Demi Setara Dengannya

1191 Kata
“Jarang sekali kamu datang tanpa janji resmi,” katanya pelan. “Biasanya kamu kirim email panjang dulu.” Di balik meja Dr. Arman Prasetyo dosen pembimbingnya dulu menatapnya lewat kacamata tipis. Faith tersenyum kecil, lalu menjawab, “Sekali-sekali pengen nostalgia, Pak.” Dr. Arman tidak tersenyum balik. “Saya tahu sekali seperti apa kamu, kamu bukan tipe orang yang datang hanya untuk nostalgia, Faith.” Suasana seketika hening. Ada jeda sejenak diantara percakapan mereka. Faith duduk perlahan lalu ia berkata dengan tenang. “Saya mau minta bantuan, Bapak.” Alis Dr. Arman naik sedikit. “Apa yang bisa Bapak bantu?” “Saya ingin masuk ke forum Sinergy University International, bukan sebagai peserta biasa, saya ingin duduk di panel atau setidaknya masuk ke lingkaran komite diskusinya.” Dr. Arman bersandar, permintaan Faith cukup berat untuk ia acc. “Faith, itu forum tertutup, disana hanya ada mayoritas akademisi senior dan industrial partner.” Ia menatap Faith lebih tajam. “Kamu tahu itu, kan?” “Iya saya tahu Pak.” “Dan kamu bukan akademisi penuh waktu.” “Lebih tepatnya belum, Pak, jawab Faith itu tenang, bahkan terdengar terlalu tenang. Dr. Arman menyilangkan tangan, lalu menarik nafas panjang, lalu kembali bertanya, “Kenapa sekarang?” Faith tidak langsung menjawab, ia menatap sebentar ke arah jendela. “Karena saya pikir, sudah waktunya saya memperluas posisi.” “Posisi?” ulang Dr. Arman pelan. “Maksud saya pengaruh,” koreksi Faith lembut. Dr. Arman terdiam beberapa detik, ia mengenal Faith cukup lama untuk tahu kapan muridnya itu berbicara jujur dan kapan ia menyederhanakan sesuatu. “Selama Bapak kenal kamu, kamu tidak pernah peduli dengan forum elit,” katanya akhirnya. “Kamu selalu lebih tertarik pada dampak sosial langsung.” Faith menaggapinya dengan tersenyum tipis. “Orang bisa juga berubah, Pak.” “Tapi tidak secepat ini.” Kalimat itu menggantung. Faith kembali menatap dosennya lurus. “Saya tidak minta jalur belakang, saya mau masuk dengan kredensial.” “Dengan apa?” “Saya siap menulis paper, topik kebijakan pendidikan dan struktur pengaruh sosial di universitas privat global.” Dr. Arman mengetuk meja pelan dengan jarinya, mempertimbangkan penawaran Faith. “Topik itu terlalu sensitif.” “Saya tahu.” “Kamu tahu Sinergy punya banyak koneksi keluarga konglomerat?” Faith tidak berkedip, ia menjawab tegas tanpa ragu. “Justru itu.” Dr. Arman menyipitkan mata sedikit. "Apa kamu sedang mengejar seseorang?” Pertanyaan itu langsung, tidak berputar. Namun, tidak membuat Faith tersentak, meski ada sepersekian detik jeda sebelum ia menjawab. “Saya mengejar posisi yang lebih setara.” Mendengar jawaban Faith, Dr. Arman menghela napas. “Faith… kamu murid terbaik saya, kamu ambisius, iya. Tapi kamu biasanya ambisius karena ide, bukan karena orang.” Nada suaranya berubah lebih pelan. “Jangan sampai kamu masuk ke arena yang bukan karena kamu percaya pada isinya, Faith.” Faith menegakkan bahunya sedikit. “Saya percaya saya bisa ada di ruangan itu tanpa merasa kecil.” Dr. Arman menatapnya lama, ada kekhawatiran muncul di bendaknya. “Apa kamu sedang merasa kecil sekarang?” Pertanyaan itu nyaris seperti pukulan lembut ke d**a. Tapi Faith hanya tersenyum. “Saya hanya ingin memastikan tidak ada yang bisa meragukan posisi saya lagi.” "Baiklah." Dr. Arman bangkit, berjalan ke rak, mengambil satu map tipis. “Sinergy membuka satu slot panel tambahan untuk kolaborator muda, tapi kandidat harus punya draft paper dalam tiga minggu. Bukan tiga bulan.” Ia menaruh map itu tepat di depan Faith. “Kalau kamu gagal, nama kampus ikut terbawa.” Faith membuka map itu perlahan. “Dan kalau berhasil?” tanyanya. Dr. Arman menatapnya serius. “Kalau berhasil, kamu tidak perlu lagi membuktikan diri ke siapa pun.” Suasana seketika kembali hening. Lalu ia menambahkan pelan, “Tapi kalau motivasimu bukan akademik, mereka akan mencium itu.” Faith menutup map itu, berdiri. “Saya tidak akan membuat Bapak terlihat salah memilih.” Dr. Arman mengangguk tipis. “Saya tahu kamu pintar. Itu yang justru membuat saya khawatir.” Faith tersenyum kecil. “Tenang, Pak, saya tidak sedang lari dari siapa pun.” Ia pun keluar dari ruangan dengan tenang, tapi saat ia keluar dari ruangan itu, langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Karena untuk pertama kalinya, seseorang hampir membaca alasan sebenarnya di balik ambisinya. Faith keluar dari gedung lama di sisi timur kampus Synergy University International dengan map tipis di tangan. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang utama. Awalnya Faith tidak terlalu memperhatikan. Sampai pintu belakang terbuka, dan Maria Donovan turun dengan langkah terukur membuat Faith membeku sepersekian detik. Ketika Maria mengangkat wajahnya, ia langsung melihat Faith. Namun langkah Maria tidak berhenti begitu saja, ia tetap berjalan menuju gedung utama, tapi saat jarak mereka tinggal beberapa meter, ia berhenti. “Faith." Nama itu keluar bukan sebuah pertanyaan, tapi sebuah pernyataan. Faith menegakkan bahunya, seraya tersenyum dan berkata, “Selamat siang Tante Maria.” Maria tersenyum tipis sambil memandang map di tangan Faith. “Kamu mahasiswa di sini?” “Bukan Tante, saya alumni kampus lain," jawab Faith dengan tenang. “Saya sedang mengurus kolaborasi riset.” Maria menoleh sekilas ke gedung yang baru saja Faith tinggalkan. “Dengan siapa?” “Dr. Arman Prasetyo.” Maria mengangguk tipis. “Kampus ini cukup selektif dalam membuka pintu,” lanjut Maria. “Terutama untuk forum Sinergy.” Faith balas menatapnya tanpa goyah. “Saya tahu.” “Kamu bergerak cepat, ya...” katanya pelan. “Beberapa hari lalu kamu bahkan belum pernah menyebut nama Sinergy.” Faith tersenyum tipis, tidak ada emosi di wajahnya, ia tetap tenang. “Kadang keputusan terbaik memang tidak diumumkan dulu.” Angin sore berhembus pelan, menggerakkan ujung rambut Faith. Maria mendekat satu langkah, suaranya kini terdengar lebih rendah sekarang. “Apa ini tentang Max?” Faith tidak langsung menjawab, ada jeda sejenak diantara keduanya. “Saya tidak pernah membangun sesuatu hanya untuk seseorang,” katanya akhirnya. “Kalau saya masuk ke sini, itu karena saya mampu.” Maria menatapnya tajam, bukan lebih lunak, tapi lebih… mengukur ulang. “Kemampuan bisa diuji,” katanya. “Tapi latar belakang juga penting.” “Latar belakang saya tidak memalukan,” jawabnya singkat, tapi tetap sopan. “Saya tidak bilang memalukan,” balas Maria cepat. “Saya hanya belum melihatnya.” Di kejauhan, suara mobil keluar-masuk gerbang terdengar samar. Maria menghela napas tipis, lalu lanjut berkata, “Kamu tahu keluarga kami terbiasa memverifikasi segala sesuatu.” Faith hanya mengangguk kecil, sementara Maria menatapnya lurus. “Undang kedua orang tuamu buat makan malam.” Faith terdiam, tidak langsung menjawab. “Bukan acara formal,” lanjut Maria. “Hanya pertemuan keluarga, saya ingin mengenal dari mana kamu berasal.” Faith menjaga ekspresinya tetap tenang, sebelum ia menjawabnya. “Saya akan sampaikan pada orang tua saya.” Maria mengangguk puas. “Bagus.” Lalu ia berbalik, berjalan menuju gedung dengan langkah yang tetap anggun. Sementara Faith tetap berdiri di tangga beberapa detik setelah mobil Maria menghilang. Permintaan itu terdengar sederhana. Tapi Faith tahu artinya, ini bukan lagi soal dirinya saja, ini tentang keluarganya. Tentang akar yang selama ini tidak pernah ia pamerkan, dan untuk pertama kalinya, ambisinya menyentuh wilayah yang lebih rapuh. Bukan harga dirinya. Tapi harga diri keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN