Rival 2

1041 Kata
Rafael masih tak ingin kalah. Ia tetap berdiri sekuat tenaganya. Saat bersamaan Nathan yang baru pulang dari kantor terkesiap melihat dua anaknya sedang berkelahi dan di sini Lucaslah yang menguasai pertandingan. “Lucas, hentikan!” sergah Nathan tetapi tak digubris sama sekali oleh keduanya. Nathan pun menghambur pada Lucas dan Rafael. Ia menggenggam lengan Lucas dan dengan paksa menghentikan pukulan itu. Lucas berhenti saat melihat wajah Nathan yang mendelik kepadanya. Hampir saja ia mendaratkan pukulannya tepat di wajah ayahnya. Di saat yang bersamaan Rafael limbung dan jatuh tak sadarkan diri ke lantai. “Rafael!” teriak Nara begitu melihat anak bungsunya jatuh. *** Rafael dibawa ke rumah sakit. Entah sudah berapa kali ia keluar masuk tempat berbau obat dan jarum suntik itu. Nathan dan Nara menunggu di depan pintu dengan rasa cemas yang hebat. Keduanya mondar-mandir, menunggu dokter memeriksa keadaan Rafael. Sementara Lucas duduk termenung seorang diri di koridor. Ia mengaitkan jari-jarinya lalu ia gunakan untuk menyandarkan kepalanya. Ia menyesal. Lucas menyesali dirinya yang tidak bisa mengendalikan diri. Bagaimana bisa ia semarah itu pada Rafael yang bahkan tak mampu melawannya? Bagaimana bisa ia bersikap seperti pecundang. Sudah jelas ia lebih kuat tetapi ia malah melawan orang yang lebih lemah. Tak berapa lama dokter keluar dengan membawa ranjang Rafael. Ia akan segera dipindahkan ke ruang ICU karena kondisinya yang kritis. Nara menyusul dokter itu tetapi tidak dengan Nathan. Nathan menghampiri Lucas yang masih duduk di koridor. Ia sangat marah pada Lucas. “Tega-teganya kau pukuli adikmu, apa kau ingin membunuhnya?” Nathan nyaris berteriak. “Aku tidak bermaksud seperti itu, papa” bantah Lucas. “Kau memang selalu seperti itu, kau selalu mengganggu adikmu padahal kau tahu kondisinya, apa pun sudah papa berikan padamu, apa itu masih kurang?” Lucas menelan kekesalannya dengan berat di dalam tenggorokan. Ia berdiri tegap menatap wajah Nathan “bukan aku yang kekurangan, pa, tapi papa, papa yang kurang memahami seperti apa diriku”  dengus Lucas kemudian pergi meninggalkan Nathan. *** Esok hari Lucas maupun Rafael tidak ada di sekolah. Selena mendengar kabar bahwa Rafael masuk rumah sakit tetapi tak ada yang tahu di mana Lucas. Sepulang dari sekolah Selena segera menuju rumah sakit untuk menjenguk Rafael yang katanya masih kritis. Saat sampai Selena malah lebih dulu bertemu dengan Lucas yang sedang duduk di taman seorang diri. Ia pun menghampiri pria itu. “Hai,” sapa Selena canggung. Lucas menoleh ke arah Selena sebentar kemudian memandang lurus lagi ke arah kolam ikan kecil di depannya. Selena merasa masih tidak enak pada Lucas karena ia lebih memilih Rafael. Berhadapan dengan Lucas saat ini jadi terasa aneh baginya. Meski begitu ia tak ingin hubungannya dengan Lucas berakhir begitu saja karena hal ini. Ia masih ingin dekat dengan Lucas sebagai teman. Gadis itu lalu duduk di samping Lucas “kenapa kau tidak masuk sekolah? Apa karena Rafael?” tanya Selena. “Langsung saja jenguk kekasih barumu, jangan basa-basi denganku di sini,” ketus Lucas kemudian berdiri hendak beranjak dari tempat yang kini terasa menyesakkan itu. “Apa kita masih tidak bisa berteman?” tanya Selena membuat langkah Lucas terhenti. Lucas menoleh sejenak “untuk apa?” “Kenapa kau tidak bisa berteman denganku? Apa karena kau berselisih dengan Rafael?” Lucas membalikkan badan dan berdiri di hadapan Selena “katakan padaku, Selena, kenapa kau memilih Rafael, bukankah kau sangat menikmati waktu saat bersama denganku, apa karena kau kasihan padanya?” Selena berdiri menatap mata Lucas “kenapa kau sangat membenci saudaramu sendiri?” Lucas terkekeh “kau menjawab pertanyaan dengan pertanyaan? “Kau selalu bersikap semaumu, Lucas, kau pemarah, tidak sabaran dan kau sangat menyebalkan, itu kenapa aku tidak memilihmu,” seru Selena masih menatap Lucas. “Lalu apa hebatnya Rafael?” Lucas terkekeh lagi “dia pemurung, pemalu bahkan tidak bisa berteman, aku heran kenapa wanita suka sekali dengan pria pemain alat musik, bukankah itu sama saja dengan menyukai sesama wanita?” cibirnya. “Dia bisa menghargai apa yang kupilih” seru Selena dengan mata mendelik “dan dia tidak pernah merendahkan saudaranya sendiri” tambahnya. Lucas mendengus “begitukah?” “Rafael tidak pernah merebut apa pun dan siapa pun, Lucas, kaulah yang iri padanya tetapi kau terlalu takut untuk mengakuinya, kaulah pecundang yang sebenarnya, Lucas, bukan Rafael” tegas Selena kemudian pergi meninggalkan Lucas tanpa menoleh padanya lagi. Lucas amat kesal dibuat Selena. Ia menendang rumput dengan kasar dan mengumpat dalam hati. Awas kau, Rafael, lihat saja nanti. Melihat semua orang tidak ada yang berpihak padanya, sejak hari itu Lucas bertekad suatu hari nanti ia akan keluar dari rumah besar keluarga Orlando, ia akan membeli rumahnya sendiri dan membangun dunianya sendiri. Sejak saat itu hubungan Lucas dengan Nathan jadi kian memburuk. Kebenciannya pada Rafael makin tumbuh subur. Setelah lulus sekolah dan melanjutkan di bangku kuliah, Lucas memilih untuk kuliah di universitas dan negara yang berbeda dengan Rafael. Ia menyisihkan sebagian uang sakunya agar bisa segera membeli rumah untuk ia tinggal di masa depan. Selama masa perkuliahan Lucas juga semakin menekuni hobinya pada motor. Ia menerima tawaran untuk mengikuti turnamen balap. Hingga perlahan namanya mulai mencuat di dunia balap. Lucas lulus kuliah lebih cepat dari yang seharusnya. Ia memutuskan konsisten di dunia balap. Namanya kian melambung dan penghasilannya kian melimpah. Suatu hari ia menerima kontrak dengan gaji 240 miliar per tahun dan Lucas menerimanya. Dari penghasilan itu Lucas akhirnya bisa lebih cepat membeli rumah sendiri ditambah dengan tabungan dari uang sakunya. Ia juga membuka bengkel motornya sendiri dan sejak saat itu ia tak lagi menggantungkan hidup pada keluarganya. Sementara Rafael, perkembangan hidupnya tak begitu banyak berubah seperti Lucas. Setelah keluar dari rumah sakit ia kembali sekolah di rumah saja. Sesekali Selena datang untuk menemaninya dan menghilangkan rasa bosannya. Ia kuliah di dalam negeri. Setelah 4 tahun duduk di bangku kuliah Rafael pun meneruskan bisnis keluarga dan mempersiapkan diri sebagai pemimpin yang baru. Nathan ingin kedua putranya memimpin perusahaan warisan keluarganya. Tetapi sejak hubungannya dengan Lucas memburuk, jangankan meminta anak itu menjadi penerus, bertatap muka pun sangat jarang terjadi. Satu-satunya alasan Lucas masih mau pulang ke rumahnya hanyalah Nara karena ia merasa sangat berhutang budi pada wanita itu. *** “Sekarang mama pulang saja, ya” pinta Rafael lembut “aku bisa menemui dokterku sendiri” imbuhnya. Nara menganggukkan kepala “baiklah, mama akan pulang, jaga dirimu baik-baik.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN