bc

Madu Pilihan untuk Pria Lumpuh

book_age18+
660
IKUTI
8.5K
BACA
office/work place
cheating
like
intro-logo
Uraian

Airin terpaksa menjadi istri kedua untuk menggantikan peran sang istri pertama yang enggan mengurus suaminya yang sedang lumpuh. Setelah Airin sah menjadi istri kedua Herman, satu persatu rahasia istri pertama Herman yang bernama Laura mulai terungkap, ternyata Laura diam-diam menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya, bahkan wanita itu sampai hamil anak selingkuhannya. Dan, yang lebih mengejutkan ada satu rahasia besar yang ternyata disembunyikan Herman, hingga pria itu bersedia menikahi Airin dan menjadikannya sebagai istri kedua atas permintaan Laura.

chap-preview
Pratinjau gratis
Ditagih Rentenir
Namaku Airin. Aku adalah seorang janda dengan satu anak. Anakku bernama Luna, usianya sudah sepuluh tahun, dia adalah anak yang periang, dan bisa dikatakan sedikit cerewet. Aku memiliki utang dengan seorang rentenir bernama Darsih. Aku terpaksa harus berutang kepada bu Darsih untuk biaya pengobatan almarhum suamiku. Suamiku mengidap penyakit jantung. Jadi, membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar. Utang itu hampir setiap bulan bunganya selalu membengkak karena aku tidak bisa menyicilnya. Jangankan untuk menyicil bunganya, untuk sekadar makan sehari-hari saja aku sangat kesusahan. Aku sangat bersyukur karena Luna anak yang sangat mengerti kondisi orang tuanya. Dia tidak pernah menuntut apa pun dariku. Bahkan berangkat ke sekolah pun sangat jarang aku beri uang saku dan Luna pun tidak pernah protes akan hal itu. Utang yang tadinya sekitar lima puluh juta sekarang menjadi sembilan puluh juta karena memang aku selama ini belum pernah menyicilnya sama sekali. Utang itu sudah menunggak teramat lama dan akhirnya bu Darsih memintaku untuk segera melunasinya. Jika akhir bulan ini aku tidak bisa membayarnya, maka bu Darsih akan menyita rumahku ini. Rumah satu-satunya peninggalan orang tuaku. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari pinjaman kepada tetangga maupun kepada sanak saudara. Namun, semuanya nihil. Mereka tutup mata, bahkan mereka seolah tidak peduli dengan penderitaan yang aku alami. Mereka tidak mau memberiku pinjaman karena mereka takut jika aku tidak bisa membayarnya. Mereka selalu mengucilkan dan merendahkan keluargaku sejak dulu. Jadi, wajar saja jika mereka tidak percaya meminjami aku uang dalam jumlah yang sangat besar nominalnya. Kini aku benar-benar putus asa dan pasrah jika rumahku harus disita oleh bu Darsih. "Airin! Bagaimana? Sudah ada uangnya?" tanya bu Darsih dengan nada tinggi. Bu Darsih terkenal dengan sebutan rentenir tak punya hati. Jadi, dia akan menyita apa saja ketika orang yang berutang kepadanya telat bayar. "Bu Darsih, tolong kasih saya waktu sampai Minggu depan, kalau Minggu depan saya belum bisa menyicil utangnya, Ibu boleh menyita rumah ini," ucapku dengan lirih sambil memohon kepada bu Darsih. "Sudah cukup kelonggaran waktu yang saya kasih ke kamu, Airin! Jadi, sudah nggak ada lagi kesempatan!" jawabnya dengan tegas dan menggunakan nada tinggi. "Tolonglah, Bu, bantu saya sekali ini saja!" pintaku semakin memohon dan berlutut di kaki bu Darsih. Bu Darsih langsung mendorong tubuhku hingga aku jatuh tersungkur di permukaan tanah. Namun, ketika aku terjatuh ada sepasang tangan yang membantuku untuk segera bangkit. Lalu aku menoleh ke samping untuk melihat siapa orang yang sudah menolongku, begitu menatap wajahnya aku cukup terkejut ternyata bu Narti lah yang membantuku. Bu Narti adalah tetangga yang dulu selalu menolongku setiap aku kesulitan. Namun, beberapa tahun terakhir ini bu Narti merantau ke kota untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga. "Kamu nggak apa-apa, Rin?" tanyanya dengan raut wajah yang tampak cemas. "Iya, Bu, Airin nggak apa-apa," jawabku sambil menyeka rok yang kukenakan dan terlihat kotor setelah sempat jatuh ke permukaan tanah. "Ada apa ini, Rin? Kenapa barang-barangmu bisa di luar begini?" tanya bu Narti bingung melihat perabotanku yang tidak bernilai berserakan