"Lalu, kenapa papa melanggar janji papa?"
Fakhri sangat terkejut dengan pertanyaan jebakan yang diberikan oleh putranya. Dalam hati bertanya, ada apa dengan mood putranya itu.
Memang kepulangan Fakhri dua hari yang lalu harus tertunda karena ada suatu masalah dalam pekerjaannya, yang mendadak harus diselesaikan tanpa bisa ditunda lagi.
Namun, meski begitu. Fakhri kemarin lusa memberi kabar pada Ihsan dan putranya pun mengizinkannya. Lalu sekarang, kenapa putranya mendadak uring-uringan seperti itu?
“Apakah ada yang mengusik moodnya? Siapa orangnya?” batin Fakhri terus bertanya.
Wajar, jika Fakhri merasa heran, karena selama ini belum ada yang dengan gampangnya mengubah suasana perasaan putranya. Bahkan dirinya pun tidak. Meski orang lain selalu mengatakan bahwa Ihsan adalah sosok anak yang gampang marah. Tapi kemarahan putranya saat ini, sangat berbeda dari biasanya. Seperti ada rasa kesepian yang mendalam.
Fakhri mencoba berbicara dengan selembut mungkin. "Gus, kan Papa sudah kasih tahu alasannya dan sudah meminta izin. Apakah kamu lupa?"
"Tapi … Papa gak bilang kalau pulangnya bakalan lama. Kalau tahu Papa sampai hari ini gak pulang, mana mau Fatah izinkan."
Fakhri menghela nafasnya. Putranya itu, meskipun dengan perasaan seperti itu, tapi tetap saja soal adu bicara gak akan pernah kalah.
"Pa, kapan Papa pulang? Fatah ingin Papa pulang."
"Papa pulang lusa, In sya Allah. Sekarang, Gus harus tidur siang, Papa akan bekerja kembali, Okey!" Tak ada jawaban, Fakhri sampai melihat kembali ponselnya. Masih tersambung.
"Halo, Gus, kamu dengar Papa?" tanya Fakhri kembali.
" Hiks, Papa kapan pulang?"
Fakhri terhenyak mendengar isakan Ihsan dari seberang sana. Putranya menangis.
'Klik'
"Ha-halo Gus, halo." Fakhri mencoba mendial nomor yang dipakai putranya itu. Nomor Dina.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak akt—"
"Astagfirullah. Ada apa sebenarnya dengan Fatah?" Fakhri mengacak rambutnya frustasi. Mengambil ponselnya kembali, mendial nomor seseorang, "Rapat dimajukan lima belas menit kemudian. Saya, tak ingin mendengar penolakan."
'klik'
Tadinya, Fakhri akan keluar untuk mencari makan siang. Namun, tiba-tiba putranya menelpon dan berbicara dengan inotasi kata yang sangat tidak enak dirasakan Fakhri.
"Maaf Pak, makan si--"
"Mundurkan jam makan siangnya, kita akan rapat lima belas menit lagi!" titah mutlak sang pemimpin memotong ucapan sang sekretaris.
Lukman, meski merasa kaget, namun apalah daya kepalanya tetap berangguk-angguk laksana hiasan di dalam mobil.
Suasana di kantin kantor sangat riuh dan ramai, apalagi yang sudah memesan bakso dan nasi kuah. Bagaimana kabarnya nanti jika harus ditinggal Rapat? Kebayang sekali mungkin itu sudah kaya cacing kalung.
Kegaduhan tersebut masih terdengar, meski pihak keamanan dan ketua staff sudah memperingati. Mereka sangat takut terhadap Fakhri. Terlebih, sepertinya mood sang CEO sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Suasana kantin yang tadinya seperti pasar ikan, mendadak hening setelah kedatangan CEO mereka. Fakhri masuk ke ruangan kantin dan berdiri tepat di hadapan para karyawannya. Tak menghiraukan gerakan w*************a yang sialnya menjadi karyawannya di kantor ini.
"Dengar, kita akan mengadakan rapat lima belas menit lagi, bersiap-siaplah! Soal makanan yang sudah kalian pesan, saya yang bertanggung jawab. Jika sudah faham, maka saya tidak suka harus menunggu." Padat, singkat dan bossy. Suka memerintah, tanpa terima penolakan.
Suara hembusan nafas serentak terdengar di segala arah. Sepertinya, tidak ada yang bernafas, selagi Bos besar mereka berbicara.
Fakhri terus berjalan. Berbagai protesan bahkan umpatan telah didengarnya. Namun, dirinya tak peduli. Yang ia pedulikan sekarang adalah bagaimana caranya agar cepat pulang, dan segera bertemu dengan putranya.
Sementara di PONPES Al Zamil.
Dina menganga, mulutnya terbuka lebar. Matanya melotot menyaksikan pemeran sinetron di hadapannya. “Benar-benar si jago acting,” batinnya.
Di sana, di hadapannya, Ihsan baru saja menelpon ayahnya dengan kosa kata dan nada yang sangat menjanjikan.
Bahkan, jika saja dia tidak melihat seringai di mulut kecil itu ketika selesai mengucapkan tiap kata-perkata, mungkin saja dirinya sudah terjerumus dalam keharuan. Menangis kejer melebihi tangisan seseorang yang ditinggal kawin oleh kekasihnya.
Dina terus menggelengkan kepalanya, sedangkan si pemeran utama tengah tersenyum sambil melihat layar ponselnya yang sudah mati.
Tak lama, Ihsan tertawa cekikikan, "Hihi, tenanglah Nona terigu. Mari kita buktikan siapa yang lebih memesona, huahahahah." Ihsan menirukan suara tertawa seorang penjahat yang ditontonnya semalam bersama Dina.
Sepertinya, Dina harus hati-hati mengajak Ihsan nonton apapun. Karena, semua yang pernah dia tonton, selalu dipraktekan. Sepeti barusan.
"Dek, kamu?"
"Kamu apa Kak?" Ihsan dengan polos balik bertanya.
Dina menggeleng sekali lagi. "Kenapa Adek nelpon papanya dengan suara seperti itu?"
"Karena Fatah mau segera papa pulang," jujur Ihsan.
"Tapi, suara Adek dan kata-katanya, bisa saja membuat papa kamu khawatir, kan?"
"Tenang, Papa Fatah kuat kok. Fatah juga kuat, Papa masa loyo,"
Dina menghembuskan nafasnya. Sangat salut pada omnya itu. Mengurus Ihsan sendirian dengan kelakuan ajaibnya itu.
***
"Assalamu'alaikum, Ning Rifa!" Mila menghampiri Rifa yang sedang menyiram bunga di halaman rumah kakaknya.
"Wa'alaikumussalaam Mbak Mila." Rifa menjawab sapaan Mila, sambil menaruh penyiram tanaman.
"Apa Gus Ihsan ada, Ning?" Mila bertanya.
"Fatah sedang mandi sore Mbak, mari ke dalam," ajak Rifa tapi langsung ditolak Mila secara halus.
"Gak usah merepotkan Ning Rifa, terimakasih sebelumnya. Saya di sini saja," jawab Mila. Bukan tanpa alasan Mila menolak ajakan Rifa, dia sudah mendengar dari selentingan bibir teman mengajinya, bahkan teman sekamar, tentang kepribadian ayah Ihsan.
Sudah menjadi buah, bahkan cemilan di setiap bibir para santriwati tentang Gus satu ini. Terkenal cuek dan perfectionis. Selalu bersikap datar dan tenang, persis seperti putranya, gus Ihsan.
Jika semua santriwati memposisikan gus Fakhri ini sebagai urutan orang paling diincar. Maka, Mila bertekad dirinya akan memposisikan gus Fakhri ini sebagai urutan orang yang paling dihindari.
Entah mengapa, mendengar bahwa sifat dan sikap gus Ihsan adalah replikasi dari ayahnya, gus Fakhri. Mila memastikan bahwa ayahnya akan lebih mengerikan dari pada putranya.
Tak bisa dibayangkan, bagaimana sifat ayah dan anak itu. Baru seminggu saja Mila di sini, dia sudah kelabakan dengan sikap jahil Ihsan, dan ini yang paling parah.
Mila bergidik ngeri sambil terus mengusap kulitnya yang kembali terasa gatal. Rifa mengerutkan dahinya bingung dengan sikap Mila yang tiba-tiba seperti itu.
"Mbak Mila gapapa?" tanya Rifa khawatir.
"Ah, iya gapapa Ning Rifa. emm kalau begitu, mohon maaf sebelumnya, Ning Rifa. Apa saya bisa meminta tolong?"
"Ah, iya, apa yang bisa aku bantu Mbak?" tanya Rifa.
"Bisakah Ning Rifa memberikan ini pada gus Ihsan?" tanya Mila sambil memberikan sebuah keresek hitam yang terlihat seperti sudah bolong itu. Dahi Rifa semakin berkerut, apalagi melihat cara Mila memegang keresek tersebut.
"Kalau boleh aku tahu, ini apa Mbak?"
Tubuh Mila menegang, apa yang harus dia katakan? Mendengar namanya saja, Mila tak sanggup. Apalagi ini harus menyebutkannya.
“I-ini, i-i-ini … b-b-belll,”
Rifa semakin tak faham, apalagi dengan kata-kata Mila yang sangat tergagap. "Bel, bel apa Mbak?" tanyanya semakin penasaran.
"Bel--"
"Nona terigu!" Ucapan Mila terhenti, karena ada suara kecil yang melengking memanggilnya dari dalam Rumah itu. Mila menghela nafasnya lega. Setidaknya, dia sudah terselamatkan. Mila menoleh dan mendapati Ihsan di ambang pintu. Tapi yang terlihat hanya kepalanya saja.
"Gus, kenapa seperti itu? Keluarlah! Ini Mbak Mila katanya ingin memberikan pesananmu, Gus." Rifa berbicara agak keras, karena dia sedang di taman bersama Mila.
"Iya Tante, Fatah juga tahu kok," jawab Ihsan sama kerasnya. Lalu, matanya beralih kepada Mila. "Nona terigu, kesini!" titahnya sambil melambaikan tangan.
Mila menggelengkan kepalanya, sedang Rifa menghela nafasnya mendengar ponakannya itu masih saja menyebut Mila dengan sebutan 'nona terigu.
"Gus, yang sopan dong manggilnya! Mbak ini, punya nama lho," ucap Rifa sambil kembali melanjutkan pekerjaannya. Menyiram bunga.
"Aduh Aden, Aden kenapa masih di sini, kenapa belum pakai baju?" Bik Sum menghampiri Ihsan yang masih saja dengan posisi seperti tadi, nongol kepalanya saja di ambang pintu.
Rifa mangut-mangut mengerti kenapa ponakannya itu tidak keluar juga. "Gus, Tante ke sana ya dengan Mbak Mila. Kamu harus tetap di sana!" ucap Rifa.
"Iy---" baru saja Ihsan akan mengiyakan, tapi seketika, "jangan coba-coba ke sini, tunggu di sana dan kamu, Nona Terigu, awas jangan coba-coba kabur dari sini!" 'Blam' Rifa terkekeh, sedangkan Mila bengong tak mengerti.
"Maafkan gus Ihsan ya Mbak! Dia memang duplikat mas Fakhri, sama-sama judes dan jahil secara bersamaan," ucap Rifa kepada Mila.
Rifa tak tahu, berita yang disampaikannya itu, membuat pertahanan benteng di hati Mila untuk menghindari yang namanya gus Fakhri semakin tinggi. Mila hanya tersenyum menanggapi.
Lalu matanya tak sengaja melihat sesuatu di hadapannya. "Waaah black rosenya indah sekali," gumam Mila kagum.
"Mbak Mila suka juga?" tanya Rifa.
Mila mengangguk antusias. "Sukabanget, Ning Rifa. Aku suka dengan tanaman, apalagi tentang bunga. Mereka membuat saya merasakan ketenangan," tuturnya.
Rifa terkejut, karena bukan hanya Mila saja yang pernah mengatakan hal tentang tanaman dan bebungaan, melainkan ....
"Ini milik ayahnya gus Ihsan."
Mila mengangguk, lalu berkata "Pasti gus Fakhri sangat mencintai mendiang istrinya, sehingga sangat menjaga kesukaan sang istrinya."
Rifa menatap Mila lekat, membuat gadis itu merasa tak enak, apakah dia membuat Ning Rifa sedih karna mengingat mendiang kakak iparnya itu?
"Itu tidak benar Mbak. Justru, kak Salma sangat alergi dengan bunga," jawab Rifa tersenyum "yang suka tanaman dan semua jenis bunga itu, ayahnya gus Ihsan Mbak. Malah, ketika Kak Salma meminta agar Masku mengenyahkan semua bunga ini. Alihnya menuruti, dia malah membeli rumah yang tidak ada bunga sama sekali. Yang selama ini mereka tempati."
"Oh, jadi ... sebenarnya gus Fakhri dan gus Ihsan tidak tinggal di sini?" tanya Mila hati-hati.
Rifa menggeleng. "Tidak, mereka ke sini ketika sedang ada acara pengajian saja, dan seperti sekarang ketika Mas Fakhri tengah di luar untuk urusan bisnisnya."
Mila mengangguk-anggukkan kepalanya, seketika nafasnya terhembus lega. Kemungkinan untuk bertemu ayahnya Ihsan ternyata sangat sempit. Yess.
Mila memang pantas disebut 'kalah sebelum berperang', karena belum juga melihat yang mana gus Fakhri ini, dia sudah merasakan aura bahaya di sekelilingnya. "Apakah saya boleh membantu Ning Rifa?"
Rifa mengangguk antusias. "Tentu saja boleh. Lihatlah! Kebun ini luas sekali, aku sebenarnya gak kuat mengerjakan sendirian."
"Kenapa tidak Ning perintahkan saja pada santriwati?" tanya Mila sambil memulai menyiram, sesekali dia memetik daun yang sudah layu, dan menaruhnya di bawah bunga tersebut. Kadang juga ia menyemai tanah yang sudah terlihat padat agar tanah tersebut kembali gembur.
Mereka terus saja berbincang, yang terkadang Rifa sesekali menanyakan tentang tanaman.
Di atas seberang rumah Fakhri, seseorang yang sedari tadi melihat dan memperlihatkan kedua gadis yang tengah asyik menyiram bunga itu. Matanya menatap keduanya dengan tatapan berbeda. Dia menatap salah satunya dengan tatapan sayang, seperti rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya. Sedangkan kepada yang satunya lagi, dia menatap dengan tatapan suka, seperti rasa suka seorang pria pada wanita.
Bibirnya terkadang ikut menyungging, tetkala terdengar suara tawa dari bibir kedua perempuan itu.
“Maaf, Gus Arfan, Pak Yai meminta anda segera menemuinya."
Orang yang sedari tadi sedang memerhatikan dua perempuan itu, segera berbalik ketika dirinya merasa di panggil.
Dengan tersenyum, dia mengangguk, "Baiklah," jawabnya sambil berlalu, meninggalkan tempat favoritnya ketika sedang memperhatikan 'sang cinta dalam diamnya'.
***
"A-apa haharus ssaya yang membukanya, Gus?" tanya Mila sekali lagi. Wajahnya sudah sangat pucat, berharap kali ini kepala anak kecil itu menggeleng. Entah sudah keberapa kalinya menanyakan hal tersebut dan saat ini pun dirinya tengah berusaha kembali sambil terus berharap 'ada keajaiban' sehingga kepala Ihsan mendadak khilaf untuk mengangguk.
Rifa sangat gemas sekali, dengan kelakuan ponakannya itu. Dia tidak menyangka, ternyata di dalam jiwa Ihsan terdapat sisi keJahilan di atas rata-rata. Sungguh, dirinya sudah sangat tak tega sekali dengan Mila ini. Tapi setiap dirinya membela Mila, maka Ihsan akan mengancam akan membuka kartu As-nya.
Sungguh! Untuk kali ini, Rifa merasa menyesal punya ponakan berotak seperti Ihsan.
"A-a-a-apa ha-ha-harus s-s-s-saya yang me-me-me-membukanya, G-g-gus?" tanya Mila semakin terbata.
"Udahlah Gus! Biar Tante saja yang buka."
"Tante, Kar-tu-As," ucap Ihsan membungkam mulut Rifa.
"Dan kamu, Nona Terigu. Aku baru tahu, jika Nona punya latah yang sangat parah. Aku sudah pegal menganggukkan kepala terus. Dzikir sih mending, lah ini?"
"Memangnya itu, apasih?" Rifa yang sudah sangat gatal. Langsung merebut kantong keresek itu, dan 'srek' kantong itu pun sobek.
"HATSYIM ... HATSYIM ... HATSYIM ..."
Rifa dan Ihsan syok mendengar suara bersin yang terus-menerus dari hidung Mila, apalagi melihat kulit Mila yang berubah memerah sampai ke wajah. Tangan Mila terus mengusap bagian kulit yang bisa di jangkaunya. Semuanya terasa gatal, bahkan sampai pangkal kepalanya.
"Ya Allah Mbak Mila kenapa?" teriak Rifa sangat panik.
Mila tidak menjawab apa-apa, seketika matanya melotot, “KYAAAAAAA ... HATSYIM ... HATSYIM ... HATSYIM ...." bersin Mila makin menjadi, ketika serombongan belalang terbang ke arahnya.
Karena panik sekali, Rifa mengeplak kepala Ihsan, berharap otak Ihsan kembali genius.
Ihsan yang mendapat geplakan tersebut langsung tersadar, melihat tubuh Mila yang semakin menjadi, tanpa pikir panjang ....
"BRAK" 'CEKLEK' Ihsan menyeret Mila menuju salah satu kamar yang berada di sana.
Rifa melongo, tapi hanya sekejap selanjutnya dia langsung berlari , "Gus, Kamu apakan Mbak Mila?" tanya Rifa sambil terus menggedor pintu tersebut. Ihsan menguncinya dari dalam. Masih terdengar suara Mila yang terus-menerus bersin.
"Tante usir saja itu belalang! Suruh mereka pulang, katakan sudah sore. Nona terigu biar Fatah pikirkan." Suara Ihsan terdengar dari dalam.
Entah karena merasa syok, Rifa menuruti semua perintah keponakannya itu. Dia menghadap ke arah di mana para belalang itu berterbangan. "Duuuh, para belalang yang suka terbang. Hari ini, cukup sampai di sini saja berkunjungnya, sudah sore, sebaiknya kalian pulang!" Rifa berbicara dengan suara khasnya, lemah-lembut.
Mbok Sum melongo melihat adik dari tuannya ini malah berbicara dengan binatang terbang itu.
"Oalaaah Non, itu belalang, bukan p****************g," ucap Mbok Sum sambil membawa lamit untuk menangkap para belalang itu.
Rifa seketika tersadar. "Astagfirullah, apa yang aku lakukan?" tanyanya pada diri sendiri.
"Anu, Non ..." Mbok Sum menginterupsi lamunan Rifa.
"Iya Mbok, ada apa?"
"Itu, anu, den kecil membawa Ning ayu itu ke ... kamar tuan," lapor Mbok Sum sambil menunjuk sebuah kamar yang tertutup rapat.
Rifa melotot, seketika dia berlari, kenapa dia sampai tak sadar sih?
‘DOR-DOR-DOR’ "Gus, kamu apakan Mbak Mila? Keluarlah!" Rifa terus menggedor pintu kamar kakaknya itu, sekarang tidak ada suara yang terdengar dari dalam.
Rifa semakin panik, banyak pikiran buruk bermunculan di dalam benaknya. "GUS, BUKA! GUS! FATAH! IHSAN FATAHILLAH AL-GHIFARIIII BUK--"
'Ceklek' teriakan Rifa terhenti, kala melihat pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Mila dan Ihsan dengan keadaan tubuh yang masih utuh.
"Mbak Mila, gimana? Ayo kita ke Dokter!" Rifa hendak membawa tangan Mila, tapi Mila menghentikannya.
"Alhamdulillah ... saya sudah sembuh, Ning, berkat pertolongan gus Ihsan."
Dengan sekali sentakan Rifa memeluk tubuh Mila, merasa lega dan penuh Syukur. "Alhamdulillah, Ya Allah."
Mila terharu, dan tersenyum membalas pelukan Rifa. "Makasih Ning Rifa."
Rifa hanya mengangguk. Tapi, ... "Gus, kamu mengobati Mbak Mila dengan apa?" selidik Rifa, setelah ada sesuatu yang dia rasakan di tubuh Mila.
Dengan entengnya Ihsan menjawab "Parfum Al Zamil," sambil memperlihatkan botol farpum tersebut.
Rifa melotot seketika. Ya Allah, itu kan parfum produksi Mas Fakhri yang tidak boleh orang lain pakai, bahkan keluarganya sekalipun, termasuk dirinya.
Entah apa sebabnya, Fakhri tidak mengizinkan atau tidak memberikan parfum itu. Bahkan mendiang istrinya pun pernah bercerita bahwa dirinya tak pernah memakainya, dengan cara mendekap tubuh suaminya lah, Salma akhirnya bisa merasakan parfum tersebut. Tapi sekarang anaknya malah memberikannya untuk orang lain.
Apa arti semua ini Ya Allah?