"Yakin dia Ajeng yang kata kamu orang kaya itu?" tanya Surman pada sang putra. Mereka kini sedang di dapur membuat minuman untuk Ajeng sekalian mengambilkan kudapan.
"Iya betul." Abimanyu mengangguk.
"Kok kaya ondel-ondel?" Dia lihat Ajeng pertama kali datang dengan dandanan yang medok, tidak rapi dan terkesan dempul alias tidak nempel.
"Dikerjain si Nana tadi, temen aku yang dandanin." Abi pun terkekeh, dari tadi dia kuat menahan untuk tidak tertawa di hadapan Ajeng, sekarang di dapur jadi bisa tertawa.
"Oh astaga, usil banget dibikin kaya begitu. Hahahaha." Surman juga ikut menertawakan Ajeng.
"Bapak gak enak liatnya, jadi pengen ketawa. Suruh dia cuci muka kek atau gimana gitu." Dia bisa-bisa keceplosan tertawa di hadapan Ajeng, kasihan nanti Ajeng takut malah sakit hati.
"Duh gak enak, nanti aku dikira gak suka sama dandanannya." Abi bingung jadinya mau memberitahu Ajeng seperti apa. Semua ini salah temannya yang usil sih.
"Ya udah, tahan aja sih, Pak. Bapak bisa kok, Abi aja bisa loh." Dia malah menyarankan begini.
"Iya-iya." Surman mau tak mau hanya bisa menurut, masa dia bilang ke Ajeng terus terang kalau wanita itu sekarang seperti ondel-ondel sih.
Surman pun kembali ke ruang tamu membawa gelas isi teh manis dan camilan untuk Ajeng. "Silakan diminum, Nok Ajeng."
"Makasih, Pak." Ajeng menerimanya dengan senang hati. Dia suka respon Surman yang baik, ramah dan penyayang. Di sini dia merasa seperti sedang berada di rumah sendiri. Karena Ajeng juga sudah lama ditinggal ayahnya yang sudah meninggal, jadi dia merasa menemukan ayah yang baru.
"Ayok di makan juga camilannya!" ujar Surman sambil menunjuk pisang goreng buatannya. Makanan yang disajikan sederhana dan simpel, yang penting ada sesuatu untuk disuguhkan.
"Iya hehe."
"Maaf rumahnya berantakan dan jelek, ya. Beginilah gubuk kami." Surman melirik-lirik atap rumah yang sering kebocoran dan banyak ramatnya. Dia sibuk bekerja cari uang jarang beres-beres, Abi sendiri jarang sekali membantu, kalau sedang di rumah ya kebanyakan tidur.
"Enggak kok, Pak. Ini bagus, rapi, bersih. Bapak rajin beresinnya, ya?" Menurut Ajeng untuk ukuran laki-laki, rumah ini cukup bersih dan rapi, nanti dia bantu bebenah agar lebih bersih dan rapi lagi. Wajar lah kalau kotor, laki kan kebanyakan tidak bisa beres-beres serapi perempuan.
"Ah bapak beresin kalo senggang aja. Mohon dimaklumi ya, soalnya ga ada ibu."
"Ibu udah gak ada sejak kapan, Pak?" Ajeng belum tahu soal ini.
"Belum lama ini, sekitar lima enam tahunan lah ya."
"Sakit?"
"Iya sakit."
Lama mereka membicarakan tentang ibunya Abi, tentang Abi di masa kecil sedangkan Abi-nya sendiri malah di kamar sibuk rebahan sambil chat gadis-gadis lain, Ajeng dibiarkan berduaan saja di ruang tamu, untung enjoy tidak se-nervous saat di jalan. Padahal Abi berjanji akan menemani Ajeng mengobrol dengan ayahnya, eh janjinya ternyata tidak ditepati.
"Boleh ikut ke toilet, Pak?" Ajeng kebanyakan minum jadi ingin buang air kecil.
"Boleh, lurus ke sebelah sana, ya. Abis itu belok kiri." Surman beri petunjuk agar tidak salah pintu.
"Baik!"
Sampai di toilet kebetulan ada kaca besar yang menghadap ke pintu, jadi saat masuk ke toilet ya langsung berkaca.
"Astagfirullah." Ajeng kaget melihat wajahnya sendiri di kaca.
"Eh kok makin medok gini?" Dia rasa polesan tangan muridnya di tempat kursus malah membuatnya semakin terlihat tua.
"Ya ampun bikin malu.” Ajeng gosok-gosok wajahnya menggunakan tangan sendiri. Buset dempulnya tebal sekali, tidak akan terhapus menggunakan tangan kosong.
"Jangan-jangan dari tadi dikira orang aneh.” Dia jadi malu dan ingin menjerit. Apa pendapat Abi dan apa pendapat pak Surman di belakang Ajeng, Ajeng jadi stres memikirkannya.
“Emm …. Mas Abi kok ga bilang sih, nyebelin.” Ajeng jadi kecewa pada diri sendiri lantaran mempercayakan wajahnya begitu saja pada orang lain, lebih baik poles sendiri seadanya atau polosan seperti biasa.
“Oh tapi mungkin takut aku marah terus dia gak enak mau jujur.”
“Hapus ah.” Dia lebih baik tak menggunakan make up lagi.
“Ada cleansing gak ya di tas?” Ajeng buka isi tasnya, siapa tahu ada yang bisa dia gunakan untuk membersihkan semua polesan-polesan yang membuat dia terlihat seperti ondel-ondel ini.
“Eh untung ada.” Dia menemukan micellar water dan sabun cocok untuk pembersihan double cleansing, untungnya ada dan selalu dia bawa kemana-mana. Dempul Ajeng tak akan ampuh dihapus hanya dengan satu produk, harus double.
Ajeng pun mencari sesuatu yang bisa dibasahi oleh micellar water, untung ada tisu di dalam tasnya, sayang tak ada kapas. Setelah dia berusaha menghapus menggunakan micellar water, barulah dia menggunakan sabun yang cukup banyak.
“Ah segernya!” Sekarang wajah Ajeng sudah bersih tanpa mengenakan produk kecantikan apapun. Tak apa tidak pakai bedak atau alis, yang penting dia tidak seperti ondel-ondel lagi. Wanita ini pun kembali ke ruang tamu.
“Ajeng keliatan seger banget.” Surman memuji, menurutnya lebih baik seperti ini, lebih kelihatan natural. Dia memang tidak menyukai wanita yang memoles wajahnya menggunakan banyak produk, selain boros uang boros waktu dan membuat wajah asli jadi rusak oleh efek samping bahan kimianya.
“Iya abis cuci muka, Pak.” Ajeng jadi malu. Dia tahu pasti dari tadi Surman ingin dia seperti ini saja daripada berwujud badut.
“Natural lebih cantik, ya!” Surman kembali memuji lagi dan membuat pipi Ajeng memerah.
“Makasih, hehe. Tadi gak cantik, ya?” Ajeng jadi ingin tahu bagaimana pendapat Surman tentang penampilan before dan afternya tadi.
“Tadi cantik juga sih, tapi bapak lebih suka cewek natural. Jadi bapak lebih suka Ajeng yang sekarang!” Surman tak mau bilang jujur, kasihan Ajeng, takut malu atau sakit hati.
“Ajeng, kalo anak bapak ganteng?” Dia ingin tahu pendapat Ajeng tentang putranya.
“Ganteng mirip bapaknya lah.” Tentu, buktinya Abi banyak digilai wanita, bapaknya juga sama, hanya saja Surman enggan menikah lagi.
“Ajeng mau nerima Abi yang gak punya apa-apa?” tanya Surman lagi menjurus ke hal yang dia utamakan dan inti dari pertemuan ini.
“Kenapa, Pak?” tanya Ajeng sambil menelan salivanya susah payah, dia rasa ini saatnya membahas hal yang lebih serius, ini yang memang dia tunggu-tunggu.
“Ya Ajeng kan udah dewasa, udah mapan. Anak bapak masih merintis, masih butuh banyak bimbingan, gak punya apa-apa dan kami dari keluarga biasa saja. Beda sama keluarga Ajeng yang wah. Gimana ya, bapak jadi insecure.” Jelas Surman minder, dia bak butiran debu lalu keluarga Ajeng bak berlian.
“Soal materi dan kemapanan bisa berjalan seiringnya waktu, Pak.” Ajeng menjawab penuh kehati-hatian agar tidak menyinggung hati lawan bicaranya.
“Nanti kami sukses bareng, bahagia bareng dan mapan bareng. Semua butuh proses dan Ajeng yakin kami bisa jalani itu sama-sama.”
“Beda ya kalo ngobrol sama cewek berpendidikan, wawasan dan jawabannya keren.” Surman jadi terkagum-kagum, memang tidak salah menjadikan Ajeng menantu, yang salah anaknya nanti bakal susah diandalkan.
“Kamu mau kan jadi mantu bapak?” Langsung saja dia tembak, to the point tak usah basa basi lagi.