba-tiba Alan bertanya seperti ini, membuat suasana makin mencekam. Ditanya tentang keseriusan sebetulnya Abi hanya main-main saja.
Abi menarik napas panjang lalu siap menjawab lantang. “Oh tentu, saya memang serius dengan hubungan ini, Mas. Lebih cepat lebih baik.”
“Tapi kamu belum mapan dan masih muda.” Alan pojokkan seperti ini agar Abi mundur teratur, tidak maju untuk terus mendekati Ajeng.
Abi tau ini trik Alan untuk memojokkannya, ini resiko kalau dia ketemu keluarga Ajeng dan harus bisa dia hadapi. “Kemapanan bukan alasan untuk menunda niat baik, seiring berjalannya waktu saya bisa berusaha untuk memapankan diri dan membahagiakan Ajeng. Lalu soal umur, umur juga bukan alasan utama untuk kesiapan menikah, bisa saja sudah tua kalau dia belum siap menikah ya pasti tidak akan nikah-nikah.”
“Hmmm ….” Alan malas membantah, cukup tahu dan bisa menilai Abi seperti apa.
Ajeng pun datang, dia mandi kilat super cepat agar Abi tidak lama menunggu. “Eh ada mas Alan sama mbak Andin.” Dia lihat kedua kakaknya duduk di hadapan Abi, suasana di situ juga terasa tegang.
“Iya kita abis kenalan sama Abimanyu.” Andin yang menjawab.
Andin menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. “Oh abis kenalan hehe. Gimana-gimana pendapat Mas Alan dan Mbak Andin tentang Abi?”
Abi kaget tentang pertanyaan Ajeng. ‘Duh pake ditanyain segala lagi. Mereka menyukaiku enggak ya?’ gumamnya sambil memperhatikan ekspresi Alan dan Andin bergantian.
“Hemmm …. Belum kenal lama, jadi belum bisa menilai dengan baik, Jeng.” Alasan Alan bagus juga.
“Tapi sekilas gini menurut kalian gimana?”
“Lumayan baik, sih.” Andin yang berkomentar takut suaminya salah bicara.
‘Apa katanya? Lumayan? Nyebelin!’ gumam Abi sambil mengepalkan tangan.
“Mas sama Mbakmu pamit dulu, ya. Kita mau istirahat. Silahkan nikmati waktu kalian!” Alan rasa cukup sampai di sini, dia agak malas meladeni Abi, kesan pertama saja tidak terlalu menyukai pria itu.
“Silahkan istirahat, Mas!”
Mereka kini tinggal berdua saja, Abi buru-buru menarik tangan Ajeng dan berbisik, “Mas mu serem banget sih, Jeng.”
“Kenapa? Takut?” Ajeng terkekeh.
“Iya, takut!” Abi menganggguk.
“Nah kalo bapak kamu menyeramkan juga gak, Mas?” Ajeng juga mungkin akan merasakan apa yang Abi rasakan saat bertemu keluarga masing-masing. Ajeng juga tak punya pengalaman jadi tidak tahu rasanya seperti apa.
“Ihhh … lebih serem, Jeng.”
“Masa iya?”