“Aku harus pergi,” ucap Max saat ia melihat wajah Alisha sudah jauh lebih baik dari semalam, nafasnya lebih stabil dan matanya sudah kembali fokus.
Max berdiri di samping ranjang, merapikan jam tangan dan merapikan kembali kemejanya.
“Sekarang?” tanya Alisha yang langsung menatapnya dengan ekpresi berubah
Max mengangguk. “Ada banyak hal yang harus aku urus.”
Alisha yang sempat terdiam beberapa detik, segera menggerakkan tangannya meraih pergelangan tangan Max, menahannya untuk tidak pergi.
“Sebentar lagi aja,” katanya pelan. “Nggak bisa?” ucapnya lagi. Nada suaranya tidak memaksa, tapi cukup untuk membuat Max berhenti.
Max menatapnya sejenak, ada jeda kecil diantara mereka. Sampai sesaat kemudian ponselnya bergetar.
Satu notifikasi masuk, dan nama itu langsung terlihat di layar.
Faith.
Max terdiam sepersekian detik, cukup lama untuk membuat Alisha menyadarinya.
“Ada apa?” tanya Alisha pelan.
Max tidak langsung menjawab, ia hanya membuka pesan itu cepat. Tapi cukup untuk membuat rahangnya sedikit mengeras.
Setelah mengunci kembali layar ponselnya ia menatap Alisha, lalu berkata, “Alisha, aku harus pergi sekarang.”
Alisha kembali menatapnya lebih dalam, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak bisa diucapkan.
“Tadi kamu bilang masih bisa sebentar,” katanya. "Kenapa sekarang harus pergi?"
Max menghela napas pelan. “Nanti aku ke sini lagi,” jawabnya pelan.
“Janji?”
Max mengangguk. “Iya, aku janji."
Namun Alisha masih memegang tangannya, kini sedikit lebih erat.
Akan tetapi secara perlahan Max melepaskan genggaman tangan Alisha, lalu kembali berkata, “Kamu jaga diri baik-baik, ya.”
Mendengar hal itu Alisha tidak menahannya lagi, namun tatapannya tidak lepas dari Max saat pria itu berbalik mengambil jasnya.
Dan tepat saat Max hendak melangkah keluar, pintu kamar terbuka.
Rupanya Melisa masuk, langkahnya santai, seperti tidak terkejut melihat Max masih di sana.
“Eh,” katanya ringan. “Udah mau pergi?”
Max mengangguk. “Iya,” jawab Max singkat.
Melisa berjalan mendekat, ia membawa map kecil di tangannya, lalu berhenti tepat di depan Max. Bahkan terlalu dekat untuk sekedar kebetulan.
“Dokter tadi bilang Kak Alisha udah jauh lebih stabil,” katanya. “Jadi kamu nggak perlu terlalu khawatir lagi, Kak Alisha kayaknya juga udah hampir sembuh.”
Max mengangguk singkat.
Melisa kembali tersenyum padanya. “Makasih ya, Max.” Lalu ia memiringkan kepala sedikit, menatap Max, dan lanjut berkata, “Kamu selalu jadi orang yang benar-benar nggak bisa pergi.”
Max tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Melisa datar dan sulit dibaca.
Melihat bagaimana Max menatapnya seperti itu membuat Melisa tertawa kecil. “Relax, aku cuma bercanda kok,” ucapnya, namun matanya tidak sepenuhnya bercanda, ia justru melangkah sedikit ke samping memberi jalan. “Tapi ya… kalau kamu mau datang lagi, kapan aja...” ia berhenti sejenak, “aku pasti ada di sini.”
Kalimat itu ringan, tapi cara ia mengatakannya terlalu personal.
Max menatapnya sebentar, lalu ia hanya berkata singkat, “Tolong jaga dia.”
Melisa mengangguk. “Iya.”
Namun sebelum Max benar-benar pergi, Melisa menambahkan ucapannya pelan, “Hati-hati di luar sana, Max.”
Dan tatapannya terus mengikuti langkah pria itu, sambil tersenyum kecil.
-
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Faith tengah mengerjakan beberapa pekerjaan kantor yang sengaja dia bawa pulang karena jam empat tadi Kimberly meminta Faith untuk membantunya mengerjakan tugas Seni Rupa.
"Coba tolong cek lagi dokumen tambang yang di NTT, gue ngerasa ada yang janggal." Faith tetap berkomunikasi dengan rekannya, sementara beberapa dokumen sedikit berserakan di meja riasnya.
Ketika Faith masih sibuk berkomunikasi dengan editornya, di saat yang bersamaan terdengar pintu kamar terbuka pelan, dan langkah kaki Max terdengar masuk ke dalam, membuat Faith yang awalnya fokus di depan laptop menoleh ke arahnya.
Dan di detik itu juga Faith bisa melihatnya. Wajah Max yang tampak lelah, tapi bukan yang lelah biasa.
Terlihat seperti lelah yang… menempel di seluruh tubuhnya.
Jas yang dipakainya masih rapi, tapi bahunya sedikit turun. Wajahnya tampak tenang, seperti biasa, namun ada sesuatu di matanya yang lebih berat dari biasanya.
Namun begitu matanya bertemu dengan Faith, Max tetap tersenyum, tipis dan tetap terkontrol. Seolah semua yang ia bawa dari luar berhenti diambang pintu.
“Udah pulang?” suara Faith terdengar begitu lembut.
"Nanti gue hubungi lagi," ucap Faith sesaat sebelum menutup teleponnya.
Ia lantas bangkit berdiri untuk menyambut Max yang masih berdiri di ambang pintu.
Max mengangguk dan menjawab singkat, "Iya.”
Tidak banyak kata yang terucap dari bibirnya, akan tetapi langkahnya langsung mendekat.
Tanpa ragu dan tanpa jeda, ia menarik Faith masuk ke dalam pelukannya.
Rasanya begitu hangat, dekat, dan untuk beberapa detik Max benar-benar berhenti menjadi siapa pun selain pria yang kelelahan.
Wajahnya sedikit tenggelam di bahu Faith, tangannya memeluk lebih erat dari biasanya, seolah itu bukan sekadar pelukan
tapi tempat untuk ia… bernafas.
Faith tidak bergerak, ia membiarkan Max memeluknya, lalu membalas pelukan itu dengan lembut dan stabil.
Meski begitu matanya terbuka, tatapannya kosong sesaat.
Max menghembuskan napas panjang. “Capek banget beberapa hari ini…” gumamnya pelan.
Faith tersenyum tipis. “Kelihatan,” jawabnya santai.
Mendengar hal itu Max tertawa kecil. “Pelukannya enak,” katanya pelan.
Faith sedikit mengangkat alis. “Oh ya?”
Max mengangguk, dan masih tidak melepaskannya. “Di sini… lebih tenang.”
Kalimat itu terdengar begitu jujur.
Namun justru itu yang membuat sesuatu di dalam diri Faith terasa bergeser pelan. Ia menatap kosong ke arah depan, dan masih dalam pelukan itu.
Hingga beberapa detik berlalu. Cukup lama untuk membuat momen itu terasa nyata.
Perlahan Faith melepaskan pelukan itu. Tidak dengan kasar, tidak juga dingin.
Hanya… cukup untuk menciptakan jarak kecil diantara mereka.
Max menatapnya intens, masih dengan sisa kehangatan di wajahnya.
Dan Faith masih tersenyum hangat padanya. Hampir seperti tidak ada apa-apa.
“Kamu udah makan belum?”
Max menggeleng pelan. “Belum," jawabnya.
“Aku bikinin sup ayam ya.”
Max mengangguk. “Boleh.”
Semua terasa normal. Lalu Faith berjalan beberapa langkah, dan berhenti. Ia berbalik menatap Max lagi.
Sementara senyumnya masih ada dan nada suaranya tetap lembut. “Tadi aku lihat…”
Ada jeda satu detik sebelum ia melanjutkananya. “…Alisha ada di berita.”
Tidak ada nada marah dalam ucapannya, tidak ada tuduhan, hanya sebuah pernyataan.
Seketika sunyi langsung jatuh di antara mereka.
Max tidak bergerak, hanya saja tatapannya berubah. Bukan panik, bukan juga kaget sepenuhnya. Tapi… sedikit lebih tajam.
Dan Faith tidak melanjutkannya. Ia hanya berdiri di sana, memberi ruang bagi Max untuk menjelaskan segalanya.