Cincin Lamaran

1380 Kata
“Oh tentu jika kami berjodoh, Pak.” Jawaban dari Ajeng membuat Surman begitu lega. Berarti memang berhasil memikat hati Ajeng. “Niat baik tentu jangan ditunda-tunda. Daripada kalian bareng-bareng bikin dosa pacaran, lebih baik nikah aja ya kan?” Tangan Surman bergerak meraih dan menggenggam tangan Ajeng. “Nak Ajeng udah siap nikah kan?” tanyanya sambil menatap Ajeng, gadis itu diam beberapa detik karena merasa nervous. Ajeng atur dulu napasnya agar bicara tanpa terputus-putus, dia juga sekalian menormalkan irama jantung. Ketika sudah mantap baru dia dapat menjawab, “Dari segi umur udah siap banget, dari segi mental in syaa Allah siap juga.” “Kapan bapak bisa dateng buat anter Abi melamar Nak Ajeng?” Wah langsung ditodong lamaran dong. Pasti Ajeng kaget dan senang bukan main, akhirnya ada yang benar-benar serius dan klop di hatinya. Kapan lagi dapat pasangan yang memang dia idam-idamkan. “Gimana baiknya Bapak aja.” Ajeng menurut saja, yang penting bisa melepas masa lajang dan status perawan tua. “Kami segera akan datang ke rumah, semoga dapat diterima dengan baik oleh keluarga Ajeng.” Surman terkesan dewasa, penyayang dan pengertian sekali, gimana gak bikin Ajeng klepek-klepek pengen jadi mantunya. “Oh tentu, Pak.” “Abii …. Abii ….” Surman berteriak agar anaknya keluar dari kamar. Memangnya ayam yang sedang mengerami telur, dari tadi diam enak-enak di dalam sedangkan di ruang tamu ada tamu yang dari tadi hanya mengobrol dengannya. “Ya, Pak!” jawab Abi dan pria ini pun keluar dari kamarnya yang berukuran mungil, dua kali tiga meter saja. “Ngerem mulu di kamar kamu.” Sang ayah terlihat ketus dan melempar tatapan tajam. “Eh iya maaf, Abi abis ada perlu kerjain kerjaan online dulu, Pak.” Tentu ini alasan akal-akalan Abi saja agar dikira sibuk. Kalau dia jawab sedang leha-leha dan tidur pasti bakal habis dimarahi, dapat komen negatif juga dari Ajeng. “Mau kapan kita ke rumah Ajeng?” tanya Surman demi kemajuan hubungan anaknya. “Enaknya weekend minggu depan kali ya, Pak?” Abi kira kalau hari libur mungkin keluarga Ajeng bakal ada semua di rumah. “Boleh.” Surman pun menyetujuinya, lagian hari libur dia di rumah saja, tidak ada kegiatan cari uang. “Sana beli cincin buat nak Ajeng. Masa kita dateng dengan tangan kosong, sih.” Ide Surman memang benar, datang untuk melamar jangan dengan tangan kosong. “Kita datang langsung lamar nak Ajeng aja,” tambah Surman dan jelas Abi sangat senang mendengarnya, berarti ada hasil membawa Ajeng ke sini. “Baik, Pak.” “Ajeng kita ke toko mas dulu, yuk!” ajak Abimanyu pada calon istrinya ini. “Pamit pergi dulu, Pak.” “Sekalian anter calon mantu bapak pulang ya, Bi. Awas ati-ati di jalannya.” “Baik, Pak.” “Ini uangnya buat beli emas.” Surman memberikan beberapa lembar uang tabungan yang sengaja dia sembunyikan, ini dana untuk keadaan urgent. “Waduh, kok dari Bapak?” Harusnya kan dari Abi. Yang mau nikah dia, dia yang harusnya keluar modal. “Gak papa, kamu kan lagi gak ada uang, pake dulu aja uang bapak.” Tidak Ajeng, tidak bapaknya sendiri, semua gampang keluar uang untuk Abi. “Makasih banyak. Kami berangkat dulu!” Di jalan Ajeng senang bukan main, habis ketemu calon mertua eh pulangnya dia dapat hadiah emas untuk lamaran. Wanita mana yang tidak senang jika akan dilamar sang pujaan hati. “Bapak kamu baik banget, Mas.” Ajeng mengatakannya sambil mengeratkan pelukan di perut Abi. “Cocok kan jadi mertua yang baik?” Abi puas dengan hasil hari ini. “Cocok!” kata Ajeng sambil mengangguk senang. “Kamu dijamin akur deh sama mertua kalo mertuanya kaya bapakku.” Di pikiran Ajeng mertua rata-rata galak dan kejam, tapi setelah mengenal Surman semua pikiran buruk itu sirna. Dia bakal jadi menantu yang disayang. “Asik hehe!” Dia mau jingkrak jingkrakan sayang sedang dibonceng. “Kamu hapus make up, Jeng?” Abi bisa melihat wajah Ajeng dari kaca spionnya. “Iya, Mas. Gak ngasih tau ih kalo kemedokan.” Wanita ini jadi mengerutkan bibirnya. “Kamu mau kaya gimanapun selalu cantik di mataku, Jeng!” Beuh seperti biasa gombalannya sungguh mematikkan. “Gombal!” Ajeng mencubit pinggang Abi pelan. “Serius loh Sayangku.” Nada bicaranya khas cowok playboy, cuma Ajeng tak sadar saja karena tak pengalaman menanggapi cowok modelan Abi, saking cupunya Ajeng tidak mengenal pria dengan keragamannya yang bermacam-macam. Padahal spesies pria ada banyak, ada yang baik, kalem, pelit, royal, playboy, mokondo, kejam dan masih banyak lagi. “Ada toko mas ini aja di deket rumah, gak papa?” Abi berhenti di toko mas kecil di area pasar dekat rumahnya. “Gak papa, di sini aja beli emasnya.” Menurut Ajeng beli di mana saja asal itu barang berharga untuk lamaran ya ayo. “Cari apa, Mas dan Mbak?” sapa penjaga toko. “Cincin buat calon saya, Bu.” “Cincin di sebelah sana, Mas. Mari ikut saya!” Mereka disambut begitu ramah. “Mau yang berapa gram?” tawar perempuan yang terlihat berumur sudah empat puluhan itu. “Satu gramnya berapa?” Abi takut kemahalan dan uangnya tak cukup. “Lima ratus ribu, Mas.” “Mau yang berapa gram, Jeng?” tanya Abi pada calon istrinya. “Dua atau empat kali ya? Tapi cari yang cocok di tangan saya aja, Mbak.” Ajeng menunjukkan jarinya yang mungil. “Suka yang model gimana, Mba?” Barangkali pilihan penjaga toko tidak sesuai dengan selera Ajeng. “Yang matanya kecil-kecil, elegan dan simpel aja.” Ajeng tidak suka yang glamor, besar dan terlalu wah. Penjaga toko pun memilih cincin mini yang indah, yang kira-kira cocok dengan selera pelanggannya. “Emmm … yang ini?” Dia berhasil menemukan cincin yang sedang laris, best seller bulan ini. Cincin yang ditengahnya melekuk agak tajam hampir membentuk huruf V, ada permata-permata kecil juga melebar selebar dua sentimeter dan warnanya warna warni. “Boleh coba?” tanya Ajeng sebelum dia menerimanya. Ada pilihan lain juga selain cincin tadi, totalnya ada tiga. “Silahkan. Ini ukuran no sepuluh.” Ajeng coba di jari manis tangan kanan dan tangan kiri. “Pas!” Di tangan kiri dan tangan kanannya semua pas, bahkan yang satunya lagi juga pas. “Kecil juga ya jarinya.” “Ini berapa gram?” Ajeng pilih yang permatanya mungil dan banyak. Dia jatuh cinta karena cincinnya ala ke korea-koreaan. “Ini dua gram pas. Berarti harganya sekitar satu juta.” “Mau yang ini aja?” tanya Abi yang sedang deg-deg ser, uangnya sudah pasti kurang. Uang dari sang ayah tidak tebal, sudah dipastikan sedikit. “Mau, ini cantik, aku langsung dibuat jatuh cinta.” Ajeng terlihat gembira dibuatnya. Ini hadiah pertama dan spesial dari Abi, pria yang sedang menggemparkan hatinya. “Saya buatkan suratnya ya. Harganya berarti satu juta. Saya permisi ambil suratnya dulu.” “Aku hitung uang dulu ya, Jeng.” Abi hitung mumpung ibu-ibu tadi pergi. “Waduh dari bapak cuma ada lima ratus ribu ternyata.” Benar dugaannya jika uang ini kurang. Masih mending ada yang ngasih sih, daripada dia sendiri tak ada modal buat kawin sama sekali. “Kalo kamu ada berapa?” tanya Ajeng barangkali Abi punya uang lagi. “Ada dua ratus, Jeng. Kurang dong.” Di dompet Abi hanya ada segini. Ajeng berpikir pasti uang dua ratus ribu itu untuk keperluan bensin dan makan Abi, tidak boleh dia gunakan karena takut Abi kehabisan uang. “Yaudah aku tambahin uangnya.” Dalam hati Ajeng akan membayar semuanya dan biar uang yang ada di tangan Abi di simpan saja. “Gak papa? Aku gak enak nih.” Tentu Abi senang ada bank berjalan. “Apa ganti aja yang gramnya lebih kecil.” Ajeng kira dia terlalu berlebihan. “Jangan, kamu kan suka yang itu.” Abi ketakutan kalau lebih kecil nanti dia dihina keluarga Ajeng. “Yaudah Mas, aku bawa uang kok. Nanti bayarnya gesek pake ATM aku aja dulu.” Ajeng keluarkan kartu ATM berwarna emas miliknya. Abi sudah berpikir pasti uangnya banyak, kartunya gold logo bank terkenal se-asia. “Uang ini simpen dulu takut ada keperluan lain, ya!” Ajeng dorong uang Abi agar masuk ke dompetnya lagi. Abi tersenyum senang dan bergumam dalam hati. ‘Daripada buat keperluan lain mending buat foya-foya. Masuk dompet lagi ya kesayangan Papa!’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN