Aleah keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai gaun mandi putih. Lucas langsung menoleh ke arahnya begitu ia berdiri di depan pintu dan mata pria itu tertuju pada belahan yang sedikit mengintip dari balik gaun mandi Aleah.
Aleah menelan ludah dan merapatkan gaun mandi itu lalu melangkah mengambil pakaian yang masih berada dalam koper. Ia lalu kembali lagi ke kamar mandi untuk memakai pakaian itu karena tidak mungkin ia memakai pakaiannya di depan Lucas yang tampak santai menatap tubuhnya yang gemetaran.
“Pakai saja di sini,” suruh Lucas sebelum Aleah memasuki kamar mandi lagi.
Aleah menoleh dengan cepat dan memicingkan matanya kemudian kembali lagi memasuki kamar mandi dengan mengangkat dagunya. Sementara Lucas menatapnya dengan menaikkan sebelah alisnya lalu terkekeh menahan geli. Mungkin khayalan liarnya tentang Aleah tidak akan terjadi malam ini. Ya, wanita itu tampaknya masih trauma dengan masa lalunya yang berbuntut pada masa depannya saat ini.
Tak berapa lama Aleah keluar dari kamar mandi. Ia melangkah menuju ranjang Rachel sambil sesekali melirik ke arah Lucas dengan waspada. Sejak tadi pria itu tak melepas pandangan ke arahnya. Ia tahu apa yang Lucas pikirkan. Tapi apa ia harus melakukannya sekarang? Saat bersama Rachel? Lagi pula, apa dirinya siap, mengingat masa lalunya yang begitu kelam? Tidak, ia tidak bisa melakukannya terlebih saat ia masih terbayang-bayang dengan kejadian menyakitkan kala itu. Ia masih takut. Tapi, apakah Lucas akan mengerti?
Tanpa terasa lelah dan rintik-rintik hujan berpadu membawa perasaan nyaman untuk Aleah. Matanya semakin terasa berat dan perlahan ia memejamkan mata. Terakhir kali matanya terbuka yang ia lihat adalah Lucas yang menatapnya kemudian berjalan ke arahnya. Pria itu mendaratkan bibir di kening Aleah. Entah kenapa setelah itu perasaannya menjadi lega. Sambil memejamkan mata ia menarik selimut dan merapatkannya menutupi tubuh Rachel dan memeluknya dengan sayang.
Pagi-pagi saat Aleah membuka mata. Semuanya masih sama seperti yang Aleah lihat terakhir kali. Lucas yang masih berada di ranjangnya, masih terlelap dengan nyaman. Pun Rachel yang masih menikmati mimpinya. Dan, pakaiannya masih menutupi tubuhnya dengan sempurna. Jadi, semalam tidak terjadi apa pun antara ia dan Lucas.
Aleah menyunggingkan senyum tipis lalu beranjak dari tempat tidur. Ia membuka tirai yang menutupi jendela. Di luar matahari tampak tersenyum cerah menyirami bumi dengan cahayanya yang hangat setelah semalam hujan turun membawa hawa dinginnya yang menusuk tulang.
Aleah melangkahkan kaki menikmati pemandangan lapangan golf yang hijau. Tampak di beberapa titik lapangan di tumbuhi pepohonan. Lapangan itu lebih tampak seperti lembah di dunia fiksi entah dari negeri mana, saking cantiknya lapangan itu.
Tiba-tiba sepasang lengan kekar melingkar di tubuh Aleah dari belakang. Terasa napas berembus di bahunya “selamat pagi,” ucap Lucas dengan suaranya yang parau “apa aku mengganggu waktu bersenang-senangmu?”
Aleah tersenyum “tidak.”
“Kau suka tempat ini?” tanya Lucas.
“Ya, tempat yang nyaris sempurna,” kata Aleah dengan mata memuja “omong-omong, kapan balapanmu dimulai?” tanyanya.
“Sekitar dua jam lagi,” jawab Lucas.
Aleah membalikkan badan lalu menggenggam bahu Lucas. Saat berhadapan sedekat itu baru ia sadari tubuhnya sangat kecil dibanding pria besar tampan itu. “Kalau begitu, sekarang bersiaplah, aku akan bangunkan Rachel supaya kau tidak terlambat,” kata Aleah.
“Jangan bangunkan dia dulu,” cegah Lucas.
“Kenapa?”
Lucas merapatkan tubuhnya, mengimpit perempuan itu sampai ke ujung pembatas balkon “apa kau tidak suka kita sedekat ini?” desis Lucas dengan nada sensual.
Pipi Aleah bersemu kemerahan, jantungnya berdegup sangat kencang, darahnya mengalir sangat deras bahkan lututnya terasa lemas. Kenapa semakin dekat pria itu semakin berbahaya? Aleah seperti sama sekali tak bisa mengelak pesona Lucas yang membabat habis kewarasannya.
Lucas menangkup wajah Aleah dan mendekatkan wajahnya. Semakin dekat lalu Aleah memejamkan mata mengisyaratkan ia tak menolak niat Lucas. Lucas menatap bibir yang mengilat terkena cahaya pagi, perlahan dan...
“Mama...” tiba-tiba Rachel bangun, ia menggeliat dan menoleh ke arah balkon.
Aleah terkejut setengah mati dan langsung mendorong Lucas menjauh darinya “ya, sayang, kau sudah bangun?” buru-buru Aleah menghampiri Rachel.
“Apa yang mama lakukan dengan paman itu?” tanya Rachel dengan polosnya.
Aleah terkesiap, matanya mengedar mencari jawaban yang tepat untuk anak sekecil Rachel “ah, tidak, tadi ada debu di mata mama dan paman Lucas sedang meniupkan debu itu,” dalihnya.
Rachel menganggukkan kepala tampak tak ingin tahu lagi.
“Sekarang kau mandi ya, setelah ini kita akan menonton paman Lucas bertanding di sirkuit,” ajak Aleah.
“Tidak, aku mau s**u dulu” sanggah Rachel.
“Ya, baiklah, segelas s**u setelah itu mandi.”
“Baik, bos!” seru Rachel.
***
Mereka tiba di Sirkuit Mugello. Aleah dan Rachel duduk di kursi VIP sehingga bila hujan turun mereka tidak perlu berlari menyelamatkan diri. Sementara Lucas tengah bersiap bersama timnya.
“Mama, aku mau ke toilet,” kata Rachel sambil merapatkan kakinya.
“Kau tidak bisa menahannya lagi?” tanya Aleah.
Rachel menggeleng “tidak bisa lagi,” keluhnya.
“Baiklah, ayo kita ke toilet,” pungkas Aleah. Ia tak risau mencari keberadaan toilet di tempat asing itu. Lucas sudah memberitahukan padanya di mana ia bisa mencari toilet. Mereka hanya perlu berjalan dua menit dari tempat mereka duduk dan mereka bisa menemukan toilet dengan mudah.
Mereka pun sampai di sebuah pintu toiletnya yang ternyata cukup besar untuk ukuran toilet umum. Mungkin karena toilet itu berada di salah satu sirkuit terbaik di dunia. “Mama akan tunggu di sini, kau bisa sendiri kan?” tanya Aleah memastikan.
Rachel mengangguk mantap “bisa,” jawabnya singkat kemudian cepat-cepat memasuki toilet itu.
Di dalam ada dua pintu lagi. Satu menuju toilet pria satu lagi menuju toilet wanita. Rachel anak yang pintar. Dia sudah bisa membedakan mana toilet yang tepat untuknya. Ia pun segera masuk dan menuntaskan hajatnya.
Beberapa menit kemudian ia keluar dengan muka leganya. Di saat bersamaan seorang pria tinggi keluar dari toilet pria. Dan di saat itu pula Rachel terjatuh karena tak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri yang terlepas. Pria tinggi itu segera membantu Rachel berdiri. Rachel hanya diam saja karena tidak mengerti apa yang pria itu katakan. Tapi sepertinya dia bilang “apa kau baik-baik saja?”
Pria itu berlutut dan mengikatkan tali sepatu Rachel sambil sesekali tersenyum ramah pada gadis kecil itu. “Terima kasih,” ucap Rachel.
Pria itu mendelik “jadi kau orang Indonesia?” tanyanya.
“Iya, paman juga orang Indonesia?”
“Ya, paman ke sini demi pembalap kesukaan paman, kau juga suka balapan?”
Aleah menggeleng “tidak, mamaku yang suka, aku lebih suka main dengan barbie,” jawab Rachel.
“Mana mamamu?”
“Dia menunggu di luar,” jawab Rachel.
“Ya sudah, ayo paman antar kau ke mamamu,” ajak pria itu sambil memakai masker di wajahnya lalu menggandeng tangan Rachel.
Rachel pun mengikuti langkah pria itu tanpa curiga.