Fakharuddin Attar scene

1367 Kata
‘Despacito, nanannanana.’ Suara dering ponsel bergema menandakan ada panggilan masuk. Semua orang yang berada di sana melirik ke arah sang empu ponsel, sedangkan sang pemiliknya masih saja stay cool seolah tak terpengaruh dengan nada dering tersebut. Masih sama dengan posisi yang tadi, duduk diam sambil membaca berkas-berkas yang hari ini menjadi bahan meeting mereka. Dengan gerakan santai, sang pemilik ponsel mengambilnya, melihat siapa yang tengah menghubunginya, kemudian me-rejeck panggilan tersebut. Menaruhnya kembali dengan ekspresi biasa, datar. Lain di muka, lain di hati. Jika di muka dia seperti tidak terpengaruh dengan nada dering tersebut, lain hal dalam hatinya, dia mengomeli orang yang berani mengubah nada deringnya tersebut, siapa yang berani berbuat jail terhadapnya? Tidak ada! Kecuali satu orang. Ihsan Fatahillah, putra kecilnya yang mempunyai IQ 3 kali lipat dari otak anak-anak pada umumnya. 'Despacito, nanananana.' 'klik'  nada dering itu terdengar kembali, namun kali ini sang empu langsung me-rejecknya, lalu menonaktifkan ponselnya. Dia amat yakin, bahwa para bawahannya yang ikut serta meeting hari ini tengah menahan tawanya. Bayangkan saja! CEO mereka adalah putra laki-laki satu-satunya dari keluarga besar bermarga Al Ghifari. Marga Al Ghifari adalah nama keluarga besar yang sudah dikenal jutaan orang, apalagi di daerahnya sendiri, Bululawang. Malang. Marga Al-Ghifari ini terkenal dengan sikap sopan serta santunnya, dan sekarang sang pangeran mahkota Al Ghifari, Fakharudin Attar Al Ghifari menyukai lagu barat tersebut? Mungkin tak heran bagi sebagian kalangan masyarakat menyukai lagu tersebut, tapi lain halnya dengan dirinya. Keluarganya terkenal dengan Agama yang sangat baik. Meskipun jika memang dia benar menyukai lagu tersebut, tapi akankah lebih baik hanya dirinya saja yang tahu, tak perlu dijadikan nada dering segala. "Ekhem, presentasi berikutnya!" titah Fakhri. "Baik Gus Fah---" "Panggil saya sebagaimana mestinya! Di sini bukan lingkungan keluarga Saya." Perkataan Lukman, sekretarisnya terhenti, karena Fahri memotongnya. Mendengar penuturan Bos besar mereka, semua yang berada di dalam ruangan meeting tersebut menundukan kepalanya, ada arti tersendiri dalam perkataan itu. Seolah menegaskan. 'Jangan selalu mencampuri urusan orang lain' karena mereka sangat yakin bahwa bosnya itu tahu bahwa mereka tadi sempat menertawakan nada dering tersebut. Lukman mengangguk, lalu kembali berucap. "Mohon maaf, Pak. In syaa Allah saya akan mengingatnya. Jadi ... presentasi kali ini adalah blablablabla ...."     *** "Halo Assalamu'alaikum," sapa Fakhri. "Halo Papa, wa'alaikumussalaam." "Ada apa tadi kamu nelpon Papa?" "Fatah nelpon Papa dari kemarin, tapi ponselnya tak aktif terus, lalu Fatah coba lagi tadi siang dan Papa me-rejecknya." Fakhri yakin bahwa putranya di sana tengah cemberut. "Papa kemarin lupa charger ponselnya," jawabnya singkat. "Apa Papa marah sama Fatah?" Peka juga ternyata putranya, Fakhri mengulas senyuman tipis. "Marah? Apakah kamu membuat kesalahan terhadap  Papa?" Bukannya menjawab, dia malah balik bertanya. "Fatah yakin, Papa mengerti maksud Fatah," lirih Ihsan pelan. "Oke! Sekarang bisa kamu jelaskan apa maksudnya?" "Kemarinkan Fatah ingin ikut Papa, tapi Papa gak izinin, karena Fatah marah sama Papa, Fatah ganti nada deringnya di ponsel Papa. Fatah yakin Papa gak suka ringtone itu, jadi menurut Fatah, kita impas." "Maaf, Gus! Papa gak ajak kamu, karena pekerjaan yang sekarang lebih menyita waktu, Papa takut kamu akan bosan." "Iya, sekarang Fatah maafkan, asal Papa bawa oleh-oleh." "Oke." "Tapi ... Fatah ingin jam tangan terbaru, Pa." Fakhri mengerutkan dahinya, "Kamu mau pakai jam tangan?" "Bukan buat Fatah." "Lalu?" "Emmm ... buat ... buat ... Oia, Papa beliinnya dua, ya!" "Buat siapa aja? Banyak banget, Gus." "Yang satu buat kak Dina, yang satunya lagi buat tante Rifa, warnanya pink sama putih ya, Pa! Dan lagi Papa beliin sepatu warna biru buat kak Dina! Fatah biar gak dikasih apa-apa juga, asalkan Papa beliin yang tadi Fatah sebutkan, ya!" Fakhri semakin heran, dan semakin yakin bahwa ada sesuatu yang ganjal di sini. "Kenapa kak Dina mendapatkan oleh-olehnya dua, sedangkan tante Rifa hanya satu, bukankah itu namanya tidak adil, Gus?" "Emmm karena … karena ... kak Dina adalah orang yang paling sering jagain Fatah, Pa. Fatah juga sering mendengar, bahwa kak Dina selalu mengeluh capek. Itu sebabnya Fatah ingin beri kak Dina dua hadiah." Fakhri mengangguk, walau anggukannya tidak akan dilihat putranya. "Baiklah, Papa akan belikan sesuai keinginanmu." "Terimakasih, Pa." "Hmm, sama-sama. Sekarang katakan kenapa kamu nelpon Papa?" Ada jeda waktu, sebelum Ihsan menjawab pertanyaan ayahnya. "Sebenarnya … Fatah mau cerita." "Ceritakanlah!" "Kemarin Fatah dilempari tepung terigu." Fakhri mengernyit tak mengerti, “Dilempari terigu?" "Iya Pa. Fatah gak bohong! Seluruh badan Fatah putih semua, persis buah kesemek." Fakhri tertawa mendengar pengaduan putranya. "Papa kok malah ketawa, sih? Fatah kan serius," rajuk Ihsan sedikit sarkas. "Maka Papa akan mengucapkan terimakasih padanya, karna telah membalas perbuatan jail kamu. Ingatlah, Gus! Setiap perbuatan pasti ada balasannya." "Papa ish." "Haha, maafkan Papa! Lalu siapa yang berani melakukan aksi ekstrem itu terhadap putra Papa, hmm?" "Dia adalah santriwati yang baru kemarin masuk, Pa. Kemarin pas Papa pergi, tak lama dari situ, ada nona muda menemui nenek dan kakek. Dia bermaksud untuk menjadi santriwati di pondok kakek." "Terus!" titah Fakhri, karena putranya tidak melanjutkan ceritanya. Dia yakin kalau ada alasan di balik cerita putranya itu. "Ketika itu, Fatah masuk keruang tamu, hendak menghampiri nenek, tapi tanpa diduga si nona itu melemparkan tepung terigu ke badan Fatah, lalu Fatah marahin dia, sudah." Meski belum faham dengan cerita Ihsan, namun Fakhri tetap mengikuti alur yang sedang dibuat putranya itu. "Hanya itu?" "Iya, Pa. Oh tenang saja, nanti Fatah beri hukuman dia. Papa tenang saja!" Fakhri menghela nafasnya, bukan itu maksudnya, tapi ... "Ingat, Gus! Jangan memberikan hukuman di luar batas perbuatannya!" Untuk kali ini, Fakhri membiarkannya saja. "Kalau begitu, Fatah pamit dulu ya, Pa!" "Baiklah, jangan nakal, ya! Kasian kak Dinanya." "Tafadhdhol, Syeikh." "Assalamu'alaikum, Jagoan." "Wa'alaikumussalaam, Papa." Fakhri menutup ponselnya, lalu mendial no ibunya. "Assalamu'alaikum." Panggilannya diangkat setelah nada tunggu ke tiga. "Wa'alaikumussalaam, Umi, gimana kabarnya?" "Alhamdulillaah, Umi sekeluarga sehat di sini. Ada apa Gus telpon Umi?" "Apa Fatah merepotkan Umi?" "Sama sekali tidak, Umi senang Fatah di sini." "Lalu apakah kemarin ada kejadian terhadap Fatah, Umi?" "Kamu kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" "Aku hanya merasa telah terjadi sesuatu terhadap Fatah kemarin." Terdengar ibunya menghela nafasnya. "Kamu memang ya ... begini kemarin Fatah tidak sengaja menyenggol air mendidih--" "APA?" Fakhri tak sadar telah memotong ucapan ibunya dengan suara keras. "Dengarkan Umi dulu, Gus! Umi akan ceritakan semuanya sampai selesai." "Maaf Umi. Aku tadi sangat kaget." "Gapapa, Gus. Umi mengerti. Jadi begini, blablabla, …."  Sang ibu menceritakan kejadian yang sebenarnya sampai selesai. "Kalau begitu syukurlah, mohon maaf ya, Mi. Aku merepotkan Umi, apalagi dengan sikap Fatah yang sulit diatur." "Umi gak merasa direpotkan, Gus. Cuma kalo dipikir … apakah kamu belum ada niatan untuk mencari ibu bagi Fatah, Umi hanya kasihan sama Fatah, mungkin kamu tidak merasakan bahwa dia sebenarnya merasa kesepian." Fakhri menghela nafasnya, selalu ada rasa tak nyaman bila sudah membicarakan masalah ini. "Akan Aku pikirkan Umi." Hanya itulah yang bisa ia ucapkan sebagai jawaban. "Ya sudah, maafkan Umi jika perkataan Umi membuatmu tak nyaman, tapi Umi benar-benar memintamu agar benar-benar memikirkannya!" "In syaa Allah, Umi." "Ya sudah, Umi pamit dulu. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumussalaam." "Aahhhh." Fakhri menghembuskan nafasnya, termenung memikirkan apa yang diucapkan ibunya. Salma adalah mendiang istrinya. Sebenarnya Fakhri dan Salma bukanlah pasangan pasutri dari hasil pacaran, mereka menikah karena dijodohkan. Salma adalah Santriwati paling pintar dan baik, awalnya Salma ke ponpes Al Zamil karena ibunya mengangkatnya sebagai anak, Salma adalah gadis yatim piatu dari korban Tsunami Aceh beberapa tahun silam, lalu ibunya mengadopsinya. Masa awal pernikahan, Fakhri belum bisa mencintai istrinya, tapi walau begitu, Fakhri memperlakukan Salma dengan sangat baik. Cinta Fakhri tumbuh, ketika istrinya telah melahirkan putranya, hidup mereka bahagia, sampai Takdir Allah berkehendak, Salma meninggalkan dunia saat Fatah menginjak usia 1,5 tahun. Karna sebuah penyakit yang terlambat mereka ketahui. Dan sampai saat ini Fakhri belum ada kepikiran untuk menikah lagi, terlebih putranya Fatah yang selalu bersikap posesiv terhadapnya. Fakhri selalu merasa cukup dengan kehidupannya yang sekarang, hidup dengan putra tercintanya berdua. Fakhri tak pernah berfikir apa yang ibunya katakan tadi. 'Umi hanya kasihan sama Fatah, mungkin kamu tidak merasakan bahwa dia sebenarnya merasa kesepian.' Fakhri menghela nafasnya sekali lagi. 'Apakah benar putranya kesepian?' Mengingat sang putra, bibir Fakhri tiba-tiba terangkat, putranya memang yang terbaik. Meski orang menilai bahwa putranya adalah replika dirinya, tapi Fakhri berani mengakui kalau putranya adalah yang terhebat. Sekarang dia sudah mengerti dengan permintaan putranya tentang oleh-oleh itu. "Kamu, Gus," gumam Fakhri sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "Papa sangat menyayangimu." Setelah itu, Fakhri mendial no seseorang. "Assalamu'alaikum. Tolong belikan saya jam tangan terbaru yang cocok untuk adik saya dua unit, warna pink dan putih, serta sepatu model baru ukuran kaki Dina warna biru. Saya ingin sebelum kita kembali ke Indonesia, barang itu sudah ada, Assalamu'alaikum." Tanpa menunggu persetujuan di seberang sana, Fakhri menutup telponnya. Setelah memutuskan telponnya, Fakhri mengangkat kepalanya menghadap langit-langit kamar hotelnya. "Siapapun dirimu, saya ucapkan terimakasih, karena telah menolong putra berharga saya," gumamnya lirih dengan mata terpejam.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN