“Assalamualaikum, Mas. Alif demam tinggi. Ini aku lagi bawa Alif ke Rumah Sakit Mother,” ujar Zara menelpon Hans.
Zara mempercepat langkahnya sambil menggendong Alif. Sementara Rumi membawa tas dan selimut Alif. Langkah Zara terhenti ketika sampai di area resepsionis. Tak lama kemudian Alif dibawa ke ruangan anak untuk bertemu dengan dokter spesialis anak. Dokter Edo menyarankan agar Alif untuk rawat inap selama 3 hari karena terdeteksi sakit infeksi telinga. Zara semakin kesal karena pikirnya kalai Alif dirawat, pekerjaan kantor akan berantakan dan sulit mencari waktu yang tepat untuk meeting lanjutan dengan klien.
Pada menit berikutnya, Hans sudah berada di rumah sakit. Mendengar kabar soal sakitnya Alif, hati Hans terasa sedih. Dia merasa bahwa Zara sebagai ibu tidak peduli akan sakitnya Alif, mengingat Zara selalu mengutamakan pekerjaannya di Kantor. Sebelum semua itu meracuni otaknya, Hans segera menepis pikiran buruk itu. Hans bisa melihat langsung betapa Zara bisa menjaga Alif dengan baik, dilihat dari caranya membelai Alif dan menggendongnya. Tapi Hans tidak tahu apa sebenarnya yang ada di hati istrinya itu.
Hans minta waktu untuk bicara dengan Zara di luar ruangan. Rumi menjaga Alif di ruangan rawat inap. Hans ingin tahu, apa Zara mau ambil cuti untuk mengurus Alif? Apa Zara menyerahkan sepenuhnya pada Rumi sang baby sitter?
“Sayaang … kamu mo ambil cuti?” tanya Hans pelan.
“Cuti? Gak lah Mas. Aku masih banyak kerjaan di kantor!” ujar Zara sambil cemberut.
“Lho … kok masih bahas pekerjaan? Ini soal anak kita, Sayaang. Alif sakit, butuh Ibunya ada di samping dia,” ujar Hans gusar.
“Dokter bilang sakitnya gak serius, Mas?! Hanya infeksi biasa aja,” balas Zara.
“Apa …!! Kamu bilang gak serius!! Infeksi itu sakit banget, Sayaang. Itu bahaya bagi Alif yang masih bayi. Coba pakai hati keibuanmu!!” Nada Hans mulai meninggi.
“Mas … cukup ya?! Waktuku terbuang percuma kalau harus debat terus-terusan sama kamu!! Permisi aku mau ke kantor dulu!!” ujar Zara sinis sambil berdiri.
“Tolong hargai saya, Zara. Saya suami kamu!!” ujar Hans mulai emosi. Zara geleng-geleng kepala. Baru kali ini Hans memarahinya.
“Mas … kamu gak perlu marah-marah sama aku!! Kan ada Rumi yang jagain Alif!!” teriak Zara.
Semua mata memandang ke arah mereka termasuk 2 perawat yang melintas di sana.
“Maaf Bapak dan Ibu, ini rumah sakit di area ini tidak boleh ada suara keras. Silakan Bapak Ibu keluar dari rumah sakit!!” ujar Perawat sambil menatap tajam ke arah Zara dan Hans.
“Heyyy … kamu cuma perawat. Gak usah turut campur, yaaa!! Saya mau keluar dari sini!!” balas Zara sambil melototi perawat itu dan langsung pergi.
Kedua perawat itu geleng-geleng kepala. Berulang kali Hans meminta maaf pada perawat itu dan langsung mengejar Zara sambil berlari. Hati Hans berkecamuk, baru kali ini dia memarahi Zara dengan emosi yang meluap-luap. Zara terus berlari ke arah parkiran mobil. Hans berhasil mengejarnya. Dengan tatapan tajam Hans meraih tangan Zara dengan kuat.
“Lepaskan tanganku, Mas. Tanganku sakit!!” Zara berusaha menepis tangan Hans.
“Tatap mataku!! Kamu Ibunya Alif, mana rasa keibuanmu, Zara … Alif butuh kamu!!” Hans mulai berkata dengan suara keras.
“Yaa ampuuun … Mas. Kamu kenapa sih kok jadi marah-marah gini? Kamu sendiri kan udah janji gak akan menghalangi karierku. Kamu setuju aku meraih mimpiku!!” timpal Zara tak kalah keras.
“Ohh jadi di otakmu cuma karier dan karier aja. Gak ada yang lain? Ibu macam apa kamu bisa setega itu, gak ada hati biarkan anak sendiri sakit dan menangis!!” Hans sambil terus memegang tangan Zara.
“Oke … sana kamu pergi ke kantor, tapi kamu nanti jangan pulang ke rumah. Menginap aja di kantormu sendiri!!” ujar Hans sambil melepaskan tangan Zara dan pergi meninggalkannya. Hati Zara semakin sakit karena Hans bisa semarah itu. Dia mulai memaki dirinya sendiri karena merasa tidak berguna menjadi Ibu dan akhirnya mengejar Hans.
“Mas … maafkan aku … tolong dengarkan aku!!” suara Zara mulai serak dan menitikkan air mata.
“Ya ada apa?” Hans menghentikan langkahnya.
“Mas, aku mau balik ke ruangan Alif. Oke aku mau mengurus Alif sampai sembuh,” ujar Zara sambil menundukan kepalanya.
“Alhamdullilah … ayo bareng aku ke dalam,” ujar Hans singkat karena masih menyimpan emosi.
Zara dan Hans bergegas masuk rumah sakit. Dia merasa lega akhirnya Zara tergerak hatinya untuk merawat Alif. Hans memutuskan untuk tidak masuk kantor selama seminggu karena ingin terus memantau perkembangan kesehatan Alif. Dia juga ingin membantu Zara merawat Alif. Rumi, sang baby sister ditugaskan untuk membantu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Zara. Salah satu asistennya pulang kampung sehingga Rumi ditugaskan untuk membantu merapikan rumah untuk sementara.
“Dok, bagaimana hasil perkembangan anak saya?” ujar Hans cemas. Sudah 4 hari Hans dan Zara berada di rumah sakit. Zara malah sering terlihat sibuk dengan laptop dan layar Hp-nya. Seakan tidak peduli dengan kesehatan Alif. Bahkan ketika Alif menangis minta ASI, Zara malah menyuruh Hans untuk berikan ASI yang sudah dimasukan ke dalam botol. Hans sering menegur Zara, justru Alif membutuhkan sentuhan dan belaian Ibunya sehingga ada kontak langsung yang bisa memberikan ketenangan pada Alif.
“Perkembangan anak Bapak, Alhamdulillah berjalan baik. Besok sudah bisa pulang tapi kalau bisa bagian telinganya jangan kemasukan air ya, Pak.” Nasehat dokter sambil tersenyum.
“Baik, Dok terima kasih,”ujar Hans sambil menjabat tangan dokter.
Zara merasa lega, akhirnya Alif bisa pulang besok. Itu artinya Zara bisa masuk ke kantor lagi tanpa gangguan. Itu yang membuat Zara senang. Hanya bekerja di kantor yang bisa membuat Zara merasa puas dan senang karena impian itu selalu membayangi kehidupannya.
“Mas, Alif besok kan udah bisa pulang. Aku besok masuk kantor lagi ya?”
Malam ini Zara agak sedikit berbeda berlama-lama menggendong Alif. Dalam pikirannya siapa tahu Hans kalo liat Ibunya telaten merawat bayinya akan ada tiket izin dari Bapak si bayi.
“Kalo bisa besok jangan dulu masuk kantor. Lusa aja masuk kantornya. Alif masih lemah,” ujar Hans pelan.
Rasa khawatir kembali hadir di benak Hans, bayangan Zara yang sibuk di kantor sampai malam dan membiarkan Alif tanpa sentuhan juga belaian Ibunya. Ingin ungkapkan kata untuk melarang Zara bekerja lagi. Namun Hans tidak tega melihat Zara nantinya akan terbelenggu. Mencoba menepis keinginan untuk ungkapkan kata tegas pada Zara. Hans hanya akan menelan ludah sendiri.
Mendengar kata lusa dari Hans. Zara tak berkata apa-apa. Perasaan tak enak pada Hans mulai menyelimuti hatinya. Merasa telah menyia-nyiakan kebahagiaan yang diimpikan semua orang. Tapi kembali keinginan Zara untuk meraih mimpi membentengi hatinya. Mencoba untuk berdamai dengan Hans, akhirnya Zara menyetujui usulan suaminya itu.
“Oke Mas … tapi bener ya lusa ya?” ujar Zara berusaha tersenyum manis. Hans merasa lega ternyata Zara bisa memenuhi keinginannya.
“Sayaang … besok kita menginap di vila yuk? Mas kangen nih!!” ujar Hans sambil memeluk punggung Zara dan membelai rambut Zara.
Hans mulai menyentuh pinggang Zara. Api asmara mulai membakar keduanya. Zara membaringkan Alif ke kasur dan dikecupnya pipi Alif. Zara membalikkan tubuhnya dan Hans dengan sigap memeluk pinggang ramping itu. Diciumnya bibir Zara cukup lama. Mereka saling melepas rindu namun hanya sekadar adegan itu. Zara mulai melepaskan pelukan Hans.
“Ini rumah sakit. Malu nanti kalo ada perawat yang liat,” ujar Zara tersipu. Hans semakin greget melihatnya.
“Ini rumah sakit rasa vila, Sayaang …,” Ujar Hans sambil mengedipkan matanya.
Malam berganti pagi. Zara dan Hans mulai meninggalkan rumah sakit. Mobil meluncur ke arah vila pribadinya.sm Sebelum menikah Hans sering mengajak adik-adik juga temannya untuk menginap di sana. Hans memilih untuk memiliki vila di kawasan puncak karena Hans suka dengan hijaunya pemandangan dan udara segar. Vila cocok untuk tempat istirahat dan menenangkan, itu pikir Hans kala itu.
“Alhamdulillah kita udah sampai vila, Sayaang,” ujar Hans.
Zara mulai masuk kamar dan membaringkan Alif yang tertidur pulas. Hans menggendong Zara dan masuk ke kamar mandi. Keduanya di mabuk asmara, cukup lama mereka berada di kamar mandi dan meninggalkan Alif sendiri. Setelah melepas rindu, mereka pun mandi berdua. Itu pun dilanjutkan dengan babak kedua. Mereka seakan lupa diri. Sekitar 2 jam mereka berada di kamar mandi.
Tangisan Alif sampai tak terdengar di telinga mereka. Ketika mereka menghampiri Alif, suara tangisan Alif terdengar serak dan wajahnya pucat. Zara mulai panik dan dipeluknya Alif dengan erat. Dengan segera disusuinya Alif sehingga perlahan badannya beralih menjadi hangat dan tak terlihat pucat lagi. Hans merasa lega ternyata Zara masih ada rasa keibuan.
Keesokan harinya Zara dan Hans meluncur ke Jakarta. Hans ingin terus menikmati keintimannya dengan Zara. Sehingga Hans berencana untuk rutin kembali ke vila setiap hari Sabtu dan sesekali menginap di vila yang jauh. Pikir Hans ini ide bagus untuk menguatkan cinta keduanya dan memberikan ketenangan juga kenyamanan pada Zara.