“Dia sedang di taman belakang,” kata perawat pelan. “Kondisinya stabil… tapi…”
Max tidak menjawab, ia tidak siap untuk kata setelah tapi.
Langit mendung ketika Max memasuki rumah sakit yang tidak biasa tulisan Rumah Sakit Jiwa di papan depan terasa seperti vonis, bukan nama.
Tangannya ada di saku jas, tapi jemarinya gemetar. “Alisha…” suaranya pecah sebelum nama itu selesai.
Alisha duduk sendirian.
Rambutnya dulu panjang dan selalu terawat kini tergerai asal, tubuhnya jauh lebih kurus, ia menggunakan gaun rumah sakit kebesaran di tubuhnya.
Ia menatap langit seperti anak kecil yang tidak tahu sedang menunggu siapa.
“Ya?” suaranya lembut. Polos. “Kita… kenal?”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.
Membuat Max membeku tak berdaya, beberapa detik kemudian Max berlutut di hadapannya tanpa sadar. Ia tidak peduli kalau jas mahalnya menyentuh tanah.
“Ini aku…” suaranya serak. “Max.”
Alisha mengernyit. “Maaf… aku nggak ingat.”
“Dulu kamu bilang,” Max kembali bicara dengan suara bergetar, “kalau suatu hari kamu lupa semuanya, kamu mau aku ceritakan lagi dari awal?”
Alisha hanya tersenyum tipis. “Aku bilang begitu?”
“Iya.”
“Kedengarannya romantis.”
Max menatapnya lama, luka di matanya tidak bisa lagi ia disembunyikan.
“Itu bukan romantis,” bisiknya. “Itu janji.”
Angin bertiup pelan, rambut Alisha bergerak, tapi ekspresinya tetap kosong.
“Kamu nggak perlu mengingatku,” katanya pelan. “Aku yang akan mengingat untuk kita berdua.”
Alisha menatapnya lama, untuk sepersekian detik ada sesuatu di sana.
Sesuatu yang hampir seperti pengenalan.
Max memejamkan mata.
“Aku nggak akan pergi,” jawabnya tegas, meski suaranya pecah. “Nggak sekarang, nggak akan pernah.”
Disaat yang bersamaan perawat datang mengatakan bahwa waktu kunjungan habis.
Alisha bangkit perlahan, sebelum ia pergi ia menoleh lagi.
“Max?”
“Iya?”
“Besok… kamu bisa datang lagi? Ceritakan tentang kita.”
Max hanya tersenyum, senyum yang terasa seperti luka terbuka. “Setiap hari kalau perlu.”
Alisha tersenyum cerah, seperti tidak tahu bahwa hatinya sendiri sedang menghancurkan seseorang.
Dan ketika pintu bangsal tertutup di belakangnya Max akhirnya berdiri sendirian di taman itu.
Tidak ada saksi ketika air matanya jatuh, tidak ada yang tahu bahwa lelaki setenang itu sedang hancur total.
Karena perempuan yang dulu ia cintai masih hidup.
Tapi tidak lagi mengingat bahwa ia pernah dicintai begitu dalam.
-
Langit sudah gelap ketika Faith baru keluar dari ruangan kantornya. Lampu-lampu gedung kantornya menyala, lalu lintas malam ini tampak begitu padat, sementara kepalanya masih penuh revisi naskah.
Di tengah hiruk pikuk karyawan lain yang juga pulang kantor, Faith membuka ponselnya.
Max: Udah selesai?
Faith tersenyum tipis ketika melihat pesan singkat itu.
Faith: Baru banget, kenapa?
Balasan datang cepat.
Max: Tunggu di depan ya, jangan dulu pulang.
Faith kembali tersenyum ketika membaca pesan itu, ia lalu mengembuskan napas kecil, dan melangkah ke lobi. Begitu pintu kaca terbuka, rupanya mobil Max sudah parkir rapi di sisi jalan.
Ia melihat Max turun sebelum Faith mendekat, jasnya masih rapi, tapi dasinya sudah sedikit longgar. Namun begitu melihat Faith, ekspresinya langsung berubah lebih lembut.
“Hai, capek banget ya?”
Faith nyengir kecil, dan berkata, “Kelihatan banget, ya?”
“Hm, transparan banget,” Max mendekat sedikit, menatapnya serius tapi hangat. “Tapi tetap cantik.”
Faith tak kuasa menahan tawa, lelahnya mendadak mulai menghilang. “Ih, bisa aja.”
“Fakta kok,” jawab Max santai.
Ia mengambil tas kerja Faith tanpa meminta ijin atau banyak komentar, gerakannya natural, seperti sudah terbiasa.
“Ayo, masuk, kamu pasti belum makan, kan?”
Mobil melaju pelan di tengah kemacetan, lampu-lampu jalanan mulai menyala satu persatu, sementara Faith bersandar, melepas sepatu ketsnya sedikit.
“How was your day?” tanya Max membuka percakapan mereka.
“Chaos, editor aku kayak lagi PMS barengan sama deadline.”
Mendengar hal itu membuat Max ketawa kecil. “Berani banget ya ngomong gitu.”
“Ya kan cuma ke kamu, aja.”
Suasana terasa lebih ringan, namun beberapa detik kedepan hening. Faith melirik ke arah Max, ragu untuk mengutarakan namun ia tetap berkata, “Kapan hari aku ketemu ibu kamu.”
Max langsung menoleh sedikit. “Oh ya?”
“Iya.”
“Terus?”
Faith menarik napas pelan, sebelum lanjut menjawab. “Beliau minta ketemu sama orang tuaku.”
Max terdiam sejenak, tapi bukan tipe yang panik.
“Kamu kepikiran?”
Faith mengangkat bahu kecil. “Nggak juga sih, cuma nggak mau aja orang tuaku ngerasa kayak lagi di tes.”
Mobil berhenti ketika sudah berada di lampu merah, lalu Max menoleh penuh ke arah Faith.
“Dengerin ya.” Nada suaranya santai, tapi tetap tegas. “Cepat atau lambat pertemuan kedua keluarga itu pasti terjadi dan itu bukan buat ngetes siapa-siapa, itu cuma cara keluargaku yang memang… agak ribet.”
Faith tersenyum miring, lalu kembali menatap ke arah depan. “Agak ribet itu understatement banget sih.”
Max tertawa kecil. “Iya, fair.”
Ia mengulurkan tangan, menggenggam tangan Faith santai di atas konsol tengah.
“Kamu nggak akan sendirian Faith, kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman, aku yang handle.”
Faith menatap tangan mereka beberapa detik, genggaman tangan Max terasa begitu hangat dan stabil.
“Kenapa sih kamu bisa selalu tenang banget?”
Max mengangkat bahu ringan sambil tersneyum ia berkata, “Karena aku tahu aku milih siapa.”
Faith terdiam. Kenyamanan dan rasa bimbang kini bercampur menjadi satu.
Mobil kembali berjalan, lalu setelah beberapa ratus meter kemudian mobil berhenti di depan restoran kecil yang cozy, bukan tempat fancy biasanya. Lampunya hangat, interiornya kayu, terasa begitu nyaman.
“Kita ke sini?” Faith sedikit kaget.
“Iya, kamu butuh makan enak, bukan tempat yang bikin kamu overthinking.”
Sektika Faith tertawa. “Akhirnya kamu sadar juga aku manusia biasa.”
Max pun tak bisa menahan tawanya, ia menggeleng lalu mengacak lembut puncak kepala Faith. Membuat wajahnya merona merah.
Setelah itu, Max turun duluan, lalu membuka pintu untuk Faith.
“Princess tetap manusia biasa,” katanya santai.
Faith berhenti sebentar, tidak memahami maksudnya. “Princess?”
Max menatapnya lurus. “Emangnya salah?”
Faith pura-pura berpikir, lalu menatap Max tanpa bisa menahan senyumnya. “Nggak sih… cuma jarang ada yang treat aku kayak gitu.”
Max tidak langsung menjawab, ia lantas kembali menggenggam tangan Faith dan mengajaknya masuk ke dalam restoran tersebut.
Ketika mereka duduk Max langsung memesan sup hangat dan makanan favorit Faith tanpa bertanya terlebih dahulu padanya.
“Eh, kok kamu tau sih?”
“Bukannya kamu selalu pesan itu kalau lagi stress?”
Faith bengong sedikit, merasa kaget sekaligus heran. “Perasaan aku nggak pernah bilang.”
Max tersenyum tipis. “Kamu nggak perlu bilang.”
Sepanjang makan, Max lebih banyak mendengarkan. Faith bercerita soal revisi, soal tekanan kantor, soal Maria.
Max hanya sesekali menimpalinya, “Ya ampun, editor kamu kayaknya butuh liburan deh,” atau “Tulisan kamu emang detail, wajar aja kalau jadi perhatian.”
Tidak sok jadi pahlawan, tidak juga mengecilkan masalah, Max hanya hadir, mendengarkan tidak mengabaikannya.
Di tengah obrolan, Max meraih tangan Faith lagi, ia kembali menggegamnya dengan lembut.
“Kamu itu kuat banget,” katanya pelan.
Faith menimpalinya dengan bercanda, “Iya dong, mental baja.”
Seketika Max tertawa, tapi matanya serius. “Bukan cuma itu."
Faith berhenti bercanda.
“Kamu selalu berdiri sendiri, tapi sekali-sekali boleh kok nggak," ucap Max yang nada suaranya lembut sekali. “Aku ada.”
Faith menelan ludah pelan.
Sepanjang hidupnya, ia jarang dijemput setelah hari panjang, jarang ada yang memastikan ia sudah makan atau belum, jarang ada yang berkata aku ada tanpa syarat.
Max mengangkat tangan Faith, mengecup ringan punggung tangannya.
“Mulai sekarang,” katanya santai tapi mantap, “habis kerja capek, kabarin aku, ya. Jangan sok kuat sendirian.”
Faith tak kuasa menahan senyumnya, kali ini tidak dibuat-buat, lalu ia menjawab lembut, “Siap.”
Max mengangkat alis sedikit. “Gitu doang nih?”
Faith tertawa kecil. “Iya emang harus gimana? Ntar jadi kebiasaan dimanja, tau.”
Mendengar jawabannya Max kembali menatapnya lama. “Kalau itu bikin kamu merasa aman, kenapa nggak?”
Dan malam itu, setelah hari yang panjang dan penuh tekanan, Faith merasa hangat dengan cara yang asing.
Bukan karena mewah, bukan juga karena status.
Tapi karena ada seseorang yang memperlakukannya seperti berharga… tanpa membuatnya merasa kecil.