Piala Tak Berarti

1246 Kata
Lucas tiba di rumah Aleah, membawa ibu dan anak yang ia bawa dengan selamat kembali ke rumahnya. Thomas sudah menunggu di teras dengan berdiri tegap meski tulangnya yang menua tak bisa menyembunyikan punggungnya yang mulai rapuh dan membungkuk. Rachel langsung menghambur ke arah pria tua itu dan memeluknya. Thomas pun menyambutnya dengan ceria. “Jadi, pak, aku sudah menepati kata-kataku bukan?” ucap Lucas. Thomas menyunggingkan senyum lalu mengangguk pelan “memang seharusnya seperti itulah seorang pria sejati.” Lucas tersenyum “lain kali aku akan mengajak putrimu ke tempat yang lebih jauh,” kata Lucas. “Boleh saja asal kau selalu bisa dipercaya.” “Jangan pernah ragu pada pria sepertiku, pak,” kata Lucas percaya diri kemudian beranjak dari teras kecil itu “permisi, aku juga harus pulang,” ucapnya. “Hati-hati di jalan” ucap Aleah sambil melambaikan tangan. Selepas Lucas pergi Thomas memperhatikan Aleah yang masih tersenyum-senyum “kau menyukainya?” tanyanya tiba-tiba. Aleah tersentak dan langsung menoleh ke arah Thomas “apa?” “Tampaknya tugasku selanjutnya untuk menjadi seorang ayah yang baik sudah tiba,” goda Thomas. Pipi Aleah bersemu merah “ayah, kami belum seserius itu,” kata Aleah malu-malu. “Tapi mungkin akan,” pikir Thomas. Aleah mengedikkan bahu “entahlah,” gumamnya. “Kenapa, kau tampak ragu, apa dia bukan pria yang baik menurutmu?” “Bukan begitu,” Aleah menghela napas lalu duduk di kursi teras. Ia mengelus pegangan pada kursi kayu yang sudah usang itu dan sekilat kenangan tentang ibunya terlintas. “Kupikir kami sangat berbeda,” sambungnya. “Apanya yang beda?” Thomas mengerutkan dahi. “Coba ayah lihat dia, tampan, mapan, siapa yang tidak akan menyukainya, dia bahkan berasal dari keluarga terpandang, sedangkan aku?” Thomas tersenyum lembut “tapi dia mencintaimu kan?” “Memangnya itu saja cukup?” keluh Aleah “dengan segudang perbedaan di antara kami pasti akan sangat sulit untuk mencapai masa depan bersamanya.” “Nak, jujur saja aku sangat bahagia saat tahu kau dekat dengan seorang pria, itu artinya kau mulai bisa membuka diri dan berdamai dengan masa lalu tapi kuharap status sosial kita tidak akan menghalangi jalanmu, pria itu memilihmu pasti karena kau punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh wanita yang sepadan dengannya di luar sana,” papar Thomas. “Coba lihat saja nanti, ayah, bagiku sekarang yang terpenting adalah kesembuhan Rachel” pungkas Aleah sambil membelai pipi bocah cantik itu. *** Lucas menghentikan laju motornya di depan rumah besar keluarga Orlando, keluarga yang tersohor dengan kemasyuran bisnisnya itu tetapi melarat akan cinta di dalamnya. Lucas pun memasuki rumah yang jarang sekali ia datangi itu sambil membawa tas ransel berisi piala kemenangannya. “Lucas, kau pulang?” seru Nara, ibu tirinya. “Ya, mama, aku membawa kejutan untukmu,” jawab Lucas dengan senyum lebar tak sabar ingin menunjukkan keberhasilannya. “Apa itu?” Nara tampak penasaran. “Sebentar lagi mama akan melihatnya,” ucap Lucas. Ia berjalan dengan santai menuju sebuah lemari kaca yang di khususkan untuk memajang piala dan piagam yang dimenangkan seluruh anggota keluarga Orlando. Dengan gerakan hati-hati Lucas membuka tasnya dan mengeluarkan pialanya yang sangat berkilau. “Astaga, apa yang baru saja kau menangkan?” seru Nara begitu melihat piala itu. Lucas tersenyum bangga “aku menjuarai balapan motor paling bergengsi di dunia ini, mama,” jawabmya. “Ya, Tuhan, kau memang berbakat, tapi kapan kau mengikuti balapan itu, kenapa kau tidak memberitahu mama?” “Maaf, ma, tapi mama tidak pernah pergi ke mana pun tanpa sepengetahuan papa, aku tidak ingin mama berdebat dengan papa kalau mama tidak diizinkan pergi melihatku di arena balap,” papar Lucas penuh sesal. Nara tercenung sejenak lalu menyentuh bahu Lucas dengan lembut “maafkan mama, nak, maafkan papa juga, maafkan kami yang tidak selalu ada untukmu,” katanya sambil menahan tangis. “Tak apa, mama,” Lucas menggenggam kedua jemari Nara “yang penting mama doakan aku saja dari