MOMENT HONEYMOON DAN HASIL TEST PACK

1285 Kata
Setelah selesai menikmati honeymoon, Zara dan Hans kembali sibuk dengan pekerjaannya. Keduanya masih menyimpan kerinduan. Selalu ingin mengulang momen manis selayaknya honeymoon kemarin. Seringkali ketika jam istirahat, mereka melampiaskan kerinduannya dan memadu kasih di hotel. Mereka menolak jam meeting di siang hari. Sore harinya barulah mereka melanjutkan pekerjaan di kantor dan pulang malam. Sering juga tiap malam mereka menginap di hotel. Dua bulan kemudian Zara dan Hans pergi melanjutkan honeymoon kedua di Turki. Paginya Zara merasakan mual dan pusing. Tak pernah Zara merasakan mual seperti itu. Ketika di cek test pack-nya, ternyata terlihat 2 garis merah. Mata Zara langsung terbelalak kaget. Yaa Alloh, aku hamil. Duhhh gimana dengan karierku? Apa aku gugurkan saja kandunganku ini?!! Zara berseru dalam hati. Zara menangis sendiri di kamar mandi. Zara tidak menginginkan kehamilan ini. Baginya ini akan menghambat kariernya meraih posisi tertinggi di kantor.  Hans terkejut mendengar Zara menjerit dan menangis …. “Sayaaang, ada apa? Kenapa  Sayang? Buka pintunya Sayaang!” ujar Hans gusar. “Diaaaamm Hans … aku mau sendiri di sini!” teriak Zara sambil menangis tersedu. “Yaa Allah, Sayaang kok kamu jadi kasar? Istighfar Sayaang … yuk kita bisa bicarakan baik-baik di sini,” ujar Hans tambah gusar. Di kamar mandi tidak terdengar tangisan Zara lagi. Didekatkannya telinga Hans ke dinding pintu, tak terdengar suara Zara, hening. Hans mulai panik dan semakin gusar. Zara memang tidak bicara dan duduk di lantai kamar mandi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebelumnya Zara memang sudah berusaha meminum obat-obatan untuk mencegah kehamilan namun ternyata takdir berkata lain. Zara mulai mengelus perutnya dan mengucapkan istighfar berkali-kali. Zara tidak mengerti kenapa kadang-kadang muncul kepribadian lain yang seolah masuk ke dalam jiwanya sehingga dia selalu ingin berteriak jika keinginannya tidak terpenuhi. Zara akhirnya keluar dari kamar mandi. Wajahnya kusut, mata sembab, membuat Hans semakin khawatir melihat kondisi Zara. “Sayaang … duduk di sini yuk! Ada apa sih Sayaang? Ada masalah apa?” tanya Hans pelan. “Maaf Mas, aaa … akuuuu tadi bingung dan berpikir apa aku siap atau tidak ya? Akuuuu … akuuu hamil, Mas, ” ujar Zara terbata-bata. “Alhamdulillah, Yaa Allah, akhirnya kita akan menjadi orang tua, Sayaaang,” ucap Hans sambil sujud syukur. Hans mengelus dan mencium perut Zara. Dia merasa sangat bahagia. Tapi kenapa Zara sepertinya justru terlihat sedih, tanya Hans dalam hati. “Mas … apa aku bisa menjadi ibu yang baik untuk anak kita? Sementara aku selalu sibuk di kantor,” ujar Zara dengan suara terbata.  “Sayaang, anak adalah anugerah dari Allah. Mas yakin kamu bisa menjadi ibu yang baik, bisa membagi waktu untuk pekerjaan dan anak kita,” ujar Hans lembut. “Kamu kan tahu kalo aku ingin sekali meraih posisi tertinggi di kantor. Aku belum merasa bangga dengan diriku sendiri. Rasanya belum merasa terlihat hasil jerih payahku belajar di sekolah dan kuliah,” ujar Zara panjang lebar. “Sekarang begini saja … kamu boleh bekerja selama kamu hamil. Kalo merasa lelah, sakit jangan dipaksakan bekerja ya? Aku gak akan menghalangi kariermu apalagi menghalangi niatmu untuk meraih mimpi.” “Tapi Mas … untuk meraih karier, aku butuh fisik yang kuat. Duhhh pasti aku akan alami mual, muntah, pusing. Itu yang akan menghalangi pekerjaanku.” Zara berkata dengan nada setengah tinggi. Hans kaget dengan perubahan sikap Zara yang semula lembut. Namun tetap berusaha keras untuk tidak membalas dengan nada yang tinggi juga. Sekarang Hans bisa memahami situasi kenapa Zara tidak menginginkan kehamilan. Masih tetap tersenyum, Hans menutupi hatinya yang sedih dan merasa sangat kecewa dengan sikap Zara yang bertolak belakang. “Sayaang, soal fisik, tak perlu menjadi beban. Mas akan memberikan yang terbaik untukmu. Mas akan belikan s**u hamil, suplemen yang terbaik untuk kehamilan dan masih banyak lagi. Demi kenyamananmu dan bayi kita. Jadi Mas yakin kehamilanmu tidak akan menjadikanmu lemah dan sakit. Nanti kita ke dokter kandungan yang terbaik, yaa Sayaaang.” Hans berkata dengan lembut seraya membelai rambut istrinya yang tampak kusut. Zara terharu mendengarnya. Merasa sangat bersalah pada Hans karena berpikir tak wajar soal kehamilan dan karier. Apalagi bersikap tidak menginginkan kehamilan dan merasa gagal menjadi istri yang baik. Zara bersyukur dan beruntung mendapatkan Hans, suami luar biasa sabar saat menghadapi sikap istrinya yang keras dan tak wajar. “Maaf atas sikapku yang kekanak-kanakan ini ya, Mas?” ucap Zara sambil memeluk erat Hans. Hans pun memeluk erat Zara. Tapi ada rasa khawatir jika Zara semakin tidak memperdulikan kehamilannya sehingga membuatnya semakin larut dengan pekerjaan. Hingga akhirnya janin yang dikandungnya lenyap. d**a Hans mulai sesak, rasa takutnya kian menjadi. Dia justru menginginkan kehadiran sang buah hati. Ingin ada tangisan bayi, bisa mengajak anaknya bermain dan lain sebagainya. Tapi Hans merasa bingung menghadapi Zara. Kalau disuruh berhenti bekerja tentu Zara akan sangat marah. Tapi kalau Zara bekerja pasti akan merasa sangat kelelahan, sedangkan kehamilan pertama harus dijaga dengan baik dan membutuhkan istirahat yang cukup. Hans tahu betul gaya Zara ketika bekerja di kantor. Tidak mengenal lelah dan senang berlama-lama di kantor dengan segudang pekerjaan. Lantas bagaimana mungkin kondisi janin bisa dibilang baik-baik saja jika ibunya sangat aktif bekerja. Hans tidak menemukan solusi, semua terasa buntu. Hans hanya bisa berdoa semoga Zara bisa melupakan keinginannya meraih mimpinya sehingga bisa fokus dengan kondisi kehamilannya dan menjaga janinnya dengan baik. Hans tidak bisa memejamkan matanya saat Zara sudah tertidur pulas.Hans semakin takut terjadi sesuatu yang buruk pada Zara dan calon buah hatinya. Hans teringat kembali perkataaan Zara yang selalu berulang kali menginginkan posisi tertinggi di kantornya. Teringat juga Zara yang seakan memiliki kepribadian yang berbeda. Terkadang diam, ramah, menyejukkan hati tapi di lain waktu bisa emosi tinggi jika keinginannya tidak terkabul. Kembali Hans menatap wajah istrinya. Rasa cinta dan sayang Hans tak pernah padam meskipun ada sisi lain dalam diri Zara yang tidak disukainya. Lelah berpikir akhirnya Hans tertidur pulas. Setelah selesai honeymoon di Turki, Zara dan Hans kembali pulang ke tanah air. Hans sudah merancang sesuatu untuk Zara dan buah hatinya sehingga nantinya berharap istrinya itu akan merasa nyaman dan fisiknya kuat. Setelah sampai di Bandara Soekarno Hatta, Zara ingin mampir ke restoran Sunda. Entah kenapa Zara tiba-tiba ingin makan masakan Sunda. Hans memaklumi kondisi Zara yang sedang ngidam. Akhirnya mereka langsung meluncur ke restoran Sunda. Dengan lahapnya Zara makan sayur asem, ikan teri kacang balado,dll. Setelah selesai makan, Hans mengajak Zara ke supermarket untuk membeli s**u hamil, vitamin, buah-buhan dan lainnya. Tak lupa Hans membeli ikan laut dan udang. Hans ingin memasak masakan kesukaan Zara. Bagi Hans pengeluaran untuk belanja membengkak tak jadi masalah asaldia bisa memberikan yang terbaik untuk istri dan janin yang dikandung Zara. Bu Halimah dan Pak Imam juga orang tuanya Hans sangat bahagia mendengar kabar baik ini. Mereka tak sabar ingin menimang cucu dari Zara dan Hans. Ingin rasanya mereka memeluk dan mencium Zara dan mengucapkan selamat atas kehamilannya.Hans berjanji dalam hatinya untuk tidak menceritakan kejadian yang menimpa pada diri Zara. Dia tidak ingin mereka menjadi khawatir memikirkan kondisi Zara dan calon cucunya. Ucapan selamat mengalir dari kedua orang tua Zara dan Hans, sahabat keduanya, rekan kerja dan semua kerabat. Tiap pagi Zara merasakan mual dan muntah, tidak selera makan dan inginnya makan buah yang rasanya asam. Tentu hal ini bagi Zara sangat mengganggu pekerjaannya di kantor. Zara sering izin ke toilet jika meeting sedang berlangsung dengan bos juga klien asal Jepang. Sebenarnya si Bos sudah menyuruh Zara untuk ambil cuti agar bisa istirahat di rumah tapi dia menolak. Seringkali Zara menangis di toilet kantornya karena kesal telah merusak suasana meeting penting. Zara berusaha untuk menahan rasa mual tapi gagal. Akhirnya, Zara mulai minum air putih hangat, pil anti mual dari dokter juga menyantap biskuit. Zara berharap meeting kali ini lancar dan tidak lagi merasakan mual. Alhamdulillah meeting bisa berjalan lancar. Bos pun tersenyum puas dengan hasil kerja Zara yang sudah menjalani presentasi dengan baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN