The Girl Smells Like Candy

1491 Kata
“Happy birthday, Mia…” Brio memeluk pinggang ramping si pemilik pesta ulang tahun malam ini. Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Brio.                “Senang sekali melihatmu datang malam ini, Bri,” sapa Mia setelah melepaskan pelukannya. “So… ini teman yang kamu bilang akan datang bersamamu ke pesta ulang tahunku?” Mia menunjuk seorang pria tampan berbadan tegap di samping Brio.                “Setelah putus dari aku, kamu nggak berubah haluan, kan, Sayang?” bisik Mia tapi masih bisa terdengar oleh Deigo, teman yang dimaksud Mia.                “Oh, God!” Brio tampak malas mendengar candaan Mia.                “Hi, im Deigo. Terima kasih sudah mengizinkan saya untuk hadir di sini.” Deigo menyodorkan tangannya, mengalihkan candaan gadis bergaun seksi itu.                “Hai, nice to meet you, Deigo. Habis tadi Brio bilang kalau dia akan datang bersama temannya. Kukira dia akan bawa pacar barunya. Hampir saja aku cemburu kalau dia bawa cewek lain ke sini.” Mia masih tersenyum menggoda pada Brio, tapi sesekali matanya melirik ke Deigo karena ia akui, lelaki itu sangat menggoda, seakan memiliki sebuah magnet yang membuatnya begitu tertarik sejak pandangan pertama.                Mia pernah berpacaran dengan Brio tapi hanya sesaat. Sikap Brio yang dingin dan Mia yang begitu sibuk mengurusi bisnis keluarganya membuat mereka merasa tidak cocok menjadi sepasang kekasih. Namun karena urusan pekerjaan, mereka pun tetap berteman baik.                “Aku habis ada meeting sama Deigo. Jadi sekalian saja ke sini,” jelas Brio.                “Okay, enjoy the party!” Mia tersenyum kepada keduanya. Kemudian ia kembali mencondongkan tubuhnya pada Brio, membuat d**a besarnya itu bersentuhan dengan lengan Brio. “Di sini banyak gadisku dan kamu bisa meniduri salah satu di antara mereka. Atau kamu mau tidur denganku malam ini?”                “Oh, come on, Mia…” Brio merotasikan matanya malas. Mia tidak tersinggung, ia justru tertawa puas karena bisa menggoda mantan kekasihnya itu. Keduanya pun memutuskan untuk mencari tempat duduk sekaligus melepas lelah. Tanpa Deigo ketahui, mata Mia menatap kepergiannya dengan senyum penuh makna.                Brio dan Deigo memilih sofa kosong di sudut ruangan yang belum terisi. Dua orang pelayan wanita berpakaian seksi datang membawakan beberapa botol wine berkualitas terbaik lengkap dengan kudapannya. Masing-masing keduanya menggoda Brio dan Deigo.                Brio yang suasana hatinya sedang buruk tampak acuh dan meminta si pelayan berambut pirang itu untuk tidak menyentuhnya. Berbeda dengan Deigo yang tampak asyik dengan pelayan berkulit pucat yang sudah duduk di pangkuannya.                Deigo yang sadar menjadi tidak enak karena ia terbawa oleh suasana langsung menyuruh pelayan seksi itu untuk meninggalkannya. Berganti dengan menenggak habis segelas wine yang sudah tertuang di gelasnya.                “Its okay, Deigo. You can enjoy the party. Jangan pikirkan gue,” ucap Brio dengan helaan napas yang begitu berat.                Deigo tahu, tak seharusnya mereka berpesta malam ini mengingat Brio sedang kesal karena salah satu pimpinan anak perusahaannya tertangkap menggelapkan uang perusahaan yang menyebabkan kerugian lumayan besar. Namun karena malam ini yang berulang tahun adalah Mia, mantan pacar sekaligus rekan bisnisnya, Brio tidak mungkin tidak hadir.                Brio tak menjawab. Ia menenggak satu shot tequila di hadapannya. Dan terus menuangkan cairan bening itu sampai tenggorokannya terasa panas. Untuk malam ini, Deigo akan membiarkan bos sekaligus teman baiknya itu untuk mabuk. Ya, Brio adalah anak tunggal pemilik perusahaan tempat dia bekerja, Seven Forest. Deigo tahu, Brio tidak bisa minum banyak. Ia akan dengan mudah mabuk hanya dengan tequila saja, berbeda dengan dirinya yang meminum alkohol sebanyak apa pun, paling hanya pusing dan sakit kepala saja.                “You can’t just sit and watch me drunk, Dude.” Brio menatap Deigo sinis.                “Then stop drinking.” Deigo tertawa kecil, menahan tangan Brio yang kembali ingin meminum wine-nya. Deigo merasa Brio sudah cukup banyak minum. Ia tidak ingin mengangkat tubuh besar Brio ke dalam apartemen pria itu nanti.                “Ngomong-ngomong, tadi gue ketemu cewek aneh di dekat toilet,” Brio memulai ceritanya.                “Cewek aneh?”                “Ya, dia masuk ke toilet cowok.”                Deigo tertawa kecil. Tertawa karena baginya itu bukan hal yang aneh mengingat di mana mereka saat ini berada. “Mungkin dia cowok, atau mungkin dia salah satu cewek yang mau godain lo, Bri.”                “Nggak, dia ngelewatin gue gitu aja.”                “Berarti dia transgender,” jawab Deigo asal.                “No. She is very pretty…”                “Come on, Bri.” Deigo tertawa lagi. Ia tidak tahu bosnya ini polos atau memang pura-pura tidak mengerti. Wanita masuk ke toilet pria bukan hal yang aneh. Bisa jadi wanita itu adalah wanita jadi-jadian, atau juga wanita nakal yang kerap melakukan adegan panas dengan pasangannya di dalam sana. Ditambah Deigo sangat hapal sebanyak apa wanita yang tergila-gila dan berlomba untuk menggoda sahabatnya ini. Dan jika wanita yang ditemui Brio barusan adalah wanita tulen tapi melewatinya begitu saja, Deigo pastikan wanita itu tidak tahu siapa pria yang ditemuinya tadi.                Sementara itu, Edly dan ketiga temannya semakin larut dalam pesta malam ini. Entah sudah berapa botol yang sudah mereka habiskan. Edly mulai merasakan kepalanya sangat berat, lebih berat dari sebelumnya. Sial ia harus pulang sendiri karena kini kedua temannya sudah hilang entah ke mana setelah berkenalan dengan masing-masing pria. Edly harus tertatih dan berpegangan pada pilar-pilar kecil di sepanjang lorong untuk menuju parkiran. “Yang mana ya, mobil gue? Gue pakai mobil apa ya, ke sini?” Edly berbicara sendiri di depan deretan mobil mewah yang ada di depannya. “Ayo, Edly, berpikir, berpikir. Punya kepala tuh dipake buat mikir jangan buat ngayal Deigo doang.” Brio yang baru saja berpisah dari Deigo keheranan melihat seorang wanita berdiri tepat di depan mobil BMW hitamnya. Meski kepalanya sedikit pusing tapi dia ingat jika wanita ini adalah wanita yang sama yang ditemuinya di depan toilet. Tiba-tiba Brio merasa ragu. Apa jangan-jangan yang dikatakan Deigo benar, wanita ini sebenarnya berniat untuk menggodanya. Tapi kemudian Brio sadar jika wanita itu bukan sengaja menunggunya, melainkan sedang mencari kendaraannya. Wanita itu tertatih sembari