Sampai di depan Aleah sangat terkejut melihat Rachel digandeng orang asing. Cepat-cepat ia meraih tangan Rachel takut pria yang menggandeng putrinya itu bukan orang baik.
“Jangan khawatir, aku tidak menyakiti anakmu,” kata pria itu dari balik maskernya.
“Iya, ma, tadi paman ini membantuku mengikat tali sepatu,” papar Rachel.
Aleah bernapas lega dan wajahnya berubah canggung “ah, terima kasih,” ucapnya.
“Sama-sama, aku pergi dulu, sampai ketemu di Indonesia,” ucap pria itu kemudian berlalu meninggalkan Rachel dan Aleah yang termangu di tempatnya.
Sampai ketemu di Indonesia? Apa maksudnya?
Aleah pun menggamit tangan Rachel dan melangkah kembali ke kursi penonton. Sesekali ia menoleh ke belakang memandangi punggung pria tadi yang kian menjauh. Entah kenapa mata pria itu tak asing baginya. Aleah menggelengkan kepala. Sudahlah, tak perlu memikirkan pria asing itu. Lagi pula semua wajah orang-orang di tempat itu terlihat mirip.
Saat Aleah dan Rachel kembali duduk pertandingan sudah dimulai beberapa menit sebelum mereka sampai. Lucas tampak memimpin pertandingan. Ia terlihat sangat keren dengan kuda besi besarnya. Aleah berteriak-teriak menyemangati Lucas. Pertandingan berlangsung sangat seru hingga para penonton juga tak kalah heboh dengan Aleah. Mereka menyemangati jagoan mereka masing-masing.
Sementara Rachel duduk diam tanpa mengerti kenapa semua orang berteriak-teriak. Di tambah lagi ia tak tahu apa yang mereka katakan. Semuanya menggunakan bahasa asing kecuali mamanya. Sesekali ia melempar pandangan heran ke arah Aleah yang tiba-tiba berdiri dan lagi-lagi berteriak. Itu cuma adu balap tapi ia seperti baru saja menang lotre.
Rachel lalu mengubah arah pandangannya ke arena balap. Memangnya yang mana paman Lucas? Mereka semua terlihat sama. Sama-sama memakai baju panjang dan helm tertutup. Ah, entahlah.
Gadis kecil itu mengedarkan matanya ke beberapa penonton, memutar kepalanya dan menemukan pria di toilet tadi tengah duduk sambil bersorak tak jauh darinya. Mungkin jarak mereka hanya sepanjang rumahnya. Mata mereka pun bertemu. Pria itu tak lagi memakai maskernya. Ia tersenyum ke arah Rachel. Rachel pun membalas senyuman itu dengan juga mengembangkan senyum di bibirnya.
***
Balapan yang seru itu dimenangkan oleh Lucas. Ia berdiri dengan senyum lebar di atas panggung sambil membawa pialanya yang berkilau. Aleah tersenyum dengan bangga dari bawah menatap Lucas yang bersorak gembira. Tetapi rasanya ada yang aneh di sini.
Lucas turun dari panggung menghampiri Aleah yang menggandeng Rachel. “Kau lihat ini, ini karena kau ada di sini,” katanya sambil menunjukkan piala di tangannya.
Tapi Aleah malah celingak-celinguk.
“Ada apa?” Lucas mengerutkan dahi.
“Kau hanya menunjukkannya padaku? Mana keluargamu? Kau tidak menunjukkan piala itu pada keluargamu?” tanya Aleah.
Mata Lucas meredup “tidak, mereka tidak datang,” jawabnya.
“Tidak datang, Kenapa?”
Lucas menggeleng “mereka tidak akan datang,” jawabnya dengan ekspresi tak terbaca “dan kuharap kau tidak akan menanyakan hal ini lagi,” tambahnya.
Aleah yang baru saja akan membuka mulut mempersiapkan pertanyaan tentang ketidakhadiran keluarga Lucas lagi mengurung pertanyaan itu dalam tenggorokannnya dan membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu tertahan di sana. Lucas sepertinya tak ingin membahas masalah keluarganya.
***
Mereka sampai di hotel. Aleah menjatuhkan diri di ranjang yang nyaman disusul Rachel yang duduk di sampingnya. Aleah menoleh ke balkon memperhatikan Lucas yang berdiri di sana. Entah kenapa sejak tadi pria itu tampak meredup. Tak lagi sumringah padahal sebelum balapan di mulai ia tampak sangat bersemangat.
Aleah pun menghampiri Lucas. Pria itu dengan cepat mengubah ekspresi muram di wajahnya dengan awan-awan kebahagiaan. “Hei, pesawat kita baru akan berangkat malam nanti, mau jalan-jalan dulu?” tanya Lucas seolah tahu Aleah akan menanyakan hal yang tidak ingin ia dengar.
Aleah tahu itu. Lucas tidak akan menjawab jika ia menanyakan ke mana wajah muramnya tadi “akan ke mana kita?”
“Kau akan terpukau dengan negeri yang cantik ini,” kata Lucas kemudian bersiap memakai jaketnya.
***
Mereka sampai di Katedral Milano yang terletak di pusat kota Milan. Katedral Milano adalah salah satu bangunan paling termasyhur di seluruh Eropa. Duomo di Milano ini pembangunannya mencapai 600 tahun di mulai sejak tahun 1387 dengan arsitek pertama Simone da Orsenigo. Pembangunannya terus berlanjut hingga sekarang. Arsitek terakhir tercatat adalah Benigno Morlin Visconti Castiglione tahun 1988.
Salah satu hal yang unik dari gereja ini adalah adanya ratusan patung terbuat dari marmer putih yang diukir dengan detail dan rapi. Marmer-marmer itu didatangkan dari Candoglia, suatu desa di Italia.
Duomo memiliki panjang 158 meter dan lebar 66 meter. Diperkirakan Katedral ini mampu menampung sekitar 40.000 orang dalam sekali misa.
Ada kurang lebih 135 puncak menara, 3.400 patung plus 700 ukiran relief di seluruh katedral ini. Patungnya beraneka macam kisah dari Alkitab, mulai dari orang suci, martir penebusan dosa melalui salib hingga patung yang letaknya paling tinggi, adalah Madonnina. Madonnina adalah sebutan untuk Bunda Maria di kalangan Katolik Roma dan Kristen Ortodoks. Di Katedral ini Madoninna diletakkan di bagian menara runcing tertinggi, salah satu menara runcing dari 135 menara itu.
Untuk masuk ke dalam kaedral ini pengunjung harus mengeluarkan biaya 4 Euro – 15 Euro (Rp 64-240 ribu). Namun jika tak cukup waktu, pengunjung bisa menikmati keindahan Katedral dari luar sembari duduk di tangga masuk di depannya dan melihat ratusan pengunjung bercengkerama dengan merpati-merpati seperti yang dilakukan Aleah, Rachel dan Lucas.
“Kau tahu, dulu aku pernah punya mimpi berkunjung ke katedral ini bahkan menikah di sini,” ungkap Aleah dengan tatapan memuja ke arah Duomo.
“Kalau begitu mari kita menikah di sini,” celetuk Lucas.
Aleah terperangah sebentar lalu tertawa “kau bercanda?”
“Tidak, mari kita menikah di sini,” ulang Lucas dengan matanya yang menatap Aleah dalam-dalam.
Tawa Aleah memudar dengan cepat. Ia tidak bisa berkata-kata. Baginya ajakan seperti itu bukanlah main-main. Apakah pria itu serius?
Wajah Lucas yang serius itu melunak dengan tawa geli yang semakin mengeras. Ia terpingkal-pingkal di hadapan Aleah. Aleah pun jadi kesal “kau memang menyebalkan!” umpatnya sambil memukul lengan Lucas.
Lucas meredakan tawanya yang tak tertahankan “maaf, kau punya waktu 60 hari bukan?”
“Terserah saja, dasar menyebalkan,” gerutu Aleah.
“Tapi setelah 60 hari mungkin saja aku akan benar-benar mengajakmu menikah,” sambung Lucas “dan aku serius sekarang,” tambahnya.
“Ya, berguraulah semaumu,” Aleah tampak tak menghiraukan.
Lucas menatap Aleah lagi lebih serius dari yang pertama “kau harus pikirkan baik-baik Aleah, aku akan menagih hatimu setelah 60 hari.”
Aleah melirik wajah serius itu lalu memalingkan muka tak berani menatap mata Lucas yang dalam dan legam. Ia tahu pria itu benar-benar serius makanya ia memalingkan muka. Mungkinkah ia bisa memberikan hatinya untuk pria itu? Sedangkan sampai saat ini bayang-bayang masa lalunya yang suram itu masih menghantuinya.
“Ah, jam berapa sekarang? Bukankah kita harus ke bandara?” Aleah mengalihkan suasana yang canggung itu.
Lucas pun menyunggingkan senyum tipisnya “baiklah, mari kita pulang.”