Bujukan

1076 Kata
“Palingan bakal lama bayarnya, malas ah saya bosan." Belum apa-apa sudah diperiksa tidak akan bayar. “Saya bayar lunas, Pak. Saya janji bulan depan lunas." Ini janji Abi yang sungguh-sungguh, bukan cuma omongan semata, seyakin itu bisa bayar. "Mana mungkin bulan depan langsung lunas. Ngaco kamu, mau nipu, ya?" Budi mana percaya, orang seperti Abi tidak bisa dipegang omongannya. Bukan hanya Budi yang meragukan Abi, Surman juga sama. "Nak, kamu dapat uang dari mana nanti?" "Abi yakin bakal dapet gimanapun caranya." Jelas Abi mau minta bantuan dari Ajeng, ke siapa lagi coba. "Saya janji, saya ngomong bener bukan bohong, Pak Budi." Kata-kata Abi bernama tegas dan yakin. Abimanyu dan Surman bersujud di kaki Budi, terus memohon untuk diberikan kepercayaan. "Eh lupa ada cincin." Dia merasakan ada suatu benda di dalam sakunya yang lumayan berharga. Abi mengeluarkan cincin milik adiknya Ajeng dari dalam saku celananya. "Pak saya punya ini. Apa ini bisa jadi bahan jaminan atau bisa mengurangi hutang saya?" Budi menerima cincinnya. "Apa ini?" Dia lihat dari depan dan belakang hingga bagian dalam cincin. "Cincin emas, Pak." "Kamu dapat dari mana? Maling ya?" Tuduh Budi begitu saja, dari mana lagi? Mana mungkin Abi punya uang untuk beli cincin kan! "Bu- bu- bukan, itu milik pacar saya, kebetulan terbawa oleh saya sepulang main bersama." Abi malu dituduh maling, memang benar sih, tapi dia tak mau dibilang begitu. "Berapa harga cincinnya? Asli emas tidak?" tanya Budi karena takut ditipu, dia bukan tukang mas yang bisa tahu secara gampang kalau ini emas asli atau palsu. "Kisaran dua sampai tiga juta, Pak. Itu emas asli, pacar saya memang kaya." Dia pamerkan sekalian status ekonomi Ajeng. "Kenapa tidak suruh pacar kamu saja yang bayarin hutangmu, katanya dia kaya, berarti banyak duitnya dong.' "Emm …. Baru banget pacaran, gak enak kalau minta bayarin." Si mokondo ini bisa saja, padahal niatnya dalam hati memang seperti yang Budi katakan. "Orang kaya beneran gak akan pelit, sekalian aja minta modal usaha sama dia, jangan ngutang-ngutang lagi." Lagi-lagi memang yang dikatakan Budi akan terjadi, memang niat Abi itu cuma dia tak mau mengakui ke orang lain. "Gak enak, Pak. Segan." "Mau gak mau demi melunasi hutang ke saya kamu harus cari sumber uang lah." "Saya janji, Pak. Saya bakal bayar, nanti saya bujuk pacar saya untuk membantu melunasi hutang saya." Budi pun melunak, dia tertarik dengan cincin yang Abi berikan, dia juga yakin wanita yang Abi sebut bisa memberikan apapun untuk Abi, sudah jelas terlihat jika Abi nanti bakal membuat wanita itu jatuh dalam genggamannya. "Saya berikan kamu waktu satu bulan, kalau lebih saya bakal usir kalian dari rumah ini." Sertifikat rumah ini ada di tangannya untuk jaminan saat pertama kali berhutang. Rencananya jika mereka tak kunjung bayar, isi di rumah ini juga bakal disikat habis. "Ba- ba- baik, Pak." Ada rasa takut terbesit di benak Abi, takut nanti Ajeng malah berpaling darinya dan memilih orang lain. "Saya ambil cincin ini, paling harganya dua juta pas karena dijual tanpa surat." "Silakan, Pak." "Tapi cincin ini hanya untuk bayar bunga saja, itu juga masih kurang, hutang kamu tetap dua puluh juta." Budi tak mau rugi "Hah?" Mulut Abi ternganga, ya inilah resikonya, di mana-mana ngutang ke rentenir sudah pasti boncos bayar bunga yang mahal. "Iya, kenapa? Kaget?" Budi terbahak, dia suka ekspresi orang miskin yang ketakutan yang bisa bayar. Giliran pas minjem lalu terima uangnya senyum senang bukan main. Abi dan Surman mengangguk patuh. "Makanya jangan ngutang. Di mana-mana juga pasti ada bunganya." Bank dan koperasi juga sama, tapi bunga pinjaman hanya sedikit. "I- i- iya, Pak." Setidaknya kini Surman bisa sedikit bernapas lega. "Jadi barang-barang kami tidak jadi diambil kan, Pak?" tanyanya sambil tertunduk takut. "Tidak. Barang sampah semua buat apa, paling lakunya juga dijual ke tukang loak." Budi tadi melirik televisi, bangku dan perabot lain, semuanya sudah terlihat barang lama dan lusuh, percuma saja kalau dia ambil, mending ambil cincin saja yang berharga. "Syukurlah, nanti kita mau masak nasi, nyetrika pakai apa dan kepanasan kalau tidak ada kipas." Kalau di hitung-hitung barang ini tak sampai dua juta karena barang lama dan rusak. "Bersyukurlah karena cincin ini yang menyelamatkan kalian." Tampaknya Budi cukup senang setelah dapat benda berwarna keemasan ini. "Ayo kita pergi!" ajaknya pada semua bodyguardnya. Budi berpaling lalu melangkah diikuti anak buahnya. "Terima kasih, Pak." Abi merasa jadi orang berhasil, tinggal usaha untuk melunasi sisanya. "Terima kasih Pak juragan!" Abi dan Surman kini bisa bernapas lega karena Budi pergi. Surman pun melirik curiga ke arah Budi. "Heh kamu, kok cincin pacar kamu bisa ada di kamu sih?" Abi diam, memikirkan alasan yang tepat untuk sang ayah. "Emmm …." "Kamu maling apa di kasih, kalau di kasih gak mungkin." Surman baca gelagat tubuh Abi, sepertinya dugaan dia benar. "Iya bener, hasil maling, Pak." Abi mengakui kesalahannya pada sang anak. "Astaga …. Maling diajarin sama siapa kamu hah?" Surman mencubiti tubuh putra semata wayangnya. Dia tidak pernah mengajarkan Abi untuk panjang tangan. "Au sakit … au … au … auuu!" Abi terus menghindar tapi terus Surman kejar dan berikan pelajaran. "Ampun, Pak. Sakit!" Cubitan aki-aki boleh juga, terasa sakit sampai merah-merah. "Ampun …." Abi memohon sambil merintih. "Kamu malu-maluin. Miskin boleh, manfaatin orang boleh, tapi maling jangan." Sungguh perbuatan yang tidak terpuji menurut Surman, se susah-susahnya hidup Surman dia tak pernah maling. "Kepepet sih, Pak. Itu kalau gak ada cincin nanti pasti barang-barang kita yang diambil pak Budi. Untung ada cincin emas punya adiknya Ajeng." "Hah …. Kamu maling punya adiknya?" Dikira punya Ajeng, ternyata orang lain, Surman jadi merasa takut kalau ketahuan, rumah orang-orang kaya kan selalu di awasi CCTV di setiap sudut. Nanti kalau ketahuan dan mereka jadi gagal nikah gimana? "Iya. Tadi tergeletak di atas lemari, jadi Abi ambil." Emang dasarnya panjang tangan, tanpa sepengetahuan Surman, dulu Abi juga pernah maling saat masih sekolah, tepatnya maling hape milik salah satu temannya yang menyimpan ponsel sembarangan saat jam istirahat. "Abiii …. Abii …." Ayah satu anak itu jadi gelang-gelang kepala dan sesak napas. "Maaf, Pak. Lain kali enggak lagi deh." "Aduuh, sesek d**a bapak." Dia usap dadanya perlahan. Pria tua ini pun duduk di kursi. "Minum dulu, Pak. Minum!" Abi menepuk-nepuk pundak Surman. "Ambilin, anak kampret!" Sentaknya pada sang putra. "Eh iya, maaf!" Abi buru-buru ke dapur untuk mengambil segelas air mineral. "Ini minum dulu, Pak." "Ini kita cuma punya waktu satu bulan, bapak beneran gak bisa bantu kamu lagi. Kali ini kamu yang usaha sendiri ya." "Iya, Pak. Nanti Abi pinjem dari Ajeng." "Emang dia mau ngasih cuma-cuma tanpa jaminan gitu aja?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN