"WAAMMAA INKAANA MINALMUKADZDZIBIINADLDLOOLLIIN, FANUZULUM-MIN HAMIIMIN-WATASHLIATU JAHIIM, INNA HAADZA LAHUA-LHAKKUL YAQIIN, FASABBIH BISMI ROBBIKA-L'ADHZIIM, SHODAQOLLOOHU-L'ADHZIIM," seorang santri mengakhiri hafalannya. Fakhri segera beranjak dari duduknya, meski masih banyak santri yang belum menyetorkan hafalan, dia tetap melangkah keluar. Karena dia yakin, tidak ada lagi yang akan menyetorkan hafalan kepadanya. Entah mengapa, setiap ada penyetoran hafalan, baik itu dari hafalan Al Quran, atau dari hafalan Kitab, Fakhri tak pernah banyak menerima setoran dari santri. Banyak juga desus yang beredar, bahwa santri yang punya nyali besarlah, yang akan sanggup menyetor hafalan kepadanya. Mereka selalu merasa takut, jika melakukan kesalahan. Padahal, semuanya juga belum pernah ada yang

