**** Seperti yang diperkirakan sebelumnya, sore itu langit mulai menampakkan wajah tak bersahabat. Angin bertiup cukup kencang, awan mendung mulai bergelayut di sisi langit, seolah memberi tanda jika sore ini langit akan menurunkan hujan. Deya masih terduduk di sisi ranjang, menatap keluar jendela dengan tatapan tak tentu arah. Ponselnya sesekali berdering namun Deya tak mempunyai keinginan untuk membalas ataupun mengangkatnya. Mungkin ia kesal sehingga bisa bersikap seperti itu pada Dhante. Petir mulai menyambar, hujan mendadak turun dengan deras. Deya sadar dari lamunannya, menatap ponselnya yang kembali berdering. Lagi-lagi Dhante kembali mengganggunya. Mungkinkah ia sudah sampai di taman perumahan? Mungkinkah dia kehujanan? Ah, kenapa Deya harus memikirkan hal itu. Harusnya jika ia

