BU (Butuh Uang)

1129 Kata
"Guru di tempat kursus Abi. Gajinya gede dan kerja di mana-mana." "Gimana-gimana? Jelasin yang bener." "Abi kan usaha apa-apa suka gagal melulu, nah sekarang Abi pengen nika–" Surman langsung memotong perkataan Abi. "Hah nikah? Mau dikasih makan apa nanti istri kamu? Mau dijadiin tumbal biar kaya apa gimana?" "Duh kalo orang ngomong itu di dengerin dulu sampe selesai, Pak-Pak. Jangan langsung putang-potong." "Iya gimana? Kali ini bapak janji mau diem." "Jadi Abi tuh nikah bukan sama orang sembarangan, ya dari kalangan berada Pak." "Emang dia mau sama kamu?" Di pikiran Surman orang kaya pasti menikah dengan orang kaya lagi. "Mau lah, orang dia perawan tua, yang ada dia beruntung dapet Abi." Sepede itu Abi. "Oh. Terus?" Surman ingin bukti bukan hanya omongan semata. "Abi janji gak akan minta modal dan ngerepotin Bapak lagi, nanti Abi ganti uang Bapak, kan istri Abi gajinya gede, keluarganya kaya, nanti minta modal aja dari sana." "Tapi kalau gitu kamu berniat jahat dong, manfaatin orang. Gak boleh, Nak." Masih ada hati nurani nih bapak-bapak, giliran anaknya sudah tak punya hati lagi. "Lah Bapak, hari gini emang ada orang yang bener-bener tulus? Semua berhubungan pasti ambil manfaatnya lah." "Bapak, Abi bosen miskin terus, Abi bosen usaha gagal terus, Abi bosen ngutang terus, Abi juga bosen ngerepotin Bapak." "Kali ini restuin keputusan Abi, ya!" Pinta Abi sambil memohon. Siapa tahu dengan restu ayah jalannya bakal mulus untuk menipu orang lain. "Hmmm …." Surman pikir panjang dulu, repot urusannya nanti kalau dilaporin ke polisi atau berakhir perceraian. "Abi mohon, Pak." Abi bersujud di kaki ayahnya. "Siapa tahu nanti Abi dapat modal usaha dari cewek itu dan keluarganya, dapat kenalan orang-orang sukses dan kaya juga biar ada orang buat kerja sama." "Orang kaya temennya laen Pak, bukan kaleng-kaleng, pejabat lah, pengusaha lah. Nah kan nanti enak kalo udah kenal sama orang hebat, usaha bisa lancar." Ini hal yang terbesit di pikiran Abi, kalau dia sudah sukses dan memiliki teman banyak dari kalangan hedon, siapa tahu bisa dapat istri muda. "Usaha juga gimana orangnya, kalau gagal lagi gagal lagi gimana?" Surman rasa memang anaknya tidak cocok jadi bos atau pemimpin, lebih bagus jadi karyawan, sayang anaknya tak mau kerja di bawah tekanan. "Ada istri yang sudah punya penghasilan kan, dia aja yang nafkahi suami." "Duh." "Dia dapat suami tampan loh, gak di cap perawan tua lagi pula." "Bapak kasihan sama orangnya." "Abi kenalin nanti. Pokoknya Abi mau nikahin dia." "Ada gak buat mas kawinnya." Setidaknya biarpun cuma modal kenti, Abi harus modal duit dan mas kawin untuk menghargai dan menghormati pihak perempuan. "Alah bisa nego!" Dikira belanja ke pasar. Surman mengembuskan napas kasar. Susah kalau debat dan kasih saran ke Abi, ujung-ujungnya kalah dan tidak didengar. "Bi ini tanggal berapa ya?" Mendadak Surman jadi ingat sesuatu hal yang lebih penting. "Tanggal 13, Pak. Kenapa?" jawab Abi tak ingat apa-apa, santuy sekali ini orang. "Mana minta uang!" Baru juga diberikan akses masuk rumah, eh malah dipalakin duit. "Buat apa?" Tanya Abi panik, dia sedang tidak punya uang. Tadi makan dan bensin saja dibayarin Ajeng. "Lah kamu lupa? Ini tanggal jatuh tempo bayar utang ke Pa Budi loh, waduh mana jam segini dia suka dateng nagih." Surman makin panik, masalahnya mereka sudah telat bayar, mereka kepepet meminjam uang ke rentenir yang terkenal jahat, habis bingung mau ngutang ke mana lagi. "Waduh uangnya belum ada buat bayar pula." Abi meremas rambut belakangnya agak kencang. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Kebetulan pintunya juga belum ditutup rapat. Keras sekali, seperti ada orang gila yang mengamuk. "Abimanyu … Surman. Keluar kalian, sudah tanggal jatuh tempo ini." "Abi …. Surman …. Kalian ada di rumah kan? Pintunya ga ditutup rapat nih." Saat digelar kencang pintunya agak terdorong dan dia bisa lihat ke dalam. Budi tetap mengetuk pintu, pokoknya sampai yang punya rumah keluar. "Saya tau kalian di dalam. Cepat keluar!" Rupanya dia masih punya sopan santun, enggan masuk kalau yang punya rumah tak ada di dalam. Surman dan Abi saling berpegangan tangan, panik dan takut karena Budi yang datang. Kalau tak menjawab malah jadi berabe. Abi maju dan semakin melebarkan bukaan pintu agar Budi bisa masuk. "Ya, ada semua di rumah, Pak. Masuk aja Pak Budi!" "Jawab dari tadi kek, capek tau teriak-teriaknya." "Maaf tadi kami sedang ada urusan." Ini alasan dari abi Budi terkekeh mendengarnya, memangnya oejabat atau menteri. "So sibuk banget kaya yang iya aja." "Maaf, Pak." Abi tertunduk. "Mana uang saya, jangan lupa kalau sekarang udah waktunya bayar utang." Budi mengulurkan tangannya. "Mau debit, m banking atau Cash?" tanya Budi berharap mereka segera bayar hutang. "Kami tidak lupa kok, Pak Budi." "Mana, ayo sini bayar!" Budi jadi gemas ke orang yang tidak langsung menyodorkan uang kepadanya. "Maaf, Pak." Ada sinyal-sinyal tak dapat hasil nih. "Maaf kamu bilang? Saya minta duit malah dapat kata maaf." "Maaf kami belum bisa bayar hari ini, uangnya belum ada, Pak." Tentu karena dia masih jadi pengacara alias pengangguran banyak acara. "Halah … bosen saya dengernya. Dasar orang miskin, duit butuh giliran bayar sulit. Gaya elit bajet sulit." "Kami janji akan bayar dalam waktu dekat, Pak." Abi cuma bisa modal omongan doang, padahal kelimpungan bingung cari uang kemana. "Janji mulu, bosen. Udah keberapa kali kalian telat bayar." "Maaf Pak Budi, saya belum gajian, kalau anak saya belum dapat pekerjaan baru." Surman ikut turun tangan membujuk Budi agar memberikan waktu tempo. "Alasannya pasti itu melulu." Budi sampai bosan. Budi mengangkat satu tangannya lalu memanggil anak buahnya di luar. "Ehem …. Masuk kalian." Ternyata dia bawa pasukan. "Eh siapa kalian?" tanya Surman dan Abi pada pria-pria berbadan besar, total ada empat orang. "Anak-anak buah saya." Budi yang jawab. Dia tak datang sendiri, bawa anak buah untuk menghajar Surman dan Abi yang tak bayar-bayar hutang. "Kalian jangan diam saja, segera ambil barang berharga mereka." Titah Budi pada anak buahnya "Tunggu … tunggu!" Cegah Surman karena mereka cuma punya sedikit barang berharga yang memang berguna. "Jangan … jangan ambil barang berharga kami Pak Budi." Surman bersujud di kaki Budi. "Kami janji akan bayar, Pak. Tolong berikan kelonggaran waktu untuk kami." Surman berusaha memohon ampun. "Heh kamu! Iya kamu si banyak gaya. Gaya aja selangit giliran bayar utang sulit." Dia menunjuk Abi. "Maaf, Pak Budi. Saya sedang jadi pengangguran jadi belum bisa bayar." Abi ikut bersujud di samping ayahnya. "Saya muak liat muka kamu hah." Segera Budi tarik kerah pakaian Abi agar mereka bisa berdiri sejajar. Sebuah pukulan pun mendarat di wajah Abimanyu hingga membuat sudut bibirnya berdarah. "Ampuni saya, Pak. Saya mohon." "Hemmm …. Wajah banyak gaya kamu ini lebih pantes babak belur." Sebuah pukulan kembali mendarat di pipi Abimanyu. "Au sakit … jangan pukul saya lagi, Pak." "Saya pukul kamu juga gak bikin hutangmu lunas, Boy!" "Maaf, Pak!" "Hari ini suasana hati saya jadi buruk karena kalian tidak bayar." "Saya janji bakal bayar, Pak." "Kapan? Berapa kali lagi hah?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN