Kembali dengan kekecewaan membuat Rendra melampiaskan kekesalannya pada pekerjaan yang sedang digarapnya. Pria itu seakan tak memiliki waktu lagi untuk mengurusi dunia lainnya selain berfokus pada perusahaannya, sehingga tiap hari pulang larut malam adalam kebiasaan untuknya. Entah dia sedang menghukum dirinya sendiri atau sekedar mengalihkan rasa kesalnya, yang jelas lelah, kurang tidur dan kurang makan tak pernah dipedulikannya. Karena setelah dua minggu kepulangan Mia dari rumah sakit tak menunjukkan perubahan bagi wanitanya, yang ada gadis itu hanya semakin dekat dengan Riski dan itu membuat darah Rendra mendidih hingga ke ubun-ubun. “Arrrgh!” “Pak, ada yang bisa saya bantu?” Sekretaris Rendra sontak berlari mendengar teriakan bosnya. Namun begitu ia masuk, dirinya melihat beberapa

