"Apa yang tersisa dari masa kecilmu?"
Alaric termenung. Beralaskan bantalan tangan dengan Pandora yang meringkuk, meresapi suasana kamar yang hangat dengan keintiman dalam konteks berbeda.
"Banyak. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana."
"Kau dicintai?"
Satu dengusan mampir. Pandora tidak mampu berpaling saat sepersekian detik yang menyesatkan mampu membuatnya menatap pria itu dengan cara lain.
"Menurutmu?"
"Aku sedang bertanya padamu."
Ada jeda membentang. Ketika Pandora menarik napas, mengulurkan tangan untuk menyusuri kulit tangannya yang sendiri yang terbuka. "Bagiku kau tidak terlihat seperti bocah kecil yang punya banyak pengalaman indah. Istana benar-benar seperti sangkar emas, bukan?"
"Aku mengira ini seperti konspirasi."
Hanya tawa singkat yang terdengar. "Bukan. Aku mengenal kehidupan istana hanya berdasarkan buku. Melihat langsung hanya seperti sedang menatap kebenaran."
"Tidak ada satupun yang benar-benar menyayangiku," ucap Alaric lamat. "Keluarga kerajaan selalu menjadi sorotan. Di setiap langkah, jejak kaki mereka, gerak-gerik. Aku merasa setiap kali bernapas, mereka mengawasiku."
Pandora membayangkan segenap aturan ketat yang mengikat kencang setiap penghuninya. Protokol ada untuk mengatur. Sama halnya pemerintahan yang bekerja sama untuk mengurus rakyatnya agar sesuai dengan aturan mereka.
"Termasuk kehidupan cintamu?"
"Jika aku jujur, aku berharap menikahi Laura di masa depan. Perempuan lain hanya selingan, selintas sambil lalu. Laura menempati segalanya yang sesuai."
Pandora mendadak bisu. Rasa dingin menjalar dimulai dari ujung jemari kaki sampai pada lehernya. Ia merapatkan selimut, menyadari dirinya yang berubah, bukan suhu di dalam kamar.
"Dulu. Sebelum Laura memilih Dimitri dan membiarkan segalanya lepas begitu saja."
"Kau terdengar menyesal."
Alaric menarik napas berat. "Aku tidak tahu."
"Dia tahu impianmu?"
"Aku tidak punya impian."
"Kalau begitu, bakat." Pandora menyadari dirinya hanya terlalu banyak mendesak. "Bakat yang tidak bisa kau tunjukkan pada orang lain."
"Aku tidak tahu dia menyadarinya atau tidak. Karena aku tidak pernah memberinya pertunjukkan bakat dalam bentuk apa pun."
Pandora terlentang. Memandang langit-langit kamar tanpa suara. Ini kedua kali mereka tidur bersama di ranjang yang sama. Tanpa kain apa pun yang melekat dan Pandora merasa lepas serta menjadi perempuan dewasa. Satu hal yang ia yakini bahwasanya dirinya tidak menyesali apa pun yang berkaitan dengan memasrahkan diri.
"Aku sudah bercerita. Ceritakan tentangmu."
"Beasiswa, Oxphord, kurator buku, dan penampilan seperti ahli sihir abad tujuh belas. Apa yang ingin kau dengar?"
"Kau bergurau," kata pria itu dengan dengusan. "Sekarang kau tidak lagi terlihat seperti ahli sihir. Kau bisa memadukan gaya penampilanmu sendiri dengan baik."
"Tanpa penata rias?"
"Tanpa penata rias," ulang suaminya.
"Kupikir kehidupanku berjalan berat. Yang membedakan antara kau dan aku cukup banyak. Tapi sekarang aku mengerti. Ada beberapa hal yang tidak kau miliki saat aku mendapatinya."
Alaric diam hanya untuk mendengarkan.
"Rumah. Aku punya rumah. Kehidupan normal sebagai anak-anak. Bangkit dari keterpurukan. Merayakan ulang tahun dengan cara sederhana. Mendengarkan canda dari orang sekitar. Yah, walau beberapa dari mereka tidak menerimaku ada."
Pandora mencibir. Mengenang masa lalunya dengan cara baik bukan hal yang buruk ternyata. "Kau iri sekarang?"
Suaminya balas mencemooh. "Sedikit."
Pandora yang pertama kali memutus rantai tatapan mereka. Sembari bergeser untuk berbalik, memunggungi pria itu. "Bagaimana jika aku hamil?" Dan berharap pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban.
Gerakan lain mengundang tanya. Saat Pandora menghela napas, lalu merasakan sebelah tangan yang kuat memeluk perutnya. Mengikis jarak di antara mereka.
Dan ia hanya perlu merasa lega. Karena kemauannya terkabul. Dirinya tidak mendapat jawaban apa pun atas pertanyaannya sendiri.
***
"Ada bukti yang kami temukan. Aku tidak melaporkannya pada tim penyelidikan. Sebagai gantinya, aku memberitahu Anda."
Alaric mengangkat alis. Melihat tulisan tangan yang berantakan di atas kertas dengan tinta biru. Sepertinya pelaku hanya menulis dengan pena seandanya yang terdapat di sekitarnya dan terburu-buru.
"Hanya ini?"
"Hanya itu. Terselip di bawah punggungnya. Aku terburu-buru mengambilnya demi alasan kepentingan."
"Semoga tidak ada yang melihatnya."
Nina memberi persetujuan. "Aku juga berharap hal yang sama."
Dan dalam diam, Alaric mulai membaca.
Aku ingin menulis banyak surat untukmu. Tapi tidak bisa melakukannya. Aku terpaksa. Ini demi dirimu, kan? Seharusnya pekerjaan itu mudah. Tetapi tanganku gemetar saat melakukannya.
Duchess itu tidak bersalah. Arogan sekali pada mereka yang memaksa agar Duchess menderita. Kemampuanku hanya sebatas sampai di sana. Aku terus berlarian dan tertangkap pada akhirnya. Berhasil melarikan diri dan memilih pergi untuk bebas. Kalau surat ini sampai ke tanganmu, aku sudah tiada.
Uangnya cukup untukmu berobat. Kehidupan miskin kita tidak akan membuatmu bahagia. Selepas aku pergi dan kau sembuh, hiduplah dengan baik. Setiap napas dan senyummu berharga.
"Tidak ada alamat apa pun di sini. Apa dia berniat mengirimkannya?"
"Kurasa. Kematian itu benar karena kesengajaan. Ada pihak lain yang menekannya untuk tidak bicara. Seseorang menjadi sandera."
Alaric mendesah. "Apa kematiannya bisa mengungkapkan pelakunya?"
"Bagaimana jika pelakunya berasal dari dalam istana sendiri?"
"Istana ini?"
"Bukan, istana utama. Istana Parvitz. Aku tidak menemukan hal yang mencurigakan di Cornelia. Firasatku mengatakan sebaliknya saat di sana."
Alaric bungkam seribu bahasa. Matanya melirik kertas itu dengan dengusan kecil. "Pelaku terpaksa karena butuh uang. Menelisik dari tulisannya, ini untuk kekasih."
"Dia kerap berpindah-pindah. Melacaknya butuh waktu."
"Kau bisa menyisir tempat itu untuk bertanya soal saksi. Jika kita menemukan benang merahnya, kita bisa menyeret pengkhianat ini keluar dari istana secepatnya."
"Tujuan mereka hanya satu, membuat Duchess menderita. Serangan itu memang ditunjukkan untuk Duchess, bukan untuk Anda."
"Istriku tidak melakukan kesalahan dan dia dibenci?" cibirnya sinis. "Aku tidak ingin menaruh asumsi terhadap siapa pun."
"Begitu pula denganku." Nina menambahkan dengan getir. "Kalau Anda berkenan, aku akan berusaha keras mencari benang merah kasus ini. Secepatnya untuk menghindari konflik baru karena pelaku menjadi saksi kunci."
"Kau boleh melakukannya."
"Aku tidak akan menceritakan ini pada Duchess demi keselamatannya. Tapi mungkin akan memberikan beberapa arahan terkait insiden berikutnya. Ini tidak akan terjadi satu kali."
Rasanya kepalanya berputar dan cukup pening. Alaric mendesah, membiarkan Nina pergi saat Pandora masuk setelahnya. Tergesa-gesa dengan raut penasaran. "Kenapa dengan Nina?"
"Melaporkan masalah."
"Pelaku pelemparan telur?" tanya Pandora antusias. "Dia benar-benar melakukannya?"
"Ya." Dalam diam membuang kertas itu ke bawah meja agar Pandora tidak melihatnya. "Dokter dan tim sepakat itu murni kematian secara pribadi dan sengaja. Lebam itu terindikasi karena dia melukai dirinya sendiri. Semacam tekanan dari pihak luar."
"Ya Tuhan," kata Pandora sedih. "Malang sekali pria itu. Apa dia punya keluarga? Atau kerabat?"
"Tidak ada. Nina berusaha membantu dengan mencari sanak saudara. Kami tidak menemukan apa pun."
"Apa aku bisa membantu sesuatu?"
Alaric meneleng, memandangi wajah istrinya yang manis dengan seulas senyum tipis. "Tidak. Aku tahu kau sedang sibuk sekarang."
"Mengurus domba dan taman bungamu?"
"Bukan, mengurusku dan perpustakaan baru di Cornelia. Benar, kan?"
Ah, dia ketahuan.