Pandora menghela napas. Membayangkan istana ini dipenuhi kegembiraan hanyalah angan-angan semu. Tidak akan ada terompet yang mengiringi kakinya turun dari mobil. Sementara Katedral telah dipersiapkan dengan sebaik mungkin untuk sumpah pernikahan.
"Pandora!"
"Nakia?" Pandora berbalik. Menemukan penata rias ramah itu berjalan menghampiri. Nakia terlihat manis dengan tatanan kepang Prancis yang khas. Rambut kecokelatan gelombang itu benar-benar halus. Pandora merasa kurang percaya diri karena dia tidak terlalu handal mengurus rambutnya sendiri. "Kau sedang apa?"
"Berjalan-jalan. Aku senang masih bisa melihat calon pengantin di sini." Nakia tersenyum lebar. "Oh, kau luar biasa. Walau tidak memakai gaun, kau tampak hebat."
"Kau berlebihan." Semburat malu mampir. Pandora hanya tidak terbiasa mendapat pujian besar. "Aku berpakaian seadanya."
"Aku setuju dengan seadanya. Tapi kau luar biasa. Hanya butuh sedikit polesan, dan semua akan menjadi lebih luar biasa." Nakia menyengir dan Pandora tersenyum.
"Jadi, besok kau akan menikah. Bagaimana perasaanmu?"
"Biasa saja."
"Serius? Kau tidak ingin buang air besar atau pingsan?" Ekspresi Nakia berlumur tidak percaya. "Karena yang kudengar, mempelai akan sangat gugup. Ini pernikahan pertama dan mungkin menjadi yang terakhir bagi mereka."
"Aku setuju untuk yang pertama, tapi tidak yang terakhir." Pandora menimpali santai. Berjalan untuk menghindari kerumunan bersama Nakia di sisinya. "Pernikahan kedua mungkin saja ada."
"Oh, kau bercanda. Siapa yang akan menggelar pernikahan kedua?"
"Pangeran Alaric."
"Astaga. Aku bisa membayangkan," kata Nakia sedikit syok. "Pangeran itu sempat dikenal sedikit kurang ajar dan arogan."
"Terlalu tidak terpuji dan sangat arogan," koreksi Pandora dengan senyum. "Well, bagaimana harimu?"
Nakia yang ramah tersenyum lebar. "Sangat baik. Aku tidak sabar untuk meriasmu. Kau akan luar biasa. Karena kau meminta agar dirias natural, aku sudah memikirkan konsep untuk besok."
"Oh, kau bekerja terlalu keras."
Kepala Nakia meneleng. "Tidak sama sekali. Aku ikut berbahagia. Terutama karenamu. Kau seperti membuka gerbang negeri dongeng yang sebenarnya. Yah, walau realita selalu bicara fakta. Tidak akan ada pangeran yang sempurna."
"Seharusnya mereka berhenti menonton tayangan penuh halusinasi," sungut Pandora agak sebal. "Menonton tayangan lain juga akan merubah pola pikir mereka."
"Atau membaca buku-buku lama?" Nakia memberi senyum. "Buku seperti membawa kita ke dunia yang berbeda. Lebih berwarna dan menilai sesuatu dengan hal yang paling mendasar secara objektif sekalipun."
"Aku setuju. Tidak semua orang punya pendapat yang sama denganmu."
"Mereka malas membaca," kata Nakia muram. "Aku tidak. Kadang-kadang saja karena membaca sedikit melelahkan."
Pandora hanya tersenyum.
"Nakia? Kenapa kau berkeliaran di sini?"
"Madam Ilama," Nakia mengangguk. "Aku ingin berjalan-jalan sebentar. Anda tidak perlu cemas karena aku sudah meminta izin pada Yang Mulia demi menikmati udara segar."
Ilama dengan raut ketusnya semakin terlihat kesal. "Oh, rupanya mulai berani. Kupikir kau masih sepenakut dulu."
"Itu dua tahun lalu," timpal Nakia dengan senyum. "Aku ingin tahu istana lebih dalam lagi. Jangan cemas, Madam. Tanganku pendek dan kecil. Aku tidak akan mencuri berlian berharga di istana ini hanya demi terkurung di penjara selamanya."
Ilama mencibir. Pelayan senior itu memilih untuk pergi dan merecoki pelayan lain saat sibuk bekerja. Sedangkan Pandora menggeleng, mengawasi langkah perempuan tua itu dengan dengusan kecil.
"Kau beruntung. Sebentar lagi tidak akan ada sosok nenek sihir menakutkan di rumah baru. Cornelia bebas dari Ilama. Kalau Putri Laura berkunjung, kau mungkin bisa menahan diri."
Mereka bertatapan satu sama lain. Pandora sampai harus membekap mulutnya sendiri untuk tidak tertawa terlalu keras.
***
"Aku baru saja melihat jadwalmu setelah pernikahan dan penobatan. Kau rupanya cukup sibuk nanti."
Alaric mencibir pelan. Tidak bisa menutupi raut sinisnya sama sekali. "Terlalu sibuk sampai aku tidak perlu memikirkan pewaris. Kau tidak perlu cemaskan itu."
Sedangkan calon raja mendesah, menutup bukunya dengan gelengan singkat. "Pewaris atau tidak, itu tetap harus terjadi. Kau juga butuh penerus untuk menetap di Cornelia selamanya. Kalau kau menua, anakmu yang akan menggantikan peranmu."
"Ingin rasanya aku membawa garis keturunan ini mati bersamaku." Seringai adiknya melebar dan Dimitri harus menahan diri. Alaric memang suka membuatnya naik darah terkadang. "Itu lebih menarik. Kau punya penerus yang bisa tinggal di Cornelia untuk selamanya."
"Konyol."
"Itu fakta." Alaric menimpali dengan enggan. "Aku selalu berhati-hati dalam berhubungan. Dan dengan istri baru, aku tidak yakin."
"Kita lihat nanti."
"Kau terdengar cukup percaya diri," sindir sang adik muram. "Apa kau berniat meledekku?"
"Tidak sama sekali, man. Tapi pria tetaplah pria. Kau paham maksudku?" Senyum Dimitri melebar congkak. "Kau terjebak dalam ikatan sah selama setahun. Berpelukan bukan hal yang ditentang gereja."
"Karena kami pasangan?"
"Saat aku menikahi Laura, aku juga tidak berkeinginan untuk menyentuhnya. Tapi tidak ada yang menolak. Kami berdua sama-sama menginginkannya."
Mendengar sang kakak membahas kehidupan rumah tangganya hanya membuat Alaric semakin meradang karena panas. Ia tidak seharusnya terpancing. Dimitri memang senang menggodanya. Tidak pernah sama sekali melewatkan kesempatan untuk membuatnya kesal. Dan topik soal Laura mungkin membuatnya sedikit frustrasi dari yang dibayangkan.
"Kau melamun."
"Hanya sedang berpikir."
"Pandora?" tembak Dimitri tepat sasaran. "Lagi pula, gadis itu luar biasa setelah Nakia merombaknya seperti boneka. Aku asumsikan kau juga sama terkejutnya. Dia hanya berkedok sebagai perempuan berpenampilan tua. Cocok dengan pekerjaannya."
"Kau hanya terlalu berlebihan."
"Kau yang lebih tahu jika kalian tinggal di atap yang sama." Dimitri menyela tanpa basa-basi. "Seberapa menarik seorang perempuan, kau akan paham. Kau yang lebih tahu."
"Kami menikah hanya selama satu tahun!"
Alaric tidak percaya dirinya frustrasi karena ucapan Dimitri. Seharusnya dia tidak terpancing. Kendati karena sang kakak gemar memberi umpan pada lawan bicara untuk menilai batas emosi mereka.
"Ini demi dirimu. Kebaikanku dan kebaikan semua orang. Hormati keputusanku."
"Aku tidak punya suara untuk membantah," kata Alaric pahit. "Semua dekorasi telah dibangun. Gereja sedang dibersihkan. Istana juga berubah menjadi surga baru besok. Semua sudah terlanjur siap."
"Kau tidak punya jalan untuk kembali," pungkas Dimitri datar. "Satu tahun, dan semua akan usai. Sesuai kemauan kalian."
"Kemauanmu, bukan aku."
Karena dirinya tidak mau Alaric kehilangan kendali, Dimitri memilih untuk mundur dan mengalah. Memberi Alaric waktu selagi serba-serbi pernikahan disiapkan.
"Aku pergi."
"Ya. Pastikan semua sesuai dengan aturan istana."
Pintu lekas tertutup. Dan Alaric tidak lagi terlihat sejauh pandangan mata. Menyisakan dirinya yang berteman dengan sepi.
Dimitri bangun dari kursinya. Memandang Katedral yang berada tepat di seberang gerbang masuk istana dalam diam. Alaric akan mengucap sumpah pernikahan di gereja yang sama dengannya. Kemudian sengatan kenangan akan dirinya yang bersumpah saat menikahi Laura terngiang. Kenangan itu belum mau pergi.
Begitu pula dengan perasaannya.