sini, itu akan jadi kekuatan terbesarku, ini juga karena doa mama,” tambahnya. Sebelum Lucas memajangnya ke lemari, dipandanginya dulu piala itu dengan bangga. Ia akan memajang piala itu di rak paling atas supaya tidak ada mata yang akan melewatkannya. “Jangan pernah kau letakkan benda itu di sana!” seru Nathan yang entah sejak kapan berada di belakang Nara dan Lucas. Sontak saja Lucas dan Nara menoleh ke arah sumber suara. Mereka melihat mata Tuan Nathan yang terhormat itu menyala menghiasi wajah garangnya. Meski rambutnya sudah banyak memutih dan keriput sudah sangat kentara, ia masih bisa berdiri dengan gagahnya sambil membusungkan d**a. Nathan melangkah mantap dengan jasnya yang masih rapi dan sepatunya yang masih mengilat. Ia lebih tampak seperti Hitler dengan wajahnya yang kejam bersiap mengamuk dan memerintahkan prajuritnya untuk menembakkan meriam. “Papa, aku baru saja memenangkan balapan paling bergengsi di seluruh dunia ini,” ungkap Lucas. Nathan menatap tajam ke arah Lucas “ya, aku sudah mendengarnya, lantas, apa aku harus bangga dengan itu?” Hati Lucas remuk dihantam meriam yang ditembakkan Nathan, hancur berkeping-keping sampai tak berbentuk lagi. Rona bahagia yang tadi menghiasi wajahnya memudar begitu saja terganti oleh wajah yang memucat. “Dengarlah, Lucas Vidar Orlando, dengan namamu itu kau membawa nama baik keluarga ini, aku akan bangga padamu jika kau melanjutkan bisnis keluarga dan mengembangkan cabang-cabangnya bila perlu sampai ke seluruh pelosok dunia!” lanjut Nathan dengan tegas. “Tapi, pa, aku tidak menyukainya, inilah yang aku suka, tidakkah papa bangga padaku, semua orang bahkan memuji-muji namaku sekarang,” bantah Lucas. “Biarkan saja mereka memujamu atau bahkan menyembahmu, mereka tidak tahu yang mereka sanjung-sanjung adalah anak pembangkang!” sergah Nathan. Cukup sudah, Lucas tidak ingin berdebat lagi dengan Nathan yang keras dan angkuh itu. Tanpa ragu ia angkat kaki dari hadapan Nathan tanpa menoleh siapa pun lagi. Ia mengemasi pialanya lagi ke dalam tasnya dan cepat-cepat keluar dari rumah besar keluarga Orlando yang tak pernah bisa menerima kenyataan bahwa ada anggota keluarganya yang enggan berkecimpung dalam dunia bisnis. Dari kejauhan Rafael menyaksikan kejadian itu. Nathan yang bersikeras dengan kehendaknya, Nara yang hanya bisa menangis meratapi nasib putra sulungnya dan Lucas yang selalu pergi dengan penolakan dari Nathan. Dan lagi-lagi Rafael hanya bisa menyaksikan semuanya dari jauh tanpa ia bisa berbuat sesuatu. Rafael duduk di tangga dan menundukkan kepala. Tidak bisakah ia mengubah keadaan keluarga ini. Kenapa ia selalu jadi orang tak berguna. Ia tahu kenapa Nathan selalu memaksa Lucas untuk meneruskan bisnis keluarga, karena dirinya yang lemah, sakit-sakitan dan selalu bergantung pada obat. Mengendarai mobil saja ia tidak bisa bagaimana ia akan menjalankan sebuah perusahaan. Melihat Lucas yang selalu kembali ke rumah ini dengan membawa prestasi, meski selalu ditolak oleh Nathan jauh dalam hati Rafael sangat iri dengan segudang prestasi yang dimiliki kakaknya. Ia juga ingin saat ia pulang ia membawa kabar gembira, bahwa ia telah memenangkan sayembara paling sulit di negeri ini, bahwa ia adalah anak lelaki tangguh yang bisa dibanggakan keluarganya. Tetapi memangnya bakat apa yang ia punya. Bukankah selama ini ia hanya mengikuti siklus keluarganya yang tak pernah berubah. Di mana seorang anak akan mewarisi bisnis yang diturunkan ayahnya dan begitu seterusnya entah sampai kapan. Rafael pun melangkahkan kaki menuju ke depan berharap Lucas belum benar-benar pergi. Ia melewati kedua orang tuanya begitu saja. Keduanya tampak kini beradu argumen tentang Lucas tetapi Rafael tak menghiraukannya. Benar saja, Lucas masih berada di teras. Ia duduk di anak tangga tampak merenung di sana. Rafael menarik napas panjang mempersiapkan nyalinya menghadapi Lucas yang akan selalu naik darah. Ia mengulurkan tangannya berusaha menyentuh bahu kekar Lucas. “Kakak, maafkan aku....”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN