Di pagi hari yang sunyi, Faith kembali menatap foto pernikahannya yang terpajang di kamarnya. 2 malam berlalu tanpa sedikitpun kabar dari Max, sedang apa, lagi dimana, dan mengapa. Rentetan pertanyaannya itu sampai detik ini tidak membuahkan hasil.
Faith pun lantas melangkah menuju ruang makan. Di sana aroma roti panggang dan s**u hangat sudah memenuhi ruangan, ia berdiri di dekat meja lalu menuangkan s**u ke dalam gelas kecil.
“Pelan-pelan, nanti tumpah,” katanya sambil tersenyum.
Kimberly dengan seragam sekolah dan rambut yang belum sepenuhnya rapi tersenyum padanya.
“Siap bos.”
Dua detik kemudian…
splash.
Susu tetap tumpah tapi sedikit. Seketika Kimberly langsung menutup mulutnya.
Melihat hal itu Faith tertawa kecil. “Nah kan,” ucapnya ringan.
“Yah…” Kimberly meringis. “Kayaknya aku grogi deh.”
“Grogi kenapa?”
Kimberly menatapnya, lalu berkata jujur, “Soalnya dilihatin ama Kakak.”
Faith mengangkat alis, pura-pura heran. “Jadi maksudnya, Kakak yang bikin kamu grogi?”
Kimberly mengangguk cepat. “Iya, abisnya Kakak cantik banget sih hari ini,” ucap Kimberly sambil nyengir lebar.
Seketika Faith tertawa, kali ini lebih lepas hingga matanya berair.
“Kamu nih ya, belajar dari mana sih ngomong kayak gitu?”
“Dari Kak Max.”
Langkah Faith sempat terhenti sepersekian detik, namun ia tetap tersenyum. “Oh ya?”
Kimberly mengangguk bangga. “Iya, Kak Max bilang perempuan itu harus sering dipuji, biar dia tahu kalau dia berharga.”
Mendengar hal itu hati Faith menghangat tapi sekaligus terasa sedikit sesak.
Ia lantas mengusap rambut Kimberly pelan. “Kamu juga berharga,” ucapanya dengan lembut.
Kimberly tersenyum lebar, dan suasana pagi itu terasa begitu ringan, nyaman.
Seperti kehidupan sederhana yang tidak perlu ia pikirkan terlalu keras.
Akan tetapi suara langkah kaki di tangga merubah suasana hangat itu, bahkan sebelum Faith sempat menoleh.
“Pagi,” suara Maria terdengar tenang.
Namun membuat Kimberly langsung duduk lebih tegak.
“Pagi, Mah.”
Faith menoleh dan tersenyum sopan padanya. “Pagi juga, Mah.”
Maria berhenti sebentar, lalu tatapannya jatuh pada Faith dan senyum tipisnya muncul.
Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi paling ujung. Setelah para pelayan menyajikan kopinya Maria lantas mengaduknya perlahan, tanpa terburu-buru.
“Kamu mau berangkat kerja?” tanya Maria dengan nada tenang.
"Iya Mah," jawab Faith sembari mengangguk.
Maria mengangguk kecil. “Masih betah kerja di sana?”
“Iya.”
“Pekerjaan yang… cukup dinamis.”
“Banyak hal yang bisa dipelajari selama bekerja,” ucap Faith sembari tersenyum tipis.
Maria menyesap kopinya, lalu meletakkan cangkirnya dengan rapi. "Tapi pekerjaan itu menuntut waktu, energi, dan… eksposur yang tinggi.”
Faith mulai menangkap arah pembicaraan itu. “Aku sudah terbiasa, Mah,” ucap Faith tetap tersenyum saat menjawabnya.
Maria mengangguk. “Tentu.”
Ia menyandarkan tubuhnya dengan elegan. “Biasanya, setelah menikah… ritme hidup seseorang berubah,” lanjutnya yang seolah sedang berbagi sesuatu dengannya.
Faith hanya terdiam.
“Apalagi ketika seseorang menikah dengan pria yang memiliki posisi seperti Max," lanjut Maria. “Sebagai istrinya, kamu nggak hanya membawa nama kamu sendiri.”
Tatapannya kini benar-benar menahan Faith di tempat.
“Ada nama keluarga yang ikut kamu bawa ke mana-mana.”
Suasana di ruangan itu seketika sunyi. Kimberly melirik Faith dengan cemas.
"Aku ngerti kok, Mah," ucap Faith seraya menggenggam tasnya sedikit lebih erat.
"Sudah seharusnya kamu mengerti," balas Maria. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang tetap lembut “Makanya Mama sedikit heran.”
Faith menatapnya dengan kening berkerut. “Heran...?”
Maria mengangguk pelan. “Dengan semua tanggung jawab itu… kamu masih memilih berada di lapangan, bertemu banyak orang dan menulis… apa pun yang perlu ditulis.”
Lalu ia memiringkan kepala sedikit. “Apa itu keputusan yang tepat… untuk posisi kamu sekarang?”
Kalimat itu tidak keras, tidak juga tinggi, namun terasa seperti garis tipis yang sengaja ditarik.
Faith menelan pelan ludahnya, ia menghembuskan nafas pelan, lalu berkata, “Aku hanya ingin tetap ingin bekerja, Mah.”
Maria mengangguk, seolah jawaban itu sudah ia duga. “Nggak ada yang melarang kamu, kok.”
Lalu ia kembali tersenyum manis, namun tetap dingin.
“Hanya saja… dalam dunia seperti ini, pilihan sekecil apa pun bisa mencerminkan banyak hal.”
Ia menatap Faith lebih dalam. “Termasuk bagaimana seseorang memahami tempatnya.”
Mendengar ucapan Maria yang penuh tekanan membuat Kimberly langsung bersuara pelan, “Ma…”
Namun Maria mengangkat tangannya sedikit. “Kim, sarapannya dihabiskan dulu,” ucapnya dengan sangat tegas.
Kimberly seketika terdiam. Sementara Faith berdiri perlahan, terlebih saat ini tasnya sudah berada di tangannya.
Ia tersenyum, lebih tenang, lebih terkontrol, lalu ia berkata, "Makasih Mah buat masukannya.”
Maria mengangguk, seolah percakapan itu tidak lebih dari obrolan pagi biasa.
Namun saat Faith berbalik dan melangkah keluar ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan sekadar tidak disukai, bukan sekadar dinilai. Tapi sedang… ditempatkan,di posisi yang harus ia perjuangkan.
Karena di rumah ini menjadi istri Max Donovan ternyata bukan akhir dari perjuangan. Justru… awal dari ujian yang sesungguhnya. Dan Faith tahu itu sejak ia memutuskan untuk menikah dengan konglomerat.
-
Ruang redaksi tetap ramai seperti biasa, tapi begitu sampai di meja kerjanya Faith langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi, lalu menghembuskan nafas panjang.
“Capek banget…” gumamnya pelan.
Dita yang berada di depannya langsung menggeser kursi dan duduk di depan mejanya. “Lah baru setahun nikah, harusnya glowing, bukan ngos-ngosan gini.”
Faith melirik tajam, lalu kembali menghembuskan nafas berat. “Glowing apaan, ini mah survival,” jawabnya dengan nada mengeluh.
Seketika Dita tertawa. “Kenapa? Drama mertua ya?”
Faith mendengus dan mengangguk. “Pagi-pagi udah disindir, halus sih… tapi nusuk banget, ampe ke tulang sumsum paling belakang.”
Mendengar curhatanya Dita langsung tepuk meja pelan. “Gue bilang juga apa, tipe-tipe ‘aku nggak nyerang kamu kok’ tapi abis itu mental lo dibikin ancur.”
Faith ketawa kecil, tapi lelah. “Dia nanya kerjaan gue, terus kayak… yaudah lah, basically nggak cocok jadi istri CEO.”
Dita melongo. “Lah terus? Mau disuruh jadi pajangan doang?”
“Kayaknya iya.”
“Gila sih, lo bukan vas bunga anjir.”
Ucapan Dita seketika membuat Faith tertawa keras. “Thanks ya, analoginya bagus banget,” ucapnya lalu kembali tertawa hingga matanya berair.
“Tapi serius, lo gimana? Max tau?” lanjut Dita dengan mimik serius.
Faith langsung terdiam, ia lantas menunduk namun pandanganya kosong.
Melihat mimik wajah Faith yang kurang baik, membuat Dita semakin mendekatkan badan ke depannya.
“Eh.”
Faith melirik HP-nya sebentar, lalu bergumam pelan, “Belum dibales dari semalem.”
“Red flag nggak sih?” ucap Dita sembari memasang mimik drama.
“Jangan mulai deh.”
“Ya kan aneh, udah nikah loh ini, bukan gebetan ghosting.”
Faith menghela napas sebelum membalasnya, “Iya… gue juga ngerasa aneh.”
Namun belum sempat lanjut...
“DITA! FAITH! CEPET SINI!”
Mereka berdua seketika menoleh ke arah meja editor.
Dita berdiri berdiri terlebih dahulu, lalu berkata, “Apaan lagi sih, pagi-pagi udah chaos aja.”
lalu mereka jalan ke meja editor, saat itu layar laptop sudah terbuka dan sebuah foto muncul di layar.
“Eh itu siapa...?” tanya Dita dengan cepat.
Faith membeku sesaat, ia menganalisis wajah yang ada di foto tersebut. “Itu kayak... Al.. Alisha?”
“HAH serius?!” sambar Dita dengan mata melotot. “Eh… tapi itu cowoknya siapa?”
Faith tidak langsung menjawab, tapi tatapannya tidak lepas dari layar. Pada saat itu pikirannya langsung nyambung ke satu hal
Max tidak pulang, tidak membalas chat. Dan sekarang Alisha ada di rumah sakit bersama pria misterius.
“Faith…” ucap Dita perlahan. “Jangan-jangan…” Dita setengah bisik.
“Jangan berspekulasi dulu," ucap Faith dengan suara tipis, seolah dia sendiri takut dengan kemungkinan itu.
Tapi entah kenapa di kepalanya satu nama terus muncul.
Max.