di luar rumah. "Rumah Airin mau disita karena nggak bisa bayar utang, Bu," jawabku sambil mengusap air mata yang sudah jatuh membasahi kedua pipiku. "Disita? Memangnya berapa utangmu sampai rumahmu harus disita?" tanya bu Narti yang memang sudah cukup lama tidak mengetahui kabar tentangku di kampung. "Sembilan puluh juta, Bu," jawabku dan seketika bu Narti terlihat sangat terkejut mendengar nominal utangku. Lalu bu Narti melangkah pergi dari hadapanku dan berjalan mendekat ke arah bu Darsih. "Bu, apa nggak bisa dicicil utangnya Airin?" tanya bu Narti pada bu Darsih. Aku dapat melihat wajah bu Narti tampak memohon saat bertanya. "Nggak bisa! Setiap bulan Airin selalu beralasan kalau ditagih. Dia selalu bilang kalau dia nggak punya uang untuk mencicil utangnya. Jadi, saya nggak bisa kasih dia waktu dan kesempatan untuk menyicil karena dia pasti akan beralasan hal yang sama kalau ditagih!" jawab bu Darsih dengan tegas dan tanpa perasaan. "Begini, Bu, ini saya ada uang dua juta tolong diterima dulu, nanti bulan depan saya akan lunasi utang Airin," ucap bu Narti sambil menyerahkan uang dua juta yang dia keluarkan dari dalam tas. Bu Darsih yang melihat uang merah yang disodorkan di hadapannya pun langsung mengambil uang tersebut dari tangan bu Narti. "Benar ya, bulan depan kamu akan melunasi utangnya Airin?" tanya bu Darsih setelah selesai menghitung uang yang ada di tangannya, lalu dia menatap bu Narti dengan tatapan serius, dan kedua alisnya tampak saling bertaut. "Benar, Bu. Saya pasti akan bayar sisanya bulan depan, tapi saya mohon jangan usir Airin dari rumahnya dan biarkan dia tetap tinggal di sini. Ini nomor telepon saya, Ibu bisa hubungi saya satu hari sebelum tanggal jatuh tempo!" jawab bu Narti penuh keyakinan dan langsung mengeluarkan kartu nama yang dimilikinya, lalu menyerahkan pada bu Darsih. "Ok. Kalau begitu saya kasih waktu sampai bulan depan. Tapi, ingat! Kalau bulan depan kamu bohong, maka rumah ini akan benar-benar saya sita dan saya nggak mau dengar alasan apa pun lagi!" ucap bu Darsih dengan ancamannya yang terdengar tidak main-main. "Iya, Bu, saya pasti akan bayar dan nggak akan bohong sama Ibu," jawab bu Narti yang mengangguk tanpa terlihat ragu sedikitpun. "Ok, saya pegang omonganmu!" jawab bu Darsih yang tanpa berpamitan langsung pergi bersama kedua anak buahnya dari halaman rumahku. Setelah kepergian bu Darsih, bu Narti pun membantuku membawa masuk barang-barang yang tadi dilempar keluar oleh kedua anak buah bu Darsih, dan aku menaruhnya di tempat semula. Setelah selesai membereskan semuanya, lalu aku mengambilkan minum untuk bu Narti dan mempersilakannya duduk. "Bu, terima kasih banyak atas bantuannya," ucapku yang benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa selain kata terima kasih karena wanita paruh baya yang ada di hadapanku saat ini sudah menyelamatkan hidupku hari ini, sehingga aku dan Luna masih memiliki tempat untuk tinggal sampai satu bulan kedepan. "Sama-sama, Rin. Oh ya, kamu beneran nggak luka-luka, kan?" tanya bu Narti yang sepertinya masih mencemaskan keadaanku, khawatir aku terluka karena dia melihat bagaimana kasarnya bu Darsih mendorong tubuhku tadi. "Airin baik-baik aja kok, Bu, nggak terluka sama sekali" jawabku sambil mengulas senyuman singkat untuk mengusir kecemasan bu Narti. "Syukurlah kalau begitu. Apa kamu nggak mau ganti rokmu dulu? Atau mungkin kamu mau ke kamar mandi untuk membersihkan kakimu yang kotor karena kena tanah tadi?" tanya bu Narti yang begitu penuh perhatian, layaknya seorang ibu. "Airin bisa ganti nanti, Bu, sekalian mandi. Oh ya, Bu, sudah lama kita nggak ketemu setelah Bu Narti memutuskan untuk merantau ke kota. Ibu apa kabar? Dan, kalau boleh tau apa alasan ibu pulang ke kampung setelah lama merantau?" tanyaku yang penasaran dengan kabarnya. "Alhamdulillah kabar Ibu baik, Rin. Jadi begini, Ibu pulang kampung karena mau mencari perempuan yang mau menikah dengan majikan Ibu di kota." "Maksudnya, Bu?" tanyaku bingung mendengar jawaban bu Narti yang begitu singkat. "Majikan Ibu itu lumpuh, jadi dia butuh seseorang yang mau merawatnya." "Kenapa nggak cari perawat di yayasan penyalur aja, Bu?" "Nggak bisa, Rin, karena kalau perawat itu nggak mungkin mau tidur satu kamar dengan majikan Ibu." "Apa separah itu sakitnya sampai harus ditemenin tidur, Bu?" tanyaku yang semakin penasaran. "Ya begitulah, Rin. Kakinya dari lutut ke bawah tidak nggak bisa digerakin sama sekali. Jadi, dia butuh seseorang yang bisa ada terus di sampingnya untuk membantu dia beraktivitas." Kini aku paham dengan penjelasan bu Narti dan aku hanya mengangguk tanda mengerti. "Oh ya, Rin, gimana kalau kamu aja yang menikah sama majikan Ibu itu? Kamu 'kan janda dan kamu juga sangat sabar, Ibu yakin kamu pasti telaten mengurus orang sakit!" ucap bu Narti dengan idenya yang sangat mengejutkanku. "Ah, Bu Narti ada-ada aja deh." Aku tertawa mendengar perkataan bu Narti, menganggap hal yang barusan kudengar hanyalah sekadar candaan. "Rin, majikan Ibu itu orangnya sangat baik dan juga penyabar. Ibu yakin kalau kamu mau menikah sama dia, kamu pasti bisa membayar semua utang-utangmu. Ingat, Rin, bulan depan kamu harus melunasi utangmu ke rentenir tadi, kalau nggak rumahmu akan disita. Memangnya kamu rela rumah satu-satunya peninggalan orang tuamu disita sama linta darat itu?" "Tapi, Bu …." Seketika aku bingung. "Rin, coba kamu pikir baik-baik tawaran dari Ibu untuk menikah dengan majikan Ibu supaya kamu bisa terbebas dari utang dan kesulitan hidup di sini. Ibu kasih waktu kamu seminggu untuk berpikir. Gimana, kamu mau mempertimbangkannya?" "Baik, Bu, Airin akan pikirin baik-baik tentang tawaran dari Ibu tadi," jawabku dengan bibir bergetar. "Oh ya, Rin, Ibu boleh ya minta fotomu? Mau Ibu kasih lihat ke majikan Ibu!" pinta bu Narti sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan bersiap hendak memotretku. "Tapi, Bu, Airin 'kan belum tentu menerima tawaran dari Ibu." Aku menjawab dengan sedikit ragu dan merasa tidak enak menolak karena bu Narti sudah baik, mau membantuku mempertahankan rumah ini yang hampir disita oleh bu Darsih. "Nggak apa-apa, Rin. Ibu foto cuma untuk laporan ke majikan Ibu aja, biar dia tau kalau Ibu sudah berusaha mencarikan perempuan untuk menjadi istrinya." Jawaban dari bu Narti membuatku tak mampu menolak dan membiarkannya memotretku dengan penampilan seadanya. Setelah mengambil foto, bu Narti pun pamit pulang. Tak lupa dia memberiku dua lembar uang berwarna merah. Sebenarnya aku sudah berusaha menolaknya, tetapi bu Narti memaksaku untuk menerima. Setelah kepergian bu Narti, aku memutuskan untuk segera menjemput anakku yang tadi kutitipkan kepada tetangga saat bu Darsih datang untuk menagih utang. Aku sengaja menitipkan anakku agar tidak melihat apa yang terjadi di rumah karena kondisi Luna yang sedang sakit. Setelah menjemput Luna, lalu aku pergi ke warung untuk berbelanja sayur dan beras karena memang di rumah tidak ada apa-apa dan kami juga belum makan apa pun sejak pagi tadi. Sesampainya di rumah aku langsung mengolah sayur dan memasak nasi. Aku tahu jika Luna sudah sangat lapar. Setelah selesai memasak, aku lalu membangunkan Luna. "Nak, ayo bangun! Kita makan dulu," ucapku dengan suara lembut agar tak mengagetkannya. Luna pun bangun dan segera bangkit sambil mengucek kedua matanya. "Kamu makan dulu ya, setelah itu kamu minum obat biar cepat sembuh!" ajakku sambil menggenggam jemarinya yang tampak begitu lemas. "Iya, Bu," jawabnya dengan suara yang terdengar serak. Sebenarnya aku sangat khawatir dengan kondisi Luna yang sudah sakit beberapa hari belakangan ini, demamnya terus naik turun, dan aku belum membawanya ke dokter karena tidak memiliki uang. Namun, aku teringat masih memiliki sisa uang yang diberi oleh bu Narti tadi. Aku pun berencana setelah anakku selesai makan, aku akan membawanya ke bidan saja yang ada di ujung jalan karena jika harus ke dokter pasti uangku tidak akan cukup.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.4K
bc

Kali kedua

read
220.0K
bc

TERNODA

read
200.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
81.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook