Setelah selesai makan, aku bergegas membawa Luna ke bidan praktek yang ada di ujung jalan. Jujur aku sedikit kewalahan menggendong Luna yang sudah besar.
Sesampainya di tempat bidan praktek, kami langsung disambut olehnya. Tak lama kemudian bidan memeriksa putriku yang sudah diminta berbaring di atas kasur pasien, sementara aku terus menemani Luna, berdiri di sampingnya, dan terus menggenggam jemarinya yang halus. Sesekali aku menjawab pertanyaan bidan yang menanyakan tentang gejala yang Luna rasakan selama sakit.
"Bu Airin, sudah berapa hari sakitnya Luna ini?" tanya bidan sambil terus memeriksa anakku dengan raut wajah yang terlihat sedikit cemas akan kondisi Luna.
"Sudah lebih dari seminggu, Bu," jawabku dan menjelaskan awal mula Luna jatuh sakit sampai saat ini.
Setelah beberapa menit melakukan pemeriksaan, bidan pun menyelesaikannya dengan kembali menutup baju Luna yang sempat disingkap.
"Bu, lebih baik anak ibu dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut karena dari gejala-gejala yang Ibu ceritakan sepertinya Luna terkena demam berdarah." Saran yang bidan sampaikan membuatku terkejut, tetapi memang sakitnya Luna semakin parah dari hari ke hari selama satu Minggu belakangan ini.
Saat ini aku benar-benar bingung harus bagaimana dan melakukan apa? Sedangkan aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membawa Luna ke rumah sakit. Kini yang ada di pikiranku adalah, di mana dan kepada siapa aku harus mencari pinjaman supaya bisa mengajak Luna ke rumah sakit untuk diperiksa oleh dokter?
Ketika pikiranku buntu, aku coba bertanya pada bidan mungkin ada jalan lain dengan sedikit harapan agar anakku bisa sembuh tanpa harus pergi berobat ke rumah sakit.
"Bu, apa nggak ada cara lain selain membawa Luna ke rumah sakit?" tanyaku dengan raut sedih dan pasti kedua mataku saat ini sudah mulai berkaca-kaca menahan tangisan, mengingat aku hidup serba kekurangan dan tidak bisa melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan anakku dengan mengandalkan uang yang jauh dari genggamanku sejak suamiku jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
"Bu Airin, andai saja ada, pasti saya sudah menyarankan hal itu. Akan tetapi melihat kondisi anak Ibu, sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit agar tau pasti apa penyakitnya dan tau bagaimana pengobatannya," jawabnya dengan sopan dan terlihat ada guratan kesedihan yang terpancar di wajahnya.
"Tapi saya nggak punya uang untuk membawanya ke rumah sakit, Bu. Pasti biaya berobat di rumah sakit mahal dan saya nggak tau harus bagaimana membayarnya." Aku terpaksa berkata jujur dan membiarkan air mataku jatuh karena aku tak sanggup untuk menahannya lebih lama lagi. Lalu aku memeluk tubuh Luna penuh rasa bersalah. Bersalah karena tidak bisa membawanya berobat ke tempat yang lebih baik dengan harapan bisa lekas sembuh.
Bidan yang sudah selesai memeriksa anakku itu terdiam sejenak. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan di depan meja kerjanya. Setelah beberapa saat, bidan itu bangkit dari kursinya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya, lalu tak berselang lama dia kembali ke ruang pemeriksaan, dan berjalan menghampiriku.
"Bu Airin, ini saya ada sedikit rezeki tolong diterima ya. Saya tau nominalnya tidak seberapa dan memang tidak cukup untuk membawa anak ibu ke rumah sakit, tapi setidaknya ibu ada pegangan sambil berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membawa Luna berobat menemui dokter di rumah sakit," ucapnya sambil menyerahkan tiga lembar uang berwarna merah di hadapanku.
Aku sebenarnya sangat ingin menolaknya, karena jujur saja aku malu, akan tetapi kondisi Luna yang semakin parah dan harus melakukan pemeriksaan lebih lengkap maka dengan terpaksa aku menerima uang dari bidan yang baik hati itu sambil mengucapkan terima kasih. Ya, hanya ucapan terima kasih yang bisa aku lontarkan saat ini atas kebaikannya.
Bidan tersebut tidak hanya memberikan aku uang, tetapi juga memberikan obat gratis dan menolak pembayaran dariku. Aku benar-benar bersyukur bertemu dengan bidan baik yang mau menolongku saat dalam keadaan sulit seperti ini, membuatku menangis harus, tetapi bidan itu menenangkanku untuk tidak menarik di hadapan Luna.
Setelah berhasil menenangkan diri, aku segera mengajak Luna untuk kembali ke rumah karena aku harus berpikir secepat mungkin untuk membawa putriku ke rumah sakit sebelum terlambat. Aku bingung harus meminjam uang kepada siapa lagi untuk mencari tambahannya karena jujur saja sangat sulit bagiku mencari pinjaman di kampung ini. Bahkan sanak saudaraku sendiri saja tak percaya padaku, apalagi tetangga.
Sesampainya di rumah, aku meminta Luna untuk beristirahat setelah minum obat dari bidan. Begitu melihat Luna sudah terlelap, aku keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu sambil memutar otak untuk berpikir.
Seketika aku teringat dengan bu Narti, lebih baik aku mencoba untuk meminjam uang kepada bu Narti saja. Bukannya aku tidak tahu malu karena tadi sudah dibantu olehnya dan sekarang aku malah akan meminjam uang darinya. Namun, saat ini aku benar-benar sangat butuh uang untuk membawa Luna berobat ke rumah sakit karena hanya bu Narti satu-satunya harapan yang kumiliki saat ini.
Aku pun bergegas pergi untuk mendatangi rumah keluarga bu Narti. Aku yakin bu Narti pasti masih berada di rumah keluarganya saat ini karena dia baru sampai di kampung hari ini, tidak mungkin dia langsung pulang ke kampung.
Aku berjalan dengan perasaan ragu dan takut. Aku ragu jika bu Narti tidak mau menolongku lagi kali ini dan aku takut jika bu Narti atau pun keluarganya mengira aku memanfaatkan kebaikan bu Narti, tetapi semua perasaan itu berhasil aku abaikan. Aku tetap melanjutkan langkah kaki sambil berdoa di dalam hati. Begitu tiba di depan rumah keluarganya, aku pun langsung mengetuk pintu.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam," jawab seseorang dari balik pintu dan tak berselang lama pintu pun terbuka.
"Ada apa, Rin?" tanya Tini, adik bu Narti dengan nada ketus saat melihat kedatanganku ke rumahnya.
"Tin, bu Narti ada di rumah?" tanyaku dengan sedikit ragu.
"Mau apa kamu nyari kakakku? Pasti mau minjam duit ya?" tanyanya dan berhasil menebak alasanku datang ke rumahnya. Aku sungguh tidak enak saat melihat raut wajah Tini yang masam.
"Tolong panggilkan bu Narti, Tin, aku ada perlu sama dia," pintaku dengan nada memohon kepadanya.
"Nggak bisa! Sudah, mending kamu pulang sana! Kakakku lagi istirahat!" Tanpa kuduga Tini malah dengan tega mengusirku.
"Tolonglah, Tin, panggilkan bu Narti sebentar aja. Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama beliau." Aku tidak menyerah dan pergi begitu saja. Aku kembali memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangan, berharap hati Tini melembut dan membiarkanku bertemu dengan kakaknya.
"Kamu itu tuli, ya?! Tadi 'kan sudah aku bilang kalau kakakku itu sedang istirahat! Sudah sana pulang!" Kali ini suara Tini terdengar meninggi dan dia mendorong lenganku yang menyentuh daun pintu rumahnya, lalu dengan tega dia langsung menutup pintu begitu keras.
Air mataku menetes. Aku sudah tidak bisa lagi menahannya. Lalu aku berjalan pulang sambil sesekali menyeka air mata yang tidak mau berhenti membasahi pipiku.
Tak aku hiraukan para tetangga yang melihatku dengan tatapan aneh. Aku terus berjalan pulang sambil berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang sesegera mungkin. Di tengah jalan aku teringat akan saudara mendiang ibuku yaitu paman Sardi. Aku lalu memutar arah dan berjalan sedikit lebih cepat ke arah rumah paman Sardi.
Setelah sampai rumah paman Sardi, aku langsung mengetuk pintu rumahnya.
"Assalamualaikum, paman Sardi!" Aku memanggil namanya sambil terus mengetuk pintu dengan penuh harap.
Tak ada balasan salam yang terdengar dari dalam rumah. Namun, aku dapat mendengar ada pergerakan di pintu. Itu menandakan sebentar lagi akan ada yang membukakan pintu.
"Hadeh! Kamu lagi, Rin! Ada apa kamu datang ke sini?" tanya paman Sardi ketus dengan mimik wajah tidak suka melihat kedatanganku.
"Paman, tolong pinjami aku uang untuk bawa Luna berobat." Aku langsung mengatakan niat dan tujuanku datang ke rumahnya tanpa berbasa-basi.
"Uang! Uang! Uang terus kamu itu! Kamu pikir dapat uang itu gampang, tinggal metik di pohon?! Mending kamu cari kerja kek, kamu bisa jadi pengemis di jalanan atau jual diri sekalian biar nggak nyusahin orang!" ucap pamanku dengan begitu kasarnya, suaranya keras saat membentakku yang dianggap selalu merepotkannya.
"Astaghfirullah, kenapa Paman tega menyuruhku bekerja jadi wanita rendahan seperti itu?" Aku bertanya dengan perasaan sedih, hatiku begitu syok mendengar kata-kata pamanku tadi. Sepertinya akan sulit bagiku melupakan kata-katanya.
"Perempuan yang nggak berpendidikan sepertimu itu bisa apa? Nggak akan ada satu perusahaan pun yang mau menerima kamu! Sudah paling benar kamu jual diri karena itu bisa bikin kamu punya banyak uang dan kamu akan berhenti minta-minta uang ke orang lagi!" jawabnya dengan sorot mata yang sulit aku artikan. Apakah paman sebenci itu padaku? Sampai dia tega mengucapkan perkataan sekasar itu pada keponakannya.
"Astaghfirullah … istighfar, Paman. Aku tau kalau aku ini nggak pernah mengenyam pendidikan, tapi aku nggak akan pernah mau merendahkan diriku untuk melakukan pekerjaan haram seperti yang paman bilang!" Aku memberanikan diri untuk membela diriku agar pria yang berada di hadapanku saat ini berhenti memandangku rendah hanya karena aku orang susah.
"Halah! Kamu itu terlalu munafik, Rin! Mau halal atau haram yang penting itu dapat uang banyak. Hidup kamu akan senang kalau punya uang, nggak kekurangan lagi, dan yang terpenting kamu berhenti merepotkan orang lain!" ucapnya lagi yang tampak begitu mencibirku.
"Maaf, Paman, aku nggak munafik! Aku memang sangat butuh uang saat ini, tapi aku nggak pernah mau mendapatkan uang dengan cara seperti itu!"
"Ya sudah kalau kamu nggak mau dengar saran dariku, sana pergi! Aku nggak punya uang! Walaupun aku punya uang, aku nggak akan masih kamu pinjaman!" Akhirnya dia mengusirku seperti hewan.
Aku pun menghela napas pasrah karena merasa tidak mungkin mendapat pinjaman dari paman Sardi yang mungkin semakin membenciku setelah aku berani berdebat dengannya demi membela diri. Kini aku memutuskan untuk kembali pulang, aku sangat khawatir jika meninggalkan Luna sendiri di rumah terlalu lama.
Setelah sampai rumah, aku langsung masuk ke kamar Luna untuk memeriksa keadaannya. Namun, apa yang aku dapat? Luna kembali menggigil. Aku langsung memeluknya dengan erat. Melihat putriku seperti ini membuatku hanya bisa menangis. Jujur, aku sudah benar-benar putus asa karena tak ada satupun yang mau membantuku.
Aku sudah pasrah dengan apa pun yang akan terjadi dengan Luna. Aku peluk tubuh mungil putriku dan mencoba untuk menghangatkannya. Aku berharap dengan pelukan ini mampu membuat Luna lebih baik. Namun ternyata aku salah, Luna semakin menggigil. Keputusasaan ini membuatku berpikir mungkin tidak ada lagi harapan yang tersisa, tetapi tiba-tiba terdengar suara salam dari balik pintu diiringi suara ketukan.
Aku segera bangkit dan melepas pelukanku dari tubuh Luna, agar aku bisa secepatnya membuka pintu karena aku tahu betul siapa pemilik suara itu. Begitu aku membuka pintu, benar saja ternyata yang datang ke rumahku adalah bu Narti.
Setelah menjawab salam dan menyuruh bu Narti masuk, aku langsung menceritakan tentang kondisi Luna padanya, walaupun saat itu bu Narti belum melontarkan pertanyaan apa pun.
"Bu, Luna menggigil."
"Menggigil bagaimana?" tanyanya terkejut, begitupun dengan raut wajahnya yang tampak cemas.
"Menggigil, Bu, seperti orang kedinginan. Padahal tadi Airin sudah bawa Luna ke bidan, tapi bidan bilang Luna harus dibawa ke rumah sakit karena sakitnya sudah lama dan semakin parah, kata bidan kemungkinan Luna terkena demam berdarah setelah mendengar gejala yang Luna alami selama sakit seminggu ini," jawabku panik dan benar-benar seperti orang bingung yang entah harus melakukan apa.
Bu Narti lalu meminta izin kepadaku untuk melihat keadaan Luna di kamar. Setelah melihat langsung bagaimana menggigilnya Luna dengan wajahnya yang terlihat pucat, bu Narti pun kemudian mengajakku bicara di ruang tamu.
"Rin, ini ada sedikit uang untuk kamu bawa anakmu ke rumah sakit. Kamu bawa Luna ke dokter sekarang juga ya biar bisa ditangani secepatnya dan sebelum terlambat!" ucapnya dengan terburu-buru sambil menyerahkan uang berwarna merah sebanyak lima lembar.
"Baik, Bu, Airin terima uang ini ya dan Airin ucapkan terima kasih banyak atas kebaikan Ibu yang sudah banyak membantu," ucapku penuh syukur dan aku langsung menangis dalam pelukannya.
"Iya, Rin, sama-sama ya. Untung aja Ibu hari ini pulang ke kampung jadi Ibu bisa bantu kamu yang sedang mengalami banyak masalah. Kamu yang kuat ya, Rin, kamu harus sabar, dan terus berdoa sama Allah supaya anakmu cepat sembuh."
"Airin benar-benar nggak tau apa jadinya kalau Ibu nggak pulang, Bu. Airin nggak punya tempat untuk meminta bantuan di sini. Semua orang selalu memandang rendah Airin selama ini dan nggak ada satupun yang mau kasih pinjaman uang untuk Airin bawa Luna berobat ke rumah sakit."
"Sudah, sekarang kamu harus berhenti menangis dan jangan memikirkan orang-orang yang selama ini jahat sama kamu. Mending sekarang kamu siap-siap ke rumah sakit ya! Oh iya, selama perjalanan ke rumah sakit nanti coba kamu sambil pikir-pikir lagi tawaran yang Ibu bahas tadi pagi ya, Ibu hanya mau yang terbaik untuk kamu dan juga Luna!" ucap bu Narti sambil mengusap punggungku yang bergetar hebat dalam pelukannya dan berusaha untuk menenangkanku, sekaligus mengingatkanku karena dia sangat peduli dengan kondisiku dan anakku saat ini.
Aku hanya diam karena aku tidak yakin apakah tawaran itu yang terbaik untukku dan Luna, ataukah akan membuat kami lebih menderita lagi. Kemudian aku mulai mengurai pelukan kami dan segera mengusap wajahku yang basah karena air mata menggunakan baju yang kukenakan.
"Baik, Bu, Airin akan pikirkan lagi," jawabku yang tidak mungkin jika tidak memberikan jawaban apa-apa.
"Rin, sebaiknya kamu terima aja terima tawaran dari Ibu supaya hidupmu jadi lebih baik. Ibu sedih melihat kondisimu yang seperti ini, apalagi kalau memikirkan Luna, dia butuh kehidupan yang lebih baik untuk masa depannya." Bu Narti kembali meyakinkanku sebelum pergi agar tidak ragu menerima tawaran darinya.
"Setelah Luna sembuh Airin baru bisa kasih keputusan, Bu, untuk saat ini Airin belum bisa tenang dan memikirkan apa pun kalau Luna masih sakit."
"Iya, Rin, Ibu ngerti kok, tapi kamu harus mempertimbangkan tawaran dari Ibu ya. Pokoknya kamu harus memikirkan yang terbaik untuk masa depan Luna, kalau kamu memiliki kehidupan yang lebih baik dari sekarang, maka kamu nggakp akan pernah lagi merasakan kondisi yang seperti ini."
Aku menganggukkan kepala tanpa dapat memberi jawaban apa pun lagi. Kini aku merasa bahwa bu Narti sedikit memaksa agar aku mau menerima tawaran itu, dia berpikir jika aku menikah dengan majikannya maka kehidupan kami akan lebih terjamin.
Tak lama kemudian aku melihat bu Narti mengeluarkan benda pipih dari dalam tasnya. Sebuah handphone layar sentuh, benda yang tidak pernah aku miliki selama hidup. Tanpa kusangka, bu Narti menyodorkan ponsel tersebut di hadapanku. "Rin, ini ada hp lama punya Ibu karena kebetulan Ibu baru aja ganti hp, ini kamu pegang ya, siapa tau nanti kamu berubah pikiran dan secepatnya kasih kabar ke Ibu."
"Tapi Airin nggak bisa pakainya, Bu." Aku menjawab jujur karena memang aku tidak pernah menggunakan handphone android.
Bu Narti tersenyum mendengar kejujuranku, lalu dia menyempatkan waktu untuk mengajariku bagaimana caranya menggunakan ponsel yang diberikan padaku. Beruntung aku mudah memahami apa yang diajari oleh bu Narti.
Setelah mengajariku dan aku mulai mengerti bagaimana cara menggunakannya, lalu bu Narti pun pamit pulang karena dia tahu aku harus segera bersiap pergi ke rumah sakit yang ada di kota.
Setelah kepergian bu Narti. Aku langsung mencari ojek untuk mengantarkan kami ke rumah sakit. Jarak dari tempat tinggalku ke rumah sakit cukup jauh, yaitu sekitar satu jam karena aku tidak memiliki cukup uang untuk menyewa mobil, jadi aku terpaksa menggunakan ojek agar uang untuk biaya berobat Luna tidak kurang.
***
Setibanya di rumah sakit, Luna langsung diperiksa oleh dokter dan diambil sample darah untuk dilakukan cek laboratorium agar lebih jelas penyakitnya.
Setelah hasil laboratorium keluar, dokter pun menyarankan agar Luna dirawat karena trombositnya rendah. Jika dipaksakan pulang khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan. Aku pun mau tidak mau menyetujui saran dari dokter untuk menjalani rawat inap karena aku tidak ingin melihat Luna semakin menderita karena sakit yang dirasakannya. Tak lama kemudian, beberapa orang perawat pun langsung membawa Luna pindah ke ruang rawat inap kelas tiga dari ruang UGD. Aku memilih ruang rawat kelas tiga agar biayanya tidak terlalu mahal.
Satu jam sudah Luna beristirahat di dalam ruangan yang 5 pasien lainnya di sana, aku melihat Luna sudah lelap tertidur akibat pengaruh obat. Melihat wajahnya yang masih pucat pikiranku melayang ke mana-mana. Aku sangat takut jika terjadi sesuatu hal buruk kepada anakku. Aku sangat takut jika harus kehilangannya karena hanya dia yang aku miliki saat ini. Hanya dia yang membuatku bisa tegar menghadapi semua ujian yang datang silih berganti. Aku berjanji dalam hati akan melakukan apa pun agar anakku bisa hidup lebih baik dan bahagia setelah ini. Ketika memikirkan semua itu, sekelebat ingatanku tertuju pada bu Narti. Aku teringat dengan tawarannya. Setelah aku pikir-pikir dengan matang, aku pun memutuskan untuk menerima tawaran darinya.
"Bukankah yang akan aku lakukan adalah sesuatu yang halal? Dan, bukankah menikah juga termasuk ibadah?" batinku bergumam dalam hati dan meyakinkan diriku yang sempat ragu untuk mantap menerima tawaran dari bu Narti.