memegang remot kunci sambil menyodorkannya ke berbagai arah. “Minggir, ini mobil saya. Saya mau keluar.” Edly menoleh. “Hei. Lo kan, cowok yang wangi itu? Yang pakai parfum Clive Christian. Iya kan,” Edly terkekeh sambil menunjuk pria itu tepat di hidungnya. Brio sadar jika wanita ini tengah mabuk. “Cant you drive me home, please?” Brio menyipitkan matanya. Mana mungkin ia mau memberikan tumpangan untuk orang asing. Sialnya ia sedang tidak diantar sopir hari ini. Brio sempat berpikir untuk meninggalkan wanita itu sendirian, tapi entah apa yang membuatnya urung melakukannya. Ia kembali berpikir, apa ia pesankan saja wanita ini taksi online? Tapi ia ragu wanita ini akan tetap terjaga sebelum taksi sampai di rumahnya. “Kenapa? Lo takut gue apa-apain ya di jalan?” Edly yang mulai tidak sadar mulai melantur kalimat-kalimat yang membuat Brio terkejut. “Tenang aja, gue ini cewek baik-baik. Gue nggak mungkin berani nyentuh lo.” Meski jelas mabuk, Brio tetap heran dengan ucapan wanita ini. Mana mungkin ia khawatir jika wanita ini akan menyentuhnya, justru wanita ini lah yang seharusnya memikirkan dirinya, mengingat ia berpakaian seksi dan juga sedang mabuk. “Nih, pegang d**a gue!” Spontan Edly menarik satu tangan Brio dan meletakkannya tepat di d**a wanita itu yang terasa panas. “Di sini udah ada pemiliknya. Jadi lo tenang aja, gue nggak akan mungkin macem-macem sama lo.” Edly menyengir lebar. Brio terkejut dengan apa yang dilakukan wanita itu. Namun ada sesuatu yang membuat Brio sadar. Wanita ini, wanita yang ada di hadapannya ini wanginya seperti permen. Sangat manis. "Nih, gue..." suara Edly tertahan. Kini gadis aneh itu, ya dia aneh, pikir Brio, sedang mencari sesuatu di dalam tas dior miliknya. "Mana, sih..." Edly berbicara sendiri. Brio tidak habis pikir ia harus berhadapan dengan wanita mabuk berbau permen saat ini. Namun ada satu yang menarik bagi Brio, wanita ini meski dalam keadaan mabuk, ia masih 'setia' dengan pria yang tadi disebutkannya. Karena sepengalamannya, wanita-wanita yang mabuk itu akan lebih berusaha menggodanya bahkan terang-terangan mengajaknya untuk tidur. Brio masih menunggu apa yang sedang dicari oleh wanita itu di dalam tas diornya. "Aha, ini diaaaaa!" Edly berseru sembari menemukan sebuah uang bernomilan sepuluh ribu dari dalam tasnya. "Nih, gue punya duit! Nanti sampai rumah, lo gue bayar. Tenang aja." Antara bingung dan ingin tertawa melihat tingkah wanita itu, Brio sampai kehilangan kata-katanya. Pertama, ia tidak menyangka ada uang pecahan sepuluh ribu rupiah di dalam tas mahal itu. Kedua, Brio yakin wanita ini tidak sadar jika yang dipegangnya adalah uang sepuluh ribu. Karena dari gaya bicaranya, wanita itu seakan sedang memegang uang ratusan dollar. "Kok, lo diem sih? Mau nganterin gue nggak?" tanya Edly lagi. Kali ini ia mendekat ke arah Brio. Sampai tiba-tiba wanita itu sudah ada di depan d**a bidangnya. Dan yang dilakukan wanita itu setelahnya mempu menghentikan napas Brio sesaat. Edly, tiba-tiba mengendus lehernya dengan perlahan, membuat bulu roma Brio meremang. "You smell so good..." bisik Edly. Tak pikir panjang lagi, Brio segera membuka pintu mobilnya untuk wanita itu, dan berharap malam ini akan segera berlalu dengan cepat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN