"Kau kurang tidur."
Apa Pandora harus jujur kalau sejatinya dia kesulitan tidur karena mengingat suara tidak tahu diri itu di koridor?
Kendati demikian, ia hanya tidak mau memperburuk keadaan. Istana sibuk mempersiapkan pernikahan sekaligus penobatan. Setelah pernikahan, penobatan akan dilanjutkan di hari selanjutnya. Kalau keadaan memungkinkan, tentu saja. Dan untuk pertama kalinya, dirinya akan tampil ke publik sebagai keluarga kerajaan.
"Pandora?"
"Aku tidak apa." Gadis itu menarik napas. Sangat berterima kasih pada Ellie karena berperan sebagai pengasuh bayi besar yang baik. Ellie menghormati Laito, sampai-sampai menjaga Pandora penuh kasih. Dia sangat berterima kasih dan menganggap Ellie bagian dari keluarga. "Hanya sedikit setres."
"Pernikahan? Benar. Laito juga kurang tidur berkat ini. Ya Tuhan, semoga semua diperlancar." Ellie menuang cokelat panas ke gelas untuk Pandora.
"Kalau aku pergi ke Cornelia, kau mau datang mengunjungiku?"
Ellie merangkul bahunya. Satu-satunya perempuan yang mau melihat Pandora ada. Ia kehilangan cinta ibunya sejak usianya masih lima tahun. Ellie sibuk dan kadang-kadang membawakan bingkisan untuk Pandora saat liburan musim panas dan natal.
"Kalau aku luang, tentu. Cornelia tempat yang besar. Aku pernah berkunjung sekali dan melupakannya. Tapi kalau kau di sana, aku akan berusaha sesering mungkin."
"Kau tidak perlu mengajukan pensiun dini."
Ellie tersenyum. "Aku perlu mengumpulkan uang sedikit lagi untuk kehidupan di masa mendatang. Parvitz bukan kota yang murah dari segi ekonomi. Aku perlu bekerja lebih ekstra."
"Pamanku juga bekerja keras selama belasan tahun. Dapur kami tetap mengepul." Pandora meringis, membayangkan Laito yang renta mulai sakit karena usia. "Aku belum bisa memberinya apa-apa. Impianku harus berhenti selama satu tahun nanti."
Sembari menyantap roti isinya, Pandora merenung membayangkan kehidupannya di masa depan. Sejujurnya, ia tidak punya pandangan spesifik mengenai kehidupan baru pasca menikah. Tidak akan ada tantangan yang berarti karena menikahi seorang pangeran yang diam-diam memendam rahasia bersama iparnya sendiri. Pandora membayangkan kehidupan rumit dan akan berusaha menjauhi drama di rumah tangga mereka.
"Kau melihat gaun pengantin hari ini?"
"Ya. Aku akan pergi bersama Putri Laura."
"Ah, dan Ilama." Ellie mendengus. "Aku tidak terlalu suka dengannya. Mau mengeluh juga percuma. Dia tangan kanan kepercayaan calon ratu. Posisinya lumayan kuat."
"Sangat kuat malahan," koreksi Pandora pahit. "Auranya sama sekali tidak bagus. Aku tidak bisa terus berdekatan dengannya."
"Itu benar. Yang mengeluh tidak hanya dirimu."
Pandora melanjutkan makan. Saat Ellie bersiap-siap mengancingkan seragam dan memperbaiki kerah, pintu terdorong masuk begitu saja. Ilama muncul dengan raut angkuh yang khas.
"Oh, well. Pagi yang cerah yang untuk bergosip." Ilama memberi seringai sinis. "Ellie, kau melupakan tugasmu."
"Aku tidak melupakannya, Madam." Ellie memberi senyum tipis. "Aku sudah menyiapkan semuanya secara detail. Dan kembali untuk membuatkan sarapan Pandora."
Ilama menautkan alis. "Kau janda tanpa anak. Dia juga bukan putrimu. Buat apa mengurus anak gadis orang lain?" Tatapan Ilama melecehkan. "Oh, tentu saja seandainya dia masih gadis. Kehidupan kampus sangat berat dan sedikit liar."
Pandora memutar mata bosan. Sementara Ellie menahan napas, geram dengan penghinaan secara tidak sopan dari pelayan senior di istana.
"Aku rasa, tidak sopan jika membahas calon Duchess di masa depan. Bukan begitu?" Rahang Ellie pegal karena terus berpura-pura tersenyum. "Ah, kau benar. Aku melupakan hidangan pencuci mulut untuk Pangeran Alaric. Silakan, ikut aku."
"Kau sepertinya tidak suka aku bertamu?"
Ellie tidak perlu lagi menahan diri. "Aku akan berkata jujur padamu. Ya, tidak sama sekali senang. Mari, kita tinggalkan Pandora sendiri."
***
Laito memandang punggung tegap Alaric dalam diam. Sang Pangeran ada di lapangan sebelum pergi ke pacuan kuda untuk bermain. Hobi keluarga bangsawan memang yang eksklusif. Jarang dari rakyat golongan bawah atau menengah bermain olahraga mahal seperti ini karena biayanya tidak sedikit.
Tiga kali, dan kemampuan mantan militer itu tidak lagi perlu diragukan. Alaric pada dasarnya memiliki dasar militer yang kuat. Dia dan Dimitri sama-sama lahir dari militer. Sebagai pewaris laki-laki, kemampuan mereka terasah cukup baik pada tempatnya.
"Pangeran." Laito memberi salam saat Alaric menaruh benda kesayangan itu atas meja. Melepas sarung tangan dan melirik Laito yang diam.
"Kau sepertinya punya banyak masalah."
Laito menautkan alis. Ia berpikir soal Pandora. Apa caranya akan berhasil? "Tentang Pandora. Apa kita bisa bicara sebentar?"
"Aku mengenalmu cukup baik, Laito. Tapi kau tidak mengenal calon raja sedekat ini. Mereka sudah saling sepakat untuk menutupi skandal yang tidak pernah terjadi." Alaric membalas dingin. "Kau percaya berita yang tersebar itu?"
"Tidak."
"Bagus." Meraih gelas anggur dari meja yang telah disediakan. Berhubung di sekitar lapangan tidak terlalu ramai, Alaric bisa sedikit leluasa bicara masalah keluarga inti. "Karena mereka juga menghancurkan reputasiku."
"Mengenai kebohongan itu?"
"Tentu saja. Pandora tidak pernah menjadi saksi atas apa pun."
"Keponakanku dijebak?"
Kedua bahunya terangkat. "Kakakku seolah memegang bukti kuat dan para tetua mendukungnya secara keberatan. Lagi pula, pernikahan ini hanya satu tahun. Kau merasa keberatan?"
"Tentu saja, Yang Mulia. Pandora bukan dari golongan yang sama dengan para bangsawan. Keponakanku hanya orang biasa. Aku mencemaskan banyak hal." Laito ingin bersuara tentang malam Pandora terluka karena celaan. Namun melihat Alaric dan keluarga yang lain enggan untuk menolong, Laito hanya bisa diam. "Aku tidak bisa membayangkan kehidupannya setelah beberapa jam pernikahan."
"Aku juga. Tapi mungkin dia bisa bertahan."
Laito mengekori Alaric yang berjalan masuk ke tenda. "Sebagai seorang pangeran, kau akan melindunginya?"
"Tidak. Kalau itu tidak diperlukan. Keponakanmu terlihat tegar di setiap kesempatan. Dia bisa melewati semuanya sendirian."
Dan hanya menyisakan cemas beruntun yang menusuk Laito tanpa ampun. Alaric terlihat sangat acuh tak acuh. Kehidupan Pandora bisa saja terombang-ambing di Cornelia tanpa kepastian. Dia dihormati di Cornelia hanya sebagai Duchess sementara. Orang-orang akan memandangnya penuh remeh. Sesuai dengan apa yang Alaric lakukan di istana.
"Kalau kau tidak menghormatinya, setidaknya jangan menyakitinya." Laito bergumam pelan, menuangkan isi botol anggur ke gelas. "Pandora juga manusia terlepas derajat kalian yang berbeda. Keponakanku layak mendapat apresiasi walau hanya sedikit. Aku tidak sedang memohon padamu. Hanya saja, kalau kau punya sedikit belas kasihan kau akan tahu."
Sorot dingin pria itu tidak terbaca. Laito menunduk muram karena dirinya belum terbiasa dengan tatapan tajam itu sedikitpun.
"Aku tidak bisa menjamin apa pun padamu."
Itu sama sekali tidak melegakan dan semakin membuat Laito cemas. Pernikahan hanya tinggal hitungan hari. Namun semua terlihat sangat abu-abu. Pandora dan masa depannya. Laito hanya semakin sedih saat membayangkan keponakannya harus terpenjara berkat berita konyol yang melingkupi istana.
***
"Selamat siang."
Laura mengangguk saat melihat Pandora masuk dari pintu dan membungkuk. Sekarang saatnya untuk memilih gaun sebagai pakaian penting untuk pernikahan.
"Berdiri di dekat sini. Ada berbagai katalog yang bisa kau lihat. Pilih yang menurutmu bagus. Aku tidak punya hak memilih gaun pengantin sesuai kemauanku."
Pandora mengambil napas. "Aku akan menerima apa pun, Yang Mulia."
Kepala Laura meneleng. "Tidak apa. Setidaknya, kau merasakan euforia memilih gaun pengantinmu sendiri." Mendorong lima katalog itu ke arah Pandora. "Pilih yang menurutmu bagus. Mereka akan mencari rekomendasi yang sesuai dengan ukuran tubuhmu."
Tidak ada bantahan lagi. Saat Pandora sibuk menatap gambar pada katalog, para bangsawan yang turut hadir di ruangan terang-terangan melayangkan kalimat sindiran padanya. Semua tentang dirinya. Kasta dan kedudukan yang Pandora punya sebelum menjadi seorang Duchess.
"Apa orang miskin pantas memakai gaun dan penata rias memasangkan gaun itu padanya? Sepertinya sangat sulit. Mereka tidak akan tampil sempurna di depan kamera sekalipun."
Laura hanya diam. Ia melirik Pandora yang berpura-pura sibuk dengan katalog di tangan.
"Atur rambutku. Kenapa kau malah menggerainya, hah?" Salah seorang dari mereka menghardik penata rambut yang ada di ruangan. "Hah. Dasar tidak becus. Carikan sisir yang lebih bagus. Kau membuat rambutku kusut sekarang."
Pandora melirik. Mengawasi si penata rambut yang terlihat muda dan gemetar saat mencari sisir baru. Beberapa staf baru memang terlihat canggung dan gelisah. Mereka sedang belajar menjadi yang terbaik.
"Apakah sopan menurutmu melirik seorang bangsawan seperti itu?"
"Aku minta maaf." Pandora menunduk, mengamati katalog dengan napas pendek.
"Kau tidak perlu terlalu kasar padanya," tegur Laura tanpa ekspresi. "Dia seorang Duchess sebentar lagi. Posisinya lebih tinggi darimu. Yang terpenting adalah dia menjadi wanita pilihan dan bukan anak gadismu."
Semua orang lantas diam. Saat Laura turun dari kursi dan menilai gaunnya sekali lagi. Mengucapkan terima kasih pada penata rambutnya dan menghampiri Pandora yang masih sibuk memilih. "Kau ingin berjalan-jalan sebentar?"
"Aku akan membawa semua katalog ini, Yang Mulia." Pandora menyusun semua buku itu menjadi satu. Memeluknya di d**a dan mengekori Laura yang pergi setelah membungkuk pada semua orang.
"Saat kau menjadi Duchess nanti, kau tidak perlu lagi membungkuk kecuali pada raja dan ratu. Itu tidak diperlukan."
"Aku merasa itu tidak sopan."
"Itu hal yang sangat dasar. Yang perlu kau pelajari. Lagi pula, seorang Duchess adalah kerabat istana. Keluarga inti. Kau harus belajar banyak dari posisimu nanti."
"Ya, Yang Mulia."
Laura sama sekali tidak membahas kejadian di pesta saat Pandora dipermalukan. Keluarga inti mungkin sengaja menutup mata dan telinga mereka dari semua kejadian tersebut. Dan Pandora seharusnya tidak perlu marah atau merasa kecewa.
"Penampilanmu juga akan berubah. Gaun-gaun sudah dipersiapkan di lemari. Kau bisa memilih sesuai seleramu sendiri."
Laura menerangkan sampai tiba di ujung taman. Pandora menghela napas. Gemetar saat menyadari dirinya belum lupa akan suara aneh di kastil belakang. Pertemuannya dengan Ilama hanya membuatnya menuduh seseorang. Meski tidak secara langsung melihatnya.
"Kau sudah melihat gaunnya? Mana yang menurutmu cocok?"
"Aku pikir, gaun biasa ini." Pandora membuka salah satu katalog dan menunjuknya pada Laura. "Ini menurutku yang lumayan."
"Lumayan atau yang terbaik?"
"Lumayan." Rona merah menjalar di pipinya.
"Oke, kalau kau mau." Laura berbalik dan melihat Alaric berjalan sehabis kembali dari pacuan kuda. "Alaric."
Pandora menegang mendengar nama itu disebut. Saat dirinya berbalik, menyadari Laura menarik tangannya dan menghampiri adik iparnya dengan langkah lebar.
"Kebetulan sekali. Kau mau menemani Pandora mencari gaun dan memilih gayanya sendiri untuk pernikahan nanti?"
Alaric belum bersuara dan Laura terlanjur memekik senang. "Bagus! Aku akan membiarkan kalian berdua. Sampai nanti."
Dan melesat membiarkan keduanya berteman dalam sunyi saat Laura memilih untuk pergi.