KERETAKAN RUMAH TANGGA

2533 Kata
Keesokan harinya mereka sudah sibuk di kantor masing-masing. Seperti biasa Alif dibawa ke kantor Zara dan Rumi, sang baby sitter yang menjaga Alif. Rumi tak ingin kejadian yang tak mengenakkan itu terulang kembali. Kemarahan sang majikan terbayang -bayang di mata Rumi saat tubuh Alif demam tinggi. Rumi akhirnya mengambil air wudhu dan melaksanakan salat Dhuha. Alhamdulillah Alif tidak rewel dan gerakannya semakin lincah. Dia sering tersenyum ke arah Rumi. Zara pun berhasil memenangkan tender besar, mengalahkan perusahaan lain. Bosnya bakal memberikan bonus yang besar. Impian Zara semakin kuat. Keyakinan bisa meraih impian menjadi direktur perusahaan seakan berada di pelupuk mata. Bahkan Zara ingin memiliki banyak perusahaan. Menjelang senja, Zara dalam perjalanan pulang ke rumah. Tinggal beberapa menit Zara akan tiba di rumahnya. Sementara Hans masih sibuk di kantor. Zara tiba-tiba teringat Ovie, sahabatnya. Sudah lama Zara tidak mendengar suara Ovie. Dia menyuruh Rumi untuk menjaga Alif sampai bisa tertidur. Hans pasti tidak akan setuju kalau Zara selalu menyuruh Rumi. Zara segera meraih HP-nya dan menelepon Ovie. “Assalamuallaikum, Vie, apa kabar? Ihhh … aku kangen,” ujar Zara sambil tertawa kecil. “Waallaikumsalam … Heyy Ra. Sama ihhh aku juga kangen. Apa kabar? Alif dan Mas Hans sehat?” tanya Ovie kegirangan. Zara dan Ovie saling bertukar cerita, bercanda dan sesekali tertawa terbahak. Zara juga mengutarakan keluh kesahnya soal Hans yang menyuruhnya untuk fokus mengurus Alif. Sebagai Sahabat,Ovie pun dengan hati-hati memberi masukan pada Zara untuk memprioritaskan anak. Soal karier di nomor sekian. Keluarga harus nomor satu. Zara mulai menangkap sinyal tidak enak. Yang tadinya berharap Ovie mendukungnya untuk mengutamakan impiannya di kantor. Ini malah sebaliknya. Dengan masukannya ini, membuat Zara menganggap Ovie tidak sehati dan akan menggangu impiannya. Akhirnya Zara sudah mulai merasa bosan dengar cerita Ovie, belum selesai Ovie bercerita. Mulailah dilancarkan modusnya dengan memotong pembicaraan. “Halo … halo Vie. Suaramu kecil, duhh sinyal jelek … halo ….” tuuut Hp langsung ditutup Zara. Dengan mendengus kecil Zara langsung non aktifkan HP. Zara sudah tidak mau mendengar lagi masukan masukan yang menurutnya menghambat karier. Zara sudah mulai mengantuk, tak lama dia sudah tertidur pulas. Sepuluh menit kemudian terdengar tangisan Alif tapi Zara tidak peduli, pikirnya toh ada Rumi yang menjaga Alif. Satu jam kemudian Hans sudah sampai di rumah. Hans terkejut melihat Rumi menggendong Alif yang sesekali menangis dan sesekali diam. Langsung saja dia menuju kamarnya. Hans geleng-geleng kepala melihat Zara yang sudah tertidur pulas. Hans langsung berganti pakaian dan beranjak dari kamarnya. Diraihnya Alif, dikecupnya lembut, Alif pun tersenyum manis. Hilang sudah rasa capek dan kesal yang ada di hati Hans kalau melihat senyuman Alif. Hans menyuruh Rumi untuk beristirahat dan Alif pun teridur pulas. Perlahan Alif ditaruh di boxnya di samping tempat tidurnya. Dilihatnya Zara sudah tertidur pulas dengan penuh rasa sayang, Hans menutupi tubuh Zara dengan selimut. Dikecupnya lembut kening Zara. Ditepisnya rasa kesal pada Zara karena membiarkan Alif bersama Rumi. Tak lama Zara terbangun. Hans tersenyum manis menatap Zara. Lalu terdiam tanpa suara dan membalikkan badannya. Hans pura-pura tidur, rasanya ingin memarahi Zara tapi Hans merasa malas untuk membahasnya. Kekecewaannya pada Zara membuat Hans merasa dadanya sesak. Zara merasakan kekecewaan Hans. Dia pun akhirnya membalikkan badannya. Tak ada rasa bersalah pada Hans, Zara malah tersenyum dan mencoba tidur. Keesokan harinya Hans masih terdiam tidak membuka suara. Namun dia mengambil beberapa baju dan memasukan bajunya ke koper. Zara mengernyitkan dahinya dan bersuara. “Mas … kamu mau kemana ?” tanya Zara “Nanti aku kasih tau … sebentar ya! Aku mo packing dulu,” jawab Hans pelan. Setelah Hans selesai packing, Hans langsung keluar dari kamar tanpa bersuara dan Zara semakin mengernyitkan dahinya dan geleng-geleng kepala. Baru kali ini liat Hans bisu seperti ini. Lelaki itu melangkahkan kakinya ke arah ruang keluarga dan menghampiri Rumi. “Mi … tolong siapin baju Alif terus masukin ke tas bayi ya? Saya mau bawa Alif ke rumah Ibu saya sekarang, terus kamu sama Daung ikut saya!” perintag Hans sambil menatap Rumi yang sedang menggendong Alif. “Ya, Pak. Siap!” ujar Rumi sambil menganggukan kepala. Hans kembali ke kamar.Hans menghampiri Zara dan bersuara “Ra, aku mau bawa Alif ke rumah Ibuku. Rumi sama Daung juga ikut,” ujar Hans sambil berlalu ke kamar mandi. Hans sedang tidak minat ngobrol dengan Zara berlama-lama. Zara menggeleng-gelengkan kepalanya. “Apa?!!Kamu mau ke rumah Ibu?!! Rumah Ibu kan jauh … kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba kamu berubah begini, banyak diem terus mo bawa Alif lagi. Alif kan masih minum ASI!!” ujar Zara dengan nada tinggi. “Minum ASI? Terus tadi malem itu apa? Siapa yang jaga Alif? Tadi malem kamu ngasih ASI? Tadi malem kamu ganti pampers-nya? Tadi malem kamu gendong Alif?” ujar Hans tak kalah tinggi nadanya. “Ooh jadi itu toh masalahnya …. Duhh Mas! Kok dibikin ribet sih! s**u botol itu ya kan air susuku juga ASI ya berarti Alif minum ASIku!!” ujar Zara makin keras suaranya. “Anak itu butuh sentuhan, belaian dari Ibunya. Anak itu butuh dekapan, ciuman dari Ibu nya, gak cuma butuh ASI, Zara!!” ujar Hans dengan suara keras. “Yaa Alloh, Mas kok kamu jadi kasar begini.” Zara terisak. Merasa mendengar petir di siang bolong. Zara tak menyangka Hans bisa semarah itu. “Zara, aku bisa semarah ini karena aku kecewa sama kamu!! Seharusnya kamu bersyukur kita bisa punya anak. Di luar sana banyak pasangan yang belum memiliki anak. Kita sebagai orang tua Alif harus bisa memberikan kasih sayang dan perhatian yang lebih. Terlebih Alif masih sangat kecil dan sekarang dia lagi sakit. Sentuhan Ibu sangat dibutuhkan Alif,” ujar Hans yang kali ini suara nya pelan Zara hanya bisa terdiam dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Hans semakin kecewa melihat sikap Zara, akhirnya menghampiri Alif yang baru bangun dan menggendongnya keluar kamar. Zara tidak mempedulikannya Hans dan Alif pergi, pikir Zara baguslah Mereka pergi jadi bisa lebih fokus ke karier. Zara merasa hampa dan sakit hati tapi impiannya meraih karier yang lebih tinggi membutakan hatinya. Tak lama kemudian Hans masuk lagi ke kamar, kali ini langsung ke kamar mandi tanpa menoleh ke Zara yang masih duduk di kasur sambil melamun. Tatapan mata Zara kosong. Dia mulai menyesal kenapa mengambil keputusan menikah sebelum impiannya terwujud. Apa karena dorongan nafsukah karena Hans tampan? Apa karena memang benar-benar cinta pada Hans? Tanya Zara dalam hati. Selesai mandi, Hans menemui Rumi yang sudah menyiapkan barang bawaan. Alif sudah berada dalam dekapan Rumi dan harus Hans menelan ludah yang terasa pahit. Dia merasa sedih karena Alif kehilangan kasih sayang dan belaian ibu kandungnya sendiri yang haus akan kedudukan dan mementingkan ego. Dia menyuruh Rumi masuk duluan ke mobil. Hans melanjutkan melangkah ke kamar “Zara … aku pergi dulu,” kata Hans pelan. “Ya Mas … boleh aku gendong Alif sebentar?” pinta Zara pelan sambil mengusap air matanya. Kali ini Zara merasa bersalah dan berat berpisah dengan Alif. Hans tidak menjawab. “Mas … Alif masih bayi. Dia masih butuh ASI-ku. Terus nanti Alif minum s**u apa?” tanya Zara sambil terbata-bata. Hans lagi-lagi tidak merespon kata-kata Zara. Tak lama kemudian Hans bersuara. “Aku udah pesan ASI yang banyak. Kebetulan ada ASI online. ASI itu asli dari ibu-ibu yang dikaruniai ASI yang berlimpah dan membantu Ibu dengan ASI minim,” ujar Hans pelan. “Aku Ibunya Alif, Mas!! Aku yang hamil dan melahirkannya!! Kok kamu mau ngasih ASI dari luar ke Alif!! Gimana sih!!” ujar Zara bernada tinggi. “Aku gak mau bahas ini lagi, aku udah cape!! Aku pergi dulu!!” Hans sambil melangkah keluar. “Mas … tunggu sebentar! Aku mau gendong Alif sebentar!!” suara Zara memelas. “Alif udah di mobil. Kamu temui aja Alif di mobil,” ujar Hans sambil melangkahkan kakinya keluar. Zara mengikuti Hans dari belakang. Hati Zara hampa, merasa tidak dipedulikan lagi oleh Hans, merasa tidak berarti. Setelah sampai di mobil, Zara membuka pintu mobil. Terlihat Alif tertidur pulas di pangkuan Rumi. Zara meminta Rumi untuk menyerahkan Alif. Didekapnya Alif dan dikecupnya berulang kali. Zara merasa sangat bersalah telah mengabaikan Alif tapi lagi-lagi keegoisan Zara muncul dan menguasai hatinya. Rasa ingin meraih impian dan karier yang lebih tinggi mulai merasuki jiwanya. Ambisi itu mengalahkan rasa keibuannya. Zara menyerahkan Alif ke Rumi dan membalikkan badannya. Ditinggalkannya Hans yang berdiri mematung melihat dirinya. Tak ada kata yang terucap dari mulut Zara. Hans sangat kecewa. Akhirnya Hans langsung masuk ke mobil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Hans tidak mengerti kenapa Zara begitu tega mengabaikan anak kandungnya sendiri. Sebegitu pentingkah nilai sebuah karier sampai anak di nomor duakan, kutuk Hans dalam hati. Mobil pun meluncur menuju jalan raya. Dalam perjalanan, Hans menghentikan mobilnya sejenak, mengutarakan kekecewaan sikap Zara pada Ovie dan Bu Halimah via WA. Dengan lincahnya jari-jemari Hans mengetik chat  dan berharap ada solusi terbaik dari sahabat dan ibu mertuanya itu. Mendengar penuturan Hans, Bu Halimalah orang yang paling merasa tidak enak pada Hans karena anaknya sendiri tega mengabaikan darah dagingnya. Berulang kali Bu Halimah meminta maaf pada Hans, air matanya sudah tak mampu dibendung. Bu Halimah tidak mengerti kenapa Zara bisa setega itu dan mengapa lebih mementingkan karier daripada anaknya sendiri. Malam harinya Hans baru sampai di Semarang, di rumah Ibunya. Hans sudah menceritakan perihal Zara pada Ibunya. Hans biasanya tak seperti ini. Ibunya tak ingin terlalu mencampuri urusan rumah tangganya. Hans menyerahkan sepenuhnya pada Ibunya soal pengasuhan Alif untuk sementara. Sebenarnya dia, tak ingin merepotkan Ibunya. Tapi pikir Hans itu jalan yang terbaik untuk Alif untuk saat ini.    . Sementara Zara, di malam harinya masih sibuk di kantor. Dari pagi berkutat dengan pekerjaan dan meeting dengan beberapa klien. Tak sedikit pun Zara merasa terbebani, bahkan tak ada lelah tersirat di wajahnya meski pekerjaan itu menguras tenaga dan pikirannya. Zara malah terlihat menikmati pekerjaannya di kantor. Kendalanya hanya satu, dia merasakan tidak nyaman di bagian area pribadi yaitu di wilayah d**a. ASI nya yang mengalir deras pertanda subur dan seharusnya disalurkan ke Alif. Zara hanya mengolesi minyak angin dan mengompresnya dengan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat sehingga tidak membengkak karena tidak menyusui. Bagi Zara itu tidak menjadi masalah yang berarti. Ada rasa kangen pada Alif tapi Zara berusaha untuk melupakannya  untuk sementara. Egonya untuk meraih mimpi mengalahkan rasa rindunya. Dari tadi siang Bu Halimah menelepon, sayangnya tak diangkat Zara. Malamnya baru Zara akhirnya telepon Mamanya. Zara menduga, pasti Mamanya akan menegur karena mengabaikan Alif. Zara memejamkan matanya, enggan untuk berdebat dengan Mama. Enggan untuk membahas soal Alif dan Hans. “Assalamualaikum, Ma ... maaf tadi Zara sedang meeting di Kantor. Mama tadi telepon ya?” ujar Zara masih merasa khawatir Mama nya memarahi nya. “Waallaikumsalam, Ra. Mama sudah tahu semuanya dari Hans. Sekarang coba kamu jujur sama Mama, sebenarnya ada apa denganmu? Kok kamu lebih mementingkan pekerjaan daripada anakmu sendiri. Alif masih kecil, Sayaang” ujar Mama nya panjang lebar. “Ma … aku masih aktif ngasih ASI untuk Alif. Masih sering dipompa ASI ku dan dimasukkan ke botol. Tapi karena Hans udah bawa Alif ke Semarang.yaa…aku jadi gak bisa ngasih ASI” ujar Zara polos. “Jawab dulu pertanyaan Mama!!” Bu Halimah mulai kesal. “Aku mementingkan keduanya, Mam. Sebisa mungkin aku mengatur waktu untuk pekerjaan dan Alif,“ jawab Zara. Berusaha untuk tidak bernada keras sama Mamanya. “Dengar Mama, Ra. Lebih baik kamu tinggalkan kariermu. Kamu harus ke Semarang, urus Alif dan suamimu dengan baik. Karier tidak akan membahagiakanmu. Keluarga lebih penting!!” ujar Bu Halimah to the point. “Ma … nanti aku ke Semarang tapi nanti setelah tugasku selesai. Ada beberapa yang harus aku kerjakan di kaantor, ya! Nanti aku urus Alif,” ujar Zara. “Gak usah nanti-nanti … besok kamu harus ke Semarang!! Ingat bayimu masih butuh perhatianmu!!” ujar Bu Halimah tegas. Zara semakin terpojok dengan kata-kata Mamanya. Zara berusaha untuk tenang dan tidak membantah Mamanya. “Halo … Zara. Kamu mau menuruti kata-kata Mama kan?!” tanya Bu Halimah karena Zara tidak meresponnya. “Yaa Ma … Zara mau menuruti kata Mama. Tapi … untuk karier masih mau lanjut,” ucap Zara pelan. “Besok ya Ra, kamu mesti temui Hans dan Alif!!” ujar Bu Halimah tegas. “Siap, Ma!!” ujar Zara singkat. Dia tidak ingin berdebat panjang dengan mamanya. Malam berganti pagi. Zara bersiap pergi ke bandara untuk terbang ke Semarang, menemui Hans dan Alif. Zara sudah membatalkan meeting dengan klien. Zara tidak bisa berkutik jika Mamanya yang menyuruh. Hal itunyang semakin membuatnya kesal pada Hans. Kenapa sih harus ngasih tau Mama soal ini itu, pikir Zara. Ingin rasanya dia memarahi Hans, kepalan tangan kiri Zara terlihat saat berjalan kaki menuju pesawat. Kepergiannya ini sengaja dirahasiakan agar Hans tidak menghindari Zara. Waktu begitu cepat. Zara akhirnya sampai ke rumah mertuanya yang asri dan luas. Banyak tanaman hias yang cantik memenuhi halaman. Zara tertegun menatapnya. Semuanya sudah berubah. Zara melangkahkan kaki menuju pintu. Diketuknya pintu perlahan dan mengucapkan salam. Tak lama kemudian pintu terbuka, terlihat Hans di depan nya. Hans kaget melihat Zara. “Waalaikumsalam … Zara …!!” seru Hans sambil menggelengkan kepalanya. “Ada angin apa membawamu kemari?” tanya Hans ketus. “Aku masih istrimu, Mas. Aku berhak datang kesini. Aku kangen Alif. Apa aku salah?!” ujar Zara sambil matanya mencari-cari Alif. “Apa? Kangen?! Tumben. Kok bisa ada rasa kangen? Bukannya kemarin-kemarin kamu biarkan Alif sama Rumi terus?!” tanya Hans masih bersuara tinggi. “Aku ke sini bukan ingin berdebat, Mas … mana Alif?!” ujar Zara sambil menatap tajam Hans. “Alif ada di kamarku.” Hans mulai melunak. Zara melangkahkan kakinya dan Hans mengikutinya dari belakang. Pintu kamar Hans terbuka dan Zara langsung mendekati Alif. Dipeluknya bayi itu lalu dicium pipinya berulang kali. Zara merasa sangat bersalah pada makhluk kecil ini. Alif masih sangat membutuhkannya, tapi bayangan impian karier kembali mengusik pikirannya.  “Ra, kamu mau nginep berapa hari disini?” tanya Hans sambil melihat Zara menggendong Alif. “Aku mo nginep 1 malam aja, Mas … besok aku balik lagi ke Jakarta,” jawab Zara. Kemarahannya pada Hans seakan hilang dari genggaman. Tadinya Zara kesal karena Hans mengadu soal Alif ke Mamanya. Kemarahan Hans pun hilang karena tidak ingin memperpanjang masalah. “Begini saja … besok kita pulang bareng. Alif masih butuh kamu. Tapi tolong luangkan waktu untuk Alif,” pinta Hans sambil meninggalkan kamar. Hans tidak ingin berlama-lama ngobrol dengan Zara, tidak ingin berdebat panjang. Hans ingin menenangkan diri. Zara kembali menatap Alif yang sedang tertidur pulas. Dielusnya wajah Alif dan menciumnya. Kemudian Zara melangkahkan kakinya ke kamar mandi pribadi. Hans kembali ke kamar, terdengar suara air kran wastafel di kamar mandi. Hans menatap Alif penuh kasih. Bayi mungil itu masih tertidur pulas. Hans mulai merasa rindu pada Zara. Rasanya sudah lama tidak memadu kasih dengan Zara. Diketuknya pintu kamar mandi. Zara membuka pintu perlahan. Hans langsung mencium bibir Zara. Rasa yang bergejolak merasuki jiwa Hans. Zara melepas ciuman Hans perlahan. “Mas … maaf aku lagi datang bulan … nanti lagi ya?!” ujar Zara sambil mengelus wajah Hans. Napas Hans naik turun dan tampak sedikit kecewa. Dia mencoba menurunkan hasratnya. Zara berganti pakaian dan menghampiri Alif. Kemudian mulai menyusui Alif yang baru terbangun dari tidurnya. Hans hanya bisa menatap Zara sambil berlalu meninggalkan kamar. Zara menghela napas panjang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN