CATHERINE BERAKSI

2057 Kata
Pada jam makan siang, Boy, stafnya Hans pamit untuk pergi makan siang. Hans tidak ingin ditinggal sendiri di ruangannya. Hans tidak ingin Catherine tiba-tiba masuk dan mengganggu nya. Dari gerak-gerik Catherine terlihat ada gelagat tidak baik pada dirinya. Sehingga Hans tidak ingin memberikan peluang sedikit pun pada Catherine. “Boy … saya ikut bareng makan sama kamu, ya?” pinta Hans. “Maaf, Pak. Saya sudah ada janji mau makan bareng  pacar saya,” ujar Boy. “Oh gitu. Ya udah, sebentar … bareng keluarnya sama saya. Gak mau saya sendirian di ruangan,” ujar Hans. “He he … kenapa akhir-akhir ini Bapak seperti ketakutan gitu? Biasanya Bapak sendirian di ruangan ini?” tanya Boy sambil tersenyum. “Saya gak mau Catherine masuk ke ruangan saya,” ujar Hans pelan. “Ohhh itu toh alasan Bapak tidak mau sendirian di sini.” Boy sambil mengangguk-anggukan kepala. “Saya tidak ingin ada fitnah, akhirnya terjebak dengan permainannya, Boy,” ujar Hans sambil menatap tajam Boy. Boy sangat mengagumi kepribadian bosnya ini. Selalu setia pada istri dan berakhlak baik. Boy berharap Catherine tidak berperilaku aneh pada bosnya ini. “Gini aja Pak .. Bapak ajak makan satu atau 2 orang staf di sini. Saya khawatirnya pas Bapak makan sendirian, Catherine nanti duduk temani Bapak makan,” kata Boy sambil bersikap santun. “Bisa aja kan dia buntuti Bapak diam-diam di belakang mobil Bapak. Ya,  namanya juga kalau sudah suka apa pun dikejar. Saya rasa sih Catherine suka sama Bapak!” ujar Boy panjang lebar. “Terima kasih sarannya, Boy. Ya saya rasa juga begitu, dari gelagatnya. Mmmm … Catherine ini mau macem-macem sama saya,” ujar Hans sambil melangkahkan kakinya dan pergi keluar bersama Boy. Di dekat pintu ruangan Hans, Catherine mendekati Hans. Boy tidak beranjak pergi. Catherine merasa kesal dengan adanya Boy yang masih berdiri menatapnya. “Boy … kamu pergi aja. Aku mau ada perlu sama Pak Hans,” ujar Catherine ketus. “Gak usah pergi Boy … ya ada apa, Rine” ujar Hans sambil menatap Catherine. “Ini masalah kantor, Pak. Urgent sekali. Bisa Kita bicara berdua saja,” ujar Catherine sambil tersenyum. “Maaf, sekarang saya mau makan siang dulu. Nanti kita bahas bersama di pertemuan meeting bersama staf lain. Masalah apa pun di kantor ini, semua staf saya harus tahu,” ujar Hans panjang lebar. Catherine tampak kesal dengan sikap Hans yang tidak bersahabat. Betapa susahnya untuk mendekati Hans. Sekretaris itu harus berpikir keras bagaimana untuk meluluhkan sikap Hans yang sulit untuk didekati. Setelah meeting, kembali Hans dan Boy masuk ke ruangan. Dengan gaya centilnya, Catherine mulai mendekati Hans yang sudah duduk di kursi kerjanya. “Maaf, Pak menggangu … saya cuma mau memberi info jika ada klien yang minta nanti malam ketemu dengan Bapak. Jadi nanti kita berdua temui kliennya ya …?” ujar Catherine sambil tersenyum dengan mata berbinar-binar. “Kamu gak usah ikut. Biar nanti saya sama Boy yang akan temui klien itu,” ujar Hans sambil menatap tajam Catherine. “Lho kok sama Boy, Pak? Saya kan sekretaris Bapak,” ucap Catherine gusar. “Tidak baik seorang perempuan menemani suami orang di jam-jam malam,” ujar Hans. “Okeh … saya masih banyak pekerjaan. Kalau ada yang harus saya tanda tangani, simpan berkasnya di meja saya. Dan tolong tinggalkan saya.” Hans sudah mulai tegas dengan Catherine. Rasa kecewa, kesal pun memenuhi d**a  Catherine. Hhhhhh bos aneh. Masa si Boy sih yang diajak ketemu klien. Gue kan sekretarisnya. Awas kamu, Hans. Jangan coba-coba menghalangi keinginan gue. Gue tuh suka sama elu Hans. Mmmm … nanti elu akan masuk dalam permainanku, liat saja nanti, bisik Catherine dalam hati. Catherine mulai meminta bantuan temannya untuk bisa memenuhi keinginannya. Boy merasa empati dengan kondisi ini. Akhirnya Boy mengutarakan pendapatnya. “Pak, kalau menurut saya sebaiknya Catherine ditempatkan di kantor Surabaya saja agar tidak menggangu Bapak. Saya khawatir dia mau merencanakan hal buruk pada Bapak,” bisik Boy pelan. “Oke ... thank you, Boy.”Hans sambil sesekali menatap berkas. “Mmmmm … good idea, Boy. Ya sebaiknya Catherine dipindahkan ke kantor cabang di Surabaya. Coba telepon Catherine 1 jam lagi, suruh dia masuk ke sini.” Perintah Hans tegas. “Baik, Pak!” jawab Boy dengan santun. Satu jam kemudian Catherine masuk ke ruangannya Hans. “Catherine … ini sudah menjadi keputusan saya. Besok kamu mulai pindah kantor di Surabaya ya?” ujar Hans sambil menatap tajam. “Apa!! Saya dipindahkan ke Surabaya. Duhh … jangan dong, Pak! Saya sudah betah di sini.” Catherine kaget Dan mencoba memohon pada Hans untuk mengubah keputusannya. Rasa kesal memenuhi hati mantan sekretaris Hans itu karena dengan kepindahannya  akan semakin sulit untuk meluluskan keinginan untuk mendekati Hans. “Ini sudah menjadi keputusan saya. Nanti saya buatkan surat tugas kepindahanmu dan sekarang tolong tinggalkan saya,” kata Hans tanpa basa basi. Seketika badannya serasa tak bertulang dan dengan lemas dia langsung melangkahkan kakinya ke arah toilet. Catherine memukuli tembok toilet dan mengacak-ngacak rambutnya. Raut mukanya tampak kesal sekali. Diambilnya telepon genggam dari dalam tasnya. “Jack rencana Gue gatot nich alias gagal total, Bro,” ujar Catherine. “Kok belum apa-apa bilang gagal, Rine?” tanya Jack temannya Catherine. “Gue besok dipindahin ke kantor Surabaya!” keluh Catherine. “Ya ampuun … Surabaya? Jauh amat. Loe sih udah kelewat napsu. Coba kalo Loe tahan dikit, tampil biasa aja dulu. Ini malah bersikap lebay jadi ya si Bos ilfiil lah, Nek!” cibir Jack sambil tertawa lebar. “Ihhhh Loe tuh ye malah bisanya ngetawain gue. Cari solusi kek! Nyesel gue, minta bantuan ke loe.” Zara menjadi semakin kesal. “Kata gue juga apa … bos loe tuh orang baek-baek. Gak mungkinlah suka sama tipe kayak Loe. Senengnya tuh yang berjilbab, alim-alim gitu. Loe pake deh kerudung! Gue rasa sih itu jalan satu-satunya untuk bisa meraih hatinya,” saran Jack panjang lebar. “Loe pura-pura alim terus omongan loe mesti lembut. Trus kepala loe mesti nunduk gak boleh natap si Bos. Gue yakin bos loe bakal tertarik.” “Loe inget kan gaya istrinya kalo ketemu laki-laki lain. Gue aja naksir sama istrinya si Bos. Udah pinter, cantik pula. Suka banget sama dia.”  “Jack, gini aja! Loe culik istrinya terus gue pura-pura bantu Hans tuk nyari, gimana?” “Kagak mau gue. Kapok gue berurusan ame Polisi. Udah dulu ya!” Tuuuut … Jack menutup HP-nya. “Hhhhhh … si Jack lebay. Malah gak mau bantu. Awas Loe Jack!” ujar Catherine bicara sendiri. Seminggu kemudian Hans berencana untuk mengajak Zara dan bayinya pergi berlibur. Zara senang dengan keputusan Hans untuk memindahkan Catherine ke kantor cabang di Surabaya. Dia semakin kagum dengan kesetiaaan Hans dan perhatiannya. Hans mengajak keluarga kecilnya untuk berlibur selama 4 hari di Bandung. Zara kembali teringat dengan sahabatnya, Monik yang meninggal karena bunuh diri di Bandung. Zara berusaha keras untuk melupakan kejadian yang menimpa Monik. Tak pernah dia sangka Monik akan berbuat senekad itu untuk mengakhiri hidupnya dengan hal yang tak wajar. Zara dan Hans sangat menikmati liburannya di Bandung. Seperti menikmati honeymoon, terus-menerus Zara dan Hans menikmati manisnya cinta. Zara seperti terbang ke angkasa dan terdampar di istana bunga yang segar dan memabukkan. Hans berharap Zara tidak lagi tenggelam dalam kesedihannya karena kehilangan seorang sahabat. Dia juga berharap Zara melupakan keinginannya untuk meraih mimpi menjadi direktur. Hans merasa khawatir dengan masa depan anaknya kelak. Bagaimana bisa menjaga anaknya dengan baik jika ibunya sendiri selalu sibuk dengan pekerjaannya. Itu yang ada dalam benak Hans. Terlihat Zara nampak ceria dan menikmati liburan kali ini bersama Hans. Liburan singkat itu membawa angin segar untuk Zara. Dalam hatinya berjanji tidak akan berbuat aneh lagi. Jika dia tiba-tiba teringat Catherine, ibu Alif itu selalu ingin meniru gaya berpakaian seksi, berlipstick tebal dan bulu mata lentik juga make up yang tebal. Pikir Zara sekarang ini Catherine sudah berada di Surabaya, itu artinya tidak ada lagi yang akan mengganggu Hans. Rasa tenang dan nyaman inilah yang selalu ingin dirasakan Zara. Harapan terbesarnya Hans akan selalu setia dan tidak akan mengkhianatinya. Akhirnya Hans memutuskan untuk mengambil baby sitter di sebuah yayasan guna membantu Zara mengurus bayinya sehingga merasa nyaman bekerja di kantor. Zara merasa senang dengan adanya baby sitter. Karena akan memudahkan Zara bekerja dan bisa beristirahat malam hari dengan waktu yang cukup. Karena dia tak mau lagi merasa mengantuk di kantor. Setiap hari baby sitter nya ikut membawa Alif ke kantor Zara dan menemani di sebuah ruangan samping ruangan kerjanya Zara yang dilengkapi fasilitas TV dan lainnya. Zara sering mempompa ASI  sehingga alif tetap mendapatkan ASI ekslusif dari ibunya. Zara meyakinkan Hans untuk tidak perlu merasa khawatir kelak bayinya malah lebih dekat dengan baby sitter-nya. Karena dia akan tetap memberikan ASI dan juga dekat dengan bayi nya. Hans merasa lebih tenang karena ternyata Zara bisa memberikan perhatian lebih pada buah hati mereka. Hans mengalah dalam hatinya. Tidak ingin hati Zara diliputi rasa sedih hanya karena impiannya kandas. Bagi Hans mengalah adalah solusi terbaik untuk saat ini, setidaknya itu yang terbaik menurut pikiran Hans. Jika Zara bersedih pasti akan berimbas pada rumah tangganya. Zara akan tidak nyaman berada di samping Hans. Bakal banyak letupan-letupan dalam rumah tangganya yang akan memicu emosi sehingga rumah tangganya bisa berantakan. Sebenarnya mengalah membuat Hans merasa dadanya terasa sesak. Namun Hans berusaha sekuat tenaga demi kebahagiaan Zara dan kenyamanan berumah tangga. Dua hari kemudian Zara dan Hans disibukkan lagi dengan pekerjaan kantor. Ketika Zara sedang menyimak bahasan materi meeting dengan klien, terdengar ketukan pintu di ruangan itu. “Ya, Silahkan masuk,” ujar Zara “Maaf, Kak … barusan ada info dari baby sitter, bayi Kakak demam tinggi,” kata Vony salah satu staf keuangan. “Maaf Bapak dan Ibu, saya harus bawa bayi saya ke rumah sakit. Maaf saya tidak bisa melanjutkan meeting ini. Nanti kita lanjutkan kembali,” ujar Zara merasa tidak enak hati. “Silakan Bu … ya nanti meeting bisa dilanjutkan kembali,” kata Pak Eko, salah satu kliennya. Zara mempercepat langkahnya menuju ruang kecil di mana Alif berada. Ketika masuk ruangan, terlihat baby sitter sedang menggendong bayinya. “Rumi … kenapa sih kamu tuh gak ada inisiatif. Kalau Alif demam, bawa dia ke rumah sakit. Jangan kamu ganggu pekerjaan saya!! Kamu kan udah saya kasih uang. Sudah dibilangin kalau ada apa-apa dengan Alif?!! Ya kamu kerjain sendiri, huhhhh … kamu tuh bikin repot aja!!” sungut Zara tampak kesal. Rumi, sang pengasuh bayi menunduk ketakutan. Tangannya gemetaran. “Maaa … maaaf Bu, saya bingung mesti gimana. Badan Alif panas sekali!!” kata Rumi lugu. “Hhhhh … udah gak usah ngomong. Ayo ikut ke rumah sakit!!” ajak Zara bertambah kesal. Tanpa disadari Zara, ada sesosok pria yang berdiri di dekat pintu yang terbuka. “Oohhh jadi begini ini kamu memperlakukan baby sitter. Makanya berhenti kerja!! Mak Mak ngantor ha … ha … ha … udah di rumah aja ngurus anak!!” ujar Deni yang selalu bersikap sinis dan arogan. “Diam kamu, Den. Kamu yang mestinya gak usah ngantor. Bisa kamu apa?? Mikir dong kamu tuh gak bisa kerja!! Kamu beruntung aja dimasukin sama Om kamu di sini!! Komputer aja gaptek!! Mikir Bro!! Awas kamu keluar dari ruangan saya!!” ujar Zara setengah teriak. Deni kaget dengan penuturan Zara yang kasar. Lho kok si Zara tahu sih gue bisa kerja di sini karena Om gue. Siapa yang ngebocorin nih! ujar Deni dalam hati. Deni melangkah keluar. Merasa kena tembakan Zara, Deni merasa bersalah pada Zara. Merasa kalah dan malu pada dirinya sendiri. Zara lebih pintar berada di posisi yang tinggi dibanding dirinya. Zara kemudian mengunci pintu ruangan kerjanya juga mengunci ruangan bayinya. Dia tidak mau ada orang lain yang masuk ke ruangan pribadinya. Dia tidak mengerti kenapa perusahaan sebesar ini bisa memasukkan pegawai yang tidak bisa bekerja seperti Deni. Kerjanya hanya duduk di meja main Hp dan game di computer. Zara menggeleng-gelengkan kepalanya. Zara segera membawa bayi nya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Zara masih saja memarahi baby sitter-nya. Perasaaan kesal masih berkecamuk di hati Zara, sesekali menatap Alif dan Rumi yang menundukkan kepalanya sambil menyeka air mata. Baru kali ini Rumi mendapat amukan amarah dari majikan. Sebelumnya Rumi tak pernah alami hal seperti ini. Satu jam kemudian Zara tiba di Rumah Sakit Pondok Indah, sebelum kakinya melangkah ke arah resepsionis rumah sakit, Zara meraih Hp nya dan menelepon ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN