Lucas terkekeh “hanya orang bodoh yang melakukannya,” katanya “untuk apa menunda waktu hanya untuk meyakinkan diri, kalau cinta katakan saja, untuk apa menunggu waktu, bukankah memendam perasaan itu tidak baik untuk kesehatan?”
“Jawaban yang sangat realistis” kata Aleah.
“Apa itu pujian?”
“Menurutmu?”
Jarak wajah Lucas dengan wajah Aleah hanya beberapa sentimeter saja. Lucas memusatkan matanya ke bibir mengilat itu. Saat bibir itu bergerak, gerakannya sangat sensual dimata Lucas. Ingin rasanya ia mendekap bibir itu erat-erat, mencecap rasa manis yang tersembunyi di dalamnya lalu menyimpan rasa manis itu baik-baik dalam memori kepala.
Aleah tahu Lucas menginginkannya. Ia segera mundur dan beranjak dari pangkuan Lucas dengan mukanya yang ditekuk “aku heran, kenapa pria mudah sekali menginginkan bahkan melakukan itu?” Aleah mengerutkan dahi.
“Sebagian besar otak pria memang dirancang untuk memikirkan hal itu,” jawab Lucas sambil mengangkat sebelah alisnya.
Aleah menghela napas, tak habis pikir, “sepertinya aku harus ke rumah sakit, dokter bilang keadaan Rachel sudah membaik dan mungkin dia diperbolehkan pulang hari ini” kata Aleah.
“Baiklah, akan kuantar,” pungkas Lucas.
Motor Ducati super mahal itu pun melaju menuju rumah sakit “pegangan yang erat, aku akan menambah kecepatan,” kata Lucas.
Aleah pun memeluk Lucas dengan pipi merahnya yang panas.
“Jangan malu-malu begitu, aku kekasihmu sekarang,” goda Lucas.
“Cepatlah, aku ingin segera bertemu putriku,” ketus Aleah alih-alih menutupi rasa malunya.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah sakit.
“Sampai di sini saja, aku akan pulang naik taksi,” kata Aleah.
“Baiklah, kuharap setelah ini aku tidak akan menemuimu di tempat berbau obat ini.”
“Kuanggap itu doa untuk anakku.”
Lucas tersenyum “aku pergi dulu.”
“Be careful.”
Aleah memasuki ruangan dengan senyum cerianya. Rachel dan kakeknya sudah membereskan barang-barang untuk segera pulang.
“Akhirnya aku bisa pulang,” seru Rachel.
“Kau senang?” Aleah tersenyum gembira.
“Tentu saja, aku sudah rindu suasana rumah,” Rachel tampak bersemangat.
“Kalau begitu ayo kita pulang, mama sudah pesan taksi di luar,” Aleah dengan semangat mengangkat tas berisi barang-barang Rachel. Akhirnya ia bisa tidur berdua dengan Rachel lagi. Terlebih sekarang ia sudah tidak kerja malam lagi jadi waktunya bersama Rachel lebih banyak lagi.
***
Aleah baru saja berbelanja di super market tak jauh dari rumahnya. Karena sekarang Rachel sudah di rumah ia harus memenuhi kulkasnya untuk bisa menambah daftar menu makanan sehat untuk Rachel. Untuk sampai di rumah cukup naik busway saja dan dalam waktu beberapa menit saja ia akan sampai.
Aleah berdiri menunggu busnya tiba di halte. Tetapi tiba-tiba bahunya disentuh oleh seseorang sehingga membuatnya terkejut. Ia pun menoleh dan ternyata orang itu adalah Rafael.
“Hai,” sapa Rafael dengan senyum ramahnya.
Aleah tersenyum “hai.”
“Kita bertemu lagi, kau mau ke mana?” tanya Rafael.
“Aku mau pulang, kau sendiri?”
“Sama.”
“Tidak membawa mobil atau motor sendiri?” tanya Aleah.
Rafael terkekeh “aku tidak bisa berkendara sendiri.”
Tak berapa lama bus Aleah pun tiba “ah, busku sudah sampai,” kata Aleah.
“Itu juga busku, kita searah ternyata.”
Aleah tersenyum lagi lalu memasuki bus begitu bus itu berhenti disusul Rafael. “Bagus kalau begitu aku bisa ngobrol denganmu lebih lama lagi,” kata Rafael.
Mereka pun duduk bersebelahan.
“Kau belanja banyak sekali?” tanya Rafael seraya memandangi belanjaan Aleah.
“Ya, ini semua untuk putriku, dia baru saja pulang kemarin,” jawab Aleah dengan mata bahagianya.
“Jadi anakmu perempuan?”
“Ya.”
“Selamat ya, untuk putrimu.”
“Terima kasih.”
“Omong-omong kau belanja sebanyak ini sendirian? Suamimu tidak menemani?”
Aleah tercenung sejenak lalu secepat kilat mengembangkan senyumnya lagi “tidak, aku terbiasa melakukannya sendiri,” katanya menahan kepahitan dalam hati.
Tak berapa lama Aleah sampai di halte dekat rumahnya “aku sudah sampai, aku pulang sekarang,” kata Aleah.
Rafael menganggukkan kepala “senang bisa ngobrol denganmu,” pungkasnya seraya memerhatikan kepergian Aleah. Perempuan itu tampak luar biasa. Kuat, tangguh dan tahan banting. Tetapi matanya yang cantik selalu tampak redup seakan ada beban berat yang ia simpan. Begitu pikir Rafael.
***
Aleah masuk ke dalam rumah dan langsung menuju dapur. Ia segera menata belanjaannya ke dalam kulkas dan lemari di dapur. Hari ini ia akan membuat jus alpukat yang banyak untuk Rachel.
Tiba-tiba Rachel menarik bajunya. Aleah pun menoleh ke arah Rachel yang sedang membawa boneka beruang biru kesayangannya. “Ada apa, sayang?” tanya Aleah lembut.
“Mama, apa aku punya ayah?” dengan nada yang lugu Rachel bertanya.
Pertanyaan itu agaknya membuat seluruh persediaan suara dalam tenggorokan Aleah melarikan diri, mereka kabur menjatuhkan diri ke dalam perut Aleah dan memilih larut dalam asam lambungnya. Akhirnya ia mendengar pertanyaan itu langsung dari putrinya.
Rachel menatap Aleah yang malah melamun “kau belum menjawab pertanyaanku, mama,” katanya.
“Ah, em, kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?”
“Saat di rumah sakit aku melihat anak-anak lain dijenguk ayah mereka, bahkan saat makan mereka juga disuapi, aku juga menginginkannya,” papar Rachel.
Aleah merendahkan tubuhnya menyamai tinggi badan Rachel sambil menghela napas. Ia membelai rambut Aleah lalu menyelipkan rambut yang sudah tipis itu ke belakang telinga gadis kecil itu “nak, tidak semua anak beruntung bisa punya ayah,” kata Aleah lembut “di luar sana ada banyak sekali anak-anak yang tidak punya ayah bahkan juga tidak punya ibu,” lanjutnya.
“Kenapa?” Rachel mengerutkan dahi.
Rachel yang makin bertanya justru membuat Aleah makin bingung dibuatnya, harus bagaimana lagi ia merangkai kata-kata “em...nanti saat kau sudah besar pasti akan mengerti,” kata Aleah lalu ia menangkup wajah Rachel “sekarang kau hanya punya mama dan masih ada kakek juga, apa itu tidak cukup? Sekarang mama tidak kerja malam lagi jadi kita bisa bermain lebih lama dan kita bisa tidur bersama.”
Rachel tersenyum lebar “mama tidak kerja malam lagi?”
Aleah menganggukkan kepala.
Wajah polos itu kini mengembangkan kebahagiaan “itu lebih dari cukup,” serunya “aku sayang mama,” ucap Rachel sambil merentangkan tangannya.
Aleah memeluk Rachel dengan sayang “mama juga sayang pada Rachel.”
Rachel pun kembali ke ruang tengah memasuki area imajinasinya lagi, bermain dengan beruang dan barbie yang sedang minum teh.
Thomas, ayah Aleah mendengar percakapan itu. Ternyata sedari tadi ia berdiri tak jauh dari dapur. Aleah hanya melemparkan senyum simpul kemudian ia kembali membereskan belanjaannya. Thomas menghampiri Aleah dan menyentuh bahunya dengan lembut “kapan kau akan terus terang padanya?”
Aleah menghentikan aktivitasnya lalu menghela napas “dia masih terlalu kecil, ayah, terlebih dia masih sakit, aku tidak mau membuatnya sedih.”
“Nak, menunda-nunda sesuatu yang penting itu tidak baik, dia berhak tahu,” bantah Thomas.
Aleah melemparkan senyum tabahnya mencoba mengurangi kecemasan ayahnya “nanti saja kalau waktunya sudah tepat aku akan jelaskan padanya,” pungkas Rachel kemudian melanjutkan aktivitasnya lagi sebagai seorang ibu.