Fakhri sedang duduk di kursi ruang tamu rumahnya, dia baru saja pulang dua puluh menit yang lalu. Pekerjaan di kantor memang sedikit padat hari ini. 'Tuk-tuk-tuk' suara ketukan yang tercipta dari jarinya dan meja di samping kursi yang didudukinya. "Ekhem, Astagfirullah ...." Fakhri beristigfar. Tanpa sadar, dia terus saja tersenyum dari tadi. Padahal tidak ada sesuatu yang lucu di sana. Fakhri menggelengkan kepalanya, kenapa dia jadi begini? Tersenyum-senyum sendiri, kadang rona merah terpancar di wajahnya tanda permisi. Macam orang yang sedang jatuh .... “Astagfirullah, Fakhri. Tenanglah! Kenapa kau gugup sekali? Sadarlah dengan umurmu! Kau bukan Abege lagi.” Fakhri terus saja memberi wejangan pada dirinya sendiri. "Tuan, apakah anda sedang menunggu seseorang?" suara Mbok Sum mengint

