Gus Ihsan vs gus Arfan

1053 Kata
"Aaahh." Mila melenguh sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. Dia baru saja mendapat tugas patrol yang selalu seluruh santri kerjakan. Sebenarnya, Mila masih diberi keringanan oleh pihak Pesantren, yaitu tidak harus ikut patrol. Karena Mila masih berstatus santri baru. Sebab Mila baru seminggu bermukim di sana. Menempati Asrama B. Namun, Mila tidak biasa dengan orang lain yang tengah bekerja, sedangkan dirinya hanya melihatnya saja, akhirnya dia memaksa agar teman-temannya mengajaknya untuk bergabung. Asrama putri Pondok Pesantren terbagi dua Asrama, yaitu Asrama A dan B. A, untuk Santriyah yang menuntut ilmu ganda *mengaji serta bersekolah. Sedangkan Asrama B, untuk Santriyah yang hanya mengaji saja.   Sebenarnya, Pak Yai tidak membedakan antara Asrama A dan B, itu terbukti pada jenis bangunan yang sama, begitupun dengan penghuninya. Namun namanya juga sifat Manusia, selalu ada pribahasa, pandai-pandailah dalam bergaul! Mana yang layak menjadi teman, dan mana yang tidak. Namun sayang beribu sayang, Manusia menerapkannya di posisi kurang tepat. Memang, Agama selalu menasihati kita untuk pandai-pandai bergaul, yaitu carilah teman yang dapat membawa kita menjadi lebih baik, ilmu dan akhlaqnya. Tapi Manusia selalu menerapkan Metode itu dalam hal Duniawi saja. Dari cerita Dina(cucu Pak Yai) bahwa Pak Yai selalu menghimbau, dan menasihati adanya arti memilih teman tersebut. Bahkan, pernah dimana masa itu, Pak Yai mencampurkan seluruh Santri dari berbagai kalangan. Memang, tidak ada kasus pembullyan yang terjadi. Namun, karena keadaan tersebut, sering kali membuat Santri dari kalangan tengah ke bawah, menjadi merasa tidak percaya diri. Dan itu, kemungkinan terjadi karena beberapa faktor. Satu, karena Santri bermarga konglomerat yang agak risih dengan Santri bermarga buruh, karena sudah terbiasa bergaul dengan kalangan sepadannya. Atau … dua, karena Santri bermarga buruh terlalu menyikapinya dengan rendah diri. Sehingga, selalu timbul sifat tak nyaman dalam dirinya. Itulah kenapa Pak Kyai mengambil tindakan demikian. Namun, meski tentang Asrama mereka dibedakan. Tapi tetap saja, peraturan Pesantren semuanya harus mengikuti, tak ada pengecualian. Bahkan sanak keluarga Pesantren juga yang sedang menjadi Santri di sana, harus mentaati peraturan tersebut, termasuk Dina yang notabene cucu pemilik Pesantren sekalipun. Contohnya, berbagi Patrol(tugas) kebersihan dan konsumsi. Tidak ada yang namanya anak Presiden, juga tidak ada yang namanya anak buruh tani, semuanya kebagian tugas tersebut. Setiap Asrama terbagi 20 kamar, dan setiap kamar, terdiri dari tujuh penghuni. Nah, anggota Patrol sesuai dengan urutan penghuni kamar masing-masing. Setiap hari ada enam kelompok ‘patrol’ dari dua Asrama, tiga dari Asrama A, dan tiga lagi dari Asrama B, enam kelompok tersebut di bagi lagi tiga kelompok untuk berbagi tugas. Ada yang bagian membersihkan rumah Pak Yai juga keluarga Pesantren, ada yang bagian di dapur, untuk membuat makanan para santri sendiri, ada juga yang membersihkan pekarangan dan halaman sekitar Pesantren. Peraturan yang Pak Yai buat, adalah bermaksud agar semua Santri mempunyai sifat tanggung jawab, dan tidak selalu bergantung pada orang lain. Nilai plusnya adalah agar semua Santri mempunyai bakat yang selalu perempuan butuhkan ketika kelak sudah berumah tangga. Seperti memasak, mencuci, menyapu dan sebagainya. Bahkan setiap dua minggu sekali, selalu diadakan cooking class yang dipandu khusus oleh bu Nyai sendiri. Kecekatan Mila dalam melakukan tugas bersama teman sekamarnya, membuat temannya itu percaya, bahwa Mila bermarga sama dengan mereka. Yaitu dari kalangan keluarga biasa. "Ekhem, Assalamu'alaikum, Mbak!" Mila berjingkat kaget, mendengar seseorang yang sepertinya tengah menyapanya itu. Hampir saja dia tersungkur, karena saat mendengar suara seseorang, Dia hendak berjongkok untuk mencabuti rumput-rumput di samping Asrama Putri. Mila menoleh kebelakang, lalu dia menunduk, ketika tahu siapa orang di hadapannya.  "Wa'alaikumussalaam, Gus Arfan," jawabnya pelan. Arfan tersenyum, melihat kecanggungan Mila yang begitu kentara. "Gimana suasana di sini? Apakah Mbak Mila kerasan?" tanya Arfan. Mila mengangguk kecil, "Alhamdulillah, Gus. Saya merasa nyaman di sini." "Syukurlah kalau begitu, Saya ikut senang mendengarnya." "Terimakasih, Gus."  "Oia. Sebenarnya, saat Saya lewat sini, dan kebetulan  melihat Mbak Mila di sini membuat Saya teringat sesuatu." Mila mendongakkan kepalanya menatap Arfan sebentar, sebelum menundukan kepalanya kembali. "Saya dimintai oleh teman Mbak Mila yang kemarin Saya telpon meminta Mbak Mila agar segera mengaktifkan ponsel Mbak Mila." Mila memicingkan matanya. "Mohon maaf, Gus. Apakah anda menyimpan nomor teman Saya?" selidik Mila. Arfan bertingkah kelabakan mendapat pertanyaan tersebut, membuat Mila semakin memicingkan matanya. "Itu … teman Mbak Mila kemarin yang menelpon Saya, dan katanya, sudah seminggu ini, Mbak Mila belum mengaktifkan ponselnya," jawab Arfan dengan tenang, walau Mila menemukan sedikit keganjalan. 'Bukankah, Ning Rifa kenal dengan Zahra? Lalu, kenapa Zahra harus menghubungi Arfan untuk menghubunginya? Apa … jangan-jangan Arfan ini adalah gebetan Zahra selama di sini? Sehingga Zahra mengambil kesempatan dalam kesempatan?' ucapnya dalam hati. "Terimakasih, Gus Arfan atas pesannya, saya akan menghubungi teman Saya segera," ucap Mila sambil tersenyum. Mila tak mau berpikiran buruk tentang orang lain, apalagi pada sahabatnya itu. Memang itu karna salahnya sendiri, setelah dia memperkenalkan dirinya pada teman sekamarnya. Mila tidak berani mengeluarkan ponselnya, setelah mendengar pertanyaan teman-temannya tentang kedudukan Marga keluarganya. Mila tidak ingin, kalau teman sekamarnya itu, merasa tak nyaman dengan dirinya. "Astagfirullah." Mila tiba-tiba menjerit sambil melompat, ketika merasakan ada sesuatu di kakinya. Arfan yang memang keberadaannya tak jauh dari posisi Mila, ikut berjingkat kaget dan refleks mendekati Mila. "Ada apa? Mbak Mila gapapa?" tanya Arfan kuatir. "I-i-i-itu." Mila menjawab Arfan dengan menunjukan sebab dirinya menjerit. Arfan menoleh kearah yang ditunjuk oleh Mila. Seketika tawa renyah keluar dari bibir pria itu, setelah melihat apa yang ditunjuk Mila. 'Takut belalang? Yang benar saja!' Mendengar Arfan yang tengah menertawakannya. Mila tak sadar mengerucutkan bibirnya. Tak jauh dari sana, sepasang mata melihat adegan tersebut. Mata hitam beningnya menatap tajam, laksana tatapan sang raja hutan yang sedang mengintai buruannya. Di tangannya, tergantung kantong keresek yang berisi sesuatu yang membuat perut keroncongan dengan hanya menghirup aromanya saja. Seketika tangan itu dia sedekapkan di depan dadanya, sambil mendengus dan bergumam, "Huh, dasar, nona terigu yang genit," dumelnya sambil terus menatap ke arah di mana Mila dan Arfan berada, “awas saja jika papa pulang nanti,” lanjutnya sambil berbalik. "Gus Ihsan, sedang apa Gus di sini?" Baru saja akan melangkah, Ihsan kembali membalikkan badannya saat seseorang menegurnya. "Saya bermaksud mencari belalang sebanyak mungkin," jawab Ihsan tenang. "Buat apa, Gus?" tanya seseorang yang tak lain adalah teman sekamarnya Mila. Anisa. "Pingin saja, dan, …" Ihsan menggantungkan kalimatnya, tangannya hendak menunjuk ke arah Mila yang sekarang sudah sendirian kembali. 'Heh, kemana om Arfan sok ganteng itu?' tanya Ihsan dalam hati. Kepalanya dia dongakkan ke kanan dan ke kiri. "Maaf Gus, dan …?" tanya Anisa, sebab dari tadi dia menunggu lanjutan kalimat Ihsan, tapi gak lanjut-lanjut. Ihsan menoleh kembali kearah Nisa, "Dan ... Saya ingin nona itu yang harus mencarinya," jawabnya sambil menunjuk ke arah Mila dengan senyuman misteriusnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN