Terpaksa Berpisah
Sepanjang hari Amanda menekuk wajahnya tanpa semangat. Jam kuliahnya sore itu juga dijalaninya dengan ogah-ogahan. Buku tulisnya pun penuh oleh coretan-coretan gambar kupu-kupu yang tidak beraturan. Hal itu tidak luput dari perhatian Helena yang duduk di sebelahnya.
“Kenapa?” bisik Helena sambil mendekatkan wajahnya ke dekat Amanda.
“Lagi galau,” jawab Amanda tanpa menoleh.
“Nanti pas istirahat cerita, ya?”
“Okey.”
Ketika jam istirahat tiba, kedua gadis cantik itu menuju kantin yang tidak terlalu jauh dari kelas mereka.
“Ayo cerita, kenapa kok kusut begitu sejak mulai datang.” Helena kembali mendesak sahabat yang sekaligus dianggapnya bagai seorang kakak bagi gadis itu.
“Aku dimutasi kerja ke cabang Semarang oleh kantor pusat Jakarta. Mereka memberi waktu sampai ujian semester ini selesai, dan itu gak nyampe sebulan lagi, ‘kan?” Amanda menceritakan dengan hati resah.
Di satu sisi ia bahagia karena kariernya meningkat, tapi di sisi lain, berat rasanya meninggalkan kota pahlawan yang sudah ditinggalinya selama tiga tahun ini. Terlalu banyak suka duka yang sudah dilaluinya.
“Kamu terima tawaran itu?” tanya Helena ikut menjadi galau. Ia sangat menyukai sahabat sekelasnya yang baik hati itu.
“Aku terpaksa menerimanya, Lena. Kamu tahu sendiri ‘kan? Aku membiayai hidup dan kuliahku sendiri. Aku juga butuh uang lebih banyak untuk masa depanku nanti, hanya dengan naik jabatan hal itu bisa aku wujudkan.” Amanda menatap sahabatnya dengan rasa sedih.
“Aku pasti akan kehilanganmu, Manda.” Mata sipitnya Helena sudah mulai mengembun.
“Aku juga berat berpisah denganmu, Lena. Kamu sudah seperti saudara bagiku, juga Brian dan Antonio. Kalian sangat berarti dalam hidupku selama setahun ini.” Amanda menggenggam tangan halus Helena dengan hati yang tidak karuan.
“Bagaimana dengan kuliahmu nanti?” tanya Helena berapa saat kemudian.
“Hhh … entahlah, padahal dulu aku harus menabung dua tahun untuk bisa mulai kuliah,” keluh Amanda.
***
“Jangan pergi, Manda. Tetaplah di sini.” Brian menatap wanita yang duduk di sampingnya penuh harap. Mereka berdua di rumah kontrakan Amanda kini. Brian menyusulnya sepulang kuliah setelah gadis yang sedang gundah itu meninggalkan pesan untuk datang ke tempat tinggalnya.
Amanda dengan berat hati menceritakan akan mutasi kerjanya ke Semarang.
“Aku gak punya pilihan, Bri. Aku memang butuh pekerjaan ini untuk masa depanku,” jawab Amanda pelan.
“Apa hubungan kita akan berakhir begitu saja, Manda. Kita akan berjauhan.” Brian menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi tamu sambil menyugar rambutnya. Ia tidak menyangka Manda akan pergi secepat itu dari hidupnya.
“Jangan terlalu sedih, Bri. Kamu punya segalanya. Mudah untukmu mencari gadis yang lebih segala-galanya dari aku.” Amanda mengucapkan kalimat itu dengan hati yang perih.
Wanita mandiri itu tidak mau memberi harapan yang sia-sia untuk Brian. Latar belakang dan kepercayaan mereka yang berbeda tidak memungkinkan ia untuk terus mempertahankan hubungan yang baru seumur jagung itu.
Pindah ke kota lain mungkin menjadi jalan yang terbaik bagi mereka berdua, meski hati keduanya terasa sakit.
“Kamu tahu sendiri, Manda. Aku bukan tipe orang yang gampang untuk berpindah hati. Sejak aku kembali ke Indonesia dua tahun lalu, hanya kamu satu-satunya wanita yang aku suka.” Brian merengkuh bahu Amanda, lalu memeluk wanita yang sudah mencuri hatinya itu.
“Aku juga berat untuk pergi, Bri. Entah seperti apa aku akan menjalani hidup sendiri di kota yang masih asing untukku.” Amanda meneteskan air matanya sambil memeluk Brian dengan erat.
Sebenarnya laki-laki atletis dan berambut gondrong itu bukanlah pacar pertama bagi Amanda. Sebelumnya ia juga sudah pernah menjalin hubungan dengan seorang PNS muda yang tujuh tahun lebih tua dari Amanda. Setahun menjalin hubungan, Reyhan pergi begitu saja meninggalkan Amanda, kala laki-laki itu kecewa karena Amanda menolak untuk menikah dengannya.
Bukan karena Amanda tidak mencintai Reyhan, laki-laki ganteng berkulit sawo matang itu adalah pria yang sangat ideal untuk dijadikan pendamping hidup bagi Amanda. Namun, ia merasa masih terlalu muda untuk berumah tangga.
Usianya baru dua puluh tahun saat Reyhan memintanya menjadi istri. Apalagi keinginannya untuk kuliah sangat besar. Meski terasa sakit, Amanda merelakan Reyhan pergi dari sisinya.
Untung saja aktivitasnya semakin sibuk setelah akhirnya, bisa mendaftar kuliah yang dijalaninya pada sore hari sepulang dari bekerja. Bertemu dengan teman-teman baru di kampusnya, membuat wanita berwajah baby face itu menemukan kembali dunia remajanya.
Lebih tua dari teman-teman seangkatannya di kampus tidak menghalangi Amanda dalam bergaul dengan mereka. Penampilannya yang keren dan stylish membuat Amanda disenangi oleh teman-temannya.
Hidupnya semakin ceria setelah berteman akrab dengan teman sekelasnya—Helena. Gadis yang baru berusia sembilan belas tahun, lebih muda dua tahun dari Amanda, tidak menghalangi keduanya untuk menjadi teman dekat. Apalagi kemudian Antonio dan Brian yang satu tingkat di atas mereka bergabung sebagai sahabat baru bagi kedua wanita cantik itu.
Ketiga temannya adalah keturunan Tionghoa. Tapi karena ia juga berkulit putih dan bermata sedikit sipit membuat Amanda tidak terlihat berbeda dengan ketiga temannya itu, bahkan ia pun sering dipanggil Nonik oleh orang lain.
***
“Kenapa wajahnya pada gak ceria semua, nih.” Antonio mengamati ketiga temannya yang tampak tidak b*******h. Ia sendiri yang belum tahu akan kepindahan Amanda. Mereka berempat sedang berada di kantin kampus keesokan malamnya.
“Aku pindah kerja ke Semarang bulan depan, Nio. Jadi, aku akan berpisah dengan kalian.” Amanda memberitahu Antonio yang duduk di depannya. Bersebelahan dengan Brian yang memang sudah terbiasa terlihat cuek.
Tidak ada yang tahu selain Amanda, bahwa kekasih diam-diamnya itu masih gundah karena mereka akan berjauhan.
“Yah … sayang sekali, Manda. Rasanya akan berbeda jika kamu tidak ada lagi di antara kami.” Antonio ikut merasa sedih.
“Kalian teruslah bersama, meski tanpa aku di sini,” pinta Amanda sambil menatap teman-temannya satu per satu.
“Helena tidak akan diizinkan mamanya keluar di akhir pekan, kalau tidak sama kamu, Manda,” sambung Antonio lagi dengan mata kecewa.
“Maafkan aku, yang tidak bisa terus di sisi kalian.” Amanda menundukkan kepalanya dengan hati yang terasa sakit.
Akhirnya, empat sahabat itu menghabiskan jam istirahat dalam diam. Mereka menyadari, setelah Amanda pindah ke Semarang, tidak akan ada lagi acara jalan-jalan ke mal, berenang, nonton ke bioskop, ke karaoke yang biasa mereka lakukan ketika akhir pekan tiba.
Helena, si bungsu yang sudah tidak punya ayah itu tidak akan diizinkan oleh ibu dan kakaknya untuk keluar rumah selain dengan ketiga orang temannya yang sudah dipercaya oleh keluarganya itu.
Apalagi dengan Brian, tidak ada Amanda di antara mereka, tidak ada lagi gairahnya untuk terus bermain dengan dua temannya yang lain.
Amanda sudah membuat ketiga temannya merasa kehilangannya. Namun, demi cita-cita dan masa depannya, wanita itu akan terus terbang di alam bebas seperti kupu-kupu tanpa ada yang mengikatnya.
***
Akhirnya, waktu sebulan pun tiba dengan cepat. Saatnya Amanda akan memulai hidup barunya di kota Semarang.
“Aku berangkat ya, Lena.” Amanda memeluk sahabatnya dengan air mata yang terus mengalir di pelupuk matanya. Hanya Helena dan Antonio yang datang menemuinya di stasiun kereta api Pasar Turi yang akan membawanya ke Semarang.
Sang kekasih hati, Brian memang sudah bilang pada Amanda bahwa dia tidak akan datang mengantarnya, kala mereka bertemu untuk terakhir kalinya di rumah Amanda tadi malam.
“Manda, maaf. Besok aku tidak bisa mengantarmu ke stasiun. Aku tidak akan sanggup melihatmu pergi.” Brian bicara dengan menatap wajah Amanda yang terus menangis sedih sejak Brian datang menemuinya hampir pukul sepuluh malam.
Sejak pagi, hari Sabtu itu Amanda mencari sosok Brian untuk berpamitan, bahwa besok Minggu ia akan berangkat ke Semarang. Namun, pemuda yang sengaja menjauhi Amanda selama berapa hari itu tidak tampak batang hidungnya.
“Brian, maafkan aku, karena sudah membuat hatimu sedih. Aku juga sangat menyukai dan menyayangimu.” Amanda menatap penuh rindu wajah laki-laki yang juga sangat disukainya itu.
Hari-hari indah dan kemesraan yang sudah dilaluinya bersama Brian selama enam bulan ini benar-benar tidak akan bisa ia lupakan begitu saja.
Brian langsung memeluk tubuh gadis yang sudah merebut hatinya itu dengan erat. Napasnya terasa sesak menahan rasa sedih di hatinya. Seandainya saja ia se-mandiri Amanda dan tidak tergantung kepada kedua orang tuanya, mungkin ia akan memilih mengikuti gadis pujaannya itu.
Sebagai satu-satunya anak laki-laki yang akan meneruskan perusahaan papanya, Brian tidak punya kehendak bebas dalam menentukan masa depannya. Termasuk memperjuangkan gadis yang disukainya. Karena sebenarnya sang papa sudah menjodohkannya dengan putri rekan bisnis perusahaannya. Brian tidak pernah menceritakan hal itu kepada teman-temannya.
Keduanya kemudian saling melepas kerinduan untuk terakhir kalinya, hingga pukul sebelas malam, Brian harus pergi meninggalkan rumah wanita yang tidak mungkin lagi bisa ditemuinya.
“Aku pulang ya, Manda. Hati-hati besok di jalan. Kuharap kamu menemukan kebahagiaan di tempat yang baru.” Brian mencium kening Amanda untuk terakhir kalinya.
Tanpa menoleh lagi kepada Amanda yang berdiri mengantarnya di pintu, pemuda itu memacu motor besarnya membelah malam dengan suara menderu kencang.
“Brian, aku pun berharap kamu segera menemukan kebahagianmu,” ucap Amanda lirih sambil menatap punggung pemuda yang sudah mengisi hati dan hari-harinya selama setengah tahun terakhir ini.
Dihapusnya air mata yang mengalir tiada henti di pipi mulusnya.