TKS - 29

1504 Kata
"Kita akan pergi?" "Ya." "Kau serius?" Alaric mendengus muram. "Kau pikir aku bercanda?" "Tidak. Tapi dalam rangka apa?" tanya Pandora penasaran. "Kau diperbolehkan memakai mobil?" "Tentu saja. Dalam batas tentunya," ujar Alaric datar. Membalik tubuh istrinya ke lemari besar yang lain. "Aku beri kau waktu sepuluh menit untuk berdandan. Karena sepertinya penata rias tidak diperlukan. Kau belajar sangat cepat." "Aku menangkap itu sebagai sindiran?" Ada senyum geli di wajah tampannya. "Tidak. Itu sebuah pujian. Aku akan memeriksa mobil." "Hanya berdua?" "Kau ingin kita membawa siapa?" Pandora berpura-pura membuka lemari dan mencari pakaian. "Tidak, hanya bertanya. Aku akan turun kurang dari sepuluh menit." Alaric tidak berkata apa pun saat berjalan pergi. Menuruni anak tangga dan melihat beberapa staf sedang berbincang bersama pelayan, memberi mereka instruksi satu sama lain. "Kami akan pergi sebentar, Nina. Kau tidak perlu membuntuti nanti." "Ke mana Anda akan pergi?" "Mungkin ke sekitar kota. Cornelia biasanya bersinar di malam hari. Kami tidak akan lama." Nina memberi bungkukan agak lama. "Baik, Yang Mulia." Sedangkan Pandora berdandan seadanya. Dia memilih pakaian secara cepat. Memakai boots dan celana jins sepadan. Membawa mantel dan baju hangat saat pergi. Mengikat rambutnya agak tinggi, mengoles lipstik dan menilai penampilannya sekali lagi. Lalu merasa tertohok. Mungkin yang membuatnya terkejut karena dirinya sendiri adalah dia yang dulu berbeda dengan keadaan sekarang. Pandora yang menyukai pakaian serba kuno tidak ada lagi. Ciri khasnya sebagai seorang kurator buku tidak lagi nampak. Semua berbeda. Kamuflase ini memang akan bersifat sementara. Dan perlahan dirinya merasa nyaman dengan perubahan. Dirinya tidak perlu mencemooh siapa pun karena merasa kurang berkat penampilan apa adanya. Ditunjang pemasukan yang tidak sepadan dengan harga mahal sebuah baju serta celana. "Yang Mulia?" "Ya, Nina?" Pandora membuka pintu. Melihat Nina mengangguk dengan tatapan bertanya. "Ada apa?" "Anda sudah ditunggu. Untuk malam ini, aku dan tim tidak akan mengusik kencan Anda." "Kau bergurau," tukas Pandora agak bersemu. "Kami tidak berkencan. Aku hanya penasaran tentang Cornelia yang bercahaya di malam hari. Kau tahu, para warga senang membahas itu satu sama lain." "Anda mendengarnya?" "Saat aku di kedai gelato. Salah satu dari mereka merencanakan lamaran cantik di bawah sinar rembulan Cornelia. Aku tidak tahu kalau tempat ini diberkati," kata Pandora senang. "Apa ini seperti surga tersembunyi?" "Ada beberapa tempat bagus dan dikenal sebagai sakral. Bekas-bekas revolusi industri masih ada dan beberapa dari mereka mengelolanya menjadi tempat wisata atau membelinya sebagai koleksi properti." "Warga di sini cukup makmur," ujar Pandora. Mengingat kehidupannya dan Paman Laito sempat dilanda krisis selama bertahun-tahun yang panjang. Satu-satunya alasan mereka bisa bertahan adalah karena bantuan Ellie dan tabungan mendiang ayah baptis Pandora semasa hidup dulu. Saat dirinya sampai di teras, sebuah mobil berbadan besar terparkir apik dengan dua orang menunggu di sisi mobil. Salah satu dari mereka membuka pintu, membiarkan Pandora masuk. "Mobil ini cukup jantan," ucap Pandora kagum. "Apa kau mahir mengemudikannya?" Alaric memakai sabuk pengaman saat para staf mundur dan mempersilakan mereka berangkat. "Kau hanya perlu menilai setelah kita berdua kembali ke istana dengan selamat." *** Ellie menatap Ilama yang sedang berbincang dengan bawahannya secara berbisik. Selama matanya mengawasi, tangannya tidak pernah lepas dari secangkir teh hangat dan kudapan. Saat Ilama meliriknya, Ellie hanya perlu membuang muka acuh. Kemudian gadis itu pergi. Sejujurnya, ia sangat penasaran. Terutama mendengar cerita Nirvana. Gadis itu tidak pandai berbohong. Nirvana bicara apa adanya. Dan Ellie semakin cemas ketika dia menyebut nama Nakia. "Kau sepertinya sedang bersantai, Ellie." "Ya. Apa yang bisa kita lakukan di jam malam seperti ini?" tanya Ellie santai. Melirik Ilama yang bersidekap di sebelahnya. "Kau sedang apa? Percakapanmu terlihat sangat misterius." "Kau ingin tahu?" Ilama melempar dengusan. "Tidak begitu penting. Aku hanya perlu menegur mereka yang bersikap kelewatan." "Kau benar-benar aneh," tegur Ellie muram. "Mereka semua hanya manusia. Istana saja yang berlebihan meminta mereka semua berlagak sempurna." "Kau seharusnya tidak mengeluh." "Dan kau seharusnya tidak perlu mengintimidasi semua orang. Kau kadang-kadang membuat mereka muak," ucap Ellie dingin. "Aku tidak bisa menghitung dengan jariku. Siapa saja yang merasa tersakiti berkat ucapanmu. Kau perlu belajar lagi." "Aku sama sekali tidak peduli," balas Ilama tajam. "Selama ratu tidak mempersalahkan hal itu, aku merasa yang kulakukan benar." Ellie hanya mencibir. Tidak lagi bersuara. "Kau tahu, Ellie. Istana ini menyimpan kebohongan. Kebusukan yang terpendam rapat-rapat. Rahasia yang mungkin membuat semua orang terluka." "Bangkai akan tercium juga pada akhirnya," kata Ellie santai. "Meski ratusan tahun kemudian, kebenaran akan menang. Kau berprinsip yang sama? Atau tetap menyimpan rahasia itu menjadi milikmu sendiri?" Ilama hanya diam. Matanya menelusuri langit-langit ruangan tanpa suara. "Kau banyak berubah." "Tidak juga." Ellie menyahut ringan. "Aku hanya harus berpihak pada seseorang yang benar. Pandora mungkin seorang Duchess sekarang. Tapi bagiku, dia masih seperti keponakanku sendiri. Dan orang-orang berusaha menghancurkannya." "Kau terlalu percaya diri." "Ilama," tegur Ellie pahit. "Beberapa hal yang terlihat dilebihkan membuatku bertanya. Pandora memang bukan dari golongan yang sama dengan bangsawan. Tapi menyorot semua pemberitaan, mengapa hanya tentang ratu yang baik? Ratu Laura seolah tidak punya cela." "Kau perlu menjaga bicaramu." "Aku tidak bicara hal yang kotor atau buruk," balas Ellie sengit. "Aku bicara fakta. Semua orang pernah melakukan dosa. Tetapi media hanya membangun reputasi sempurna yang berlebihan untuk ratu." "Kau punya dendam pada ratu sekarang?" tanya Ilama sinis. "Kau pikir kau siapa?" "Sama sekali tidak." Ellie melirik Ilama yang marah. "Aku tidak punya dendam apa pun pada ratu. Aku menghormatinya. Satu-satunya perempuan yang setara dengan raja. Tapi belajar dari mendiang ratu sebelumnya, semua yang terlihat damai ternyata hanya kamuflase. Kau belum lupa, kan?" Ellie mendengus. Memerhatikan ekspresi Ilama yang berubah. "Aku belum lupa bagaimana cara mendiang ratu menyetir berbagai aspek termasuk para jurnalis. Termasuk menutupi kebohongan-kebohongan besar yang menjijikan." "Kau berpikir ratu kita yang sekarang seperti itu?" Ilama terperangah. "Kau bercanda, Ellie. Ratu tidak bersikap murahan seperti mendiang ratu sebelumnya." "Kau yang paling paham tentangnya, Ilama. Aku tidak akan menyangkal hal itu. Andai saja ini semua benar, kita hanya perlu menunggu." Berjalan pergi membiarkan Ilama sendiri merenung bersama sepi. *** "Orang-orang biasa melamar kekasih mereka di sini?" "Yang kudengar. Aku tidak tahu pastinya." Pandora berpaling. "Kau tidak pernah berkunjung ke tempat ini?" "Sering. Bukan untuk bersenang-senang," balas Alaric datar. "Untuk memeriksa segala hal yang berbau pekerjaan. Ini termasuk destinasi yang dicintai turis." "Yang Mulia." Keduanya menoleh melihat perempuan paruh baya yang membungkuk dengan senyum. "Jika diperkenankan, biarkan kedai murahku menjamu kalian berdua di tempat ini." "Aku sama sekali tidak keberatan," kata Pandora senang. "Kami bersedia untuk duduk." "Aku akan memberikan jamuan secara gratis." "Tidak, kami akan membayar." Pandora menyela dengan ringisan. Menyikut lengan suaminya yang diam. "Benar, kami akan membayar." Wanita itu tersipu senang. Memberikan tempat dengan spot terbaik saat kembali masuk. Dan Pandora mendengar suara riuh dari tiga anak-anak yang bersembunyi di etalase. "Kalian bermain dengan gelas lagi?" "Mama, kami tidak bermain gelas dan piring. Kami bermain petak umpet," si pirang berceloteh menjawab ibunya. "Apa kami berbuat salah?" "Tidak, Sayang. Ayo, bereskan mainan kalian." "Anak-anak bersikap menyebalkan sesuai usia mereka. Menurutmu begitu?" Alaric menarik napas. Suaminya tampak datar memandang ketiga bocah yang saling bahu-membahu membereskan mainan tanpa mengeluh. "Aku berpikir sama. Tapi di istana, anak-anak dituntut untuk menjadi sempurna." "Kau dan raja?" "Kami berdua." Kemudian menarik diri untuk memandang beberapa orang yang sibuk tertawa dan mengambil gambar pemandangan di malam hari. "Hal paling menyebalkan yang pernah kudengar adalah bagaimana cara mereka menghardik anak kecil seperti tak berperasaan." Pandora menarik diri untuk mundur. Membayangkan kehidupan suaminya yang sulit semasa kecil. "Aku bisa membayangkan kau yang terlunta. Atau Alaric kecil yang malang dan menangis di sudut lemari." "Itu adalah kebenaran." "Makanannya sudah tiba. Silakan dicicipi." "Dan ini minumannya," salah satu dari ketiga bocah itu mendekati ibunya dengan membawa gelas secara hati-hati. Menaruh perhatiannya pada Pandora dengan pandangan berbinar. "Semoga kau suka." "Tentu saja aku akan suka. Terima kasih." Bocah lucu itu berlari masuk ke dalam. Melepas diri dari tugasnya dan bergabung dengan kedua saudaranya yang lain. Sementara Alaric hanya menggeleng kecil. "Dia mencuri perhatianmu." "Dia bocah lucu yang manis." Suaminya kembali diam. Memandang makanannya dan mencium aromanya. "Bau rempahnya cukup pekat. Kurasa pemilik kedai pintar membuat camilan terkenal." "Kedainya tampak sepi daripada kedai yang lain," kata Pandora bingung. "Apa yang salah?" "Suaminya termasuk pendosa. Dia melakukan kejahatan dengan cara bekerja sebagai penjual barang terlarang ilegal. Kepolisian menangkapnya. Kejadiannya baru satu tahun yang lalu." "Kau mengingatnya?" "Penjara penuh dengan kasus kecil sampai berat. Kebanyakan dari mereka berasal dari desa kecil di Cornelia. Aku pernah melihat pemilik kedai berkunjung ke penjara dan memberi titipan untuk suaminya." Pandora meringis. "Kau pengingat yang baik rupanya." "Aku." "Apa kita bisa mampir gelato setelah ini?" "Di sini ada kedai yoghurt dan es krim. Aku tidak tahu rasanya sesuai seleramu atau tidak. Tapi kita perlu mencoba." Pandora menahan diri untuk tidak tergelak. "Aku bisa memberi judul malam ini dengan kita yang berkeliling berwisata kuliner malam hari. Wow, Cornelia punya segudang banyak makanan." Alaric hanya menatapnya. Cukup lama. Dan hampir membuat Pandora salah tingkah. Terutama karena sorot kelam membius itu terasa membakar bagian dalam dirinya. Yang mencuri satu sampai ribuan detak jantung asing dan Pandora sedikit salah tingkah. "Aku membawamu pergi untuk kencan." Kencan? Mereka berdua? Kemudian pria itu lekas menunduk untuk tidak bertemu tatap dengan mata istrinya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN