Tibalah hari H itu tiba. Hari Minggu selepas jam Asar tepatnya jam 16.05 proses akad nikah dimulai. Hans dan Zara sudah duduk berdampingan. Akad Nikah berlangsung di Masjid Nurul Iman Jakarta. Terlihat banyak tamu yang hadir di sana. Zara tampak begitu cantik dengan balutan kebaya warna putih yang elegan, dipadu dengan kerudung warna putih dengan hiasan bunga melati. Sedangkan, Hans memakai jas dan celana panjang berwarna putih dipadu dengan peci warna senada. Keduanya begitu serasi. Pengantin wanita cantik jelita dan pengantin pria begitu tampan nanti gagah.
Akad nikah berlangsung khidmat dan sakral. Proses akad berlangsung lancar dan penuh haru. Rasa bahagia terpancar. Semua tamu mendoakan keduanya agar menjadi pengantin bahagia sampai maut memisahkan. Hans begitu terpesona melihat Zara yang begitu cantik. Hans mulai berani membisikkan kata di telinga Zara.
”Bidadariku … kamu cantik sekali,” bisik Hans lembut.
Zara memejamkan matanya sejenak, merasakan sesuatu debaran hati yang kian bergemuruh. Aliran darahnya begitu terasa cepat, telinganya tiba-tiba memanas. Terlihat wajah Zara merona bahagia. Hans semakin gemas melihatnya dan bersyukur akhirnya Zara menjadi istrinya.
Acara berlanjut ke resepsi pernikahan yang berlangsung di hotel mewah di sekitar area CBD Jakarta. Banyak tamu undangan yang hadir dan acara resepsi itu berlangsung begitu megah. Ruangan resepsi didesain dengan begitu cantik. Tema yang diambil adalah taman dan dilengkapi dengan hiasan kupu-kupu, dan bunga-bunga indah. Hans dan Zara berhasil memanjakan tamu undangan dengan hidangan yang enak dan mahal juga alunan musik dari band musik ternama. Acara demi acara telah berlangsung, satu per satu tamu yang hadir semakin surut. Ketika tamu sudah sepi, makan malam dengan keluarga sudah disiapkan.
Zara dan Hans makan bersama dengan keluarga yang penuh canda tawa dan tentunya diakhiri dengan sesi foto. Setelah selesai acara makan, rombongan keluarga juga pengantin masuk ke kamar masing-masing. Inilah saatnya Zara merasakan ketegangan dan kakinya terasa lemas. Degup dadanya kian berdebar dan bibir terasa terkunci, entah harus berbicara apa.
Ketika pengantin masuk ke kamar, Hans menggendong Zara dan menempatkan pengantinnya perlahan ke tempat tidur. Zara terpesona dengan dekorasi kamar pengantin itu. Taburan bunga berbentuk hati tertata cantik di kasur beralaskan sprei warna putih, lilin aroma yang begitu harum, buah-buahan juga bunga segar nan cantik tertata manis di meja. Hans mulai membuka jasnya. Zara tertunduk malu. Hans mulai mendekati Zara dan berkata perlahan
“Assalamuallaikum, Sayaang …,” sapa Hans lembut sambil melempar sekuntum mawar ke pangkuan Zara.
“Waallaikumsalam, Mas” jawab Zara masih menundukkan kepalanya.
“Sayaang … tumben panggil aku Mas,” ujar Hans sedikit kaget.
“Aku ingin memanggilmu Mas karena kamu sekarang suamiku,” ujar Zara masih tetap menundukkan kepalanya. Perlahan Hans menggegam jari-jemari Zara.
“Sayaang … tatap mataku, ” pinta Hans lembut.
“Ya Mas.” Zara mulai mengangkat kepalanya dan menatap Hans di depannya.
“Ini adalah malam pertama kita. Hari yang sangat aku tunggu. Terima kasih sudah menerimaku menjadi suamimu. Aku bahagia banget, Sayaang,” ujar Hans lembut.
“Aku janji tidak akan berpaling pada wanita lain, akan menjagamu, selalu setia dan cinta sama kamu sampai maut memisahkan.”
“Mas … makasih juga ya udah memilihku jadi istrimu. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik dan bisa merawatmu, mengasihimu sampai maut memisahkan.”
“Sayaang … malam ini aku ingin memberimu kebahagiaan sebagai bukti cintaku padamu. Aku ingin merasakan desahan napasmu, rintihan-rintihan mu, eranganmu, bisikanmu .…”
Hans sudah mulai tak bisa mengendalikan dirinya.
“Mas … jangan membuatku makin dag dig dug gini deh! Kamu kok jadi genit sih?” ujar Zara gugup sambil cemberut. Hans mulai gusar, khawatir suasana jadi kacau.
“Sayaang … maaf ya, Mas bukannya genit. Sebagai suami wajar kan ingin memberikan kasih sayang pada istrinya. Pleasee jangan cemberut dong!” Hans merajuk.
“Yaa … aku … akuu duhhh gimanaaa ya? Malu banget. Mmm … duhh gimana kalo aku tidur di bawah aja ya Mas?” Zara tambah grogi.
“Jangan dong Sayaang, ini malam pertama kita. Kita sudah Halal, Sayaang. Masa iya aku tidur sendiri.” Hans mulai panik.
“Coba tarik napas dalam-dalam … keluarkan perlahan napasnya. Coba rileks Sayaang gak perlu gugup,” ujar Hans lembut.
Padahal Hans sendiri juga sama terlihat gugup. Zara menuruti kata-kata Hans. Menarik napas dan mengeluarkan napasnya perlahan sambil menutup matanya. Hans sudah mulai tidak bisa menguasai dirinya.H ans mulai mendekati bibir Zara dan menciumnya dengan lembut. Mata Zara terbuka, kaget Hans sudah mulai nekad menciumnya. Zara sangat menikmati cumbuan Hans tapi Zara mulai melepas perlahan ciuman Hans.
“Mas … aku mau ke kamar mandi dulu ya? Mau ganti baju,” ujar Zara pelan.
“Sebentar … Mas ada kejutan untukmu, Sayaang. Aku harap kamu suka ya?” ujar Hans mulai khawatir kejutannya akan membuat suasana jadi kacau.
Hans mengambil dus besar berbentuk hati di dalam tas dan menaruh kotak itu perlahan di tempat tidur. Mata Zara terbelalak melihat dus besar itu.Z ara pun akhirnya bersuara .…
“Mas … dus apa ini cantik banget bentuk hati. Mmm … gemesin ada pita dan bunga mawar nya juga nih,” komentar Zara sambil mengelus dus besar itu. Hans sengaja menaruh sekuntum bunga mawar segar di atas dus besar itu dan dihiasai ikatan pita yang cantik.
“Silakan dibuka dusnya, Sayaaang. Mudah-mudahan kamu suka,” ujar Hans sambil tersenyum.
Zara mulai membuka dus dengan menarik pitanya perlahan dan sekuntum bunga mawar ditaruh di pangkuannya. Hans mulai gusar, khawatir Zara jadi ngambek. Ketika dusnya terbuka … terlihat lingerie-lingerie cantik tersimpan rapi di dalam dus itu.
“Appp … apaaaa inii? Ya … ampuun ini lingerie!!” Zara setengah berteriak sambil mengangkat lingerie ke atas. Ditepisnya perlahan lingerie-lingerie itu dan ditaruh lagi di dus.
“Mas, maaf aku gak suka lingerie. Yaaa Allah …tipis banget bajunya, menerawang gitu. Akuu maluu pakainya,” ujar Zara lirih.
“Sayaang … maaf, Mas bukan bermaksud buruk. Mas hanya ingin melihatmu tampil beda, lebih cantik. Tak perlu malu … kita kan udah halal, Sayaang …” Hans berusaha membujuk istrinya.
“Mas tahu betul … malam ini untuk pertama kalinya kamu bersama pria di dalam kamar. Mas tahu Zara pasti malu, sungkan, gugup, cemas dan pasti rasanya campur aduk. Tapi tolong Sayaang, coba untuk tenang dan rileks …” ujar Hans sambil meraih jari-jemari Zara yang gemetaran. Zara masih terdiam dan menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
“Sayaang … Mas minta kamu pakai lingerie ini ya?” pinta Hans sambil berdoa dalam hati.
Zara mulai menghentikan gerakan kepalanya dan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Mas … maaf tadi cuma kaget liat lingerie. Aku memang gak suka lingerie. Baiklah aku mau pakai lingerie itu di kamar mandi. Sekalian mau mandi dulu ya terus ambil air wudhu?” ujar Zara pelan.
“Aku boleh pilih warna lingerienya gak?” tanya Zara.
“Boleh … boleh banget!!” ucap Hans bersemangat.
“Alhamdulillah, makasih ya Sayaang, makasih Cinta.” Hans kegirangan.
Zara beranjak dari tempat tidur sambil meraih lingerie warna merah. Hans membantu Zara mengangkat kebayanya yang menjuntai ke lantai. Sampai depan pintu kamar mandi, Hans menutup pintunya perlahan.
“Nanti kita salat Isya berjamaah ya, Sayaang,” ujar Hans. Zara menganggukan kepalanya.
“Yessss … akhirnya istriku mau pakai lingerie. Yuhuuuu … aku berhasil … aku berhasil.” Teriak Hans perlahan.
Zara masih tertegun berdiri di depan cermin di kamar mandi. Suara mamanya seakan terngiang di telinganya. Mamanya berpesan untuk tidak menolak ajakan suami karena itu dosa. Istri harus bisa membahagiakan suaminya. Zara menghembuskan napas satu per satu. Baju yang dipakainya dibuka dan Zara mengambil jas handuk warna putih yang ada di rak. Kemudian dia menggosok gigi di wastafel. Setelah itu Zara langsung melepas jas handuknya dan menyiram tubuhnya dengan air shower. Dia ingin tampil fresh di depan suaminya. Dipakainya piyama dan segera mengambil air wudhu, setelah itu langsung keluar dari kamar mandi.
“Lho … kok lingerienya gak dipakai, Sayaang …?” Hans mulai terlihat gusar.
“Kan kita mau salat dulu. Masa salat pake lingerie?” Zara tertawa pelan.
“Oh ya … Sayaang, tunggu ya Cantik. Aku juga mau mandi dulu,”ujar Hans sambil mengedipkan matanya.
Dua puluh menit kemudian Hans sudah mulai masuk kamar dan mereka salat berjamaah. Setelah itu dilanjutkan mengaji Al Qur’an bersama. Subhanalloh … alam pun bertasbih suka cita menyambut keduanya. Setelah selesai mengaji, Zara kembali meraih tangan Hans dan mencium tangan suaminya itu. Hans pun mengecup lembut dahi Zara dan membuka mukena yang dipakai Zara.
“Mas ... aku mo ganti baju dulu ya? Lingerienya ada di kamar mandi,” ujar Zara sambil merapikan mukena, sajadah, kain sarung dan peci milik Hans.
“Ya Sayaang … Mas juga mau ganti baju,” ujar Hans sambil mengelus rambut Zara yang lembut dan hitam.
Di dalam kamar mandi Zara kembali tertegun di depan cermin. Dibukanya piyama itu dan tubuh putih dan mulusnya terpampang di depan cermin. Zara mulai mendesah perlahan. Malam ini awal dari sebuah pernikahan, di mana tubuhnya, mahkota yang disimpannya baik-baik akan dipersembahkan untuk suaminya. Zara berharap malam ini bisa membahagiakan Hans. Dibukanya pintu kamar mandi perlahan. Di sana sudah terlihat Hans yang sedang duduk bersila dengan memakai piyama di tempat tidur. Zara berjalan perlahan menuju Hans dan dia masih memakai jas handuk.
“Lho kok pakai jas handuk?” tanya Hans sambil merentangkan tangannya.
“Aku udah pakai lingerie, Mas … tapi ya ditutup nih pakai jas handuk,” ujar Zara pelan.
“Buka dong Sayaaang jas handuknya!” ujar Hans manja.
Zara mulai membuka jas handuk dan menaruhnya di atas meja kecil. Terlihat tubuh Zara jelas terpampang di depan Hans. Kulit putih dan bagian dadanya bakal bengkuang yang ranum. Hans terpana melihatnya. Dia serasa bermimpi bertemu bidadari, dicubitnya lengan tangannya dan terasa sakit.
Berarti bukan mimpi! ujar Hans dalam hati.
“Subbhanalloh … Sayangku, kamu cantik banget. Seksi sekali Sayaang … sini mendekat Sayaang. Mmmm ….” Hans mulai merajuk manja.
Tak lama kemudian mereka sudah memadu kasih, mereguk manisnya cinta. Malam pertama ini membuat mereka sangat bahagia.
Dua hari kemudian Zara dan Hans akhirnya check out. Mereka berencana untuk menginap di rumah orang tua. Setelah acara menginap dan kumpul bersama dengan keluarga Zara, mereka langsung berangkat umroh selama 12 hari. Setelah itu lanjut honeymoon ke Maldives yang sangat romantis. Mereka sangat menikmati kebersamaan dan romantisme cinta. Zara sudah tak sungkan lagi pada Hans, berani menyatakan keinginan untuk memenuhi hasratnya. Itu adalah kejutan manis bagi Hans karena Zara sudah terlihat sangat bahagia