Ondel-ondel

1246 Kata
"Gimana penilaian kamu tentang pacarnya Ajeng, Mas?" Andin penasaran dengan penilaian suaminya, mungkin lain lagi kalau di belakang Ajeng. "Kurang meyakinkan," jawab Alan jujur. Dia memang tidak menyukai Abi saat pertama kali bertemu. Pertemuan pertama sudah pasti jadi kesan pertama saat kita menilai orang dalam sekilas. "Aku juga berpikir yang sama." Andin jujur tidak menyukai Abi, tapi di depan Ajeng dia tidak menunjukkan hal itu. “Ya baru ketemu sekali, coba kalau sering, mungkin aja lebih baik dari yang kita pikirkan.” Alan berharap Abi tak sesuai prediksinya, bisa saja berubah kan. "Jadi kali ini kita gak ikut campur ya soal pilihan Ajeng?" Andin khawatir adiknya salah pilih pasangan, wajar jika dia mengkhawatirkan sang adik, dia takut Ajeng berakhir tak bahagia, sayang seorang berlian jika tercebur ke lumpur, nanti jadi kotor dan tidak berharga lagi. "Iya. Biarin aja adik kamu maunya gimana." Cowok memang bersikap tak mau ambil pusing, toh Ajeng juga bukan adik kandung Alan. Nanti kalau Alan terlalu rewel takut dikira terlalu ikut campur urusan hidup Ajeng. "Tapi takut nantinya salah pilih, perceraian atau–" Andin terlalu berpikiran negatif, mulutnya jadi langsung dibungkam sang suami. "Sssttt …. Udah berpikiran positif aja, jangan macem-macem. Hidup adik kamu dia yang jalanin. Kita kalau terlalu ikut campur takut disalahin." Benar juga apa yang dikatakan Alan. Lagian jika Ajeng tak meminta untuk apa mereka terlalu membantu. Andin menyanggah. "Cuma bentuk rasa khawatir aja sama adik aku, Mas. Emangnya salah gitu?" tanyanya sambil memajukkan bibir, untung di kamar dan debat mereka tidak didengarkan oleh orang lain. "Khawatir boleh, selalu ikut campur jangan. Mungkin secara gak langsung karena kita adik kamu jadi perawan tua." "Loh kok?" Menurut Andin selama ini dia selalu membantu bukan malah jadi penyebab. "Soalnya dia jadi gak pede dengan pilihannya. Dia juga sering kita repotin jadi gak ada waktu buat mengenal laki-laki." Alan peka tentang hal ini, makanya dia tidak terlalu menjodoh-jodohkan Ajeng, malah yang paling semangat itu adalah Andin di antara semua keluarganya. "Iya juga sih." *** "Jangan takut gitu, Mas cuma bercanda kok." Di ruang tamu Abi terkekeh karena Ajeng ketakutan dengan cerita mengenai ayahnya yang jahat, padahal cuma bohong-bohongan saja, langsung dianggap serius oleh Ajeng. "Masa? Ah gak percaya deh." Jadinya Ajeng sulit percaya akan perkataan Abi. "Bapak baik kok, Jeng. Dia orangnya welcome, enggak galak kok. Tenang-tenang!" Abi curi-curi kesempatan tepuk-tepuk tangan dan bahu Ajeng. "Ih aku jadi parno tau. Aku gak mau ketemu dulu, ah." Ajeng masih tak percaya, dia masih terbawa suasana. Namanya juga pemula, pasti grogi mau ketemu orang tua ayang. "Eh jangan, kan aku tadi cuma bercanda doang, Jeng. Maaf, ya!" Abi jadi takut Ajeng mengulur waktu agar tidak ke rumahnya. Justru kalau cepat-cepat ke rumah Abi ya dia enak jadi cepet nikah, kalau lebih lama lagi jadi tidak nikah-nikah. "Bercandanya kelewatan deh." Ajeng cubit pinggang Abi sampai orangnya meringis kesakitan. "Maaf, ya. Santai aja jangan dibawa stres." Abi usap-usap lagi pundak Ajeng. "Tetep aja aku tegang mau ketemu orang tua kamu." Ajeng takut tidak diterima dan dapat penolakkan. Nanti kalau dia dijutekin ayahnya Abi gimana? Udah sopan dan ajak bicara malah jadi garing. "Cuma bapak aja, ibu kan udah meninggal. Tenang bapak jinak ga akan ngapa-ngapain calon mantunya kok." Ajeng baru tahu jika Abi adalah anak yatim, baru kali ini diceritakan. "Dia masih doyan daging dan sayuran, gak akan gigit kamu, gak enak soalnya kamu pahit." Lagi-lagi Abi terkekeh, Ajeng makin sebal dibuatnya. "Ih enak aja." Ajeng menyikut Abi. "Canda, Yank!" Abi berlendotan di tangan Ajeng. Mereka bercanda tawa berduaan saja di ruang tamu seperti pasangan-pasangan baru lainnya yang sedang dimabuk cinta, hingga waktu tak terasa, sekarang sudah jam sepuluh malam dan sudah saatnya Abi pulang. "Udah malem, sana pulang, Mas. Ga enak aku sama kakakku." Ajeng usir Abi secara halus, tidak enak pada tuan rumah karena tamunya di sini sampai malam. "Ya udah mas pamit pulang, ya!" Abi sudah paham, dia tidak mau di cap buruk oleh keluarga Ajeng. "Tumben kali ini ga ada adik sama mbahmu. Mereka pada kemana?" Dari tadi dia sadar kalau berduaan saja, tidak ada gangguan dari orang lain. Bahkan suara dari ruang tengah atau luar juga tidak ada kegaduhan sama sekali, kemana perginya orang-orang? Katanya ada banyak anak kecil, tapi anak kecilnya semua tidak bar-bar. "Istirahat mungkin, Mas. Kecapean habis banyak aktifitas." "Oh iya. Selamat ketemu besok. Dandan yang cantik, ya!" *** Mau bertemu dengan calon mertua tentu Ajeng siap-siap dulu. Rencananya sepulang dari mengajar les dia dan Abi mau pulang ke rumahnya Abi untuk bertemu dengan Surman. Ajeng sudah belikan Surman oleh-oleh kue, bolen pisang dan teh enak dari Malaysia. Ajeng tentu mengajar dengan begitu semangat. "Tumben dia dandan?" Nana berkomentar saat memperhatikan penampilan Ajeng, tentu dia bilang ini ke Nani– teman gosipnya yang kebetulan duduk di sebelahnya. "Agak menor gitu malah kaya mau ngelenong ya gak si?" Ini menurut Nani, pasalnya Ajeng pakai bedak terlalu keputihan jadi terlihat numpang, beda sama leher. Pakai foundation juga mungkin tidak pakai setting spray dulu dan moisturizer, jadinya ngekrek ada garis-garis yang terlihat mengganggu. Selain itu eye lenernya tidak rapi dan alisnya juga gede sebelah, warna lipstik juga kurang pas karena terlalu soft. "Iya gak cocok kalo medok-medok, ya!" Nani setuju, dia gemas melihatnya, merasa mengganggu pemandangan. Biasanya Ajeng cuma pakai bedak tabur, maskara, alis tipis dan lipstik saja. "Saking semangat mau pergi sama Abi kali, jadinya begitu." Mereka tahu karena barusan sebelum kelas dimulai Abi sudah bilang tentang rencananya. "Padahal lebih pantes natural, ya!" "Betul emmm." Mereka berdua menengok ke Abi yang duduk di belakang. Cowok ini memang doyan mojok duduk di belakang sendirian. "Heh …. Lo apain tuh bu Ajeng jadi ganjen begitu?" tanya Nana pada Abi. "Oh mungkin semangat karena mau ketemu orang tua gue, jadi dandannya kebablasan." Abi terkekeh, dia sendiri agak ilfil dengan dandanan Ajeng tapi enggan untuk bilang ke orangnya sendiri. "Oh maklum baru pertama kali mau ke rumah calon mertua, Bund." Nana dan Nani sedikit terkekeh, mereka tak tertawa keras takut terdengar oleh murid lain. "Nikmati saja pertunjukan ondel-ondelnya, Ni. Mayan kan gratis." "Nakal ya kalian sebut calon bini gue ondel-ondel." Abi menjentik kening keduanya. "Ops maaf! Kan emang iya!" Selesai kelas Ajeng masih duduk di mejanya, memastikan persiapan mengajar di hari esok. Nana mendekati dan mengagetkan Ajeng karena datang tiba-tiba. "Ibu cantik hari ini, tumben dandan?" "Eh jadi malu. Makasih pujiannya." Pipi Ajeng jadi memerah, banyak yang bilang dia cantik. "Mau ada urusan sepulang dari sini jadi tadi dandan dulu meski buru-buru." Maklum dia banyak urusan dan yang perlu disiapkan, jadi dandan ekspres jadi tidak rapi dan tak sempat berkaca ulang. "Emm … sebetulnya ada yang kurang rapi sebelah sini. Mau saya bantu rapikan make upnya?" Nana sedikit menunjuk ke bagian alis. "Boleh, dengan senang hati." Ajeng tidak keberatan sama sekali akan niat baik itu. Nana mengeluarkan perlengkapan make up yang sering dia bawa. Dia oles-oles wajah Ajeng begitu telaten. Perbaiki bagian alis, eye shadow, blush on dan bagian lipstik. Kurang lebih sepuluh menit kemudian baru selesai. "Tara … sudah selesai." "Ada kaca? Saya pengen liat." Ajeng jadi penasaran. Abi sendiri katanya sedang pergi ke toilet jadi mereka tidak langsung pergi ke rumahnya. "Gak ada. Justru jangan ngaca biar pangilng." Nana padahal punya kaca kecil tapi tak mau meminjamkannya pada Ajeng. "Ayok on the way!" ajak Abi setelah kembali dari toilet. "Eh–" Dia agak terkejut. "Oh ciee … jadi ada urusan mau pergi sama Abi ni ye?" tanya Nana pura-pura tak tahu dan agar Ajeng kegeeran. "Iya." Ajeng mengangguk malu. 'Usilnya si Nana!' gumam Abi dalam hati. "Cantikkan maha karyaku, Bi?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN