Parfum Al Zamil

2226 Kata
Ponpes Al Zamil. Pukul 03.15   Warna langit masih gelap gulita, menunjukkan waktu masih malam. Suasana di sebagian bumi masih sunyi senyap. Karena mungkin 85% masih terlelap merangkai mimpinya. Namun tidak dengan suasana di Ponpes Al zamil ini. Semua penghuni di sana sudah bangun dan beraktivitas. Ada yang sedang mandi, ada yang sudah berpakaian, ada pula yang sudah berada di Mushola atau Masjid sedang melaksanakan Sholat Qiyamul-lailnya. Beginilah aktivitas sehari-hari di Ponpes Al Zamil ini. Seluruh Santri bangun pada pukul 03.00 dini hari. Membersihkan diri, lalu berbondong-bondong menuju Mushola untuk melaksanakan salat Tahajud. Tak hanya para Santri saja yang melakukan kegiatan tersebut. Melainkan Bu Nyai sendiri pun ikut dalam kegiatan itu. Bahkan, putri-putrinya pun sama. Ning Fatima, Ning Aisyah, dan Ning Rifa. (Ini khusus santri putri) Setelah melaksanakan Sholat Qiyamul-lail tersebut, sambil menunggu azan Subuh, para Santri menggunakan waktu tersebut dengan beragam kegiatan. Ada yang membaca Al Quran, ada yang menghafal pelajaran di Sekolah, ada yang menghafal untuk setoran hafalannya, ada yang berzikir dan membaca Sholawat, ada yang sedang melakukan tanya jawab dengan sesama temannya. Bahkan, ada juga yang sedang membaca tasbih dengan mata sedikit terpejam menahan kantuk. Terlebih, waktu dini hari adalah waktu yang paling efisien untuk belajar dan menghapal. Mila tersenyum dengan suasana seperti ini. Terasa damai dan tentram. Kepelikan hidup terasa lebih ringan. Di jajaran paling depan, Bu Nyai tengah berdzikir penuh kekhusyuan. Tak jauh dari sana, Mila melihat Ning Dina sedang menyetorkan hafalannya kepada Ning Aisyah. Ibundanya. Pak Yai mempunyai tiga putri, dan satu putra : 1. Ning Fatimah. Berusia 43 tahun. Mempunyai 2 orang putri yang sudah menikah dan di bawa ke rumah suaminya masing-masing. 2. Ning Aisyah. Berusia 40 tahun. Mempunyai dua putri. Putri pertama sudah menikah dan dibawa oleh suaminya, dan yang terakhir adalah Maidina yang sering dipanggil Ning Dina. 3. Gus Fakhri. Berusia 32 tahun. Putra satu-satunya pak Yai, mempunyai seorang putra yang bernama gus Ihsan. 4. Ning Rifa. Putri bungsu yang berusia dua puluh tahun, dan masih Lajang. Mengingat Ning Rifa dan gus Ihsan, Mila teringat akan kejadian kemarin sore. Mila menghirup kawai(murkah) yang sedang dipakainya. Menghirup aroma yang sungguh membuat dirinya benar-benar tenang. Parfum Al Zamil. Mila tidak tahu, kenapa dirinya langsung tiba-tiba jatuh cinta dengan aroma parfum tersebut. Bahkan percaya atau tidak. Rasa alerginya pada belalang pun bisa teratasi dengan hanya menghirup aromanya saja. Sebenarnya alergi yang diderita Mila terhadap belalang bukanlah suatu jenis alergi yang dia dapat sejak lahir. Itu ... lebih tepatnya rasa trauma yang sangat kuat. Karena menurut cerita sang ibu sewaktu dirinya berusia 4 tahun, Mila pernah menyentuh dan meremas ulat bulu di kebun milik kakeknya menyebabkan seluruh tubuh Mila menjadi gatal-gatal dan memerah selama beberapa hari. Hingga sampai saat ini, Mila sangat takut dengan yang namanya ulat. Termasuk belalang dan kupu-kupu. Biasanya, ketika dia terserang rasa takut tersebut, dirinya akan sulit dikendalikan. Bahkan pernah di suatu hari, alerginya kambuh sampai merasa sesak nafas karena melihat segerombolan ulat yang ada di pohon alpukat. Rasa gatal itu akan hilang dengan sendirinya, jika dirinya sudah merasa tenang kembali. Sama halnya ketika gus Ihsan memoleskan parfum Al Zamil ini ke tangannya. Parfum yang tak sengaja ia hirup, ternyata memiliki efek yang sangat luar biasa. Perpaduan antara lemon dan green tea, serta sedikit aroma misk yang menggambarkan seseorang yang berpengaruh, membuat dirinya tiba-tiba merasa terlindungi. Sehingga tanpa diduga, bersin-bersin dan rasa gatal itu berangsur hilang dengan sendirinya. Mila sekali lagi menghirupnya. Dirinya bertekad setelah pulang nanti, dia akan mencari parfum tersebut. Kemarin sebagai permintaan maaf, Ihsan memberikan parfum tersebut dalam botol berisi 2ml. Meski sedikit, Mila sangat senang menerimanya. Meski … sedikit ada rasa kebingungan dengan ekspresi Rifa saat itu. Benar, apa yang dikatakan para teman-temannya itu. Ihsan bukanlah sosok anak kecil biasa pada umumnya. Meski usianya masih tergolong anak-anak, namun pemikiran dan juga sikapnya, jauh dari kata anak-anak. Mila menyebutnya seperti anak yang antik. Sangat langka dan susah dijumpai di kehidupan normal. Lalu, jika putranya se-ajaib ini, bagaimana dengan sosok ayahnya? “Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Suara azan terdengar berkumandang, mengalun syahdu dari Mesjid utama Ponpes Al Zamil yang terletak di area Asrama Putra. Membangunkan Mila dari lamunannya, dia mengusap wajahnya, beristigfar. Karena bukannya menafakuri semua ke-Kuasaan sang Kholiq Allahu 'Azza wa Jalla, dia malah sibuk melamun memikirkan seseorang yang bukanlah siapa-siapa baginya. Berdiri, merapikan sejadahnya, menegakkan tubuhnya, meluruskannya untuk menghadap Qiblat. Memantapkan hatinya kepada sang Penguasa Alam. "Allahu Akbar," ucapnya memulai salat sunat Fajar atau disebut salat sunat Qobla Subuh. Bersamaan dengan yang lainnya. Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia menyatakan bahwa Rosulullah SAW berkata, “Dua rakaat salat Sunat Fajar lebih baik daripada Dunia dan seisinya.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rosulullah SAW mengatakan, “Dua rakaat salat Sunat Fajar lebih aku sukai daripada Dunia semuanya.” [HR. Muslim, no. 725]. “Allahu Akbar, Allohu Akbar, Asyhadu An Lailaha Illallah, Asyhadu Anna Muhammadan Rosulullah, Hayya 'Alashsholaat, Hanya 'AlalFalaah, Qod QoomatishSholaat, Qod QoomatishSholaat, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah.” Semua santriwati berjajar rapi di setiap Shaffnya, "Ushollii FardoshShaubhi, rok'ataini mustaqbilal Qiblati ada-an makmuuman Lillaahi ta'aalaa. Allahu Akbar." Menjalankan salat Subuh berjama'ah dengan diimami olah Bu Nyai sendiri. Selepas salat dan membaca Tasbih, Tahmid, Takbir, Tadzkir, serta do'a-do'a lainnya. Para santri mengantri untuk menyetor hafalan Al Quran kepada Staff pengurus, juga pengajar. Termasuk Bu Nyai, Ning Fatimah, Ning Aisyah, juga Ning Rifa. Kini giliran Mila menyetor hafalannya, dan kebetulan dia kebagian oleh Bu Nyai sendiri yang menjadi mentornya. Entah hanya perasaannya saja, atau memang benar adanya, Bu Nyai seperti tengah mengamati dirinya, sehingga selama menyetor hafalannya, Mila terus menunduk. "Shodaqolloohul 'Adziim." Mila mengakhiri hafalannya. "Nak." Bu Nyai menyapa Mila. Mila mendongak seraya berkata, "Inggih, Bu Nyai?" "Gimana tinggal di sini? Apakah cukup kerasan?" tanya Bu Nyai sambil tersenyum. Mila mengangguk, sambil menjawab, "Alhamdulillah, Bu Nyai. Saya kerasan di sini." Bu Nyai ikut tersenyum sambil mengangguk. Terlihat dari sorot matanya, Bu Nyai juga merasakan kebahagiaan atas kabar yang diberikan oleh Mila. "Bu Nyai dengar, Fatah kemarin menjahili kamu lagi ya? Maafkan cucu Bu Nyai ya, Nak!" ucap Bu Nyai sambil menggenggam tangan Mila. "Tidak apa-apa, Bu Nyai. Saya juga merasa berhutang budi kepada gus Ihsan," jawab Mila. Bu Nyai tersenyum, "Terimakasih banyak, Nak," sambil menepuk halus tangan Mila. "Sama-sama, Bu Nyai," jawab Mila. ***   "Oalah, Mbak Mila. Mbak Mila sudah kenal dekat ya dengan Bu Nyai?" Salah satu teman sekamar Mila bertanya ketika mereka sudah berada di kamar. Mila menoleh, dan menatap Tia yang tadi bertanya, "Kenapa Mbak Tia bertanya seperti itu?" bukannya menjawab, Mila malah balik bertanya. "Soalnya saya melihat Bu Nyai dan Mbak Mila seperti sudah sangat akrab sekali," tutur Tia. "Ah ... mungkin hanya perasaan Mbak Tia saja," sangkal Mila. "Masa iya sih?" ucap Tia lebih kepada dirinya sendiri. "Sudah, sudah!" Anisa menengahi, "Mbak-Mbak semua, sebentar lagi waktu ngaji. Gus Arfan lho ya mengajar sekarang." Mendengar nama gus Arfan disebut. Semua yang ada di sana menjerit antusias. Kecuali dua orang. Mila yang terbengong bingung, dan Anisa yang menggeleng geli, merasa lucu. "Eh, ngomong soal gus Arfan, aku jadi kangen sama gus Fakhri deh. Sampai-sampai aku sudah menghirup aroma parfum gus Fakhri. Menenangkan," ucap Rohmi, teman sekamar Mila yang agak banyak bicara. "Benar. Aku juga merasakannya, Mbak Rohmi. Seakan-akan, gus Fakhri sedang di dekat kita," timpal Tia. "Aku juga merasakannya, Mbak," timpal Siti. Santriwati yang paling kecil tubuhnya. Mila semakin tak mengerti, tapi semakin penasaran juga. "Memangnya bagaimana dengan aroma mereka? Kok Mbak-Mbak bisa tahu?" tanya Mila akhirnya. "Tahulah, Mbak Mila. Karena parfum yang dipakai gus Fakhri tidak ada di pasaran," jawab Tia. "Sudah-sudah! Ayok kita siap-siap untuk ke Aula Barat!" ajak Anisa. Anisa menggandeng tangan Mila, karena terlihat Mila sudah siap untuk pergi. "Aku sama Mbak Mila duluan, ya. Kita tunggu di Aula. Assalamu'alaikum," pamitnya. "Wa'alaikumussalaam," jawab teman sekamar mereka. "Mbak Mila." Anisa memulai pembicaraan ketika mereka berjalan menuju Aula Barat. "Ya?" Mila menoleh kea rah Nisa. "Soal kemarin, aku minta maaf ya, Mbak. Bukannya tidak ingin membantu, tapi aku merasa sungkan sama gus Ihsan," ucap Anisa merasa bersalah. Memang, kemarin Mila menceritakan tentang traumanya terhadap belalang dan sejenisnya kepada Anisa, serta minta tolong agar Anisa yang memberikannya langsung. Tapi, Anisa menolaknya. Anisa tahu dengan sifat Ihsan. Kalau sekalinya A, maka harus A. Gak boleh B, atau C. Mila tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya, "Iya, Mbak. Gapapa kok. Mbak benar," ucap Mila sambil mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Anisa, "gus Ihsan itu, sangat mengerikan," lanjutnya sambil berbisik. Anisa mengangguk membenarkan, "Tapi, sangat menggemaskan," timpal Anisa. Mila juga mengangguk, "Mau tak mau, aku juga harus mengakuinya, hihi." Mereka berdua mengobrol ringan. Sambil terus berjalan menuju Aula Barat. ***   Universitas Indonesia. Jakarta. Pukul 10.35   Pintu diketuk dari luar. "Masuk!" Seorang Mahasiswi berjalan dengan sangat rapi. Menghampiri seseorang yang tak lain adalah Dosennya sendiri. "Selamat siang, Pak." Sedangkan orang yang disapanya malah asik memperhatikan kertas-kertas di hadapannya. Tak ada niatan untuk menoleh sedikitpun. "Hmm," jawabnya singkat. Mahasiswi itu menggertakkan giginya. Namun, walau begitu ia tak urung memudarkan senyumnya. "Maaf, Pak mengganggu waktunya!" kata Mahasiswi tersebut. "Hmm. Jadi ada keperluan apa Nona menemui Saya?" tanya sang Dosen. Mahasiswi itu senang bukan main. Sepertinya usahanya akan berhasil meski Dosen itu tidak menatapnya selama berbicara dengannya, namun ia tak peduli samasekali. Sudah menjadi keuntungan besar Dosen favorit seluruh siswi di sana itu bisa menanggapi ucapannya. Sudah menjadi rahasia umum, Dosen di bidang IT ini adalah sosok pria yang sangat dingin. Tak pernah sekalipun dia menampakkan senyumannya. Namun, meski dengan sikapnya yang seperti itu. Tak membuat para Mahasiswi itu mengurangi rasa ketertarikannya terhadap sang Dosen. Termasuk Mahasiswi yang tengah berdiri di hadapannya ini. "Saya hendak menanyakan tentang materi Bapak yang belum Saya mengerti, Pak," jelas si Mahasiswi. Dosen itu hanya mengangguk sekali, lalu mengambil satu kertas di sudut meja sebelah kanan. "Nona bisa menulis apapun yang ingin Nona tanyakan di sini," ucap sang Dosen sambil menyodorkan selembar kertas kehadapan Mahasiswi itu. "Hah?" Refleks, Mahasiswi tersebut melongo. Sungguh tidak sesuai ekspektasinya. Dosen itu menatap gadis yang katanya Mahasiswinya itu, "Kenapa? Nona tak membawa pulpen?" tanyanya datar. Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat, lalu mengangguk, "Ba-bawa, Pak." "Isi di sini apa saja yang ingin Anda tanyakan, Nona! Mengerti?" tanya Dosen tersebut sambil kembali menatap gadis itu. Tangannya menunjuk pada selembar kertas tersebut. Gadis itu tersenyum sambil membawa kertas tersebut. "Ekhem, maaf, Nona. Bisakah Anda duduk di sana?" Dosen itu menginterupsi si Mahasiswi yang akan duduk di depannya. Dia menunjuk ke arah kursi di mana ada seseorang yang sedang duduk juga di sana. Asistennya. Dengan sedikit tidak rela, gadis itu akhirnya berjalan menuju tempat yang ditunjuk oleh Dosennya itu. “Susah sekali sih mendekati Dosen Hot and cool ini,” rutuknya dalam hati. Gadis itu duduk tepat di depan seseorang yang sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh Dosennya itu. Saking seriusnya, dia tak menyadari ada orang lain yang bergabung di mejanya. Membuat Mahasiswi tersebut mendengus, “Sombong sekali dia.” Mengernyitkan dahinya, menelengkan matanya, serta mengetuk-ketuk pulpen pada pipinya, seolah dirinya sedang berfikir. Mahasiswi itu menuliskan apa yang ingin ditanyakan pada Dosen hot and coolnya itu. "Ini Pak," ucap Mahasiswi itu sambil menyodorkan selembar kertas itu. Sang Dosen mengambil kertas tersebut. Dahinya mengerut sebentar, "Nona, serahkan kertas ini ke orang yang duduk bersama Anda tadi!" ucap sang Dosen. Bukan hanya Mahasiswi itu saja yang menganga. Tapi, dengan orang yang ditunjuk oleh sang Dosen. Dia melotot dan mendelik, sedang yang dipelototi cuek-cuek saja. "Ta-tapi Pak Juand, kenapa harus sama dia? Saya kan bertanya kepada Anda?" ucap Mahasiswi itu. "Kenapa? Anda keberatan? Dia adalah Asdos Saya. Jadi, silakan Anda berikan kepadanya, nanti Saya yang akan menjawab pertanyaan Anda lewat dia," jemarinya kembali menunjuk ke arah orang yang katanya Asdosnya itu. "Tap--" "Jika Anda keberatan, maka mohon maaf, Saya tidak bisa membantu!" potong Dosen itu kembali. Dengan gerakan kasar, Mahasiswi itu mengambil kertasnya, dan berjalan ke arah si Asisten Dosen. Dengan wajah permusuhan, Mahasiswi itu menaruhnya agak membanting. Si Asisten Dosen meringis, membayangkan bagaimana tangan mulus itu terbentur cukup keras di atas meja. Ya iyalah, yang dibangting kan selembar kertas, karena ingin terkesan membanting, maka harus di dorong oleh tangannya sendiri. Si As-Dos yang tak lain adalah Zahra, mengambil selembar kertas yang dibanting oleh teman sekelasnya itu. Dia mengamati kata demi kata yang dituliskan oleh Jessica, sang Primadona Kampus. Seketika matanya melotot, setelah membaca apa yang ditanyakan Jessica tersebut. Mata indahnya mendelik kearah Dosen dingin itu, yang dengan santainya masih anteng dengan kertas di depannya. “Dia benar-benar ingin menjadikan aku kambing guling rupanya, teman sekelasku sudah 60% mengibarkan bendera perangnya” keluh Zahra dalam hati. Zahra berdiri dan melangkah menuju meja di mana sang Dosen sedang duduk anteng. "Ekhem, maaf, Pak." "Ada apa?" tanya si Dosen. "Saya rasa, ini bukan urusan Saya," ucap Zahra. Dosen itu melirik Zahra, "Dan itu juga, bukan urusan Saya." "Ini jelas urusan Bapak," sergah Zahra. "Jika itu memang urusan Saya, maka itu urusan Anda juga." Zahra melotot tidak terima, "Itu mana boleh, Pak." "Boleh, karena Saya memperbolehkannya," ucap Dosen itu yang tak lain adalah Juanda. Kakak Mila, sahabatnya. "Astagfirullah ... Pak, mau sampai kapan Saya dianiaya oleh Bapak?" tanya Zahra frustasi. Juand tersenyum tipis yang membuat Zahra semakin kesal. "Sudah Saya bilang, Saya tidak akan melepaskan Anda, jika Anda tidak memberitahu di mana adik Saya," ucap Juand. "Astagfirullah ..." keluh Zahra sambil kembali ke mejanya. Tanpa Zahra sadari, Juand tersenyum hangat ke arahnya. Ia berkutat kembali dengan lembaran kertas yang sedang diamatinya. ***   PonPes Al Zamil. Pukul 15.25 "Kamu tak perlu mengantarku sampai ke dalam, cukup di depan pintu gerbang saja," ucap Fakhri kepada sekretarisnya. Lukman, suami dari keponakannya. Sang sekretaris mengangguk, "Baik, Gus." Lukman memerintahkan pada Sopir agar berhenti tepat di depan gerbang Pesantren. "Selamat beristirahat, Gus," ucap Lukman ketika membukakan pintu untuk Fakhri. "Kamu juga, Selamat beristirahat. Maaf, telah merepotkanmu," jawab Fakhri sambil berbalik. Fakhri sangat tak sabar ingin bertemu dengan putranya. Dia membelikan Ihsan oleh-oleh untuk permintaan maafnya. Dia juga merindukan ... Seketika langkahnya terhenti, ketika hidungnya menangkap sesuatu yang sangat tak asing lagi bagi dirinya. Fakhri segera membalikkan tubuhnya dan melihat punggung seorang perempuan yang barusan berpapasan dengannya, tengah berjalan kearah seseorang yang melambaikan tangannya. "Mbak Mila, cepat!" seru orang yang melambaikan tangan tersebut. Matanya terus menatap tubuh yang sekarang sudah tak terlihat lagi. “Kenapa dia mempunyai parfum yang sama dengan milikku?” batin Fakhri bertanya-tanya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN