Aleah kembali ke ruangan Rachel. Di akhir pekan ia bisa menemani Rachel di rumah sakit. Hanya di akhir pekan pula Rachei bisa makan dari tangan ibunya dan tidur dalam pelukan ibunya.
“Mama, aku sangat senang kalau mama libur dan bersamaku seperti ini,” ungkap Rachel.
Aleah tersenyum lembut “maafkan mama ya, tidak bisa bersamamu setiap hari,” sesal Aleah.
“Tidak papa, mama kan harus bekerja untuk pengobatanku, mama tenang saja kan ada kakek yang menjagaku, aku tidak akan nakal kok,” kata Rachel.
Aleah membelai pipi Rachel “kau memang anak yang baik, mama bangga padamu, kau harus semangat ya supaya kau cepat sembuh.”
“Oke, mama!” Rachel memamerkan senyum lebarnya.
Tiba-tiba ponsel Aleah berdering. Telepon itu dari Lucas.
“Ada apa?” tanya Aleah tanpa basa-basi.
“Tuanmu memanggilmu, Aurora,” kata Lucas dari balik telepon.
“Tapi kau harus menunggu Rachel tidur malam ini.”
“Oke, tidak masalah, semakin malam semakin baik dan aku tidak ingin kecewa seperti sebelumnya, kau paham?”
“Baiklah, Tuan,” jawab Aleah.
Telepon ditutup.
“Itu siapa, mama?” tanya Rachel.
“Bukan siapa-siapa, sekarang kau makan ya, ini sudah waktunya makan, mama membuatkan jus alpukat kesukaanmu.”
“Wow, dengan s**u coklat yang banyak?”
Aleah menganggukkan kepala “tentu.”
“Aku mau, aku mau!” seru Rachel.
Aleah pun mengeluarkan termos kecil berisi jus alpukat buatannya lalu menuang jus itu dalam gelas Rachel cepat-cepat meminumnya dengan rakus. Ia menghabiskan jus alpukat itu seluruhnya dan menjilat sisa-sisa jus yang menempel di bibirnya.
“Enak sekali!” serunya “aku mau lagi.”
Aleah menuangkan jus lagi ke gelas dan Rachel meminumnya lagi sampai habis.
“Jus buatan mama yang paling enak,” puji Rachel.
“Terima kasih, sayang,” ucap Aleah dengan senyuman.
***
Aleah bersiap memenuhi panggilan malamnya setelah menidurkan Rachel. Ayahnya sudah duduk di samping ranjang Rachel untuk menjaga gadis kecil itu.
“Aku pergi dulu, ayah,” kata Aleah berpamitan.
“Ke mana?”
“Pekerjaan malamku.”
“Kau masih bekerja di sana?”
“Aku hanya bekerja, ayah, bukan yang lainnya.”
“Aku tahu kau perempuan yang baik, Aleah, tapi apa kau tidak bisa berhenti saja dan mencari pekerjaan lain?”
Aleah menghela napas. Entah sudah berapa kali ayahnya meminta agar dia berhenti menjadi penari. Sebenarnya ia juga setengah hati melakukannya. Tetapi ia merasa inilah dunianya sekarang. Jadi ia harus menikmatinya bukan.
“Sangat sulit mencari pekerjaan yang kita inginkan jaman sekarang, ayah, terlebih aku tak punya latar belakang pendidikan tinggi,” papar Aleah.
“Tapi... .”
“Ayah tenang saja, aku bisa menjaga diri,” potong Aleah kemudian menenteng tasnya dan melangkah pergi.
Aleah membuka pintu dan menatap ke luar. Tetapi ia terkejut melihat orang di depanya. Lucas berdiri tegap di sana. Ia tampak menyeramkan karena wajahnya tertutup bayangan tubuhnya sendiri. Cahaya lampu hanya menerangi bagian belakang tubuhnya. Ia seperti beruang besar yang berdiri di depan pintu dan menanti mangsanya.
“Sudah siap untuk malam ini?” tanya Lucas.
Aleah baru menyadari suara Lucas sangat maskulin dan terdengar seksi di telinganya. Seperti sebuah godaan untuk menaiki ranjang besar dan menyatu di sana dalam peraduan. “Kau kenapa ke sini, apa kau sudah gila?”
“Aku menjemputmu, apa tidak boleh?”
“Tidak boleh!” seru Aleah.
Lucas hanya tersenyum simpul lalu membalikkan badan dan melangkah maju “cepatlah, segera lakukan pekerjaanmu” suruhnya sambil melangkahkan kaki.
Aleah mendengus lalu melangkah dengan kesal mengikuti Lucas. Mereka menuju tempat parkir sepeda motor. Lucas menunggangi motornya dan menyalakan mesin. Tanpa sadar Aleah memandangi pria itu menaiki motornya. Ia tampak sangat gagah di atas motor hitamnya.
“Cepatlah, jangan hanya melamun di situ, apa kau sedang mengagumi ketampananku?”
Aleah mengerjap, bisa-bisanya ia melamun. Dan, astaga, pria tinggi itu benar-benar menyebalkan.
Motor itu melaju kencang menembus udara malam yang dingin. Lajunya makin kencang kala melintasi jalanan yang sepi. Aleah pun berpegangan erat pada jaket Lucas. Lucas menoleh merasakan ketakutan Aleah. Ia tersenyum tipis “peluk saja aku” katanya.
“Tidak, kau hanya mencari kesempatan dalam kesempitan.”
Lucas terkekeh “bukankah setiap hari kau membuka kesempatan untuk banyak orang” sindirnya.
Aleah terdiam merasa tercubit dengan kata-kata Lucas yang memang ada benarnya. Perlahan ia pun memeluk tubuh Lucas. Lucas pun semakin mempercepat laju motornya sehingga Aleah mengeratkan pelukannya. Ia merasakan dua benjolan empuk menempel di punggungnya. Ia tersenyum jahil “besar juga punyamu, aku bahkan bisa membayangkan berapa ukurannya.”
Aleah mendelik lalu menoleh ke arah dadanya “dasar lelaki, otaknya tidak pernah dibersihkan” ketusnya.
Lucas menarik gas motornya tiba-tiba sehingga Aleah terdorong ke depan dan dadanya menempel di punggung Lucas lagi. Ia terperangah lalu mencubit perut Lucas.
“Aw, itu sakit, dasar perempuan!” umpat Lucas.
“Berkendaralah dengan benar atau kita akan jatuh” kata Aleah.
Lucas tersenyum “kau sedang bersama seorang pembalap sekarang” katanya.
“Bagus kalau begitu kita pasti akan cepat sampai jadi aku tidak perlu menempel lagi padamu” ketus Aleah lagi.
Benar saja, tak sampai dua menit mereka sampai di rumah pribadi Lucas. Aleah segera turun dan merapatkan jaketnya menutupi dadanya.
Lucas tersenyum jahil sekali lagi seolah menertawakan Aleah “untuk apa ditutup? Bukankah kau akan membukanya?”
Aleah diam saja tak mau menjawab apa pun. Pria itu memang benar-benar menyebalkan.
Mereka memasuki rumah. Lampu rumah itu mati. Lucas melenggang saja ke kamarnya tanpa menyalakan lampu.
“Kenapa tidak dinyalakan?” tanya Aleah “kalau gelap kau tidak akan bisa melihatku,” lanjutnya.
“Aku masih bisa melihatnya, aku suka begini,” jawab Lucas santai.
Aleah meraba-raba dinding mencari saklar lampu. Setelah ketemu ia segera menyalakan lampu. Lucas pun membalikkan badan menatap Aleah begitu melihat cahaya lampu di rumahnya “kenapa kau menyalakannya, memangnya kau tuan rumah di sini,” ketus Lucas.
Aleah menggigit bibir bawahnya, tersindir “aku tidak suka gelap,” katanya lirih dengan pandangan meredup.
Lucas mengerutkan dahi melihat mata yang meredup itu tapi ia tak mau memikirkannya dan kembali melangkah menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya dan melepas jaketnya lalu duduk dengan nyaman di sofa menatap ke arah Aleah “lakukan tugasmu,” suruhnya.
Aleah pun patuh dan mulai menggerakkan tubuhnya. Ia menari di depan Lucas untuk kedua kalinya. Tetapi tariannya masih sama. Semakin liar gerakannya mengikuti alunan musik ia tak juga melepas pakaiannya.
Lucas mematikan musik dengan guratan emosi di lehernya “kenapa begini lagi?”
Aleah tertunduk, matanya semakin meredup.
Lucas mendekat lalu mencengkeram wajah Aleah “dengar, aku sudah membayar mahal padamu, dan kau hanya tinggal memenuhi tugasmu dengan baik, kenapa kau tidak melakukannya?” sergah Lucas.
Aleah makin tertunduk. Ia menangis, lagi “aku tidak bisa,” ucapnya lirih lalu menggelengkan kepala “aku benar-benar tidak bisa,” desisnya kemudian berlari meninggalkan Lucas dan pergi dari rumah itu secepatnya.
Lucas mengejar tetapi ia berhenti di teras dan membiarkan Aleah pergi begitu saja. Ada apa sebenarnya dengan perempuan itu?