Keluarga Utuh Donovan

1140 Kata
Sekitar tiga puluh menit kemudian mereka sampai di kediaman keluarga Donovan. Rumah yang berada di kawasan mewah dan prestisius itu tetap terasa terlalu besar untuk disebut rumah. Langit sudah gelap ketika mobil Max memasuki gerbang besi tinggi dengan lambang keluarga Donovan yang terukir di tengahnya. Nampak lampu taman menyala berderet rapi, seperti menyambut tamu penting atau menginterogasi mereka. Sementara itu Faith duduk tegak, tangannya berdiam tenang di atas tasnya, tapi napasnya sedikit lebih dalam dari biasanya. “Relax,” ucap Max tanpa menoleh. “Hm,” jawab Faith cepat, lalu ia menambahkan dengan nada santai, “Cuma lagi ngingetin diri sendiri buat nggak terlalu banyak mikir.” Max tersenyum tipis, lalu berkata dengan cepat. “Good, mereka cuma orang tua.” Faith menghembuskan nafas pelan lalu menoleh pelan. “Itu hanya berlaku buat kamu.” Max meliriknya sesaat, lalu sebelum keluar dari mobil ia menyentuh punggung tangan Faith sebentar. Singkat, tapi cukup untuk menenangkan. “Aku di sini,” katanya rendah. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa, cukup. Pintu utama dibuka oleh asisten rumah tangga. Mereka langsung memasuki ruang tamu luas dengan chandelier kristal menyambut mereka seketika aroma bunga putih dan kayu mahal memenuhi udara. Maria Donovan sudah duduk di sofa utama. Posturnya tegak, ia menggunakan gaun sutra krem, rambut tersisir rapi, dan ekspresi yang tidak pernah benar-benar lunak. Sementara sampingnya, Richard Donovan, terlihat lebih tenang, lebih diam, tapi tatapannya tidak kalah tajam. “Max,” sapa Maria. Lalu pandangannya bergeser ke Faith. “Faith.” Bukan sapaan hangat, bukan dingin, gterdengar netral tapi menilai. Faith mengabaikan itu semua, ia tersenyum sopan, lalu menyapa. “Selamat malam, Om.. Tante.” Ia melangkah dengan anggun, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Tapi setara. "Silahkan duduk." Maria mempersilakan duduk, lalu teh disajikan. Beberapa menit pertama hanya percakapan ringan, tentang pekerjaan Faith sebagai jurnalis, tentang acara gala terakhir, tentang kondisi ekonomi. Lalu perlahan, arah pembicaraan berubah. “Jurnalis,” ulang Maria pelan. “Profesi yang… menarik, tapi cukup melelahkan, bukan?” Faith tersenyum tipis sebelum ia menjawabnya. “Tergantung bagaimana melihatnya, saya justru merasa tertantang.” Maria mengangguk pelan. “Tapi tantangan berbeda dengan stabilitas.” Kalimat itu melayang di udara. Arahnya kemana sudah cukup jelas. Max yang duduk bersandar, terlihat santai, tapi matanya tetap ke arah ibunya. Sementara itu Faith terlihat tetap tenang ketika membalas ucapan Maria. “Stabilitas bisa dibangun di mana saja, Tante. Tidak selalu bergantung pada titel.” Maria tersenyum kecil. “Kamu percaya itu?” Pertanyaan itu terdengar ringan, tapi justru terdengar sangat tajam. Faith menatap balik dengan sopan tidak memperlihatkan emosinya. “Saya percaya kemampuan seseorang tidak selalu terlihat dari latar belakangnya.” Suasana seketika terasa sunyi. Sementara itu Richard hanya mengamati tanpa berkomentar. Maria meletakkan cangkirnya, lalu kembali berkata, “Seperti yang kamu tahu, keluarga kami sudah lama berada di posisi ini. Lingkaran sosial kami… spesifik, tidak semua orang nyaman berada di dalamnya.” Memang kalimatnya terasa halus. Tapi maknanya jelas. Faith merasakan sesuatu menekan dadanya. Bukan marah, bukan juga takut, tapi Harga diri. Ia tahu ini bukan sekadar evaluasi sebagai pasangan Max, ini adalah pengukuran kelas. Garis yang tidak terlihat antara “kami” dan “kamu”. Sebelum Faith menjawab, suara Max masuk. “Mom,” katanya santai tapi tegas, “Faith bukan orang yang butuh validasi dari lingkaran sosial mana pun.” Maria menoleh padanya. "Oh ya?" Max melanjutkan, masih dengan nada terkendali. “Dia berdiri di tempatnya sekarang karena kemampuannya sendiri, dan itu lebih dari cukup.” Seketika ruangan terasa lebih berat. Faith tidak menatap Max, tapi ia bisa merasakan posisinya, ia tidak mundur, Max tidak membiarkannya sendirian. Maria menyilangkan tangan, tatapannya yang selalu tajam kini kian tajam dan penuh arti. “Max selalu impulsif dalam memilih hal yang menarik perhatiannya,” katanya pelan. “Aku hanya ingin memastikan ini bukan… fase.” Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang diharapkan. Faith menarik napas, sebelum ia menjawabnya dengan sopan. "Saya bukan fase, Tante,” katanya lembut. Tidak menantang, tidak juga defensif. “Dan saya juga tidak datang untuk membuktikan apa pun. Saya di sini karena saya memilih ada di sisi Max.” Suasana seketika hening. Kalimat itu sederhana. Tapi kuat. Max menoleh padanya, ada sesuatu di matanya, terlihat seperti kagum, mungkin. Atau kepastian yang semakin mengeras. Setelah sekian lama diam Richard akhirnya bicara, suaranya berat tapi tenang. “Pilihan selalu punya konsekuensi.” Max langsung menjawab tanpa rasa ragu, “Saya siap.” Maria memperhatikan keduanya beberapa detik. Lalu ia berdiri dengan anggunya. “Makan malam sudah siap.” Saat Maria berdiri untuk menuju ruang makan, Faith sempat tertinggal beberapa langkah darinya. Ketika berjalan pandangan Faith terhenti pada satu dinding besar di sisi ruangan. Di sana, tergantung beberapa foto keluarga dalam bingkai emas klasik. Foto-foto perjalanan, acara penghargaan, makan malam resmi, semua tampak sempurna tertata, simetris, dan nyaris tanpa cela. Namun, satu foto menarik perhatiannya. Richard dan Maria berdiri di tengah. Max di sisi kanan, sedikit lebih muda, wajahnya belum setajam sekarang. Dan di sisi kiri… seorang anak perempuan mungkin berusia sekitar sepuluh tahun. Rambutnya hitam lurus, mengenakan gaun putih sederhana. Wajahnya cantik, senyumnya selebar Max. Faith sedikit mengernyit, Faith ingat persis anak itu tidak pernah disebutkan. Langkah Maria terdengar mendekat. “Kamu melihat sesuatu yang menarik?” tanyanya halus. Faith menoleh cepat, lalu kembali ke foto itu. “Itu…?” Maria mengikuti arah pandangnya. “Oh.” Ia tersenyum kecil. “Itu adiknya Max.” Faith membeku sepersekian detik. Adik. Max tidak pernah menyebutkan bahwa ia memiliki adik perempuan. “Dia tidak tinggal di sini?” Faith bertanya hati-hati. Maria merapikan ujung bingkai foto dengan jarinya, gerakannya lembut tapi terasa posesif. “Dia sedang ada studi tour di Singapore,” jawabnya tenang. “Lusa baru pulang.” Nada suaranya berubah sedikit pada kata terakhir, tidak sedih tidak juga hangat, hanya terdengar informatif. Faith kembali menatap foto itu. Ada sesuatu di mata anak itu yang membuat dadanya terasa aneh, sepertinya ia sedikit kecolongan tentang informasi ini. Namun, Max tiba-tiba muncul di samping Faith. “Kamu udah lihat semua koleksi lama Mami?” katanya ringan, tapi suaranya terdengar sedikit lebih datar dari biasanya. Faith menoleh padanya. “Aku baru tahu kalau kamu punya adik.” Keheningan kecil tercipta, sesaat. Max menatap foto itu sebentar sambil tersenyum. “Ya, maaf aku nggak bilang sebelumnya,” jawabnya singkat. Maria memandang keduanya bergantian. “Kami keluarga yang sangat protektif,” katanya pelan. “Tidak semua hal perlu diumbar ke publik, termasuk urusan pribadi.” Kalimat itu terasa seperti pesan terselubung. Entahlah, mungkin memang seperti itu. Max menyentuh punggung Faith ringan. “Ayo,” katanya. “Makan malam keburu dingin.” Di meja makan panjang itu, percakapan tetap formal. Tapi tidak lagi menusuk setajam tadi. Sementara itu, di bawah meja, tanpa terlihat, tangan Max menyentuh tangan Faith sebentar. Bukan untuk mengendalikan namun untuk menenangkannya. Faith tidak menoleh, tapi ia membalas genggaman itu dengan lembut. "Makasih."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN