6. Terjebak

1655 Kata
**** Bola mata cokelat milik Dhante membulat ketika Eros menyebut nama Davia di depannya. Pria itu segera beringsut dari ranjang, mendengarkan tutur kata Eros dengan perhatian penuh seolah ia sama sekali tidak bisa kehilangan informasi barang sejenak. "Apa kau yakin?" desis Dhante seolah tak percaya. Pria itu nyaris melotot ketika mendengar Eros menyebut Davia terlihat di sebuah restoran bergaya china. "Ya, saya melihatnya tak sengaja berada di sebuah restoran china. Ada seorang pria yang juga turut berada di sampingnya kala itu. Untuk kebenarannya, saya memiliki beberapa foto. Saya takut jika apa yang saya lihat benar-benar tidak memuaskan Anda," ucap Eros dengan begitu serius. Dhante terdiam sejenak, ia mengusap wajahnya dengan rasa resah yang meledak dalam hati. "Baik, temui aku di kantor tiga puluh menit lagi." Dhante menutup telepon, wajah gusar masih tercetak jelas di sana. Terbayang di ingatannya bagaimana Davia telah meninggalkannya tepat menjelang hari pernikahan mereka. Pria yang kala itu benar-benar tergila-gila pada sosok menggoda bernama Davia Sastra mendadak terluka tatkala mengetahui kenyataan bahwa Davia pergi dan memilih bersama pria lain. Mengacak rambut dengan gusar, Dhante lantas melompat turun dari atas ranjang. Pria itu berjalan menuju ke kamar mandi dengan tangan bergerak cepat menyambar handuk yang tergantung di pinggir pintu kamar mandi. Rasa keingintahuan tentang Davia kini bergejolak dalam hati, pria itu benar-benar ingin tahu alasan apa yang membuat bidadari hatinya berpaling dan memilih pria lain menjelang hari pernikahan mereka. Sungguh, Davia benar-benar wanita kejam. **** Keingintahuannya tentang Davia mendorong langkah kaki pria bertubuh tinggi tegap itu untuk sampai di kantor sepuluh menit lebih cepat dari waktu yang ia janjikan. Alasan yang ia tunggu selama ini akan membuatnya tahu apa motif Davia melakukan hal tercela yang mencoreng nama baiknya dua tahun yang lalu. Seperti dugaannya, Eros sudah menunggunya di dalam kantor dengan mimik serius ala Eros. Ya, pria bertubuh tanggung itu nyaris tak pernah tersenyum semenjak bekerja pada Dhante. Entah apa yang membuat Eros kehilangan senyum, yang jelas Eros telah mendedikasikan hidupnya untuk melayani Dhante tiga tahun terakhir. "Apa yang kau temukan?" tanya Dhante setelah memasuki ruangan serba gelap kesukaan Dhante di lantai 13 kantor utama. Ruangan bercat biru dongker, dengan beberapa peralatan kantor yang setiap hari menemani Dhante menyelesaikan berbagai tugas di kantor. Eros membungkuk sejenak, menunggu sang majikan untuk duduk di kursi kebesarannya. Ia tahu jika majikannya tersebut sungguh tidak sabar dengan apa yang akan ia ceritakan kali ini mengenai sosok yang ada di foto yang tempo hari Dhante berikan padanya. "Katakan!" titah Dhante ketika pria itu sudah duduk manis di atas kursinya. Tatapan sang pria berahang tegas kini mencuram ke arah Eros, menuntut agar ia segera dikisahkan mengenai Davia. "Tuan, ini adalah foto-foto yang berhasil saya bidik di restoran china kemarin. Saya tidak yakin apakah itu sosok Davia atau bukan jadi saya memastikannya dengan mengambil gambar," ucap Eros seraya menyodorkan sebuah amplop panjang berwarna cokelat di atas meja. Tatapan Dhante yang mengerikan kini tertuju pada amplop tersebut, tangan kanannya naik guna meraih amplop dan bergegas membukanya. Bola mata Dhante kembali membulat tatkala melihat sosok yang ia rindukan dalam foto-foto yang diberikan Eros kepadanya. Melihat wanita itu bersama pria lain, rasanya seperti—Dhante bahkan tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya yang bergelung hebat. Pria itu memasukkan kembali foto itu ke dalam amplop lantas membantingnya ke meja. Dhante menghela napas kasar, ia menggosok dagunya dengan keras, merasa frustrasi karena geliat cemburu yang perlahan bangkit dalam jiwanya. "Benar, itu adalah foto Davia. Kedepannya, aku ingin kau bekerja lebih keras lagi mengenai Davia." Eros terdiam, ia menatap tuannya dengan tatapan heran. Tak biasanya Dhante seresah itu hingga ia harus menggosok dagunya beberapa kali. Merasa kasihan, Eros memberanikan diri untuk membuka suara pada Dhante. "Tuan, kenapa harus wanita ini? Kenapa—" "Kenapa? Apa kau keberatan menerima tugas dariku? Jika kau keberatan alangkah baiknya jika kau mengatakannya sedari awal, aku akan mencari penggantimu." Dhante menjawab dengan ketus, tak peduli dengan mimik wajah Eros yang berubah seolah merasa kesal. Ya, sudah menjadi sifat Dhante jika ia tidak suka ditentang terlebih oleh anak buahnya sendiri. Eros membungkuk perlahan. "Tidak Tuan, hanya saja wanita ini begitu menyakiti Anda hingga untuk menatap wajahnya saja Anda terlihat gugup." Dhante menatap Eros dengan pandangan menelisik, merasa bahwa perasaannya mudah ditebak pria itu pura-pura mengedarkan pandangan. "Tidak, aku sama sekali tidak gugup. Hanya saja dia—aku sangat membenci dia hingga aku tidak bisa membedakan antara gugup dan juga geram." Eros terdiam, ia menatap Dhante yang bangkit dari kursi lalu membelakanginya. "Sekarang pergilah! Laksanakan tugasmu dengan baik. Aku tidak ingin kehilangan jejak wanita itu sekali lagi. Andai ia pergi ke lubang semut pun, kau harus mengejar dan menangkapnya. Apa kau paham, Eros?!" "Baik, Tuan. Titah Anda adalah harga diri saya," ucap Eros seraya membungkukkan badan. Pria itu berbalik badan meninggalkan ruangan dimana Dhante kini tinggal seorang diri. Memastikan bahwa tidak ada orang lagi di ruangan itu, Dhante kembali meraih amplop cokelat yang tergeletak di atas meja. Jantungnya menggigil namun rasa penasaran yang kuat membuatnya harus bertekat kuat untuk sekali lagi melihat isi ke dalam amplop. Satu per satu Dhante menatap foto-foto tersebut, semakin banyak ia melihat, semakin hancur yang ia rasakan dalam relung hati. Entah kenapa Davia bisa setega itu meninggalkan dirinya menjelang hari pernikahan. Rasa hancur saat ini jauh terasa lebih baik daripada saat-saat mengerikan kala itu. Pria tampan yang dulu polos dan berhati bersih kini telah tiada, pria tersebut telah digantikan oleh pria posesif dan arogan. Ya, Dhante Shie Widjaya telah bertekat akan mengejar Davia hingga ke lubang semut sekalipun. Dhante perlu tahu semuanya, semua yang menyangkut tentang hari itu dan pernikahannya. **** Seperti janji Deya pada Dhante, gadis polos itu membuatkan Kopi vanilla Latte kesukaan Dhante sebagai tanda terima kasih. Gadis itu tak bisa menutupi kenyataan bahwa ia telah ditolong oleh sosok Dhante. Jika pria itu tidak ada, mungkin neneknya masih terkapar dan entah kapan pertolongan akan datang. Dari hati yang paling dalam, Deya hanya ingin mengucapkan terima kasih walau pada akhirnya sifat posesif dari Dhante memang sangatlah mengganggu. Memasuki ruangan dimana biasanya Dhante duduk dan menikmati malam, Deya hanya bisa berharap kopi yang ia buat bisa melegakan hati Dhante. Tatapan gadis itu terpaku ketika mendapati ruangan yang biasa Dhante kunjungi kali ini kosong. Kemanakah pria itu? Dia yang berjanji, apakah dia sendiri yang lupa? Berjalan mendekat ke arah meja, perlahan Deya meletakkan kopi yang masih mengepul panas. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain berharap Dhante datang dan bisa menikmati kopi itu selagi panas. Menghela napas, Deya berbalik badan dan bersiap untuk bekerja sore itu. Jantungnya terlonjak ketika mendapati sosok Dhante sudah berada di pintu dan bersandar di sana sambil bersedekap. Tatapan keduanya bertemu, jantung Deya yang berdegup kencang tak kunjung sembuh tatkala Dhante datang menghampiri. "Kenapa diam? Apa kau kaget melihat diriku datang secara tiba-tiba?" tanya Dhante pelan sembari menarik dagu mungil Deya agar gadis itu mendongak. Kedua bola mata kembali bertemu dalam jarak pandang yang begitu dekat. Menyadari posisinya, Deya menepis tangan Dhante lalu memundurkan langkah. "Aku sudah menyiapkan kopi kesukaanmu di meja. Aku harap kau menyukai kopinya," ucap Deya menunduk, menyamarkan hawa panas yang kini memenuhi wajahnya. Dhante menyeringai kecil, ia kembali mendekat. Burung kecil di depannya terlihat takut, hanya saja di dalam kaca pandang Dhante gadis yang berdiri di hadapannya tak lebih seperti Davia yang menggodanya dulu. Mereka nyaris mirip, membuat Dhante hampir lupa jika yang ia hadapi sekarang adalah Deya dan bukanlah Davia Sastra. "Apa hanya itu yang ingin kau katakan padaku?" tanya Dhante lirih, pria berahang tegas kembali menarik dagu Deya, membuat pandangan mereka sekali lagi bertemu. Deya merasa tidak nyaman, ia kembali menepis tangan Dhante namun sayang pria itu justru bersikap berlebihan dengan menahan tangannya di dagu Deya dan tangan yang lainnya justru melingkar di pinggang. Dalam sekali dekap, keduanya menipiskan jarak dan berpandangan satu sama lain. "Katakan sesuatu yang membuatku merasa senang!" bisik Dhante dengan aura memerintah. Deya mengerjap, melawan rasa sakit yang mencekal dagunya kini. Tangan kiri pria itu kini telah mengunci tubuhnya, membuatnya nyaris tak bisa berlari kemanapun ia mau. "Bisakah kau melepaskanmu? Kau membuatku sakit dan merasa sesak," keluh Deya dengan jantung kembali berdebar kencang. Dhante menyeringai, ia mendekatkan wajahnya beberapa senti. "Kau kira aku akan melakukannya? Dari awal kaulah yang memulai jadi kenapa tidak kau saja yang mengakhiri?" Deya terbungkam, ia menelan cairan salivanya dengan susah payah. Bau alkohol menyengat dari tubuh pria itu, bisa dipastikan jika Dhante tengah mabuk dan mulai kehilangan kesadaran. "Kau harus membayar padaku, harus!" Dhante bersikeras, pria posesif yang Deya kenal kini berubah menjadi pria yang arogan dan tak mudah ditentang. Deya terkesiap ketika tangan pria itu tiba-tiba menyusup ke belakang telinga dan menarik kepalanya agar lebih mendekat. Keduanya terdiam, sekali lagi Deya berusaha melawan namun kekuatan Dhante jauh lebih besar sekarang. Pria itu mendekatkan wajahnya, menyambar kulit kenyal bertekstur tipis milik Deya dengan napas menderu penuh nafsu. Gadis berambut sebahu menahan napas ketika bibir seksi Dhante benar-benar menyentuh kulit bibirnya. Deya hanya berharap pria itu akan segera melepasnya dan tidak macam-macam lagi. Jantung Deya seakan mau lepas, ia memekik kecil dan memejamkan mata rapat-rapat ketika Dhante dengan berani menggigit bibirnya dengan gemas. Deya kembali berontak, ia mendorong tubuh Dhante namun apa yang ia terima? Dhante bahkan jauh lebih berani dari apa yang dibayangkan. Dhante melepaskan kecupannya, menatap intens ke arah Deya dengan tatapan tak bisa ditebak. Tangan kiri pria itu masih melekat di tubuh sang gadis, memegang kendali agar ia tak melarikan diri. Napas Dhante terus menderu, hawa panas menjalar ke seluruh tubuh setelah kulit mereka bergesekan satu sama lain. Rupanya api gairah yang dulu pernah padam kini kembali berkobar dalam jiwa Dhante Shie Widjaya. Deya kembali terkesiap, ia terlonjak kaget ketika tangan kanan pria itu tiba-tiba meraba kaki atasnya dengan belaian sejuta makna lantas mencengkeramnya. Pandangan mereka bertemu sekilas dan hal itu sama sekali tidak membuat Dhante tersadar. "Burung kecil, bisakah aku meminta yang lain padamu malam ini? Rasanya tidak nyaman, mungkin jika aku menyentuhmu maka aku—, jadi bisakah aku melakukan itu padamu?" **** Jangan lupa tap love ya sayang. Terima kasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN