Pandora memandang Laura yang pergi dalam diam. Napasnya berembus berat. Sementara eksistensi pria di sampingnya tidak bisa ia abaikan begitu saja.
"Anda tidak perlu menemaniku. Aku bisa mengatasinya sendiri."
Alaric mendesah berat. Meluruskan otot-otot bahunya yang kencang. "Kau sebaiknya belajar untuk tidak terlalu formal padaku."
"Oke, itu mudah."
Matanya tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik. Gadis itu membawa katalog di tangan. Katalog gaun pernikahan.
"Bisa aku tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Gaun apa yang sekiranya kupakai nanti?"
Alis Alaric yang tebal tertaut tajam. "Gaun yang pantas. Yang tidak serupa dengan kau pakai saat ini. Dari desainer ternama. Beberapa debutan desainer baru juga ada. Kau bisa memakainya sebagai bentuk apresiasi dan meningkatkan produk penjualan."
"Begitukah?" Pandora mengernyit. "Aku tidak pernah dengar."
"Kau bukan keluarga bangsawan. Tentu saja ini asing buatmu," kata Alaric tidak perlu menahan diri lagi. "Lagi pula, mau tidak mau kau harus mengikuti aturan. Semua isi lemarimu akan berubah."
Pandora menarik napas. Berjalan meninggalkan pria itu tanpa kesopanan. Dirinya melintasi taman, menjauhi perkarangan secepat mungkin.
"Kau sepertinya keberatan karena aku harus menemanimu?"
"Oh, bukankah ini terbalik?" Kaki Pandora berhenti melangkah. Berbalik untuk menuding Alaric dengan tatapan sinisnya. "Kau yang sepertinya tidak senang."
Alaric mendengus. Bibirnya mengulum senyum geli. "Aku sama sekali tidak keberatan. Lagi pula, secara spesifik Laura yang memintaku. Perempuan itu spesial."
"Kau bicara tidak tahu malu," ucap Pandora panik. "Bagaimana kalau ada yang mendengar?"
"Tidak ada yang mendengar."
Pandora mendapati dirinya ikut panik. Cemas melanda dan nyaris membuat perutnya melilit. Saat matanya mengawasi, tidak ada siapa pun kecuali para pekerja kebun yang sibuk mengurus tanaman.
"Dasar gila," umpatnya.
"Kau tidak sopan mengumpat padaku."
"Kau membuatnya semakin bertambah gila."
Pandora berjalan. Mengangguk saat melihat beberapa pelayan yang sibuk menyajikan makan bagi para pekerja kebun.
Sedangkan Alaric masih setia mengekori. Tidak peduli kemana pun Pandora pergi, pria itu akan terus menguntit.
"Kenapa kau terus mengikutiku?"
"Apa yang bisa kulakukan? Kupikir kau butuh bantuan sekarang."
"Oh, ya Tuhan." Pandora hampir mencela lagi. Terlalu banyak mulutnya mengucapkan kata makian sekarang. "Kau tidak perlu membuntutiku. Aku sudah selesai."
"Apa?"
"Aku sudah memilih gaun pengantin."
Sebelah tangan Alaric terulur. "Yang mana?"
Dengan menahan kesal, Pandora membalik tubuh. Mendekati pria itu dengan memberikan semua katalog. Ekspresi tidak sukanya terlalu kental. Membuka halaman dengan tergesa. "Bagus, kan?" Dan tidak bisa menahan sarkasmenya sendiri.
"Ini terlalu biasa." Alaric mengomentari tanpa melihat gadis itu. "Yang lain. Atau yang ini?" Menunjuk pada gaun dengan belahan terbuka. Tanpa tali bahu dan tentunya berhiaskan mutiara. "Keterbukaan sangat bagus untuk membuatmu menjadi pusat perhatian."
Barangkali Pandora benar-benar merasa tersinggung dan kesal sekarang. Gadis itu menarik napas, membuangnya kasar.
"Lupakan saja. Tidak ada gunanya aku bicara padamu."
Dan melesat pergi menjauhi koridor secepatnya.
***
"Kau yakin dia orangnya?"
"Ya, Madam."
Laura mengangkat alis. Melihat Ilama sedang berbicara secara sembunyi-sembunyi pada salah seorang pelayan. Saat matanya memicing, mengamati gerak-gerik keduanya sebelum menegur. "Ilama?"
"Yang Mulia."
Keduanya membungkuk. Laura mendekat dengan antisipasi. Ketika mata mereka bertemu, gadis itu lekas menunduk. "Apa yang kalian bicarakan?"
"Bukan sesuatu yang penting," sahut Ilama. Menepuk bahu gadis itu dan meminta agar dia pergi secepat mungkin. "Hanya percakapan mengenai antar pelayan."
"Benarkah?" Alis Laura terangkat. "Tidak biasanya kau terlihat akrab dengan sesama bawahanmu. Aku pernah mendengar beberapa keluhan tentangmu."
"Oh, Yang Mulia. Abaikan saja mereka. Pada dasarnya, manusia-manusia itu hanya iri padaku." Ilama bergumam sedih. "Aku melayani Anda selama ini. Mendapatkan posisi yang diidam-idamkan banyak orang. Mereka tentu saja akan bicara buruk tentangku."
Laura hanya bereaksi dengan kernyitan. Menatap kepergian gadis itu yang secara cepat menghilang. "Kupikir memang kau yang perlu berubah. Yang membedakan hanya kau staf senior dan yang lain perlu belajar. Aku pernah mendengarmu berteriak pada staf yang lebih muda."
"Aku hanya mengajari mereka tata krama," kata Ilama getir. "Sejatinya, aku tidak ingin mencari masalah dengan siapa pun."
Kedua mata Laura terpejam. "Yah, baiklah. Kuharap kau mau memperbaiki segalanya di masa depan. Kerja sama itu sangat penting."
"Maaf, Yang Mulia."
"Apa yang kau bicarakan dengan gadis itu?"
"Yang Mulia, ini bukan masalah besar."
"Jawab saja." Laura mendesak tidak sabar. "Kau bertanya tentang apa?"
"Pandora, Yang Mulia." Ilama menghela napas. "Aku pikir ada yang salah di sini. Saat Anda memintaku menyisir saksi, aku menemukan salah satunya. Dia bicara tentang Pandora yang melihat Pangeran Alaric secara jelas malam itu."
Bibir Laura terkatup. Sorot matanya berubah drastis saat Ilama bicara tentang skandal yang baru-baru ini mengacaukan sistem internal kerajaan. "Kau tidak percaya akan hal itu?"
"Yang Mulia, banyak pelayan berkeliaran di malam hari. Gadis itu mungkin tidak sendiri. Tetapi saksi mengatakan hal sebaliknya. Menurut Anda, apa ini mungkin?"
"Kau meragukan kejujuran saksi sekarang?" Laura menghela napas. Menyertai rasa penasaran Ilama dengan tudingan. "Lagi pula, suamiku memegang barang bukti. Kita tidak punya alasan lagi untuk mengelak fakta tersebut. Aku sendiri kasihan dengan gadis itu."
"Sama halnya denganku," tukas Ilama pahit. "Kehidupan Pandora mungkin akan berjalan sulit di masa depan. Terutama karena dia tidak berasal dari golongan yang sama."
"Bukan hakmu untuk mencampuri urusannya," timpal Laura. Berjalan membelah koridor bersama Ilama di sisinya. "Dia sudah sepakat dengan pernikahan ini. Gadis itu juga sopan."
"Firasatku buruk tentang ini."
"Yah, aku juga." Mendengar suara kedua putra kembarnya di taman bermain. "Aku membayangkan kehidupan kaum yang tidak setara selama di istana. Pandora juga akan mengalami masa-masa sulit itu. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Tidak ada."
"Apa kita tidak bisa membatalkan pernikahan itu?"
Laura menunduk untuk merapikan blazer biru miliknya. "Kau tidak punya hak untuk memberi saran itu padaku, Ilama. Tidak akan pembatalan pernikahan. Undangan terlanjur tersebar. Calon raja tidak mungkin membiarkan wajahnya terinjak di depan umum sekali lagi. Aku tidak akan membiarkannya."
***
"Kau kenapa?"
"Tidak ada."
Ellie mengusap cangkir kesayangannya dengan tisu bersih. Memandang Pandora yang sibuk dengan rajutan di tangan. Gadis itu punya hobi unik selain membaca buku. Yaitu, merajut. Rata-rata rok dan pakaian hangat hasil tangannya. Menjahit juga menjadi salah satu kegemaran. Ellie menyukai Pandora yang berbakat. Asalnya karena Pandora mau belajar. Dia sama sekali tidak merepotkan siapa pun selama ini.
"Bisa ceritakan pengalaman asmaramu?"
"Aku pernah punya pacar, hanya satu bulan dan kami tidak berkencan." Pandora membalas acuh. "Maksudnya, jalan dan menonton bioskop. Dia terlalu candu dengan jurnal kedokteran. Sementara aku sibuk membedah manusia haus kekuasaan di masa lalu. Kami berseberangan."
"Oh, malang sekali." Ellie mendengus geli. "Kupikir seharusnya kau mencoba berkencan sesekali."
"Di saat seperti ini?"
"Bukan, setelah kau bebas. Kau bisa mencari pria yang mau menerimamu apa adanya." Menghampiri Pandora dan duduk, mengusap pipi gadis itu. Ellie janda tanpa anak. Dan Pandora sudah seperti putrinya sendiri. "Selama Laito setuju, aku juga akan setuju. Membiarkan masa lalu adalah hal yang tepat."
"Aku bahkan tidak mau mengingatnya," kata gadis itu getir. "Jebakan ini, pernikahan, semuanya hanya palsu."
Pandora menurunkan rajutannya. Menatap Ellie cemas. "Jika suatu hari nanti sesuatu terjadi, kau harus tetap percaya padaku. Aku tidak akan melakukan suatu hal tanpa berpikir matang."
"Pandora?"
"Percayalah. Setiap solusi yang kuambil selalu memikirkan orang lain. Aku menyepakati pernikahan ini demi kau dan Paman Laito."
Ellie menunduk, meremas tangan Pandora dengan senyum tipis. "Kalau kau butuh bantuan, hubungi aku. Panjat saja gerbang itu dan aku akan membawamu lari. Pandora, aku bisa melakukan hal konyol selama kau baik-baik saja. Aku akan menyelamatkanmu."
Yang Pandora rasakan setelahnya hanya kedua mata berkaca-kaca. Kadang kala ia merindukan ibunya terlalu dalam. Pandora merindukan suara ibunya saat membacakan sebuah cerita. Dan sekarang, itu tidak akan pernah terjadi.
"Ini semua seperti permainan. Kau pasti bisa menyelamatkan dirimu sendiri. Hanya perlu satu tahun. Aku tahu kau bisa. Aku percaya padamu."
Pandora menarik napas. Memberikan sentuhan terakhir pada rajutan miliknya. Memberikannya pada Ellie. Secara hati-hati memasangkan sarung tangan di musim dingin sebagai hadiah kecil untuknya. "Aku sangat berterima kasih padamu. Paman Laito juga mendapatkan satu. Semoga kau suka."
Ellie tidak ingin menangis. Tetapi kebaikan Pandora menyentuh hatinya. "Terima kasih banyak. Aku menyayangimu. Kau tahu, aku sangat bangga padamu."
"Aku akan baik-baik saja di Cornelia. Jaga Paman Laito untukku."
Ellie membawanya ke dalam pelukan. Dan Pandora mencoba meredam suara isakannya dengan tenggelam dalam bahu wanita itu, menarik napas dalam-dalam.
Karena saat dirinya harus kembali ke kamar, Pandora masih mencoba berjuang mengatasi air mata yang masih meleleh. Kakinya nyaris tersandung kaki yang lain. Membuatnya mengumpat. Menyalahi matanya sendiri yang tidak fokus.
Lalu tersandung. Kesalahan ini kembali melukainya. Pandora merintih sebentar. Sebelum kembali bangun, hampir menertawakan kecerobohannya.
"Apa kau benar-benar membutuhkan kacamata untuk memerhatikan sekitar?"
Kepalanya tersentak. Bibirnya mengatup mendengar sindiran itu lagi-lagi berasal dari manusia apatis yang dipuja-puja kaum hawa. Pangeran Alaric muncul dari taman yang temaram. Mencintai kesepian yang sama sepertinya.
"Tidak. Aku tersandung."
"Oh."
Dan Pandora teringat akan suara panas yang membuat tubuhnya seketika merinding.
"Aku harus pergi."
"Mengapa kau terlihat sekali perlu menghindariku?"
"Kau ingin tahu?" Pandora kembali mundur. "Aku belum bisa melupakan apa yang terjadi antara kau dan Putri Laura. Kemudian desahan yang beberapa hari lalu selalu terngiang di dalam kepalaku."
"Desahan?"
"Desahan, ya." Lidahnya tiba-tiba membeku. "Suara itu, Ilama dan aku melarikan diri."
"Kalau bicara yang jelas," kata Alaric mendesak. "Suara apa? Di mana?"
"Kau berpura-pura sekarang."
"Berpura-pura apa?"
"Jangan konyol." Demi Tuhan, Pandora bisa saja terpancing emosi berkat bakat terpendam pria ini. Reputasi Alaric yang dikenal tenang sama seperti sang kakak mengusiknya. Ia juga terbiasa tenang. Tetapi melihat pria ini sekarang, ada keinginan untuk membuat dagunya lebam.
Mimik wajah Sang Pangeran berubah lebih kelam. "Aku tidak mengerti. Jelaskan padaku."
"Aku tidak ingin membahasnya," wajah gadis itu berubah saat menatap ujung koridor. "Oh! Ellie memanggilku. Aku harus pergi. Selamat malam."
Satu decakan keras mampir. Alaric benar-benar kehilangan gadis itu. Sebelum mulutnya terbuka dan memanggil namanya agak keras. "Pandora!"
Pandora telah melesat pergi tanpa lagi terlihat.
Alaric lantas berbalik ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Matanya melebar menemukan Ellie berjalan menghampirinya dan membungkuk.
"Pangeran Alaric, ada yang Anda butuhkan?"
Rahangnya mengetat. Tatapan matanya berubah saat mengikuti arah kemana Pandora pergi. "Tidak ada, Ellie. Selamat malam."
"Selamat malam."
Meninggalkan Ellie yang kebingungan sekaligus bertanya-tanya. Mengapa pangeran bungsu terlihat sangat kesal sekarang?